Jam setengah tujuh malam. Makan malam hampir siap, tetapi anak masih asyik bermain. Ketika diminta membereskan mainan, ia menjawab, “Nanti!” Orang tua mengulang permintaan, suara mulai meninggi, dan suasana yang tadinya biasa saja berubah tegang.
Situasi seperti ini akrab bagi banyak keluarga. Di tengah pekerjaan, urusan rumah, dan energi yang tinggal sedikit, menerapkan pola asuh positif memang tidak selalu mudah. Kabar baiknya, orang tua tidak harus selalu tenang atau menemukan kalimat yang sempurna. Perubahan bisa dimulai dari cara merespons satu kejadian kecil pada satu waktu.
Apa sebenarnya pola asuh positif?
Pola asuh positif adalah pendekatan pengasuhan yang menggabungkan hubungan hangat, komunikasi yang menghargai, batasan yang jelas, dan bimbingan sesuai usia anak. Tujuannya bukan membuat anak selalu patuh, melainkan membantu anak belajar memahami perasaan, bertanggung jawab atas perilakunya, dan memperbaiki kesalahan dengan dukungan orang dewasa. Untuk melatih percakapan yang membuka ruang bagi anak, baca kebiasaan mendengar cerita anak dengan tenang sebagai pendamping.
Artinya, orang tua tetap boleh berkata “tidak”. Anak tidak harus mendapatkan semua yang diinginkan, dan perilaku yang membahayakan tetap perlu dihentikan. Bedanya terletak pada cara orang tua menetapkan batas: tegas tanpa merendahkan, konsisten tanpa menakut-nakuti, dan bersedia mendengar tanpa kehilangan peran sebagai pembimbing.
Pesan serupa disampaikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yang menekankan pengasuhan aman tanpa kekerasan, pengelolaan emosi orang tua, komunikasi yang baik, serta batasan yang sesuai usia.
“Perasaan anak boleh hadir; perilaku yang menyakiti tetap perlu dibatasi.”
Kalimat ini bisa menjadi pengingat saat anak marah atau kecewa. Kita tidak perlu menyangkal perasaannya, tetapi tetap bertanggung jawab menjaga keselamatan dan mengajarkan perilaku yang lebih tepat.
Empat pegangan yang bisa dibawa ke rutinitas harian
Dekati anak sebelum mengoreksi
Ketika anak tampak kesal, berhenti sejenak untuk memahami apa yang sedang terjadi. Berjongkok agar sejajar dengan anak, dengarkan sebentar, lalu sampaikan batas atau arahan. Kita tidak harus menyetujui semua keinginannya untuk menunjukkan bahwa perasaannya didengar.
Misalnya: “Kamu masih ingin bermain. Iya, mobil-mobilanmu sedang seru. Sekarang waktunya makan. Kita simpan bersama, ya.” Respons ini tetap memberi batas, tetapi tidak menjadikan anak sebagai lawan.
Ganti label dengan arahan yang bisa dilakukan
Ucapan seperti “Kamu malas sekali” atau “Kamu selalu berantakan” memberi cap pada anak, tetapi tidak menjelaskan apa yang perlu ia lakukan. Cobalah menyebut tindakan yang diharapkan secara spesifik: “Taruh baloknya di kotak setelah selesai bermain” atau “Gunakan kata-kata kalau ingin meminjam mainan.”
Anak yang masih kecil mungkin perlu ditunjukkan caranya. Untuk anak yang lebih besar, orang tua bisa meminta mereka mengusulkan langkah penyelesaian. Arahan yang konkret membuat aturan lebih mudah dipahami daripada teguran panjang.
Buat batas yang jelas dan dapat diprediksi
Pilih beberapa aturan inti yang penting untuk keluarga, misalnya soal keselamatan, waktu tidur, atau cara memperlakukan orang lain. Jelaskan dengan bahasa sederhana dan jalankan secara konsisten. Tidak semua hal perlu dijadikan peraturan; terlalu banyak larangan justru membuat pesan utama sulit dikenali.
Rutinitas juga dapat membantu. Jika waktu bermain akan berakhir, beri pengingat sebelum waktunya selesai. Bila anak kesulitan menunggu giliran atau mengikuti aturan saat bermain, keluarga bisa mencoba latihan antre dan bergiliran di rumah sebagai latihan kecil, bukan sebagai ujian kepatuhan.
Tunjukkan perilaku yang ingin diajarkan
Anak memperhatikan bagaimana orang dewasa berbicara, meminta bantuan, menghadapi kekecewaan, dan memperbaiki kesalahan. Jika kita ingin anak meminta maaf, kita juga perlu bersedia meminta maaf. Jika kita ingin anak mendengarkan, beri kesempatan orang lain menyelesaikan kalimatnya.
