Ibu berbicara empat mata dengan anak usia sekolah di rumah, mendengarkan cerita anak dengan tenang.
Anak perlu merasa dipercaya dan didukung saat bercerita tentang tekanan dari teman di sekolah.
Keamanan & Perlindungan Anak

Anak Dipalak Teman di Sekolah? Cara Membuka Obrolan agar Anak Berani Cerita

Uang jajan sering habis, barang anak berpindah tangan, atau ia takut bertemu teman tertentu? Kenali kemungkinan pemalakan dan cara membantu anak tanpa menyalahkannya.

Awalnya Bunda cuma heran karena uang jajan anak cepat habis. Lalu, tempat pensilnya hilang, bekal sering diminta teman, atau ia mendadak nggak mau berangkat sekolah. Saat ditanya, jawabannya pendek: “Nggak apa-apa.” Bisa jadi memang ada hal lain, tetapi perubahan seperti ini layak diajak ngobrol lebih jauh—terutama kalau anak tampak takut pada seseorang atau kelompok tertentu.

Anak Dipalak Teman bukan sekadar persoalan “berbagi” atau bercanda. Pemalakan terjadi ketika anak ditekan, diintimidasi, atau dipaksa menyerahkan uang maupun barang. Kadang ancamannya terang-terangan, kadang dibungkus dengan kalimat seperti “kalau nggak kasih, jangan main sama kita” atau “besok kamu lihat saja”. Anak mungkin memilih diam karena takut masalahnya makin besar, malu, atau khawatir dianggap mengadu.

Pinjam biasa atau sudah termasuk pemalakan?

Anak memang bisa saling meminjam alat tulis atau berbagi bekal. Namun, ada perbedaan besar antara memberi dengan sukarela dan menyerahkan sesuatu karena takut. Perhatikan apakah kejadian terjadi berulang, apakah ada ancaman, apakah anak merasa tidak bisa menolak, dan apakah pelaku memiliki pengaruh atau kekuatan lebih besar dalam kelompok.

SituasiYang perlu ditanyakan
Teman meminjam uang dan mengembalikan sesuai janjiApakah anak setuju tanpa tekanan?
Teman terus meminta uang atau barangApakah anak merasa harus memberi supaya tidak diganggu?
Anak diancam, dipermalukan, atau dijauhi bila menolakApakah ada pola intimidasi atau ketimpangan kekuatan?
Barang anak diambil atau dirusakApakah kejadian berulang dan membuat anak takut ke sekolah?

Pemalakan bisa beririsan dengan perundungan, tetapi setiap kasus perlu dilihat dari kejadian dan polanya. Jangan buru-buru meminta anak membuktikan bahwa ia benar-benar menjadi korban sebelum mendengarkan ceritanya. Tugas awal orang tua adalah memahami apa yang dialami dan memastikan ia aman.

Ketika anak dipalak teman, jangan buru-buru bertanya mengapa ia memberikan uang. Pertanyaan itu bisa terdengar seperti menyalahkan anak yang sedang takut.

Mulai obrolan tanpa membuat anak merasa diinterogasi

Anak yang mengalami tekanan mungkin belum siap bercerita lengkap. Kalau Bunda langsung bertanya, “Siapa yang memalak? Kenapa kamu kasih? Kenapa nggak melawan?” anak bisa merasa ikut disalahkan. Coba mulai dari hal yang terlihat dan beri ruang untuk menjawab.

“Bunda perhatikan uang jajanmu sering habis lebih cepat, dan kamu beberapa hari ini kelihatan nggak nyaman ke sekolah. Ada sesuatu yang bikin kamu kepikiran? Bunda mau dengerin, kok.”

Kalau anak mulai bercerita, tahan dulu dorongan untuk langsung memberi solusi. Dengarkan sampai selesai. Respons seperti “Kamu nggak salah karena cerita” atau “Makasih sudah percaya sama Bunda” bisa membantu anak merasa didukung.

Beberapa pertanyaan yang lebih aman dan tidak menyudutkan:

  • “Apa yang biasanya terjadi saat istirahat?”
  • “Kamu merasa aman saat bersama teman-teman itu?”
  • “Apakah ada yang meminta uang atau barang dan kamu sulit menolak?”
  • “Apa yang kamu takutkan kalau bilang tidak?”
  • “Siapa orang dewasa di sekolah yang kamu rasa nyaman untuk dimintai bantuan?”

Jangan memaksa anak mengulang detail berkali-kali. Bila ia belum siap, katakan bahwa Bunda bisa mendengarkan kapan saja. Namun, jika ada ancaman serius atau risiko kekerasan langsung, orang tua tetap perlu bertindak untuk melindungi anak meski ceritanya belum lengkap.

Catat kejadian, jangan menyebarkan cerita sembarangan

Jika anak menceritakan pemalakan, buat catatan faktual. Tulis tanggal atau perkiraan waktu, tempat, barang atau uang yang diminta, kata-kata ancaman yang diingat, siapa yang mungkin melihat, dan apakah ada luka atau kerusakan. Bedakan apa yang anak lihat sendiri dari hal yang ia dengar dari teman. Catatan ini membantu ketika berbicara dengan sekolah.

