Anak tampak mengerjakan banyak hal, tetapi apakah semuanya benar-benar diperhatikan?
Bayangkan anak duduk di meja belajar. Buku terbuka, video penjelasan menyala, ponsel bergetar karena pesan grup, dan sebuah permainan masih berjalan di tablet. Ia merasa sedang melakukan beberapa hal sekaligus. Ketika ditanya isi bacaan, ia perlu membuka halaman sebelumnya. Tugas yang seharusnya selesai dalam dua puluh menit justru memakan waktu lebih lama. Situasi ini tidak otomatis berarti anak malas atau tidak mampu berkonsentrasi. Bisa jadi perhatiannya terus terpecah oleh perpindahan kegiatan yang terjadi sebelum ia sempat memahami informasi.
Istilah multitasking sering dipakai untuk menggambarkan kemampuan mengerjakan beberapa hal sekaligus. Dalam aktivitas yang membutuhkan pemikiran, banyak orang sebenarnya tidak memproses semua tugas secara penuh pada waktu yang sama. Mereka berganti fokus dengan cepat: melihat pesan, kembali ke soal, memeriksa video, lalu mencari jawaban. Setiap perpindahan membuat otak perlu mengingat kembali tujuan dan posisi pekerjaan. Anak mungkin terlihat sibuk, tetapi sibuk tidak selalu sama dengan belajar secara mendalam.
Istilah Gen Alpha pun perlu digunakan hati-hati. Anak yang lahir pada rentang generasi ini tidak otomatis memiliki rentang perhatian yang pendek atau kemampuan multitasking yang sama. Perbedaan usia, temperamen, tidur, pengalaman belajar, kebutuhan perkembangan, keadaan keluarga, dan kondisi sekolah jauh lebih penting daripada label generasi. Karena itu, orang tua sebaiknya mengamati kebiasaan anak secara individual, bukan menyimpulkan bahwa semua anak masa kini sudah terbiasa dengan multitasking sehingga tidak bisa fokus.
Bedakan fokus, perhatian, dan kemampuan berpindah tugas
Fokus adalah kemampuan mengarahkan perhatian pada hal yang sedang dikerjakan. Konsentrasi juga melibatkan mempertahankan perhatian selama waktu yang dibutuhkan. Sementara itu, pengendalian perhatian membantu anak mengabaikan gangguan dan kembali ke tugas setelah teralihkan. Anak tidak harus duduk diam tanpa bergerak untuk disebut fokus. Ada anak yang lebih mudah berpikir sambil menggambar sketsa, berdiri sebentar, atau menggunakan benda peraga. Yang perlu dilihat adalah apakah aktivitas tersebut membantu anak memahami dan menyelesaikan tugas.
Perpindahan tugas berbeda dari jeda yang memang direncanakan. Berhenti sejenak untuk minum, meregangkan badan, atau beristirahat setelah menyelesaikan satu bagian dapat membantu anak kembali dengan lebih segar. Sebaliknya, berpindah setiap kali ada notifikasi atau rekomendasi video membuat proses belajar terputus berulang kali. Orang tua dapat membantu anak mengenali perbedaan ini: jeda dipilih dengan sengaja, sedangkan gangguan datang tanpa rencana dan sering membuat anak lupa tujuan awal.
Contoh media multitasking terlihat ketika anak menonton video sambil mengerjakan PR, membuka percakapan, lalu kembali ke tugas setelah diingatkan. Setiap perpindahan membuat anak perlu mengingat lagi tujuan awal dan bagian pekerjaan yang belum selesai. Itu tidak berarti satu kali berpindah aplikasi langsung merusak konsentrasi. Namun, jika perpindahan berlangsung terus-menerus tanpa jeda yang disengaja, anak dapat semakin sulit menjaga alur kerja. Karena itu, orang tua sebaiknya memperhatikan pola penggunaan dan keadaan anak, bukan langsung menyimpulkan bahwa semua layar menjadi penyebab masalah perhatian.
