Seorang ayah duduk berdampingan dengan anak usia sekolah yang memegang pita peserta lomba setelah acara selesai.
Setelah perlombaan, anak mungkin membutuhkan waktu untuk kecewa sebelum siap membahas pengalaman dan langkah berikutnya.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Parenting Saat Anak Gagal dalam Perlombaan: Menghindari Toxic Positivity dan Mendengarkan Perasaannya

Ucapan “yang penting ikut” atau “tidak usah sedih” bisa terasa terlalu cepat ketika anak kecewa setelah kalah lomba. Pelajari cara memberi dukungan yang jujur, tidak meremehkan, dan tetap membantu anak melihat pengalaman secara utuh.

Anak baru selesai mengikuti lomba menggambar. Ia melihat teman-temannya mendapat piala, sementara namanya tidak dipanggil. Di perjalanan pulang, ia diam lalu berkata, “Aku jelek sekali menggambarnya.” Orang tua mungkin spontan menjawab, “Tidak apa-apa, yang penting ikut,” atau “Sudah, jangan sedih.” Maksudnya menghibur, tetapi anak bisa merasa bahwa kekecewaannya perlu segera dihentikan. Padahal, ia mungkin sedang membutuhkan waktu untuk mencerna pengalaman yang tidak sesuai harapan.

Istilah *toxic positivity* sering digunakan untuk menggambarkan dorongan agar seseorang selalu melihat sisi positif sampai perasaan sulitnya diabaikan. Dalam pengasuhan, masalahnya bukan mengajak anak melihat hal baik. Masalah muncul ketika optimisme dipakai untuk menutup kesedihan, kecewa, malu, atau marah sebelum anak merasa didengar. Anak dapat menerima dua pesan sekaligus: ia boleh belajar dari kekalahan, dan ia juga boleh merasa sedih karena hasilnya tidak sesuai harapan.

Jangan buru-buru mengubah kekalahan menjadi pelajaran

Kalimat “kamu sudah berusaha” bisa membantu, tetapi tidak selalu harus menjadi respons pertama. Jika anak masih kecewa, mulai dengan pengakuan sederhana: “Kamu berharap mendapat juara, ya. Pasti rasanya berat ketika nama teman dipanggil dan namamu tidak.” Orang tua tidak perlu membesar-besarkan situasi, tetapi juga tidak perlu mengecilkannya. Lihat ekspresi anak dan beri ruang hening bila ia belum ingin menjawab.

Anak mungkin ingin menangis, mengeluh, atau bertanya mengapa juri memilih karya lain. Dengarkan tanpa langsung menyalahkan juri, teman, atau anak sendiri. Jangan pula menyuruh anak tersenyum untuk foto kelompok ketika ia belum siap. Jika ada kewajiban mengikuti kegiatan penutupan, bantu anak menjalani seperlunya sambil memastikan ia tahu boleh membicarakan perasaannya setelah acara.

Ucapan yang terdengar positif tetapi bisa terasa menutup perasaan

  • “Sudah, jangan sedih.” Anak dapat menangkap pesan bahwa perasaan sedih tidak diinginkan. Ganti dengan, “Kamu boleh sedih. Ibu menemanimu.”
  • “Yang penting ikut, bukan menang.” Kalimat ini mungkin benar sebagai nilai umum, tetapi belum tentu menjawab kekecewaan anak. Coba, “Kamu ingin hasil yang lebih baik. Kita boleh membahas itu.”
  • “Lihat, temanmu juga tidak menang.” Perbandingan tidak otomatis menghibur. Katakan, “Setiap peserta punya pengalaman sendiri. Sekarang kita fokus pada apa yang kamu rasakan.”
  • “Pasti ada hikmahnya.” Anak mungkin belum siap mencari makna. Coba, “Kita tidak harus menemukan sisi baiknya sekarang. Kita bisa istirahat dulu.”
  • “Tidak usah dipikirkan.” Jika lomba penting bagi anak, perintah ini terasa mengabaikan. Katakan, “Kalau masih teringat, kamu boleh cerita kapan pun.”

