Anak berbicara dengan ibu di ruang keluarga setelah melihat unggahan pada tablet.
Ibu mendengarkan cerita anak tentang perbandingan di internet dan membantu melihat kekuatan dirinya.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak di Tengah Budaya Perbandingan di Internet

Anak dapat membandingkan penampilan, prestasi, barang, dan jumlah pengikut dengan apa yang terlihat di internet. Orang tua dapat membantu anak memahami konten yang dikurasi, mengenali kekuatan diri, dan membangun rasa percaya diri di luar ukuran popularitas.

Anak melihat teman memamerkan sepatu baru, kreator seusianya mendapatkan banyak pujian, atau video yang menampilkan kehidupan serba sempurna. Setelah itu ia merasa dirinya kurang menarik, kurang mampu, atau tertinggal. Perbandingan seperti ini tidak selalu tampak jelas. Anak mungkin hanya meminta barang yang sama, menghapus foto karena tidak mendapat banyak suka, atau enggan mengikuti kegiatan. Orang tua perlu menggali apa yang sedang dibandingkan dan bagaimana perasaan anak, bukan langsung menyebutnya iri atau tidak bersyukur.

Mengapa kehidupan di layar mudah menjadi standar?

Unggahan biasanya dipilih dan disusun. Orang membagikan momen terbaik, pencapaian, perjalanan, barang baru, atau foto yang telah diedit. Anak mungkin melihat potongan kehidupan orang lain tanpa mengetahui biaya, latihan, bantuan, kesulitan, dan bagian yang tidak ditampilkan. Konten yang muncul berulang dapat membuat gambaran sempit terasa seperti standar umum. Jelaskan bahwa layar memperlihatkan pilihan cerita, bukan keseluruhan hidup seseorang.

Perbandingan juga terjadi pada hal yang tidak selalu tampak, seperti jumlah teman dalam gim, peringkat, jumlah penonton, atau seberapa cepat seseorang menguasai keterampilan. Bagi anak, angka yang terlihat mudah berubah menjadi ukuran nilai diri. Orang tua dapat bertanya: “Apakah angka itu benar-benar menunjukkan kemampuanmu sebagai teman atau sebagai anak?” Bantu anak melihat bahwa popularitas daring bukan ukuran tunggal kualitas hubungan atau kemampuan.

Dengarkan perbandingan yang dibuat anak

Jangan buru-buru menyangkal perasaan anak dengan berkata “kamu juga hebat” tanpa memahami masalahnya. Tanyakan apa yang paling membuatnya merasa kurang. Apakah ia membandingkan tubuh, barang yang dimiliki, nilai sekolah, keterampilan bermain, atau jumlah teman? Setiap masalah memerlukan respons berbeda. Jika anak merasa tidak mampu menggambar seperti kreator favorit, ia mungkin membutuhkan kesempatan latihan. Jika ia merasa tidak disukai karena jumlah pengikut, ia mungkin perlu memahami perbedaan hubungan nyata dan metrik platform.

Validasi rasa kecewa tanpa menyetujui kesimpulan negatif. Katakan, “Aku mengerti kamu merasa tertinggal setelah melihat unggahan itu. Tetapi satu unggahan tidak menceritakan seluruh kehidupan orang tersebut, dan tidak menentukan nilai dirimu.” Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman lain untuk menghibur. Perbandingan baru dapat memperkuat pola yang ingin dikurangi.

Bantu anak mengurai unggahan yang terlihat sempurna

  1. Apa yang sebenarnya ditampilkan? Sebutkan fakta yang terlihat tanpa menambahkan asumsi.
  2. Apa yang mungkin tidak terlihat? Persiapan, bantuan orang lain, proses latihan, biaya, atau kesulitan.
  3. Apakah konten ini bertujuan berbagi, menghibur, menjual, atau mencari perhatian? Tujuan dapat memengaruhi cara cerita disajikan.
  4. Bagaimana perasaanmu setelah melihatnya? Jika terus membuat sedih atau tidak nyaman, boleh berhenti menonton atau mengatur ulang beranda.

