Remaja menyiapkan makanan berisi telur, tempe, nasi, dan sayur setelah berolahraga, sementara wadah protein powder berada tertutup di samping.
Makanan sehari-hari yang beragam dapat membantu remaja memenuhi kebutuhan protein tanpa buru-buru membeli suplemen.
Gizi & Kebiasaan Makan

Suplemen Protein Remaja, Perlu Nggak Sih atau Cukup dari Makanan?

Remaja yang mulai latihan di gym sering tertarik membeli whey protein. Sebelum ikut tren, pahami kebutuhan protein, peran makanan sehari-hari, risiko produk, dan kapan perlu konsultasi ahli gizi.

Sepulang sekolah, anak remaja cerita kalau teman-temannya di tempat latihan sudah minum whey protein. Katanya biar otot cepat terbentuk, badan lebih berisi, dan hasil latihan kelihatan. Anak lalu bertanya, “Aku perlu beli juga nggak?” Kalau Bunda belum pernah berurusan dengan suplemen olahraga, pertanyaan ini bisa bikin bingung. Di satu sisi, kita ingin mendukung anak hidup aktif. Di sisi lain, kita nggak ingin asal membeli produk yang belum tentu dibutuhkan.

Jawaban soal Suplemen Protein Remaja tidak bisa disamaratakan. Kebutuhan protein dipengaruhi usia, tahap pertumbuhan, pola makan, kondisi kesehatan, dan aktivitas fisik. Sebagian besar remaja yang makan cukup dan beragam bisa memenuhi kebutuhan protein dari makanan. Suplemen bukan jalan pintas untuk membentuk otot, dan menambah bubuk protein tidak otomatis membuat tubuh lebih kuat.

Protein memang penting, tetapi bukan satu-satunya bahan bakar tubuh

Protein membantu membangun dan memperbaiki jaringan tubuh. Saat remaja tumbuh, kebutuhan zat gizi ikut berubah. Anak yang berolahraga juga membutuhkan energi, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, cairan, serta waktu istirahat. Kalau fokus keluarga hanya mengejar gram protein, kebutuhan lain bisa terlupakan.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa atlet remaja mungkin memerlukan protein sedikit lebih banyak dibanding remaja yang tidak aktif, tetapi membangun massa otot tidak cukup dengan menambah protein. Latihan yang tepat, energi yang cukup, pemulihan, dan pola makan seimbang tetap berperan. AAP juga mengingatkan bahwa kebanyakan atlet muda yang sudah makan seimbang tidak membutuhkan suplemen protein. Bunda dapat membaca penjelasan AAP tentang protein untuk atlet remaja.

Suplemen protein remaja bukan jalan pintas untuk membentuk otot. Tubuh tetap membutuhkan makan cukup, latihan terencana, dan waktu pemulihan.

Makanan sehari-hari sebenarnya punya banyak pilihan

Protein tidak hanya berasal dari daging atau susu. Keluarga bisa mengombinasikan sumber hewani dan nabati sesuai kebiasaan makan, kemampuan keluarga, alergi, serta preferensi anak. Contohnya:

  • Telur, ikan, ayam, daging, dan susu atau produk olahannya jika cocok dengan kondisi anak.
  • Tempe, tahu, kacang-kacangan, dan olahan kedelai.
  • Kacang hijau, lentil, dan jenis kacang lain sebagai bagian dari menu beragam.
  • Roti atau serealia tertentu yang juga menyumbang protein, meski biasanya bukan satu-satunya sumber.

Menu sehari-hari tidak harus mahal atau selalu berupa dada ayam dan telur rebus. Nasi, tempe, sayur, ikan, sup kacang, atau sandwich telur bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi bila porsinya dan variasinya sesuai. Orang tua dapat melihat perbedaan protein hewani dan nabati untuk anak serta contoh bekal sekolah tinggi protein sebagai inspirasi. Untuk remaja, jumlah dan porsi tetap disesuaikan, bukan menyalin menu anak yang lebih kecil.

Kapan suplemen mungkin dibicarakan?

Ada situasi ketika asupan protein anak perlu dievaluasi lebih serius, misalnya pola makan sangat terbatas, alergi atau kondisi medis yang membatasi pilihan makanan, kebutuhan energi yang tidak tercukupi, atau program latihan yang intens. Namun, itu bukan berarti orang tua bisa langsung membeli bubuk protein. Langkah pertama adalah menilai pola makan, pertumbuhan, kesehatan, serta tujuan latihan bersama dokter atau ahli gizi yang memahami kebutuhan remaja.

Jangan menyamakan “anak aktif” dengan “pasti butuh suplemen”. Anak yang berlatih beberapa kali seminggu mungkin tetap bisa memenuhi kebutuhannya dari makanan. Sebaliknya, anak yang makan sangat terbatas perlu dibantu menyusun menu yang memadai, bukan sekadar diberi produk tambahan.