Jangan langsung menyalahkan layar atau menyimpulkan anak mengalami gangguan
Kesulitan fokus dapat muncul karena beberapa keadaan yang tampak mirip. Anak mungkin kurang tidur, lapar, belum memahami instruksi, merasa cemas terhadap tugas, terganggu suara televisi, atau memerlukan bantuan untuk memecah pekerjaan besar menjadi langkah kecil. Anak yang baru pulang sekolah juga mungkin butuh waktu untuk beralih dari suasana kelas ke rumah. Jika orang tua langsung mengambil ponsel dan berkata “Kamu kecanduan gadget”, penyebab yang sebenarnya bisa terlewat dan percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Perhatikan pola, bukan satu kejadian. Apakah anak sulit fokus hanya ketika belajar dengan perangkat, atau juga saat membaca buku, bermain balok, menggambar, dan mengobrol? Apakah ia dapat bertahan pada kegiatan yang ia pilih sendiri, tetapi sulit memulai pekerjaan yang terasa sulit? Apakah perhatian membaik setelah makan, tidur cukup, atau lingkungan menjadi lebih tenang? Catatan sederhana selama satu atau dua minggu dapat membantu orang tua melihat kapan gangguan paling sering terjadi.
Penelitian tentang paparan teknologi dan fungsi eksekutif anak juga belum memberikan satu jawaban sederhana. Sebuah tinjauan cepat sistematis tahun 2025 merangkum sepuluh studi dengan lebih dari 231 ribu anak dan remaja. Sebagian besar studi menemukan hubungan antara paparan TIK berlebihan dan beberapa aspek fungsi eksekutif, tetapi dua studi tidak menemukan hubungan yang bermakna; hasil juga dipengaruhi konteks, isi media, kondisi sosial, dan pendampingan orang tua. Tinjauan penelitian tentang teknologi dan fungsi eksekutif anak ini mengingatkan bahwa konteks penggunaan lebih penting daripada menyimpulkan bahwa semua layar berdampak sama.
Mulai dengan satu tugas yang jelas dan ukuran keberhasilan yang masuk akal
Instruksi “belajar yang serius” terlalu luas untuk membantu anak memulai. Ganti dengan langkah yang dapat dilihat: “Baca dua halaman lalu tandai tiga kata yang belum kamu pahami,” atau “Kerjakan lima soal pertama, setelah itu kita periksa bersama.” Anak lebih mudah memulai ketika ia tahu apa yang harus dilakukan dan kapan bagian itu dianggap selesai. Untuk tugas besar, tulis beberapa langkah di kertas atau papan kecil agar anak tidak harus menyimpan seluruh rencana di dalam kepala.
Sesuaikan durasi dengan usia, tingkat kesulitan, dan keadaan anak. Tidak ada satu angka menit yang cocok untuk semua anak. Anak kelas awal SD mungkin memerlukan sesi pendek dengan jeda lebih sering, sedangkan anak yang lebih besar dapat mencoba rentang lebih panjang jika sudah terbiasa. Mulai dari durasi yang realistis—misalnya 10 sampai 15 menit untuk satu tugas sederhana—kemudian amati apakah anak bisa menyelesaikannya tanpa tekanan berlebihan. Bila masih sulit, kecilkan bagian tugas, jangan langsung menambah waktu dengan paksa.
Gunakan penanda awal dan akhir. Sebelum mulai, ajak anak menyebutkan tujuan: “Sekarang kita selesaikan bagian perkalian.” Setelah tugas selesai, beri jeda singkat dan periksa hasil. Jika anak belum selesai, tanyakan hambatan apa yang muncul. Mungkin ia tidak paham instruksi, lupa alat tulis, atau tergoda membuka aplikasi lain. Memperbaiki hambatan lebih bermanfaat daripada memarahi anak karena belum memenuhi waktu yang ditetapkan.
