Ibu dan anak menggambar peta dunia virtual di samping headset yang tidak digunakan.
Sebelum menjelajahi teknologi imersif, keluarga membicarakan tujuan dan aturan yang berlaku.
Bermain & Aktivitas Kreatif

Tips Menemani Anak Gen Alpha Mengeksplorasi Metaverse dengan Aman

Metaverse bukan satu aplikasi tunggal. Dunia virtual, gim sosial, avatar, dan perangkat imersif memiliki aturan usia serta risiko berbeda. Orang tua perlu memeriksa layanan yang digunakan, menaati PP TUNAS, dan mendampingi eksplorasi tanpa mengakali batas usia.

Metaverse bukan satu aplikasi atau satu jenis permainan

Istilah metaverse sering digunakan untuk menggambarkan ruang digital tempat pengguna hadir melalui avatar, berinteraksi, bermain, membuat benda virtual, mengikuti kegiatan, atau menjelajahi lingkungan tiga dimensi. Pengalaman tersebut dapat berlangsung melalui gim sosial, dunia virtual, perangkat realitas virtual (VR), atau gabungan layanan digital. Karena istilahnya luas, orang tua sebaiknya tidak menilai keamanan hanya dari kata “metaverse” pada iklan atau deskripsi aplikasi. Layanan yang berbeda dapat memiliki fitur, pengguna, aturan usia, dan cara mengumpulkan data yang sangat berbeda.

Anak mungkin tertarik karena bisa merancang avatar, membangun tempat, bermain bersama teman, atau menjelajahi lingkungan yang tidak mudah ditemui di dunia nyata. Rasa ingin tahu itu dapat menjadi kesempatan untuk membicarakan desain, cerita, ruang, kerja sama, dan etika digital. Namun, ruang virtual yang terlihat seperti permainan anak tetap dapat memiliki fitur chat, pembelian, konten buatan pengguna, atau interaksi dengan orang yang tidak dikenal. Orang tua perlu memahami layanan yang dimaksud sebelum memberi izin.

Gen Alpha juga bukan kelompok dengan kesiapan yang seragam. Anak yang lebih muda mungkin belum mampu memahami transaksi atau interaksi asing, sementara remaja yang lebih besar dapat memiliki kebutuhan privasi dan ruang sosial yang berbeda. Keputusan harus mempertimbangkan usia, kemampuan anak, ketentuan platform, serta hukum yang berlaku di Indonesia, bukan mengikuti tren atau ajakan teman semata.

Periksa aturan usia dan kebijakan Indonesia terlebih dahulu

Langkah pertama bukan memasang aplikasi, melainkan memeriksa batas usia dan profil risiko produk, layanan, serta fitur yang akan digunakan. Di Indonesia, Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksana PP Nomor 17 Tahun 2025 mengatur penilaian risiko, verifikasi pengguna, persetujuan orang tua, serta kesesuaian akses menurut usia. Karena penilaian dapat berlaku pada produk, layanan, atau fitur tertentu, orang tua tidak sebaiknya menyimpulkan bahwa semua pengalaman virtual otomatis boleh atau otomatis dilarang hanya dari istilah “metaverse”. Layanan jejaring dan media sosial pada prinsipnya berprofil risiko tinggi. Keputusan Menteri Komdigi Nomor 140 Tahun 2026 mencantumkan Roblox dalam daftar layanan berprofil risiko tinggi; ketentuan akun anak dan batas usia harus diikuti sesuai penetapan yang berlaku. Periksa kerangka hukum dan daftar layanan tersebut sebelum mempertimbangkan layanan tertentu.

