Banjir dapat membuat keluarga harus meninggalkan rumah dalam waktu singkat. Anak mungkin bingung ketika melihat air mulai masuk, mendengar hujan deras, atau mengetahui bahwa keluarga perlu pindah ke tempat lain. Selain arus air, banjir dapat menyembunyikan lubang, saluran terbuka, benda tajam, kabel listrik, dan bahaya lain yang tidak terlihat dari permukaan.
Anak membutuhkan pendampingan langsung. Jangan menganggap ia mampu menilai kedalaman, kekuatan arus, atau keamanan jalur hanya karena air tampak dangkal. Persiapan keluarga perlu dilakukan sebelum air mencapai rumah, bukan ketika semua orang sudah panik.
8 persiapan penting sebelum evakuasi banjir
1. Kenali risiko lingkungan dan informasi peringatan
Ketahui apakah rumah berada dekat sungai, saluran air, wilayah cekungan, atau area yang pernah tergenang. Pantau informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pemerintah setempat, dan kanal resmi cuaca. Jangan hanya mengandalkan pesan berantai yang belum jelas sumbernya.
2. Tentukan jalur dan tempat evakuasi
Kenali rute menuju lokasi yang lebih tinggi dan tempat pengungsian yang ditetapkan. Siapkan alternatif jika jalan utama tergenang atau ditutup. Pertimbangkan kebutuhan bayi, anak kecil, anggota keluarga dengan disabilitas, lansia, dan orang yang sulit berjalan. Ikuti arahan petugas bila jalur berubah.
3. Siapkan tas siaga keluarga
Isi tas dengan air minum, makanan yang mudah dibawa, pakaian ganti, perlengkapan kebersihan, senter, baterai, obat rutin, dokumen penting dalam wadah tahan air, dan nomor kontak darurat. Tambahkan popok, susu atau kebutuhan khusus bayi, serta perlengkapan anak sesuai kondisi keluarga. Jangan mengisi terlalu banyak barang hingga orang dewasa kesulitan mendampingi anak.
4. Catat kontak dan titik berkumpul
Simpan nomor keluarga, tetangga tepercaya, dan layanan darurat. Tentukan titik bertemu jika anggota keluarga terpisah. Anak yang lebih besar dapat belajar menyebutkan nama orang tua dan meminta bantuan petugas. Anak kecil perlu didampingi dan tidak dibebani tanggung jawab mencari anggota keluarga sendiri.
5. Siapkan kebutuhan kesehatan anak
Bawa obat rutin, informasi alergi, kebutuhan khusus, dan perlengkapan kesehatan yang diperlukan. Jika anak memiliki kondisi tertentu, pastikan keluarga mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika akses layanan kesehatan terganggu. Jangan mengubah dosis obat tanpa arahan tenaga kesehatan.
6. Jelaskan rencana kepada anak dengan bahasa sederhana
Katakan bahwa keluarga mungkin perlu berpindah sementara agar tetap aman. Jelaskan siapa yang akan mendampinginya dan barang penting apa yang akan dibawa. Hindari menakut-nakuti atau membuat anak merasa banjir terjadi karena kesalahannya.
7. Perhatikan listrik dan instalasi rumah
Jika ada perintah atau keadaan yang mengharuskan listrik diputus dan tindakan itu dapat dilakukan dengan aman, ikuti arahan petugas atau penyedia layanan. Jangan menyentuh kabel, stopkontak, atau peralatan listrik ketika berdiri di air. Jika panel listrik sudah terendam atau berisiko, jangan mencoba menanganinya sendiri. Jauhkan anak dari area tersebut.
8. Tentukan siapa yang membantu anak
Bagi peran orang dewasa: siapa yang mendampingi anak, siapa yang mengurus kebutuhan penting, dan siapa yang memastikan anggota keluarga lain sudah berkumpul. Jangan meminta anak mengambil barang atau kembali ke rumah untuk membantu. Jika evakuasi diminta, utamakan bergerak ke tempat aman.
Hal yang perlu dihindari selama banjir
- Jangan membiarkan anak bermain atau berjalan di air banjir.
- Jangan menerobos arus atau genangan dengan berjalan kaki maupun kendaraan jika kedalaman dan kondisi tidak diketahui.
- Jangan mendekati saluran air, sungai, atau gorong-gorong yang meluap.
- Jangan menyentuh peralatan listrik atau kabel yang terendam.
- Jangan kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Air yang terlihat dangkal belum tentu aman. Arus di bawah permukaan dan lubang tersembunyi dapat membahayakan. Jika keluarga sudah menerima peringatan evakuasi, jangan menunggu sampai air masuk ke ruang anak.
