Mendapat kabar bahwa hasil skrining kesehatan mental anak perlu ditindaklanjuti bisa membuat orang tua terdiam. Ada yang langsung khawatir anaknya mengalami gangguan, ada yang bingung harus menghubungi siapa, dan ada pula yang berharap hasil tersebut keliru. Reaksi seperti itu manusiawi. Namun, hal terpenting setelah skrining bukan memberi label pada anak, melainkan memahami arti hasilnya dan memastikan anak mendapat dukungan yang tepat.
Dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemeriksaan kesehatan jiwa menjadi salah satu bagian dari layanan untuk anak usia sekolah. Karena itu, hasil skrining perlu dibaca sebagai petunjuk awal, bukan keputusan akhir tentang kondisi psikologis anak. Hasil yang membutuhkan perhatian sebaiknya diikuti percakapan dan pemeriksaan lanjutan sesuai arahan tenaga kesehatan.
Apa yang ditemukan dalam skrining kesehatan mental anak?
Dalam konferensi pers pada 9 Maret 2026—yang kemudian diberitakan Kementerian Kesehatan pada 13 Maret 2026—Kemenkes memaparkan hasil awal skrining CKG periode 2025–2026. Saat itu, sekitar tujuh juta anak telah menjalani skrining. Sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi. Angka tersebut adalah temuan gejala dari proses skrining yang dilaporkan pada periode itu, bukan jumlah anak yang telah mendapat diagnosis klinis. Lihat rilis resmi Kemenkes tentang hasil skrining CKG.
Karena itu, Hasil Skrining Kesehatan Mental Anak harus dibaca sebagai gambaran awal yang membantu menentukan tindak lanjut, bukan sebagai label yang melekat pada anak.
Kemenkes juga menjelaskan bahwa faktor yang memengaruhi kesehatan jiwa anak dapat berkaitan dengan lingkungan keluarga, pertemanan, dan pendidikan. Artinya, tindak lanjut tidak cukup hanya meminta anak “lebih kuat”. Orang dewasa di sekitar anak perlu ikut memeriksa apakah ada tekanan, konflik, kesulitan belajar, perundungan, perubahan besar, atau kondisi lain yang memengaruhi kesehariannya. Baca penjelasan resmi Kemenkes mengenai temuan skrining kesehatan mental anak.
Skrining bukan diagnosis
Skrining dirancang untuk mengenali kemungkinan masalah lebih awal. Instrumen skrining dapat menunjukkan bahwa seseorang perlu diperiksa lebih lanjut, tetapi tidak cukup untuk menetapkan diagnosis. FAQ SATUSEHAT Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa hasil skrining yang kurang baik bukan berarti seseorang otomatis mengalami gangguan mental. Orang tua sebaiknya mengikuti arahan tindak lanjut dan mengunjungi tenaga profesional yang disarankan untuk penilaian lebih lengkap.
Setelah menerima hasil, orang tua dapat meminta petugas menjelaskan jalur tindak lanjut, jadwal yang perlu diperhatikan, dan apakah anak perlu dipantau atau dirujuk. Catat informasi tersebut agar keluarga dapat menyiapkan pertanyaan saat konsultasi.
Diagnosis memerlukan penilaian menyeluruh oleh tenaga profesional yang kompeten. Penilaian dapat mempertimbangkan riwayat anak, perkembangan, kondisi fisik, lingkungan, lama dan intensitas keluhan, serta dampaknya pada sekolah dan rumah. Karena itu, jangan menyimpulkan anak mengalami depresi atau gangguan kecemasan hanya dari satu skor, satu formulir, atau satu percakapan.
CKG sekolah ditujukan bagi peserta didik dan anak usia 7–17 tahun di luar satuan pendidikan. Jenis pemeriksaan menyesuaikan kelompok umur dan jenjang. Informasi pelaksanaan dan cakupan dapat diperiksa melalui informasi resmi CKG Sekolah.
Apa yang sebaiknya dilakukan setelah menerima hasil?
- Baca hasil bersama petugas. Tanyakan arti istilah, bagian yang perlu ditindaklanjuti, kapan pemeriksaan lanjutan diperlukan, dan fasilitas mana yang dapat dihubungi. Jangan hanya menafsirkan warna atau angka tanpa penjelasan.
- Jadwalkan tindak lanjut. Jika disarankan ke Puskesmas, psikolog klinis, dokter, atau layanan lain, ikuti rujukan tersebut. Tanyakan dokumen apa yang perlu dibawa dan apakah anak perlu hadir bersama orang tua.