Roblox telah mengumumkan beberapa lapisan pengamanan yang disesuaikan dengan ketentuan Indonesia. Dalam pembaruan pada September 2026, Komdigi menyebut penggunaan teknologi perkiraan usia wajah, pembatasan fitur komunikasi bagi pengguna anak, serta pengembangan pilihan seperti Roblox Kids dan Roblox Select. Baca pembaruan Komdigi mengenai langkah Roblox memenuhi aturan Indonesia. Pembaruan fitur tersebut tidak berarti seluruh pengalaman, permainan, percakapan, atau transaksi di Roblox otomatis aman untuk semua anak. Orang tua perlu memeriksa batas usia, klasifikasi konten, fungsi komunikasi, dan status kepatuhan layanan saat akan digunakan; jangan menjadikan pengaturan baru sebagai alasan untuk mengabaikan persyaratan usia atau pengawasan.

Ini berarti orang tua tidak boleh membuat akun dengan usia palsu, memakai akun dewasa untuk menghindari pembatasan, atau meminta anak masuk melalui akun milik teman. Bila suatu platform tidak memperbolehkan anak pada usia tertentu, pilihan yang aman adalah tidak mengakses layanan itu sampai anak memenuhi syarat dan ketentuan lokal mengizinkan. Jangan menganggap pengawasan orang tua otomatis membuat penggunaan yang tidak sesuai usia menjadi boleh.

Selain aturan Indonesia, periksa persyaratan layanan yang berlaku untuk negara akun, usia minimum perangkat, dan fitur yang akan digunakan. Beberapa pengalaman virtual dapat berupa video atau demonstrasi yang ditonton bersama tanpa akun anak; sebagian lain memerlukan akun, komunikasi sosial, atau perangkat khusus. Jangan menyamakan akses ke konten video yang dipilih orang tua dengan kebebasan membuat akun dan berinteraksi di dunia virtual. Jika status usia atau aturan layanan tidak jelas, tunda penggunaan dan cari informasi resmi.

Pahami tujuan anak sebelum memilih pengalaman virtual

Tanyakan apa yang ingin dilakukan anak. Apakah ia ingin membuat bangunan, menjelajahi museum virtual, bermain dengan teman, menghadiri acara, atau sekadar mencoba avatar? Jawaban tersebut membantu orang tua menilai apakah layanan yang dipilih memang diperlukan. Jika tujuannya belajar tentang tata kota, anak mungkin dapat membuat denah di kertas atau menggunakan aplikasi desain sederhana yang sesuai usia. Jika ingin merasakan pameran, keluarga dapat mencari tur virtual resmi yang tidak membutuhkan interaksi dengan pengguna asing.

Jangan langsung menganggap semua pengalaman virtual lebih menarik atau lebih mendidik daripada kegiatan nyata. Ruang virtual dapat membantu anak melihat konsep yang sulit dibayangkan, tetapi pengalaman tersebut tidak menggantikan permainan fisik, interaksi tatap muka, membaca, tidur, dan aktivitas keluarga. Pilih kegiatan yang punya tujuan jelas dan batas waktu yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Sebelum mulai, orang tua dapat menonton atau mencoba layanan terlebih dahulu melalui akun dan perangkat yang sah untuk orang dewasa. Periksa apakah ada chat publik, pesan pribadi, daftar teman, ruang suara, pembelian, iklan, tautan keluar, dan konten buatan pengguna. Jika tidak ada informasi yang cukup tentang fitur keselamatan atau kebijakan privasi, jangan menjadikan anak sebagai pihak yang pertama kali menguji layanan.

Buat aturan keselamatan sebelum anak memasuki ruang digital

Jika suatu pengalaman virtual memang sesuai usia dan ketentuan, buat kesepakatan sederhana. Anak tidak membagikan nama lengkap, sekolah, alamat, nomor telepon, lokasi, foto pribadi, atau jadwal keluarga. Anak tidak memindahkan percakapan ke aplikasi lain tanpa berbicara dengan orang tua. Ia tidak menerima hadiah virtual, tautan, atau permintaan data dari orang yang tidak dikenal. Jika seseorang membuatnya tidak nyaman, anak dapat keluar dari ruang tersebut dan memberi tahu orang dewasa.

