Guru mendengarkan laporan seorang murid sekolah dasar di ruang kelas yang tenang dan menjaga privasi.
Budaya anti-perundungan terlihat dari cara sekolah mendengar, melindungi, menindaklanjuti, dan mencegah kejadian berulang.
Pendidikan & Pembelajaran

Mengenali Budaya Anti-Perundungan di SD: Tanda yang Bisa Diamati

Panduan menilai kebijakan, budaya kelas, mekanisme pelaporan, perlindungan saksi, dan penanganan perundungan di SD sesuai kerangka kebijakan 2026.

Saat memilih SD, orang tua sering bertanya apakah sekolah memiliki aturan anti-perundungan. Jawaban “kami tidak mentoleransi bullying” terdengar baik, tetapi belum cukup untuk menilai budaya sekolah. Yang lebih penting adalah bagaimana orang dewasa mengenali perilaku menyakiti, menerima laporan, melindungi anak, dan memastikan masalah tidak berulang.

Perundungan bukan sekadar satu pertengkaran atau perbedaan pendapat. Pola yang berulang, ketimpangan kekuatan, dan kesulitan anak menghentikan perlakuan tersebut perlu diperhatikan. Namun, orang tua tidak perlu menjadi penyidik. Tugas keluarga saat survei adalah mengetahui apakah sekolah memiliki prosedur yang jelas, orang dewasa yang bertanggung jawab, dan suasana yang membuat murid berani meminta bantuan.

Jangan hanya mencari poster atau slogan

Poster larangan mengejek dapat menjadi pengingat, tetapi budaya anti-perundungan lebih terlihat dari kebiasaan sehari-hari. Amati apakah guru menegur ejekan yang dianggap “bercanda”, apakah murid yang berbeda tetap dilibatkan, dan apakah anak tahu kepada siapa ia bisa bercerita. Tanyakan bagaimana sekolah menangani perilaku yang terjadi di kelas, lapangan, toilet, kantin, perjalanan, maupun ruang digital.

Mintalah contoh alur penanganan tanpa meminta identitas murid yang pernah mengalami masalah. Siapa menerima laporan? Bagaimana keamanan anak dijaga? Apakah orang tua diberi informasi? Bagaimana sekolah memantau setelah tindakan awal? Pertanyaan konkret lebih berguna daripada hanya menanyakan apakah sekolah pernah memiliki kasus.

Pahami kebijakan yang berlaku sekarang

Per 2026, kerangka nasional Budaya Sekolah Aman dan Nyaman diatur melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026. Regulasi tersebut mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosial-budaya, pemenuhan kebutuhan spiritual, serta keadaban dan keamanan digital. Peraturan ini mencabut Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023, sehingga orang tua perlu berhati-hati ketika menemukan informasi lama yang masih menyebut struktur atau prosedur sebelumnya.

Orang tua dapat membaca Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 dan portal penjelasan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Portal resmi menjelaskan tanggung jawab sekolah dan pelibatan orang tua, murid, serta unsur masyarakat. Tanyakan bagaimana sekolah menyesuaikan tata kelola dan kanal laporannya dengan aturan yang berlaku, bukan mengasumsikan mekanisme lama tetap digunakan.

Tanda budaya pencegahan berjalan dalam keseharian

  • Guru menyepakati aturan interaksi dengan murid dan menjelaskan alasan di baliknya.
  • Murid tahu orang dewasa mana yang dapat didatangi ketika merasa tidak aman.
  • Keluhan ditanggapi tanpa menyalahkan anak karena bercerita.
  • Guru mengamati area yang rawan, termasuk waktu istirahat dan perpindahan kegiatan.
  • Sekolah membahas konflik dengan menjaga privasi dan martabat semua pihak.
  • Orang tua mengetahui cara menghubungi sekolah dan kapan akan mendapat tindak lanjut.

Daftar ini bukan sertifikat bahwa sekolah bebas perundungan. Ia membantu orang tua melihat tanda-tanda adanya upaya pencegahan. Sekolah yang terbuka biasanya mampu menjelaskan bagaimana kebiasaan tersebut dijalankan dan bagaimana memperbaikinya ketika belum berjalan baik.

Tanyakan apa yang terjadi setelah laporan masuk

Respons awal perlu memprioritaskan keselamatan dan kebutuhan anak. Sekolah seharusnya mengumpulkan informasi secara hati-hati, menghindari mempertemukan anak secara paksa ketika situasi belum aman, dan tidak menjadikan laporan sebagai bahan pembicaraan umum. Tanyakan bagaimana sekolah menghubungi keluarga, mendokumentasikan kejadian, dan memutuskan langkah lanjutan.

Jika ada perbedaan cerita, sekolah perlu mendengar pihak yang relevan tanpa membuat anak mengulang pengalaman berkali-kali. Orang tua juga perlu mengetahui siapa kontak yang dapat dihubungi jika perlakuan berlanjut. Panduan mencatat perundungan dan berkoordinasi dengan sekolah dapat membantu keluarga menyiapkan informasi yang faktual.

Perhatikan perlindungan terhadap saksi dan anak yang melapor

Budaya aman tidak hanya melindungi anak yang menjadi sasaran. Murid yang menyaksikan kejadian juga perlu tahu cara meminta bantuan tanpa harus menghadapi pelaku sendirian. Tanyakan apakah sekolah mengajarkan cara melaporkan dengan aman dan tidak mendorong murid membalas atau mempermalukan teman.

