Bayi yang mengejan hingga wajah merah dapat terlihat seperti sedang kesakitan. Orang tua mungkin khawatir ia sembelit atau mengalami gangguan pencernaan. Padahal, bayi kecil sedang belajar mengoordinasikan otot perut dan dasar panggul ketika buang air besar. Mengejan, mendengus, menarik kaki, atau wajah memerah dapat terjadi walaupun tinjanya akhirnya lunak. Namun, mengejan tidak selalu normal; bentuk tinja, usia bayi, pola menyusu, dan tanda penyerta perlu diperhatikan.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa bayi dapat bekerja keras untuk mengeluarkan tinja dan menjadi merah di wajah meskipun tidak mengalami sembelit. Baca panduan AAP tentang sembelit pada bayi. Jika tinja keras, kering, seperti butiran, keluar dengan nyeri, atau disertai darah, penilaiannya berbeda dari bayi yang mengejan tetapi mengeluarkan tinja lunak.
Mengapa bayi mengejan sampai wajah merah?
Pada masa awal kehidupan, gerakan buang air besar belum selalu terkoordinasi dengan baik. Bayi dapat mengencangkan perut sambil belum sepenuhnya merelaksasi otot yang perlu terbuka agar tinja keluar. Karena itu, ia mungkin menangis, mendengus, menggeliat, atau memerah selama beberapa menit. Setelah akhirnya buang air besar dengan tinja lunak dan bayi tampak nyaman, episode tersebut sering kali bukan tanda sembelit.
Bayi juga dapat mengejan saat kentut atau mencoba mengeluarkan tinja setelah menyusu. Mimik wajah yang kuat tidak cukup untuk menentukan ada tidaknya masalah. Pertimbangkan apakah tinja lunak atau keras, apakah perut lembut atau membesar dan tegang, bagaimana nafsu menyusu, dan apakah bayi tampak sehat di antara episode. Jangan menilai sembelit hanya dari berapa lama bayi belum buang air besar.
Bedakan mengejan biasa dari sembelit
Sembelit lebih sering ditandai tinja keras, kering, berbentuk butiran, nyeri saat keluar, atau bayi tampak kesakitan berulang kali. Kadang ada sedikit darah karena retakan kecil di anus, tetapi darah tetap perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama pada bayi muda. Frekuensi buang air besar bervariasi menurut umur dan jenis asupan. Bayi yang mendapat ASI dapat memiliki jeda beberapa hari setelah pola menyusu dan pertumbuhan stabil, tetapi pola newborn berbeda dan asupan yang tidak cukup harus dipertimbangkan.
Jika bayi mengejan tetapi tinjanya tetap lunak, menyusu baik, perut tidak membesar, dan ia tampak sehat, orang tua dapat mengamati tanpa langsung memberi obat. Sebaliknya, tinja keras, muntah, darah, perut buncit atau nyeri, gangguan menyusu, atau pertumbuhan yang kurang memerlukan konsultasi. Bayi baru lahir dengan masalah buang air besar sejak awal kehidupan atau gejala yang berat perlu diperiksa lebih cepat.
Apa yang bisa dilakukan di rumah?
Pertama, pastikan bayi mendapat ASI atau formula sesuai kebutuhan dan formula dibuat sesuai petunjuk kemasan. Jangan mengencerkan formula, menambahkan gula, atau memberikan air, jus, teh, madu, minyak, atau ramuan untuk membuat bayi BAB tanpa saran tenaga kesehatan. Usia bayi menentukan cairan dan intervensi yang aman. Jangan menggunakan termometer, cotton bud, sabun, atau benda lain untuk merangsang anus.
Bila bayi tampak nyaman, gendong dengan posisi yang mendukung, biarkan ia bergerak bebas saat terjaga, dan berikan waktu untuk mencoba buang air besar tanpa menekan perutnya. Pada bayi yang sudah cukup besar untuk gerakan kaki terarah, gerakkan kaki dengan lembut seperti mengayuh sepeda hanya jika bayi menyukainya. Jangan menekuk lutut paksa ke perut atau memijat keras. Hentikan jika bayi tampak kesakitan.
Jika orang tua menduga sembelit, catat bentuk tinja, kapan terakhir BAB, jenis asupan, jumlah popok basah, dan gejala lain. Catatan ini lebih bermanfaat daripada hanya menulis “mengejan”. Jangan memberikan pencahar, suppositoria, enema, atau obat herbal tanpa arahan dokter. Pilihan obat bergantung pada usia dan penyebab; beberapa tindakan dewasa bisa membahayakan bayi.
Kapan perlu diperiksa?
Hubungi tenaga kesehatan jika tinja keras atau menyakitkan berulang, ada darah, bayi muntah, perut membesar dan keras, demam, tidak mau menyusu, atau berat badan tidak bertambah sesuai pemantauan. Pemeriksaan segera diperlukan jika bayi sangat lemas, tampak mengalami nyeri berat, muntah hijau, atau perut membesar disertai tidak dapat BAB atau kentut. Jangan berasumsi semua gejala itu sekadar kesulitan belajar buang air besar.