Atur lingkungan belajar agar gangguan tidak selalu meminta keputusan anak
Anak tidak seharusnya harus mengalahkan puluhan notifikasi hanya dengan kemauan. Orang dewasa pun kesulitan mempertahankan fokus ketika ponsel terus menyala. Sebelum sesi belajar, simpan perangkat yang tidak diperlukan di tempat lain, aktifkan mode hening atau fokus pada perangkat yang memang digunakan untuk tugas, dan tutup tab yang tidak berhubungan. Jika tugas membutuhkan internet, orang tua dapat membantu membuka sumber yang diperlukan terlebih dahulu agar anak tidak harus menavigasi banyak rekomendasi.
Atur meja secukupnya. Letakkan buku, alat tulis, dan bahan yang diperlukan dalam jangkauan. Tidak perlu membuat ruang belajar seperti studio sempurna. Di rumah yang ramai, anak bisa memilih sudut yang relatif tenang, memakai pelindung suara yang aman jika sesuai, atau belajar ketika televisi sedang tidak menyala. Bila ruang bersama tidak memungkinkan, orang tua dapat menyepakati waktu singkat ketika anggota keluarga lain mengurangi suara.
Perhatikan juga faktor fisik. Anak yang duduk terlalu lama bisa merasa tidak nyaman dan mulai bergerak. Sediakan minum, pencahayaan yang cukup, posisi duduk yang sesuai, dan kesempatan berdiri atau meregangkan tubuh. Anak yang membutuhkan gerakan dapat diberi tugas sederhana seperti mengambil buku atau berjalan sebentar di antara sesi. Fokus bukan berarti menahan semua kebutuhan tubuh; lingkungan yang mendukung justru memudahkan anak kembali pada pekerjaan.
Buat kesepakatan digital sebelum anak membuka aplikasi
Aturan yang dibuat saat anak sudah asyik menonton biasanya lebih sulit diterima. Sebelum perangkat digunakan, sepakati tujuan, durasi yang kira-kira sesuai, aplikasi yang boleh dibuka, dan tanda kapan sesi selesai. Misalnya, “Kita pakai laptop untuk mencari informasi tentang hewan, bukan membuka gim. Setelah catatan selesai, laptop ditutup.” Aturan ini perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan; anak yang lebih besar dapat dilibatkan dalam merancang kesepakatan dan menilai apakah aturan tersebut realistis.
Untuk kegiatan belajar digital, tentukan satu sumber dan satu tugas pada satu waktu. Jika anak harus menonton video penjelasan, minta ia menonton satu bagian lalu merangkum dengan kata-kata sendiri. Jangan meminta anak sekaligus menyalin, membuka chat, dan menjawab pertanyaan yang berbeda. Bila guru memberikan tautan, buka dari daftar tugas atau platform belajar yang sudah disepakati. Setelah selesai, tutup tab agar tidak menjadi pintu menuju kegiatan lain.
Aturan keluarga sebaiknya konsisten bagi orang dewasa juga. Jika orang tua melarang anak membawa ponsel ke meja makan tetapi terus memeriksa pesan ketika makan bersama, anak menerima pesan yang bertentangan. Orang tua dapat menjelaskan keadaan khusus—misalnya harus menerima panggilan kerja penting—tetapi secara umum tunjukkan bahwa waktu tanpa perangkat berlaku untuk seluruh keluarga. Strategi membangun fokus mendalam di tengah layar dapat menjadi bacaan lanjutan untuk menata perhatian saat teknologi diperlukan.
Ajari anak mengelola distraksi dengan strategi yang bisa dipakai sendiri
Anak dapat membuat “tempat parkir pikiran” berupa kertas kecil di samping buku. Jika teringat pesan yang ingin dibalas atau ide lain, ia menuliskannya terlebih dahulu lalu kembali ke tugas. Cara ini tidak cocok untuk setiap anak, tetapi bisa dicoba karena membantu mengurangi kekhawatiran akan lupa. Anak yang lebih besar mungkin lebih suka membuat daftar tiga prioritas, mengaktifkan pengatur waktu, atau menggunakan kalender. Pilih alat yang sederhana dan tidak berubah menjadi aplikasi baru yang justru menambah gangguan.