Anak yang melapor tidak boleh kehilangan kesempatan bermain atau belajar karena dianggap membuat masalah. Begitu pula murid yang melakukan perilaku menyakiti perlu mendapat batas yang jelas, pendampingan, dan konsekuensi yang sesuai. Perlindungan harus berjalan bersama proses perbaikan, bukan sekadar hukuman yang tidak menyentuh penyebab.

Pastikan sekolah memperhatikan ruang digital

Perundungan bisa berlanjut melalui grup pesan, permainan daring, atau unggahan media sosial. Anak SD mungkin belum selalu memahami cara menyimpan bukti, memblokir, atau meminta bantuan. Tanyakan bagaimana sekolah merespons peristiwa digital yang berdampak pada suasana kelas, sekaligus menjaga agar penyelidikan tidak menyebarkan ulang konten yang menyakiti.

Orang tua dapat melihat perubahan perilaku yang perlu diperhatikan dan memahami peran saksi melalui pendampingan anak yang menyaksikan perundungan. Jangan menyimpulkan dari satu gejala saja; dengarkan anak dan cari konteks.

Jangan berharap sekolah menjanjikan tidak akan pernah ada kasus

Janji “di sini tidak pernah ada bullying” justru perlu ditanggapi dengan pertanyaan lanjutan. Apakah sekolah memiliki cara untuk menerima laporan? Apakah murid merasa aman untuk berbicara? Tidak adanya laporan dapat berarti memang tidak ada kejadian, tetapi bisa juga karena anak tidak tahu harus bicara kepada siapa. Prosedur yang terbuka lebih bermakna daripada klaim sempurna.

Pilih sekolah yang menjelaskan tanggung jawab, merespons pertanyaan dengan serius, menjaga kerahasiaan, dan bersedia memperbaiki praktik. Budaya anti-perundungan tidak selesai dengan satu sosialisasi. Ia membutuhkan konsistensi seluruh warga sekolah dan kerja sama keluarga agar anak dapat belajar tanpa takut direndahkan atau disakiti.

Bedakan kejadian tunggal, konflik, dan pola perundungan

Anak dapat berselisih, bercanda dengan cara yang tidak disukai, atau mengalami konflik yang perlu didampingi. Tidak setiap kejadian otomatis disebut perundungan. Orang tua dapat mencari tahu apakah perilaku berulang, melibatkan ketimpangan kuasa, dan membuat anak sulit menghentikannya sendiri. Namun, jangan menunggu sampai pola terbentuk untuk menyampaikan kekhawatiran kepada sekolah. Setiap laporan yang menyangkut keselamatan perlu ditanggapi.

Tanyakan bagaimana sekolah mencatat kejadian, mendengar keterangan dari pihak terkait secara terpisah, melindungi privasi, dan memastikan anak yang melapor tidak dibalas atau dipermalukan. Sekolah sebaiknya menghindari memaksa anak berdamai atau berjabat tangan sebelum kebutuhan keselamatannya dipahami.

Pastikan pelaporan tidak berubah menjadi proses menyalahkan anak

Anak yang melapor perlu didengar dengan tenang. Tanyakan apakah sekolah menjelaskan langkah berikutnya, kapan keluarga menerima kabar, dan siapa yang bertanggung jawab memastikan anak tetap aman saat proses penanganan berlangsung. Hindari prosedur yang meminta anak mengulang cerita kepada terlalu banyak orang tanpa alasan. Penanganan yang baik menjaga kerahasiaan, memperhatikan kebutuhan anak, dan tidak menganggap laporan sebagai gangguan reputasi sekolah.

Orang tua juga dapat menanyakan bagaimana sekolah mendampingi murid yang menyaksikan kejadian. Saksi tidak boleh didorong menyebarkan cerita atau mengambil alih penyelidikan. Sekolah bertanggung jawab mengelola informasi dan mencegah kejadian berulang melalui tindakan yang sesuai kebijakan.

Orang tua juga dapat meminta penjelasan tentang bagaimana sekolah meninjau efektivitas langkah pencegahan setelah suatu laporan ditangani. Apakah area yang kurang terawasi diperbaiki? Apakah murid mendapat penguatan tentang cara meminta bantuan? Apakah komunikasi dilakukan tanpa membuka identitas anak kepada pihak yang tidak perlu tahu? Pertanyaan ini membantu melihat apakah respons sekolah berorientasi pada keselamatan dan pencegahan berulang.

Perhatikan perlindungan korban dan tindak lanjut

Ketika sekolah menjelaskan penanganan perundungan, dengarkan apakah fokusnya hanya mendamaikan kedua pihak atau juga memastikan perilaku berhenti dan anak yang terdampak merasa aman. Tanyakan siapa yang menerima laporan, bagaimana kerahasiaan dijaga, kapan orang tua mendapat kabar, dan bagaimana sekolah memantau agar kejadian tidak berulang. Proses yang baik tidak menuntut anak menceritakan pengalaman di depan banyak orang.

Jangan menilai budaya anti-perundungan hanya dari slogan zero bullying. Tidak ada sekolah yang dapat menjamin konflik tidak pernah terjadi. Yang lebih penting adalah adanya prosedur yang dipahami, respons yang tidak menyalahkan korban, dokumentasi yang wajar, dan tindak lanjut yang dapat dijelaskan.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.