Kalau ada pesan, percakapan digital, atau bukti lain, simpan dengan aman dan jangan unggah ke media sosial. Hindari mengirim tangkapan layar atau identitas anak ke grup orang tua tanpa kebutuhan dan persetujuan yang tepat. Jangan pula menghubungi atau mengancam anak yang diduga melakukan pemalakan secara langsung. Itu bisa memperkeruh situasi dan menambah risiko bagi anak.

Ajak sekolah menyusun langkah perlindungan yang konkret

Hubungi wali kelas atau pihak sekolah melalui jalur resmi. Jelaskan kejadian dengan tenang, sampaikan catatan, dan tanyakan apa langkah perlindungan yang bisa dilakukan. Misalnya, pengawasan di lokasi yang sering menjadi tempat kejadian, orang dewasa yang bisa dihubungi anak, pengaturan interaksi, dan tindak lanjut untuk memastikan tekanan tidak berulang.

Sejak 2026, acuan kebijakan nasional adalah Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kebijakan ini menempatkan kepala satuan pendidikan sebagai pihak yang bertanggung jawab membangun lingkungan aman dengan melibatkan warga sekolah, orang tua, dan unsur terkait. Jadi, saat melapor, orang tua bisa meminta penanganan melalui mekanisme sekolah yang berlaku, bukan mengandalkan konfrontasi antarorang tua. Informasi resminya dapat dilihat di laman Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Kemendikdasmen dan teks Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Jangan berhenti pada janji “nanti kami perhatikan”. Tanyakan siapa kontak yang bisa dihubungi, kapan tindak lanjut dilakukan, bagaimana sekolah mencegah pembalasan, dan bagaimana anak bisa meminta bantuan saat kejadian muncul lagi. Bila anak belum merasa aman, diskusikan langkah sementara yang tidak membuatnya kehilangan hak belajar atau malah disalahkan karena melapor.

Saat bertemu sekolah, usahakan pembicaraan tidak berhenti pada “anak-anak diminta berdamai”. Jika ada pemalakan atau ancaman, sekolah perlu memahami pola kejadian, mengambil langkah perlindungan, dan memantau apakah perilaku terulang. Bunda dapat merujuk panduan mencatat kejadian perundungan dan melibatkan pihak sekolah untuk menyiapkan informasi yang lebih rapi. Hindari mempertemukan anak dengan pihak yang diduga menekan tanpa persiapan dan pendampingan yang aman.

Jika anak dipalak teman berulang kali, orang tua perlu bekerja sama dengan sekolah untuk menghentikan tekanan dan memastikan anak aman.

Kalau anak takut dianggap tukang mengadu

Ini kekhawatiran yang sering muncul. Anak mungkin berpikir bahwa bercerita akan membuat teman-temannya marah atau ia dicap lemah. Bunda bisa menjelaskan bahwa meminta bantuan saat dipaksa atau diancam bukan berarti mencari masalah. Itu cara menjaga diri.

Latih satu kalimat sederhana yang bisa digunakan anak: “Aku nggak mau kasih. Aku akan bilang ke guru.” Lalu bantu ia mengenali orang dewasa yang bisa didekati—wali kelas, guru piket, konselor sekolah bila tersedia, atau petugas lain yang dipercaya. Anak tidak harus menghadapi pelaku sendirian, apalagi jika ada ancaman fisik.

Kalau keluarga membutuhkan dukungan terkait kekerasan terhadap anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyediakan layanan SAPA 129 melalui telepon 129 dan WhatsApp 08111-129-129. Informasi kanal dan prosedurnya tersedia di layanan SAPA 129. Untuk situasi yang membutuhkan perlindungan segera, cari bantuan aparat atau layanan darurat setempat; jangan menunggu proses sekolah selesai bila keselamatan anak terancam.

Pulihkan rasa aman anak, bukan cuma uang atau barangnya

Setelah kejadian ditangani, anak mungkin masih takut lewat koridor tertentu, bertemu kelompok yang sama, atau membawa uang jajan. Tanyakan apa yang membuatnya merasa lebih aman. Mungkin ia perlu ditemani saat datang beberapa hari, punya orang dewasa yang bisa dicari ketika istirahat, atau menyepakati cara menghubungi keluarga.

Perhatikan juga perubahan tidur, nafsu makan, sakit perut sebelum sekolah, mudah marah, atau menarik diri. Perubahan itu tidak otomatis membuktikan trauma, tetapi bisa menjadi tanda bahwa pengalaman tersebut masih membebani anak. Bila keluhan menetap atau mengganggu aktivitas, konsultasikan dengan tenaga kesehatan mental anak.

Untuk memahami tanda dan pola perundungan yang lebih luas, Bunda bisa membaca perubahan yang mungkin terlihat saat anak mengalami bullying. Ada juga panduan merespons ketika anak bercerita tentang perundungan yang dapat membantu keluarga menjaga komunikasi tetap terbuka.

Yang perlu anak dengar bukan “Kenapa kamu nggak melawan?”, melainkan “Kamu nggak harus menghadapi ini sendirian.” Pemalakan bukan tanggung jawab anak untuk diselesaikan sendiri. Orang tua dan sekolah perlu bekerja sama menghentikan perilaku, menjaga keamanan, dan memastikan anak tetap bisa belajar tanpa ketakutan.

(Naya)

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.