Gunakan bahasa yang dapat dipahami anak: “Avatar bisa terlihat seperti karakter, tetapi orang yang mengetik di baliknya bisa siapa saja. Kita tidak perlu memberi tahu orang asing di mana kita tinggal atau sekolah.” Jelaskan bahwa anak tidak harus membalas setiap pesan, menerima semua permintaan pertemanan, atau menjaga percakapan jika merasa tidak aman. Anak berhak memutuskan untuk keluar.

Orang tua perlu mengetahui cara memblokir, melaporkan, dan mengatur interaksi pada layanan yang digunakan. Fitur dapat berbeda antar platform dan berubah dari waktu ke waktu. Jika ada ruang publik atau komunikasi suara yang tidak dapat dikendalikan, pertimbangkan apakah layanan tersebut sesuai dengan usia dan kesiapan anak. Pengaturan teknis harus diperiksa sebelum aktivitas, bukan baru dicari setelah masalah muncul.

Lindungi data pribadi dan identitas di balik avatar

Avatar dapat memberi kesan bahwa anak sedang menggunakan identitas yang berbeda, tetapi akun tetap dapat terhubung dengan alamat email, tanggal lahir, data perangkat, riwayat aktivitas, pembelian, atau informasi lain. Nama avatar juga tidak sebaiknya memuat nama lengkap, tanggal lahir, sekolah, atau lokasi. Hindari memasang foto wajah atau informasi pribadi pada profil publik jika tidak diperlukan.

Periksa izin aplikasi dan perangkat. Apakah layanan membutuhkan kamera atau mikrofon? Apakah data gerakan atau suara dikumpulkan? Apakah lokasi diperlukan? Apakah aplikasi meminta akses ke kontak? Jangan mengizinkan semuanya tanpa memahami alasan. Jika anak menggunakan headset VR, pahami pula bagaimana perangkat merekam gerakan, suara, atau lingkungan sesuai spesifikasi dan kebijakan produsen. Bila penjelasannya tidak jelas, pilih pengalaman yang lebih sederhana.

UNICEF Indonesia menyarankan keluarga meninjau pengaturan privasi pada perangkat dan aplikasi serta membatasi akses data yang tidak diperlukan. Panduan privasi digital UNICEF Indonesia dapat digunakan untuk membahas data lokasi, foto, kamera, mikrofon, dan kontrol orang tua. Ingatkan anak bahwa informasi yang dibagikan dapat disimpan atau diteruskan orang lain, meskipun ia menghapusnya dari layar.

Waspadai interaksi dengan pengguna lain dan konten buatan pengguna

Dunia virtual dapat berisi ruang yang dibuat pengguna lain. Isinya mungkin berubah setiap kali anak masuk. Sebuah lingkungan yang awalnya terlihat aman dapat memiliki percakapan, permainan, atau tautan yang tidak cocok. Orang tua perlu meninjau pengalaman secara berkala dan memahami apakah ada moderasi, sistem pelaporan, filter, atau batas komunikasi. Jangan berasumsi semua ruang dalam satu platform memiliki tingkat keamanan yang sama.

Ajarkan anak membedakan karakter virtual dengan orang yang sebenarnya. Jangan pernah menganggap avatar yang lucu atau mengaku sebaya sebagai bukti identitas. Anak tidak boleh diminta bertemu orang dari dunia virtual secara langsung tanpa sepengetahuan dan pengaturan orang dewasa. Jika ada ajakan untuk merahasiakan percakapan, pindah ke aplikasi lain, mengirim foto, atau mengirim uang, itu tanda untuk segera berhenti dan bercerita.

