Anak lima tahun yang sebelumnya sudah cukup mandiri bisa tiba-tiba meminta disuapi, ingin digendong, berbicara dengan suara lebih kekanak-kanakan, atau meminta ditemani seperti saat lebih kecil. Perubahan ini sering membuat orang tua bingung, terutama ketika mereka sedang sibuk merawat bayi. Namun, perilaku tersebut tidak otomatis berarti kemampuan yang sudah dimiliki anak hilang.
Kelahiran adik mengubah banyak hal dalam waktu singkat: perhatian orang tua terbagi, jadwal bergeser, suara dan kebutuhan baru hadir di rumah, serta anak harus menyesuaikan diri dengan peran yang belum pernah ia jalani. Sebagian anak menunjukkan ketidaknyamanan melalui perilaku, bukan lewat penjelasan panjang. Memahami konteks membantu orang tua merespons tanpa mempermalukan anak.
Perubahan perilaku bisa menjadi cara meminta kedekatan
Anak prasekolah masih mengembangkan kemampuan mengungkapkan emosi dan mengelola rasa kecewa. Ia mungkin tahu bahwa dirinya sudah bisa makan atau memakai sepatu sendiri, tetapi tetap berharap orang tua membantu seperti dulu. Ketika bayi terus digendong dan dirawat, anak dapat mencoba mencari kembali perhatian yang terasa berkurang.
Perilaku seperti meminta botol atau ingin dipangku tidak selalu memiliki satu penyebab. Bisa jadi anak lelah, ingin meniru, sedang mencari kenyamanan, atau memang membutuhkan bantuan pada hari itu. Hindari menafsirkan setiap permintaan sebagai manipulasi atau kecemburuan. Tanyakan apa yang ia rasakan dan amati kapan perilaku muncul.
Bedakan kebutuhan bantuan dengan batas perkembangan
Orang tua boleh memberikan bantuan tambahan tanpa menghapus keterampilan yang sudah dikuasai anak. Misalnya, anak tetap bisa memakai sepatu sendiri, tetapi orang tua menemaninya ketika ia meminta bantuan karena sedang lelah. Setelah itu, ajak kembali mencoba secara bertahap ketika suasana lebih tenang.
Gunakan kalimat yang tidak merendahkan, seperti, “Kamu ingin ditemani hari ini. Ibu bisa duduk di sini sambil kamu mencoba.” Hindari, “Masa sudah besar masih seperti bayi?” Kalimat kedua menghubungkan kebutuhan emosional dengan rasa malu, padahal anak justru sedang belajar menghadapi perubahan.
Jaga waktu khusus dan rutinitas lama
Rutinitas yang familier dapat memberi rasa stabil. Jika sebelum adik lahir orang tua biasa membaca cerita sebelum tidur atau mengantar anak menyiapkan tas, pertahankan sebagian kegiatan tersebut. Tidak semua kebiasaan harus berjalan dengan durasi sama, tetapi keberlanjutan memberi pesan bahwa hubungan dengan kakak tetap penting.
Waktu khusus dapat berlangsung singkat dan terjadwal. Jelaskan kapan waktunya agar anak tidak harus terus meminta perhatian di tengah aktivitas merawat bayi. Jika janji harus berubah karena kebutuhan mendesak, berikan penjelasan dan tentukan waktu pengganti yang realistis.
Libatkan anak tanpa menuntutnya selalu dewasa
Anak boleh memilih pakaian bayi atau membawakan popok yang tidak berbahaya ketika orang tua berada dekat. Namun, jangan menjadikan tugas itu syarat agar ia mendapat pujian atau perhatian. Anak lima tahun tetap berhak bermain, belajar, dan membutuhkan bantuan sesuai usianya.
Jika anak ingin duduk dekat ketika orang tua menyusui atau memberi susu, sediakan ruang aman dan kegiatan untuknya. Ia dapat membaca buku, menggambar, atau berbincang. Keterlibatan yang fleksibel lebih baik daripada memaksanya berperan sebagai kakak yang selalu sabar.
Hindari respons yang memperkuat persaingan
Jangan membandingkan kakak dengan bayi atau menyebut satu anak lebih mudah dirawat. Hindari pula menjanjikan bahwa kakak akan selalu mendapatkan hadiah bila bersikap baik kepada adik. Hubungan saudara berkembang melalui banyak pengalaman, dan tidak dapat dibangun dengan transaksi.
