Ibu mendengarkan anak yang duduk di sampingnya setelah membaca komentar di ponsel.
Anak bercerita kepada ibunya tentang komentar yang membuatnya tidak nyaman, sementara ibu mendengarkan dengan tenang.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Mendampingi Anak Menghadapi Komentar Jahat tentang Bentuk Tubuh di Internet

Komentar tentang tubuh di media sosial atau gim dapat membuat anak malu, marah, atau menarik diri. Artikel ini membahas cara mendengarkan, membangun respons aman, melaporkan perundungan, dan memperkuat penghargaan anak terhadap dirinya tanpa menyalahkan korban.

Anak menutup ponselnya setelah membaca komentar tentang berat badan, tinggi badan, warna kulit, rambut, atau bentuk wajah. Ia mungkin berkata “tidak apa-apa”, tetapi setelah itu enggan berfoto, tidak mau ikut kegiatan, atau berulang kali bertanya apakah dirinya terlihat buruk. Komentar di internet dapat terasa sangat dekat karena dibaca berulang, disukai orang lain, atau muncul di ruang yang dianggap penting bagi anak. Respons pertama orang tua bukan menyuruh anak mengabaikan semuanya. Dengarkan pengalaman anak dan cari tahu apakah komentar itu terjadi sekali, berulang, atau disertai ancaman.

Mengapa komentar tentang tubuh dapat membekas?

Anak sedang membangun pemahaman tentang diri, hubungan sosial, dan penerimaan teman sebaya. Komentar yang mengejek dapat membuatnya merasa dinilai berdasarkan penampilan, bukan kemampuan atau kepribadiannya. Foto yang diedit, filter, dan perbandingan dengan sosok yang sering muncul di layar juga dapat membentuk gambaran yang tidak realistis. Namun, dampak setiap anak berbeda. Ada anak yang cepat pulih setelah mendapat dukungan, sementara yang lain memerlukan bantuan lebih intensif, terutama bila komentar berulang atau datang dari teman dekat.

Jangan menganggap semua komentar hanya bercanda. Kata-kata yang merendahkan tubuh tetap dapat menyakiti walaupun pengirim mengatakan tidak bermaksud serius. Sebaliknya, jangan langsung menyimpulkan bahwa satu komentar akan menyebabkan gangguan psikologis. Perhatikan pola, perubahan perilaku, dan perasaan anak. Beri ruang untuk menjelaskan bagaimana komentar itu memengaruhi dirinya tanpa mengarahkan jawaban.

Dengarkan sebelum memberi saran

Mulailah dengan pertanyaan terbuka: “Bagian mana dari komentar itu yang paling membuatmu tidak nyaman?” atau “Apakah orang yang sama pernah mengatakan hal serupa?” Hindari respons yang mengecilkan pengalaman seperti “jangan baper”, “abaikan saja”, atau “itu cuma bercanda”. Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk menguatkan, tetapi anak dapat menangkapnya sebagai tanda bahwa perasaannya tidak penting. Katakan bahwa ia berhak merasa tidak nyaman ketika tubuhnya dijadikan bahan ejekan.

Tanyakan juga apa yang anak inginkan saat itu: didengarkan, dibantu menyusun jawaban, atau ingin melaporkan akun. Anak tidak harus menentukan semuanya sendiri, terutama bila ada ancaman. Orang tua dapat berkata, “Terima kasih sudah cerita. Kita cari langkah yang aman bersama.” Jika ia belum siap bercerita, jangan memaksanya menunjukkan seluruh percakapan di depan saudara atau orang lain. Beri kesempatan berbicara secara pribadi.

Jika anak menerima komentar jahat, bantu ia memilih respons berdasarkan tingkat risiko. Untuk komentar sekali yang tidak mengandung ancaman, ia bisa tidak membalas, membisukan akun, atau menghapus interaksi. Untuk serangan berulang, simpan bukti, blokir akun, dan laporkan melalui platform. Jika pelaku adalah teman sekolah, pertimbangkan komunikasi dengan wali kelas atau pihak sekolah. Anak tidak perlu membuktikan keberanian dengan menghadapi pelaku sendirian.