Jika anak menemukan penghinaan, pelecehan, ancaman, atau permintaan yang tidak pantas, bantu keluar dari ruang tersebut. Simpan bukti seperlunya, gunakan fitur laporan dan blokir, lalu cari bantuan sesuai tingkat risiko. Jangan menyuruh anak membalas atau berdebat dengan pengguna yang mengganggu. Orang tua juga perlu menghindari mempermalukan anak karena telah masuk ke ruang yang salah; respons yang tenang membuatnya lebih berani meminta bantuan.

Kendalikan pembelian virtual dan tekanan untuk memiliki item tertentu

Beberapa dunia virtual menggunakan mata uang digital, item kosmetik, langganan, atau pembelian tambahan. Anak dapat merasa bahwa item tertentu diperlukan agar diterima teman atau dapat melanjutkan permainan. Jelaskan perbedaan antara uang sungguhan dan mata uang virtual: saldo digital tetap berasal dari uang, dan pembelian kecil yang berulang dapat bertambah besar.

Matikan atau amankan metode pembayaran yang tidak perlu, gunakan persetujuan orang tua untuk transaksi, dan jangan menyimpan kode pembayaran di perangkat yang mudah diakses anak. Buat anggaran yang disepakati jika suatu layanan yang sesuai usia memang memiliki pembelian. Orang tua juga dapat memilih untuk tidak melakukan pembelian sama sekali. Tidak perlu membayar karena merasa anak akan tertinggal dari teman; pengalaman virtual tetap dapat dinikmati tanpa semua item yang ditawarkan.

Ajarkan anak mengenali penawaran gratis yang meminta login, kata sandi, atau informasi pribadi. Hadiah virtual yang terlalu menarik dapat menjadi cara untuk memancing pengguna membuka tautan atau memberikan data. Anak perlu memahami bahwa tidak semua promosi berasal dari pengelola resmi. Bila ragu, jangan klik dan tanyakan kepada orang tua.

Perhatikan kenyamanan fisik saat menggunakan perangkat imersif

Perangkat VR atau headset imersif dapat memberi pengalaman yang berbeda dari menonton layar biasa. Sebagian anak mungkin merasa pusing, mual, sakit kepala, tidak nyaman pada mata, kehilangan orientasi, atau takut ketika berada dalam lingkungan virtual. Hentikan aktivitas jika anak merasa tidak nyaman. Jangan memaksa anak menyelesaikan permainan atau durasi tertentu hanya karena perangkat sudah dipasang.

Pastikan ruang fisik aman dari meja, tangga, kabel, hewan peliharaan, dan benda yang mudah tersenggol. Anak tidak boleh bergerak tanpa mengetahui batas area. Periksa panduan usia, kesehatan, dan penggunaan dari produsen perangkat; batas usia dapat berbeda antar perangkat. Jangan membuat asumsi bahwa headset tertentu aman untuk semua anak hanya karena tersedia di toko atau direkomendasikan teman.

Untuk aktivitas yang tidak membutuhkan headset, pertimbangkan pengalaman melalui layar yang digunakan bersama orang tua atau demonstrasi virtual yang dipilih secara khusus. Durasi dan jeda perlu disesuaikan dengan respons anak. Jika muncul keluhan berulang, hentikan penggunaan dan konsultasikan kepada tenaga kesehatan bila diperlukan.

Alternatif eksplorasi metaverse tanpa akun sosial anak

Jika anak belum memenuhi syarat usia suatu platform, eksplorasi tetap dapat dilakukan melalui kegiatan yang sesuai. Keluarga dapat melihat tur virtual museum resmi bersama orang tua, menonton demonstrasi teknologi yang telah dipilih, menggambar rancangan dunia khayalan di kertas, membuat maket dari kardus, atau merancang cerita avatar tanpa mengunggahnya. Anak juga dapat mempelajari bagaimana ruang virtual dibuat melalui kegiatan seni, geometri, cerita, atau desain sederhana yang tidak membutuhkan akun publik.