Panduan Pengasuhan Positif dari PAUDPedia Kemendikdasmen juga menyoroti komunikasi positif, kepercayaan pada kemampuan anak, tidak membandingkan anak, dan pentingnya orang tua mengelola emosi. Prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan sedikit demi sedikit, sesuai keadaan keluarga. Untuk membagi tanggung jawab pengasuhan secara realistis, lihat cara mendukung pasangan dalam pengasuhan dan bahas langkah yang dapat dipertahankan bersama.
Bagaimana mengubah teguran menjadi kesempatan belajar?
Saat sedang lelah, mengingat prinsip pengasuhan positif saja kadang belum cukup. Contoh di bawah ini bisa membantu kita memilih respons yang lebih jelas tanpa mengabaikan batasan.
| Situasi sehari-hari | Respons spontan yang sebaiknya dihindari | Alternatif yang lebih membimbing |
|---|---|---|
| Anak belum mau berhenti bermain | “Kamu selalu susah dibilangin!” | “Waktunya selesai. Kamu mau mulai merapikan balok atau mobil dulu?” |
| Anak menumpahkan minuman | “Ceroboh sekali sih!” | “Minumannya tumpah. Ambil lap, yuk, kita bersihkan bersama.” |
| Anak marah karena harus bergiliran | “Jangan egois!” | “Kamu masih ingin memakainya. Setelah giliran temanmu selesai, kamu boleh mencoba lagi.” |
| Anak membantah dengan suara keras | “Jangan melawan orang tua!” | “Kamu boleh tidak setuju. Coba sampaikan dengan kata-kata yang tidak menyakiti.” |
Contoh kalimat tentu perlu disesuaikan dengan usia dan situasi. Ketika anak atau orang lain terancam terluka, dahulukan keselamatan dan hentikan tindakan berbahaya. Penjelasan bisa diberikan setelah keadaan lebih tenang.
Untuk melihat bagaimana pengasuhan positif berbeda dari pendekatan yang mengandalkan rasa takut atau hukuman keras, UNICEF menjelaskan perbedaan pendekatan positif dan pola asuh yang terlalu ketat, lengkap dengan contoh situasi yang sering terjadi dalam keluarga.
Kalau orang tua telanjur membentak, apa yang bisa dilakukan?
Tidak ada orang tua yang selalu berhasil merespons dengan tenang. Jika terlanjur membentak, jangan menganggap satu kejadian itu menentukan seluruh hubungan dengan anak. Setelah situasi aman dan emosi mereda, kembali dekati anak dan akui bagian yang menjadi tanggung jawab kita.
Contohnya: “Tadi Ayah/Ibu membentak. Itu bukan cara yang baik untuk bicara. Maaf, ya. Aturannya tetap sama: mainan perlu dirapikan sebelum makan, tetapi Ayah/Ibu seharusnya menyampaikannya dengan lebih tenang.”
Permintaan maaf tidak menghapus aturan. Justru, anak melihat dua hal sekaligus: setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya, dan kesalahan dapat diperbaiki tanpa saling merendahkan. Jika orang tua merasa terlalu marah untuk melanjutkan percakapan, pastikan anak aman, ambil jeda, dan minta bantuan orang dewasa tepercaya bila diperlukan.
Mulai dari satu kebiasaan, bukan perubahan besar sekaligus
Pola asuh positif lebih mungkin bertahan ketika terasa realistis. Untuk beberapa hari ke depan, pilih satu hal yang ingin dicoba. Misalnya, memberi instruksi yang lebih spesifik, mendengarkan cerita anak selama beberapa menit tanpa ponsel, atau menyebut perilaku baik yang benar-benar kita lihat.
Ketika kebiasaan itu mulai terasa wajar, tambahkan langkah lain. Orang tua juga bisa menyesuaikannya dengan dukungan yang tersedia di rumah. Jika ingin melatih keterampilan sosial lewat kegiatan sederhana, lihat juga aktivitas di rumah untuk melatih kemampuan sosial. Untuk bacaan dan dukungan pengasuhan yang lebih luas dalam bahasa Indonesia, kunjungi UNICEF Pengasuhan Indonesia, yang menyediakan informasi seputar perkembangan anak, komunikasi, dan dukungan emosional bagi orang tua maupun pengasuh.
Pada akhirnya, pola asuh positif bukan perlombaan untuk menjadi orang tua sempurna. Ada hari ketika semuanya berjalan lancar dan ada hari ketika kesabaran terasa tipis. Yang bisa terus kita upayakan adalah hubungan yang hangat, batas yang masuk akal, dan kesediaan memperbaiki cara kita merespons. Dari situlah anak belajar bahwa ia disayangi sekaligus dibimbing.