- Beri tahu anak dengan bahasa yang menenangkan. Jelaskan bahwa pemeriksaan membantu orang dewasa memahami kebutuhan kesehatan, bukan mencari kesalahan atau memberi cap.
- Catat perubahan yang diamati. Tulis kapan keluhan muncul, situasi pemicunya, perubahan tidur atau makan, keluhan fisik, hubungan sosial, dan dampaknya pada kegiatan sehari-hari.
- Bangun komunikasi dengan sekolah bila relevan. Dengan memperhatikan privasi anak, diskusikan dukungan yang diperlukan bersama wali kelas atau guru BK. Hindari menyebarkan hasil skrining ke grup orang tua atau pihak yang tidak berkepentingan.
Bagaimana mengajak anak bicara tanpa membuatnya merasa diinterogasi?
Anak mungkin tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan. Sebagian hanya berkata “capek”, “pusing”, “tidak mau sekolah”, atau lebih banyak diam. Orang tua tidak perlu langsung mengajukan banyak pertanyaan. Pilih waktu yang tenang, gunakan kalimat sederhana, dan beri kesempatan anak menjawab dengan caranya.
“Kami ingin tahu bagaimana hari-harimu. Ada bagian yang terasa berat akhir-akhir ini? Kamu boleh cerita sedikit-sedikit, tidak harus sekarang.”
Hindari kalimat seperti “Kamu kenapa sih?”, “Jangan berlebihan”, atau “Kamu kurang bersyukur”. Respons yang mengecilkan perasaan bisa membuat anak enggan bercerita. Dengarkan dulu, ulangi inti yang dipahami, lalu tanyakan dukungan apa yang terasa membantu. Bila anak belum siap berbicara, tawarkan cara lain seperti menulis, menggambar, atau ditemani melakukan aktivitas sederhana.
Perhatikan perubahan, bukan hanya hasil formulir
Sambil menunggu tindak lanjut, orang tua dapat memperhatikan perubahan keseharian. Misalnya, anak yang biasanya menikmati kegiatan tertentu mulai menghindar, lebih sering mengeluh sakit perut atau kepala, sulit tidur, mudah tersinggung, menarik diri, atau mengalami penurunan fungsi sekolah. Satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan gangguan mental. Lihat pola, durasi, perubahan dari kebiasaan sebelumnya, dan seberapa besar dampaknya.
Jangan mengubah seluruh rutinitas rumah sekaligus. Mulailah dari hal yang mendasar: waktu tidur yang cukup, makanan teratur, kesempatan bergerak, waktu bersama orang dewasa tepercaya, serta ruang untuk beristirahat dari tekanan. Kebiasaan ini tidak menggantikan pemeriksaan, tetapi dapat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung.
Untuk memahami dukungan di sekolah, orang tua dapat membaca dukungan kesehatan mental siswa di SD dan cara membangun lingkungan rumah yang mendukung kesehatan mental anak. Bila kondisi orang tua sendiri terasa berat, menjaga kesehatan mental orang tua juga layak menjadi perhatian.
Kapan perlu bantuan segera?
Jangan menunggu jadwal rutin bila anak menyampaikan keinginan menyakiti diri, merasa tidak ingin hidup, melakukan tindakan berbahaya, atau berada dalam situasi yang mengancam keselamatannya. Temani anak, jauhkan benda atau situasi berbahaya bila dapat dilakukan dengan aman, dan cari bantuan profesional atau layanan darurat setempat segera. Jangan menjanjikan untuk merahasiakan informasi yang berkaitan dengan keselamatan anak.
Jika tidak ada tanda darurat tetapi keluhan menetap, mengganggu aktivitas, atau memburuk, tetap lakukan konsultasi sesuai rujukan. Orang tua tidak harus menyelesaikan semuanya sendiri. Tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah anak membutuhkan pemantauan, dukungan psikologis, pemeriksaan medis, atau rencana lain.
Hasil skrining adalah awal untuk mendampingi
Bunda dan Ayah tidak perlu memiliki semua jawaban pada hari pertama. Bacalah hasil bersama petugas, bicaralah dengan anak secara aman, lalu bangun dukungan bersama layanan kesehatan dan sekolah. Hasil skrining bukan cap yang melekat pada anak, melainkan petunjuk awal untuk memahami kebutuhannya dan menentukan langkah berikutnya dengan tenang.
(Naya)