Jangan meminta anak membalas komentar jahat dengan hinaan tentang tubuh orang lain. Balasan semacam itu dapat memperpanjang konflik dan melukai anak lain. Latih kalimat sederhana: “Aku tidak nyaman dengan komentar itu”; “Tolong berhenti membahas tubuhku”; atau “Aku akan keluar dari percakapan ini.” Orang tua juga bisa membantu mengatur privasi akun dan membatasi siapa yang dapat berkomentar.

Perhatikan apakah komentar jahat membuat anak mulai menghindari makan bersama, olahraga, foto keluarga, atau pertemuan dengan teman. Perubahan seperti ini perlu dibicarakan tanpa mengomentari tubuh anak. Arahkan percakapan pada rasa aman, kenyamanan, dan kebutuhan dukungan. Jika penghinaan terus berulang atau disertai ancaman, jangan menunggu anak mengatasinya sendiri.

Pilih respons yang aman, bukan balasan yang memperbesar masalah

SituasiRespons yang dapat dicobaYang sebaiknya dihindari
Komentar mengejek sekaliTidak membalas, menyembunyikan komentar, atau membatasi akun.Membuat komentar balasan yang menyerang tubuh orang lain.
Ejekan berulangSimpan bukti, blokir/laporkan akun, dan beri tahu orang dewasa atau sekolah jika pelaku teman sekolah.Menghadapi pelaku sendirian ketika ada ancaman.
Foto diedit atau disebarkanJangan meneruskan; simpan tautan/bukti yang aman dan laporkan konten.Mengunggah ulang agar orang lain ikut melihat atau mengejek.
Ancaman atau pemerasanLibatkan orang dewasa tepercaya dan pihak yang berwenang secepatnya.Membayar, memenuhi permintaan, atau menyimpan rahasia karena takut.

Tidak semua situasi membutuhkan konfrontasi langsung. Anak boleh meninggalkan ruang digital yang membuatnya tidak aman. Jika pelakunya teman sekelas, orang tua dapat menghubungi wali kelas atau pihak sekolah secara faktual: jelaskan kejadian, waktu, bukti yang tersedia, dan dampaknya pada anak. Mintalah rencana penanganan yang melindungi korban, bukan mediasi yang memaksa anak bertemu pelaku sebelum ia siap.

Bantu anak membangun cara pandang yang lebih sehat tentang tubuh

Hindari menjawab ejekan dengan komentar yang sama-sama menilai penampilan, misalnya “kamu lebih cantik daripada mereka” atau “tubuhmu masih lebih bagus”. Niatnya menghibur, tetapi pesan yang diterima tetap bahwa nilai seseorang ditentukan oleh perbandingan fisik. Lebih baik katakan bahwa tubuh manusia tumbuh dengan bentuk, ukuran, dan ciri yang berbeda. Tubuh juga memungkinkan anak bergerak, belajar, bermain, dan merasakan dunia. Fokus pada fungsi, kenyamanan, kesehatan, dan rasa hormat, bukan angka atau standar penampilan tertentu.

Orang tua dapat memperhatikan cara berbicara tentang tubuh di rumah. Hindari mengejek berat badan sendiri, membandingkan bentuk tubuh saudara, atau memberi pujian yang hanya berfokus pada penampilan. Saat anak memilih pakaian, bantu mempertimbangkan kenyamanan, cuaca, aktivitas, dan aturan kegiatan, bukan memaksanya mengikuti tren. Jika keluarga perlu membahas kesehatan, gunakan bahasa netral dan konsultasikan perubahan berat badan atau pola makan kepada tenaga kesehatan, bukan menjadikannya komentar di depan orang lain.

Untuk memahami bentuk dan dampak perundungan digital dalam konteks Indonesia, orang tua dapat membaca penjelasan UNICEF Indonesia tentang cyberbullying dan menggunakannya sebagai bahan percakapan yang sesuai usia.