Latihan ini bukan mengajak anak mencari kekurangan orang lain. Tujuannya membuatnya melihat bahwa konten digital adalah potongan pengalaman yang dipilih. Jangan mengatakan semua unggahan palsu atau semua kreator sengaja menipu. Ada orang yang berbagi dengan jujur, tetapi tetap tidak mungkin menampilkan seluruh keseharian. Anak perlu belajar menilai konten tanpa sinis.

Rasa percaya diri tumbuh ketika anak mengenali hal yang dapat ia pelajari dan nilai dirinya yang tidak bergantung pada penilaian orang lain. Jika ia terinspirasi oleh teman yang mahir menggambar, bantu memilih satu teknik untuk dicoba. Jika ia ingin memiliki barang yang sama, bicarakan kebutuhan dan anggaran. Jika ia ingin lebih banyak teman, bantu mencari kesempatan berinteraksi, bukan mengejar jumlah pengikut sebagai pengganti kedekatan.

Rasa percaya diri juga tidak dibangun dengan memuji anak sebagai yang terbaik dibanding semua orang. Pujian semacam itu membuatnya harus terus unggul untuk merasa aman. Lebih baik sebut tindakan spesifik: ia berani meminta bantuan, mengulang latihan, mengakui kesalahan, atau menghibur teman. Anak dapat merasa bangga karena berkembang, bukan karena berhasil mengalahkan orang lain.

Ketika anak menyampaikan perasaan kurang, hindari segera membandingkan dengan anak yang dianggap lebih sulit hidupnya. Respons seperti itu dapat membuat anak merasa bersalah atas emosinya. Akui bahwa ia sedang kecewa, lalu bantu menentukan tindakan kecil. Rasa percaya diri lebih mungkin tumbuh ketika anak merasa aman untuk menceritakan perasaan dan tetap dihargai meski belum menemukan solusinya.

Bangun rasa percaya diri lewat pengalaman nyata

Kepercayaan diri lebih kuat ketika anak memiliki pengalaman bahwa ia dapat mencoba, berlatih, gagal, memperbaiki, dan berkembang. Berikan kesempatan melakukan kegiatan yang bermakna bagi dirinya, bukan hanya kegiatan yang terlihat mengesankan di internet. Misalnya, belajar memasak menu sederhana, merawat tanaman, bermain musik, membantu tetangga, atau berlatih olahraga. Fokus pada proses dan kemampuan yang berkembang, bukan hasil yang bisa dibandingkan dengan unggahan orang lain.

Pujian sebaiknya spesifik dan jujur. Daripada “kamu paling pintar”, katakan “kamu tadi mencoba cara lain ketika jawaban pertama belum berhasil”. Daripada “kamu lebih cantik daripada temanmu”, katakan “kamu memilih pakaian yang nyaman dan cocok untuk kegiatan hari ini”. Pujian yang spesifik membantu anak melihat usaha, keputusan, dan nilai yang tidak bergantung pada mengungguli orang lain.

American Academy of Pediatrics membahas hubungan media sosial, citra tubuh, dan harga diri dalam panduan tentang media sosial dan citra tubuh. Gunakan sebagai perspektif pendukung dan sesuaikan percakapannya dengan usia serta konteks keluarga Indonesia.

Atur paparan konten yang memicu perbandingan

Ajak anak meninjau akun atau kanal yang sering ditonton. Tanyakan konten mana yang memberi ide atau semangat, dan mana yang membuatnya merasa terus kurang. Anak dapat berhenti mengikuti akun tertentu, memilih topik lain, atau mengatur waktu menonton. Tidak perlu memaksa anak menghapus semua aplikasi; fokus pada lingkungan yang lebih seimbang dan sesuai usia. Orang tua juga perlu menjelaskan bahwa fitur rekomendasi dapat terus menampilkan konten serupa setelah anak menonton atau berinteraksi.