Ajarkan kalimat untuk kembali fokus: “Aku sedang mengerjakan bagian ini,” “Satu soal lagi sebelum istirahat,” atau “Aku simpan ide itu untuk nanti.” Orang tua bisa mengucapkannya bersama anak pada awalnya. Lama-kelamaan, anak akan lebih mampu mengingat tujuan tanpa terus-menerus diingatkan. Jika ia teralihkan, hindari sindiran. Cukup tunjukkan kembali langkah yang sedang dikerjakan dan bantu memulai ulang.
Jeda sebaiknya tidak selalu diisi dengan layar yang sangat menarik. Bergerak, mengisi air minum, memandang tanaman di luar, atau melakukan peregangan memberi perubahan suasana tanpa menambah rangsangan digital. Namun, jika anak memilih mendengarkan musik atau melihat satu video pendek saat istirahat, keluarga dapat membicarakan apakah pilihan itu membuatnya lebih siap kembali atau justru sulit berhenti. Evaluasi berdasarkan dampaknya pada anak, bukan larangan yang sama untuk semua keluarga.
Latih fokus melalui kegiatan nonakademik yang menyenangkan
Fokus berkembang bukan hanya ketika anak mengerjakan soal. Menyusun puzzle, bermain kartu, merakit balok, memasak bersama, merawat tanaman, menggambar pola, atau bermain musik memberi kesempatan untuk mengikuti langkah, memperhatikan detail, dan menyelesaikan sesuatu. Pilih kegiatan yang cukup menantang tetapi tidak terlalu sulit. Jika puzzle terlalu mudah, anak mungkin cepat bosan; jika terlalu rumit, ia bisa frustrasi. Orang tua dapat membantu dengan memberi petunjuk kecil, bukan mengambil alih.
Saat bermain, biarkan anak menentukan strategi. Jika bangunan baloknya roboh, tanyakan bagian mana yang perlu diperkuat. Jika resep tidak berjalan sesuai rencana, ajak melihat langkah yang terlewat. Anak belajar mempertahankan perhatian karena ada tujuan yang bermakna baginya. Tidak perlu mengubah setiap permainan menjadi latihan kognitif atau menilai berapa lama ia dapat duduk diam. Kegiatan harus tetap memberi rasa senang dan hubungan positif dengan keluarga.
Rutinitas membaca juga dapat dilakukan dalam porsi singkat. Setelah membaca satu bagian, ajak anak menceritakan apa yang paling menarik, bukan menguji semua detail. Bila anak belum nyaman membaca panjang, orang tua dapat membaca bergantian atau menggunakan buku bergambar. Untuk gagasan mengatur sesi belajar dan pengulangan, lihat cara mengembangkan kebiasaan belajar dengan jeda dan pengulangan. Orang tua juga dapat meninjau contoh menyusun jadwal belajar anak SD di rumah agar sesi fokus tetap seimbang dengan istirahat dan bermain.
Periksa tidur, beban kegiatan, dan kesejahteraan emosi
Fokus pada siang hari sangat dipengaruhi kualitas istirahat. Anak yang tidur terlalu malam karena les, tugas, gim, atau menonton video mungkin sulit mempertahankan perhatian keesokan harinya. Perhatikan jadwal tidur, waktu bangun, dan apakah anak tampak mengantuk saat belajar. Kebutuhan tidur berbeda sesuai usia; orang tua dapat mencari panduan kesehatan yang sesuai dengan kelompok umur anak dan membicarakannya dengan tenaga kesehatan jika ada masalah tidur yang menetap.
Beban kegiatan juga perlu diperiksa. Anak yang pulang sekolah, les, mengerjakan tugas, lalu mengikuti latihan tambahan mungkin membutuhkan waktu transisi dan bermain bebas. Jika semua waktu diisi instruksi, kesulitan fokus bisa menjadi tanda kelelahan atau ketidakcocokan jadwal. Tinjau kegiatan yang benar-benar penting dan beri ruang untuk makan, tidur, bergerak, serta hubungan keluarga. Menambah sesi belajar tidak selalu memperbaiki hasil jika anak sudah terlalu lelah.