Sampaikan kapan masalah dimulai, apakah terjadi sejak lahir, apakah tinja pertama setelah kelahiran keluar sesuai harapan, serta apakah ada riwayat keluarga atau kondisi medis. Tenaga kesehatan dapat menilai apakah pola tersebut merupakan koordinasi yang masih berkembang atau membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Jangan menunggu berminggu-minggu jika gejala berulang atau orang tua merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Contoh situasi
Bayi berusia dua bulan memerah, mendengus, lalu mengeluarkan tinja yang lembut. Setelahnya ia menyusu normal dan tampak nyaman. Orang tua bisa mencatat pola tersebut dan menanyakannya pada kunjungan rutin bila masih khawatir, tanpa langsung memberi pencahar. Jika tinja berubah keras, perut membesar, bayi muntah, atau ada darah, situasinya berbeda dan perlu dinilai.
Jangan menilai hanya dari lamanya jeda BAB
Frekuensi BAB pada bayi berubah sesuai usia dan asupan. Sebagian bayi yang lebih besar dan menyusu ASI dapat memiliki jeda beberapa hari dengan tinja tetap lembut, sedangkan pada newborn perubahan frekuensi dapat menjadi petunjuk bahwa asupan perlu diperiksa. Karena itu, “belum BAB” tidak dapat dinilai tanpa mempertimbangkan umur, pola menyusu, pertumbuhan, dan tekstur tinja ketika akhirnya keluar.
Perhatikan juga apakah bayi masih mengeluarkan gas, menyusu normal, memiliki popok basah seperti biasanya, dan perut terasa lembut. Perut yang makin membesar, muntah hijau, muntah berulang, tidak mau menyusu, darah pada tinja, atau keadaan bayi yang tampak sakit tidak boleh dianggap sebagai koordinasi BAB yang belum matang. Jika masalah telah berlangsung sejak awal kehidupan atau bayi tidak mengeluarkan tinja pertama sesuai waktu yang diharapkan, bicarakan dengan dokter.
Orang tua tidak perlu menekan perut, mengangkat kaki dengan paksa, atau menggunakan stimulasi anus agar bayi cepat BAB. Intervensi seperti suppositoria atau pencahar hanya digunakan bila tenaga kesehatan menilai perlu. Ketika tinja keluar lunak dan bayi kembali nyaman, catat polanya dan bawa kekhawatiran tersebut pada konsultasi, terutama bila mengejan terjadi berulang atau ada tanda lain.
Mengapa obat pelunak tinja bukan langkah pertama?
Jika bayi memerah saat mengejan tetapi tinjanya lunak, obat sembelit belum tentu dibutuhkan. Obat tanpa indikasi dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan dan menutupi penyebab keluhan. Jangan memberikan air gula, minyak, teh, jus, supositoria, enema, atau pencahar hanya karena bayi terlihat berusaha keras. Kebutuhan cairan dan pilihan penanganan berbeda menurut usia, terutama pada bayi yang belum mulai makanan pendamping ASI.
Jika dokter menilai bayi mengalami konstipasi, ikuti rencana penanganan sesuai usia dan jangan mengganti dosis atau frekuensi sendiri. Tanyakan tanda yang perlu dipantau, kapan perlu kontrol, dan apakah ada perubahan asupan yang dibutuhkan. Pada newborn atau bayi dengan gejala sejak lahir, penilaian penyebab lebih penting daripada mencoba produk yang dijual bebas. Catatan bentuk tinja dan kondisi bayi akan membantu menjelaskan mengapa orang tua khawatir.
Bila sulit membedakan antara tinja keras dan lunak, simpan catatan atau foto tinja untuk ditunjukkan kepada tenaga kesehatan, dengan tetap menjaga privasi dan tanpa menunda pertolongan pada gejala berat.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah wajah merah saat mengejan selalu berarti bayi sembelit?
Tidak. Yang penting juga adalah konsistensi tinja, rasa nyeri, pola menyusu, dan kondisi bayi secara keseluruhan.
Haruskah merangsang anus agar tinja keluar?
Jangan memasukkan benda atau memakai metode rangsangan tanpa arahan klinis. Tindakan itu dapat melukai jaringan dan tidak membantu bayi belajar koordinasi secara aman.
Inti yang perlu diingat
Bayi mengejan sampai merah kadang merupakan bagian dari proses belajar mengoordinasikan buang air besar, terutama bila tinja lunak dan bayi sehat. Tinja keras, darah, muntah, perut membesar, nyeri berat, atau gangguan menyusu memerlukan perhatian. Jangan memberi obat atau menggunakan rangsangan anus tanpa arahan tenaga kesehatan.
Baca juga di kategori Kesehatan Anak Parenting BisaBaca.
Sumber dan bacaan lanjutan
- How Can I Tell If My Baby Is Constipated? — American Academy of Pediatrics.
- Constipation: symptom checker — American Academy of Pediatrics.