Bila anak masih menggunakan layanan yang sesuai ketentuan usia, sepakati waktu bebas layar dan kegiatan offline yang menyenangkan. PP TUNAS dan aturan pelaksanaannya juga perlu diperhatikan dalam pemilihan platform digital bagi anak di Indonesia. Jangan mengakali ketentuan usia demi mengikuti teman. Periksa perkembangan aturan dan fitur yang tersedia, karena layanan dapat mengubah kebijakan maupun cara kerja rekomendasinya.

Gunakan percakapan perbandingan yang lebih sehat

Ucapan anakRespons yang membantu
“Semua temanku punya barang itu.”“Kita belum tahu apakah semua memilikinya. Apa yang membuat barang itu penting buatmu?”
“Aku tidak sebagus dia.”“Bagian mana yang ingin kamu pelajari? Kita bisa lihat proses latihan, bukan hanya hasilnya.”
“Tidak ada yang menyukai fotoku.”“Jumlah respons tidak selalu menunjukkan siapa yang peduli padamu. Siapa teman yang membuatmu nyaman?”
“Hidupku membosankan.”“Apa kegiatan yang ingin kamu coba minggu ini, meskipun tidak perlu diunggah?”

Jangan mengubah percaya diri menjadi tuntutan untuk selalu positif

Anak tetap boleh merasa tidak puas, kecewa, malu, atau iri. Kepercayaan diri bukan berarti selalu menyukai diri sendiri setiap waktu. Anak perlu belajar mengenali emosi tanpa menjadikannya kesimpulan permanen tentang siapa dirinya. Jika ia tidak percaya diri pada suatu keterampilan, bantu menyusun langkah belajar. Jika ia merasa tidak nyaman terhadap tubuh, dengarkan tanpa mengomentari bentuk tubuhnya dan pastikan kebutuhan kesehatannya dibahas secara netral.

Orang tua perlu berhati-hati ketika memberi saran tentang diet, olahraga, atau penampilan. Jangan mendorong perubahan tubuh demi mengikuti tren. Jika anak menunjukkan kekhawatiran berat tentang berat badan, pola makan, atau penampilan hingga mengganggu kegiatan, konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Hindari diagnosis berdasarkan satu komentar atau foto.

Ketika perbandingan mulai mengganggu keseharian

Perhatikan bila anak terus menarik diri, kehilangan minat pada kegiatan, sulit tidur, sering menilai tubuhnya dengan kasar, atau merasa tidak berharga. Bicarakan perubahan tersebut dengan lembut dan minta bantuan psikolog atau tenaga kesehatan bila berlangsung lama atau mengganggu fungsi sehari-hari. Jika anak mengungkapkan keinginan menyakiti diri, tanggapi serius dan cari pertolongan segera. Jangan menunggu sampai ia mampu menjelaskan semuanya dengan kata-kata sempurna.

Keluarga dapat memperkuat dukungan dengan mengapresiasi kontribusi anak di rumah, memberi kesempatan membuat keputusan sesuai usia, dan menjaga hubungan yang tidak hanya membahas prestasi. Baca juga panduan menanamkan rasa syukur tanpa membandingkan anak serta panduan membangun kepercayaan diri untuk mencoba hal baru untuk melihat cara mengembangkan rasa syukur dan percaya diri tanpa membandingkan anak dengan orang lain.

Pesan utama bagi anak

Katakan bahwa anak tidak perlu menjadi salinan orang lain untuk layak dihargai. Ia boleh terinspirasi dari keterampilan, karya, atau pengalaman orang lain, lalu memilih hal yang ingin dipelajari. Namun, hidupnya tidak harus terlihat seperti unggahan siapa pun. Ketika orang tua membantu anak mengembangkan kemampuan, hubungan, dan pengalaman di luar layar, perbandingan digital tidak lagi menjadi satu-satunya cermin untuk menilai diri.

Topik ini juga dapat diperdalam melalui dukungan sehari-hari untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak, terutama untuk membantu keluarga menerapkan keterampilan yang sama pada situasi sehari-hari.

Rujukan untuk pendalaman

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.