Emosi dapat memengaruhi perhatian. Anak yang sedang menghadapi konflik pertemanan atau takut mendapat nilai rendah mungkin terus memikirkan masalah itu saat belajar. Tanyakan bagaimana perasaannya sebelum memberi instruksi. Kadang, percakapan singkat atau bantuan menghubungi guru lebih efektif daripada memaksa anak melanjutkan pekerjaan ketika pikirannya sedang penuh.
Kapan perlu berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional?
Jika kesulitan perhatian terjadi secara menetap di beberapa lingkungan, mengganggu kegiatan sekolah, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, orang tua dapat mengumpulkan pengamatan dan berdiskusi dengan guru serta tenaga kesehatan yang kompeten. Catat situasi ketika anak mudah atau sulit fokus, berapa lama pola berlangsung, apa yang membantu, dan apakah ada kesulitan tidur, kecemasan, penglihatan, pendengaran, atau pembelajaran. Informasi ini lebih berguna daripada menyimpulkan sendiri bahwa anak mengalami ADHD atau gangguan tertentu.
Gangguan perhatian tidak dapat ditetapkan hanya karena anak sering berpindah aplikasi atau tidak suka mengerjakan PR. Penilaian profesional mempertimbangkan pola perilaku, usia, dampak, riwayat perkembangan, dan kemungkinan faktor lain. Jangan menyalahkan atau memberi label anak. Tujuannya adalah memahami dukungan yang dibutuhkan, baik berupa penyesuaian instruksi, lingkungan belajar, bantuan kesehatan, maupun strategi keluarga.
Jika anak mampu menyelesaikan aktivitas yang disukai tetapi kesulitan pada tugas sekolah, tetap cari tahu apa yang membuat tugas tersebut berat. Bisa jadi kemampuan membaca belum lancar, instruksi kurang dipahami, materi terlalu sulit, atau anak takut melakukan kesalahan. Fokus adalah keterampilan yang berkembang melalui pengalaman dan dukungan, bukan sifat tetap yang bisa dinilai hanya dari satu perilaku.
Rencana tujuh hari untuk mengurangi multitasking tanpa perang gadget
Hari pertama, amati kapan anak paling sering berpindah tugas tanpa mengubah seluruh rutinitas. Hari kedua, pilih satu tugas sederhana dan singkirkan notifikasi yang tidak diperlukan. Hari ketiga, buat kesepakatan tentang kapan perangkat digunakan untuk belajar dan kapan disimpan. Hari keempat, coba satu sesi pendek yang diakhiri jeda gerak. Hari kelima, pilih permainan nonlayar yang disukai anak. Hari keenam, tanyakan strategi mana yang terasa membantu dan mana yang membuatnya kesal. Hari ketujuh, perbaiki satu aturan bersama anak lalu lanjutkan selama beberapa minggu sebelum menilai hasil.
Jangan menjadikan rencana ini sebagai tantangan yang wajib sempurna. Jika satu hari terlewat, lanjutkan saja. Perubahan kebiasaan terjadi melalui latihan yang berulang dan fleksibel. Orang tua juga dapat memberi contoh dengan menaruh ponsel ketika berbicara, menyelesaikan satu pekerjaan sebelum membuka yang lain, dan mengakui ketika dirinya sendiri terdistraksi.
Tujuan akhirnya bukan membuat anak anti-teknologi atau mampu berkonsentrasi tanpa henti. Anak perlu belajar memilih kapan teknologi berguna, kapan perhatian harus dilindungi, dan bagaimana kembali pada tugas setelah terganggu. Saat anak dapat bekerja dalam satu langkah, beristirahat dengan sengaja, dan meminta bantuan ketika kesulitan, ia sedang membangun keterampilan yang akan berguna di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.