Jika anak melakukan tindakan yang tidak aman, hentikan dengan tegas dan tenang. Amankan bayi terlebih dahulu, lalu jelaskan perilaku yang perlu berubah. Fokus pada tindakan, bukan identitas anak: “Tangan tidak boleh mendorong adik” lebih jelas daripada “Kamu nakal.”
Kapan perlu konsultasi?
Perhatikan apakah perubahan perilaku semakin berat, berlangsung lama tanpa tanda membaik, mengganggu aktivitas harian, atau disertai perubahan tidur, makan, interaksi, maupun kemampuan yang sebelumnya stabil. Bila orang tua khawatir, diskusikan dengan dokter anak atau psikolog anak. Penilaian profesional membantu melihat keseluruhan perkembangan, bukan hanya menilai satu kebiasaan.
Regresi sesaat tidak menentukan masa depan anak. Dengan rutinitas yang cukup stabil, perhatian yang nyata, batas keselamatan yang konsisten, dan kesediaan mendengarkan, anak dapat menemukan cara baru untuk merasa aman dalam keluarga yang berubah.
Perhatikan waktu dan situasi ketika perilaku berubah
Perubahan perilaku lebih mudah dipahami bila orang tua melihat polanya. Apakah anak kembali meminta disuapi terutama saat orang tua sedang menggendong bayi? Apakah ia berbicara seperti bayi ketika ada tamu yang memuji adiknya? Apakah ia menjadi lebih manja menjelang tidur atau ketika harus berangkat sekolah? Pola ini dapat memberi petunjuk tentang kebutuhan yang belum tersampaikan, tetapi tidak menjadi alat diagnosis.
Catatan singkat selama beberapa hari bisa membantu. Tulis situasi pemicu, respons orang dewasa, dan hal yang membuat anak kembali tenang. Hindari mencatat dengan nada menghakimi seperti “hari ini nakal lagi”. Gunakan kalimat deskriptif: “meminta digendong setelah melihat adik digendong” atau “menolak memakai baju sendiri ketika rutinitas pagi berubah”. Informasi seperti ini lebih berguna untuk menentukan bantuan yang sesuai.
Perkuat kemampuan yang sudah dimiliki tanpa mempermalukan
Jika anak meminta bantuan untuk hal yang sebenarnya sudah dapat ia lakukan, orang tua bisa menawarkan pilihan. Misalnya, “Kamu mau mencoba memakai sepatu sendiri, atau perlu Ayah membantu bagian talinya?” Dengan cara ini, anak tetap mendapat perhatian tanpa harus sepenuhnya kembali ke pola bayi. Jangan menertawakan cara bicaranya atau merekam perilaku tersebut untuk ditunjukkan kepada keluarga lain.
Jangan pula menahan bantuan sebagai hukuman. Ada hari ketika anak lelah, sakit, atau membutuhkan kedekatan lebih banyak. Respons yang lentur bukan berarti semua perilaku harus dibiarkan. Orang tua tetap dapat menetapkan batas keselamatan, menjaga rutinitas, dan mengarahkan anak kembali melakukan keterampilan secara bertahap. Bila perubahan menetap, meluas ke banyak situasi, atau mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasikan dengan profesional.
Perkuat rutinitas yang membantu anak merasa aman
Jika anak kembali meminta digendong seperti bayi, orang tua dapat menyediakan waktu kedekatan yang tidak bergantung pada perilaku regresif. Misalnya, ada ritual memeluk sebelum tidur atau membaca satu cerita bersama. Setelah itu, dorong keterampilan yang sudah dikuasai dengan dukungan bertahap. Jangan membandingkan anak dengan adiknya atau berkata bahwa ia harus segera berhenti karena sudah besar. Penyesuaian adalah proses, tetapi batas dan rutinitas yang konsisten tetap membantu anak memahami apa yang diharapkan.
Selaraskan respons orang dewasa di rumah
Jika anak diasuh oleh beberapa orang dewasa, sepakati respons yang serupa. Ketika satu orang tua mengajak anak mencoba sendiri sementara pengasuh lain menertawakannya atau langsung mengambil alih, anak menerima pesan yang membingungkan. Semua pendamping dapat memberi dukungan hangat sekaligus mendorong kemampuan yang sudah dikuasai. Bicarakan hal ini tanpa menyalahkan anggota keluarga yang memiliki kebiasaan berbeda.
Perubahan perilaku juga dapat dipengaruhi kurang tidur, perubahan jadwal sekolah, atau kondisi kesehatan. Jangan mengaitkan semua hal dengan kelahiran adik. Amati keseluruhan rutinitas dan beri ruang bagi anak menjelaskan apa yang ia rasakan.