Misalnya, anak ingin membuat kota virtual. Mulailah dengan menggambar peta kota di kertas: di mana rumah, taman, sekolah, tempat ibadah, dan jalan berada? Tanyakan bagaimana warga dapat bergerak dengan aman, siapa yang merawat ruang publik, dan mengapa ada aturan. Setelah itu, keluarga dapat membangun maket sederhana atau membuat gambar digital di aplikasi yang sesuai usia. Anak mempelajari perancangan dan tanggung jawab tanpa harus masuk ke platform yang tidak memenuhi ketentuan usia.

Jika tujuan anak adalah bermain bersama teman, cari kegiatan kelompok luring yang sesuai minat, seperti menggambar, robotik dasar, olahraga, permainan papan, atau membuat proyek kelas. Interaksi virtual bukan satu-satunya cara menjaga pertemanan. Anak dapat tetap merasa terhubung tanpa harus memakai layanan yang belum sesuai usia atau kesiapan.

Bangun kesepakatan keluarga dan tinjau ulang secara berkala

Kesepakatan dapat memuat layanan yang boleh digunakan, usia minimum, waktu penggunaan, siapa yang mendampingi, fitur sosial yang dinonaktifkan, batas pembelian, dan langkah ketika menemukan sesuatu yang mengganggu. Orang tua perlu menjelaskan alasan setiap batas. Anak dapat mengajukan pertanyaan, tetapi aturan usia dan keselamatan bukan bagian yang bisa dinegosiasikan dengan cara mengakali sistem.

Tinjau kesepakatan ketika anak bertambah besar atau fitur platform berubah. Jangan menganggap persetujuan yang pernah diberikan berlaku selamanya. Periksa pengumuman resmi pemerintah dan platform, sebab status kebijakan dan mekanisme pembatasan dapat berubah. Bila orang tua tidak dapat memastikan apakah layanan sesuai usia, lebih baik menunda daripada memberi akses berdasarkan tebakan. Untuk alternatif kegiatan kreatif yang lebih terarah, lihat pendampingan minat anak pada teknologi dan karya digital.

Artikel membicarakan privasi digital sesuai tahap usia dapat membantu keluarga mendiskusikan data dan jejak digital. Untuk memahami batas pembelian dalam dunia virtual, baca juga pembahasan ekonomi virtual dan batas belanja digital; artikel tersebut dapat dibaca sebagai pembahasan konsep ekonomi virtual, bukan saran untuk mengakses platform yang belum sesuai usia.

Orang tua tidak harus menjadi ahli metaverse, tetapi perlu menjadi pendamping yang teliti

Teknologi baru akan terus berubah. Orang tua tidak harus memahami setiap istilah atau perangkat sebelum dapat mendampingi anak. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan bertanya: layanan apa yang digunakan, berapa usia minimum, siapa yang dapat berinteraksi, data apa yang dikumpulkan, apakah ada transaksi, dan bagaimana anak meminta bantuan. Jika jawabannya belum jelas, orang tua dapat menunda akses dan mencari informasi dari sumber resmi.

Anak dapat mengajari orang tua tentang fitur dan pengalaman yang menarik baginya. Orang tua dapat membantu anak menilai risiko, memahami aturan, menjaga privasi, dan melihat bahwa pengalaman digital hanyalah salah satu bagian kehidupan. Dengan pendekatan ini, rasa ingin tahu anak tetap dihargai tanpa mengabaikan tanggung jawab perlindungan.

Metaverse dapat menjadi ruang untuk belajar dan berkreasi ketika layanannya sesuai usia, aman, dan memiliki tujuan yang jelas. Namun, tidak ada pengalaman virtual yang wajib diikuti hanya karena sedang populer. Keluarga dapat memilih untuk menunggu, mencari alternatif, atau tidak menggunakannya sama sekali. Keputusan yang baik adalah keputusan yang mempertimbangkan kesiapan anak, ketentuan Indonesia, kesejahteraan, dan kebutuhan keluarga—bukan tekanan tren.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.