SituasiLangkah awal yang lebih tepat
Remaja baru mulai latihan bebanPerbaiki pola makan, teknik latihan, dan waktu tidur sebelum memikirkan suplemen.
Anak sering melewatkan makanAtur jadwal makan dan cari penyebabnya; jangan menutup kekurangan energi hanya dengan protein shake.
Anak punya alergi atau diet khususKonsultasikan pilihan sumber protein dengan dokter/ahli gizi.
Atlet remaja berlatih intensifEvaluasi kebutuhan energi dan zat gizi secara individual bersama profesional.

Remaja yang sedang mengalami percepatan pertumbuhan juga membutuhkan energi, bukan protein saja. Karbohidrat membantu menyediakan tenaga untuk latihan dan aktivitas harian, sedangkan lemak, vitamin, mineral, serta cairan ikut mendukung fungsi tubuh. Kalau porsi makan terlalu kecil karena anak ingin terlihat lebih ramping, tambahan bubuk protein tidak menyelesaikan masalah dasarnya. Tubuh tetap membutuhkan pola makan yang cukup dan beragam.

Kebutuhan gizi pada masa pubertas dapat berubah mengikuti pertumbuhan dan aktivitas. Bunda bisa membaca pembahasan kebutuhan gizi remaja saat pubertas untuk memahami mengapa menu anak yang sedang tumbuh tidak bisa disamakan begitu saja dengan menu orang dewasa yang sedang membentuk otot.

Sebelum membeli suplemen protein remaja, diskusikan tujuan anak dan pola makannya dengan tenaga kesehatan yang memahami kebutuhan remaja.

Jangan tertipu klaim “cepat besar” di kemasan atau media sosial

Produk suplemen olahraga sering dipasarkan dengan gambar otot, janji hasil cepat, atau testimoni. Remaja yang sedang membandingkan tubuhnya dengan teman bisa mudah tertarik. Padahal, produk bubuk protein tidak menggantikan latihan yang benar, makan cukup, dan tidur. Ada juga produk olahraga yang mencampurkan protein dengan kafein, stimulan, herbal, atau bahan lain. Semakin banyak campuran, semakin sulit menilai apakah semuanya cocok bagi anak.

Jika keluarga dan tenaga kesehatan menilai suplemen tertentu memang diperlukan, periksa komposisi, takaran saji, sumber protein, informasi produsen, izin edar yang sesuai, serta kemungkinan alergen. Jangan membeli produk repack tanpa label jelas atau mengandalkan klaim influencer. Perlu diingat, suplemen dapat memiliki kualitas dan kandungan yang berbeda-beda; label saja tidak selalu menjamin kebutuhan anak terpenuhi.

Hindari pula penggunaan kreatin, pembakar lemak, pre-workout, atau produk peningkat performa tanpa diskusi dengan profesional. Artikel ini tidak menyarankan remaja menggunakan produk tersebut. Fokus utama keluarga adalah kesehatan dan perkembangan jangka panjang, bukan mengejar perubahan bentuk tubuh secepat mungkin.

Obrolan soal tubuh juga penting

Ketika remaja meminta suplemen, jangan langsung menertawakan atau menganggap ia hanya ikut-ikutan. Bisa jadi ia ingin lebih kuat, merasa tertinggal dari teman, atau tidak percaya diri dengan tubuhnya. Dengarkan dulu alasan di balik keinginannya.

“Kamu pengin lebih kuat untuk olahraga, atau merasa badanmu belum seperti teman-teman? Kita bisa cari tahu kebutuhan tubuhmu bareng, bukan asal beli produk.”

Kalimat seperti itu menggeser percakapan dari penampilan ke kesehatan dan kemampuan. Jangan mengomentari bentuk tubuh anak secara merendahkan, termasuk ketika orang tua berniat bercanda. Bila anak terlihat sangat cemas tentang berat atau bentuk tubuh, melewatkan makan, atau menggunakan suplemen diam-diam, cari bantuan profesional yang memahami kesehatan remaja.

Hal sederhana yang sering lebih berpengaruh daripada bubuk protein

  • Makan teratur dan tidak sengaja melewatkan sarapan atau makan utama.
  • Menyediakan sumber protein pada beberapa waktu makan, tanpa harus menghitung setiap gram.
  • Mengonsumsi karbohidrat untuk energi latihan dan pemulihan.
  • Minum cukup air dan memberi tubuh jeda istirahat.
  • Mengatur latihan sesuai usia, kemampuan, dan bimbingan yang tepat.

Kalau berat badan sulit naik, anak mudah lelah, nafsu makan turun, atau pertumbuhannya membuat orang tua khawatir, jangan menyelesaikannya dengan menambah suplemen sendiri. Evaluasi medis dapat membantu mencari penyebab dan menentukan dukungan yang cocok.

Pada akhirnya, suplemen bukan bukti bahwa anak serius berolahraga. Keseriusan justru terlihat dari kebiasaan yang konsisten: makan cukup, latihan aman, tidur teratur, dan mau mendengarkan tubuh. Sebelum membeli produk yang sedang ramai di gym, duduk sebentar dengan anak dan cek apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bisa jadi jawabannya bukan satu tub besar whey, melainkan menu rumah yang lebih teratur dan pendampingan yang tepat.

(Naya)

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.