Periksa lingkungan digital yang dikonsumsi anak

Tinjau akun, video, grup, dan komunitas yang sering diikuti anak tanpa mengubah pemeriksaan menjadi pengawasan rahasia yang membuatnya takut. Tanyakan konten mana yang membuatnya merasa terinspirasi dan mana yang membuatnya membandingkan diri secara tidak nyaman. Bantu menyembunyikan atau berhenti mengikuti akun yang terus menampilkan ejekan, diet ekstrem, atau standar tubuh yang tidak realistis. Jelaskan bahwa anak boleh mengatur berandanya dan tidak wajib mengikuti semua tren.

Jika komentar muncul pada platform tertentu, pelajari fitur blokir, pembatasan komentar, dan pelaporan. Jangan berasumsi semua platform memiliki fitur atau batas usia yang sama. Sesuaikan penggunaan layanan dengan ketentuan usia di Indonesia dan kebijakan masing-masing platform. Untuk panduan mengenai pengalaman negatif anak di internet, keluarga dapat membaca materi UNICEF Indonesia. Rujukan tersebut berguna untuk langkah keselamatan umum, tetapi keputusan tetap perlu menyesuaikan situasi anak.

Perkuat identitas anak di luar penampilan

Bantu anak terhubung dengan kegiatan yang membuatnya merasa mampu dan dihargai, misalnya olahraga yang disukai, seni, membaca, memasak, merawat tanaman, atau kegiatan sosial. Jangan memilih kegiatan hanya untuk mengubah tubuh atau membuktikan komentar orang salah. Fokus pada pengalaman, keterampilan, dan hubungan yang sehat. Pujilah usaha konkret: ketekunan saat berlatih, keberanian meminta bantuan, sikap baik kepada teman, atau kreativitas menyelesaikan masalah.

Jika anak mulai menghindari teman atau kegiatan yang sebelumnya disukai, bicarakan dengan lembut. Ajak ia mengenali orang dewasa yang aman untuk dihubungi di rumah dan sekolah. Baca pula panduan membangun rasa percaya diri melalui dukungan sehari-hari untuk melihat cara melatih kepercayaan diri melalui dukungan sehari-hari. Anak tidak perlu menjadi kebal terhadap komentar agar bisa merasa berharga; ia perlu tahu bahwa ada orang yang akan mendengarkan dan membelanya.

Kapan mencari dukungan profesional?

Pertimbangkan bantuan psikolog atau tenaga kesehatan bila anak terus merasa malu atau cemas, menarik diri dari aktivitas, sulit tidur, mengalami perubahan pola makan yang mengkhawatirkan, sering menangis, atau sangat terfokus pada kekurangan tubuh. Bila muncul ucapan menyakiti diri atau keinginan bunuh diri, anggap serius, dampingi anak, jauhkan sarana yang membahayakan, dan segera cari pertolongan darurat atau layanan kesehatan setempat. Jangan menunggu sampai keadaan memburuk untuk berkonsultasi.

Bantuan profesional bukan tanda orang tua gagal. Psikolog dapat membantu anak mengolah pengalaman perundungan, memperkuat keterampilan menghadapi tekanan sosial, dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan tubuhnya. Bila masalah berkaitan dengan perubahan fisik atau pola makan, tenaga medis dapat menilai kondisi secara menyeluruh. Hindari mendiagnosis anak berdasarkan satu komentar atau perubahan perilaku singkat.

Pesan yang perlu terus didengar anak

Kekuatan anak bukan diukur dari seberapa cepat ia melupakan komentar buruk, melainkan dari dukungan yang ia dapatkan untuk memahami perasaan, menetapkan batas, dan mencari bantuan. Orang tua tidak dapat mengendalikan semua komentar di internet, tetapi dapat memastikan rumah menjadi tempat yang aman untuk bercerita. Dengan begitu, anak belajar bahwa penampilan bukan ukuran tunggal harga dirinya dan bahwa ia berhak diperlakukan dengan hormat.

Topik ini juga dapat diperdalam melalui panduan menjaga batas pribadi anak dengan teman, terutama untuk membantu keluarga menerapkan keterampilan yang sama pada situasi sehari-hari.

Rujukan untuk pendalaman

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.