Mendampingi anak selama evakuasi
Pastikan anak selalu berada dalam jangkauan orang dewasa. Berikan instruksi singkat seperti “Pegang tangan Bunda dan ikuti jalur ini” atau “Kita menuju tempat yang lebih tinggi.” Hindari memberi terlalu banyak perintah sekaligus. Jika anak panik, gunakan suara tenang dan jelaskan langkah berikutnya.
Setelah tiba di tempat aman, periksa jumlah anggota keluarga, bantu anak mengganti pakaian basah, dan penuhi kebutuhan air minum, makanan, serta istirahat. Di lokasi pengungsian, perhatikan kebersihan air, sanitasi, makanan, kondisi tidur, dan privasi anak.
Setelah banjir surut
Jangan langsung menganggap rumah aman. Periksa informasi petugas mengenai instalasi listrik, struktur bangunan, air bersih, dan kondisi lingkungan. Air banjir dapat membawa kotoran, bahan kimia, atau benda tajam. Anak sebaiknya tidak ikut membersihkan area yang masih berisiko.
Penutup
Persiapan sebelum banjir membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang. Kenali risiko lingkungan, siapkan tas siaga, tentukan jalur evakuasi, dan pastikan anak selalu didampingi. Anak tidak perlu memikul tanggung jawab penyelamatan; orang dewasa perlu merencanakan dan mengambil keputusan untuk menjaga seluruh keluarga.
Sesuaikan rencana evakuasi dengan kondisi rumah
Rumah yang memiliki satu lantai, rumah bertingkat, dan rumah di tepi sungai memerlukan rencana yang berbeda. Periksa jalur keluar, lokasi yang lebih tinggi, serta akses menuju tempat evakuasi yang ditetapkan pemerintah daerah. Jangan memilih rute hanya berdasarkan jarak terpendek; jalur yang melewati arus deras, jembatan rendah, atau saluran terbuka dapat jauh lebih berbahaya.
Jika keluarga tinggal di wilayah yang sering banjir, simpan dokumen dan perlengkapan penting di tempat yang mudah diambil tanpa menunda evakuasi. Letakkan kebutuhan bayi dan obat rutin dalam tas yang dapat dibawa orang dewasa. Jangan menyimpan seluruh perlengkapan darurat di ruang yang biasanya lebih dulu terendam.
Jaga keselamatan anak di tempat pengungsian
Setelah tiba, pastikan anak tetap bersama pendamping yang ditentukan. Catat lokasi tidur keluarga dan petugas yang dapat dihubungi. Perhatikan air minum, kebersihan tangan, toilet, makanan, dan tempat istirahat. Anak dapat mengalami kecemasan atau sulit tidur karena perubahan lingkungan; pertahankan rutinitas sederhana jika memungkinkan dan beri penjelasan tentang kegiatan hari itu.
Jangan membagikan foto anak dan informasi lokasi secara terbuka ketika keluarga mengungsi. Jika membutuhkan bantuan, gunakan kanal resmi posko atau layanan terkait dan berikan informasi pribadi hanya kepada petugas yang perlu mengetahuinya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah anak boleh bermain di air yang terlihat dangkal? Jangan. Kedalaman, arus, lubang, saluran, dan kabel berbahaya bisa sulit terlihat.
Apakah keluarga harus menunggu rumah terendam sebelum pergi? Tidak. Ikuti peringatan dan instruksi evakuasi setempat; jangan menunggu kondisi memburuk.
Kenali tanda bahaya yang mengharuskan evakuasi lebih cepat
Air yang naik dengan cepat, arus yang semakin kuat, suara gemuruh dari hulu, tanggul atau tebing yang terlihat rusak, serta peringatan resmi merupakan alasan untuk segera mengikuti instruksi evakuasi. Jangan menunggu semua anggota keluarga selesai mengemas barang. Tas siaga hanya diambil jika sudah siap dan tidak menunda keberangkatan.
Jika keluarga terjebak di bangunan, pindah ke lantai atau lokasi lebih tinggi sesuai kondisi dan hubungi layanan darurat. Hindari atap yang tidak stabil, tiang listrik, dan struktur yang dapat runtuh. Jangan mencoba berjalan atau berenang melintasi arus untuk menuju tempat yang tampak dekat.
Sumber dan bacaan lanjutan
- Panduan Kesiapsiagaan Bencana untuk Keluarga — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), panduan persiapan keluarga sebelum bencana.
- Informasi Banjir — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), informasi dan edukasi tentang banjir.
- Rencana Kesiapsiagaan Individu — CBM Global Disability Inclusion, organisasi internasional yang bekerja untuk inklusi penyandang disabilitas.