Dengarkan apa yang paling mengecewakan anak

Setelah emosi sedikit mereda, tanyakan bagian mana yang paling sulit. Apakah anak merasa malu di depan teman, kecewa karena sudah berlatih lama, tidak memahami penilaian juri, atau takut orang tua kecewa? Jawaban ini penting karena setiap situasi membutuhkan respons berbeda. Anak yang malu mungkin membutuhkan dukungan untuk menghadapi teman. Anak yang merasa latihan sia-sia mungkin perlu memahami bahwa usaha dapat memberi keterampilan meski tidak menghasilkan piala.

Hindari menginterogasi, “Kamu salah di bagian mana?” atau “Kenapa tidak berlatih lebih rajin?” Pertanyaan seperti itu dapat membuat anak merasa sedang dinilai lagi. Coba tanyakan, “Kamu ingin Ibu mendengarkan dulu atau kita melihat gambarmu bersama?” Berikan pilihan yang sederhana dan biarkan anak menentukan kapan siap membahasnya.

Pisahkan hasil lomba dari nilai diri anak

Hasil kompetisi hanya menggambarkan keputusan dalam satu kegiatan, berdasarkan kriteria, peserta, dan situasi tertentu. Ia tidak mengukur seluruh kreativitas, kemampuan, atau masa depan anak. Namun, jangan pula mengucapkan “kamu tetap nomor satu” jika itu tidak sesuai kenyataan. Anak dapat merasa orang tua tidak jujur. Lebih baik katakan, “Kamu tidak mendapat juara kali ini. Itu tidak menghapus hal-hal yang sudah kamu pelajari dan nikmati selama membuat karya.”

Jika anak mulai menyebut dirinya bodoh, tidak berbakat, atau selalu gagal, tanggapi dengan lembut. “Satu hasil lomba tidak cukup untuk menyimpulkan siapa dirimu. Kita bisa melihat apa yang berhasil dan apa yang ingin kamu latih.” Hindari memaksa anak segera mendaftar kompetisi lain demi membuktikan diri. Ia boleh mengambil jeda, memilih kegiatan lain, atau memutuskan tidak ingin mengikuti lomba berikutnya.

Kapan membicarakan evaluasi dan kesempatan berikutnya?

Tunggu sampai anak menunjukkan minat untuk meninjau pengalaman. Ajukan pertanyaan yang berfokus pada proses: bagian mana yang paling ia sukai, kapan ia merasa kesulitan, apa yang ingin ia coba berbeda, dan apakah ia ingin ikut lagi. Jangan menjadikan evaluasi sebagai daftar kekurangan. Orang tua juga dapat memberi umpan balik spesifik, misalnya, “Kamu memilih warna dengan teliti,” atau, “Kamu bertahan menyelesaikan gambar meski sempat ingin berhenti.”

Jika lomba melibatkan keterampilan yang ingin dikembangkan, cari tahu kriteria penilaian dengan cara yang wajar. Ajarkan anak bahwa umpan balik juri dapat menjadi informasi, bukan vonis. Jika komentar yang diterima merendahkan atau tidak pantas, orang tua boleh membantu anak membedakan kritik terhadap karya dengan penghinaan terhadap pribadi.

Dukung anak tanpa menjadikan kompetisi pusat keluarga

Jangan membicarakan kekalahan anak berulang kali di depan kerabat atau mengunggah foto yang memperlihatkan kekecewaannya tanpa izin. Anak berhak memiliki pengalaman yang tidak menjadi bahan cerita keluarga. Jika ada saudara yang mengejek, hentikan dengan jelas. Orang tua juga perlu memeriksa harapannya sendiri: apakah kegiatan itu dipilih karena minat anak atau karena keluarga ingin mendapatkan pengakuan?

UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa stres pada anak dapat berkaitan dengan tuntutan sekolah, hubungan pertemanan, dan pengalaman sulit; orang tua dapat membantu dengan mengenali pemicu serta mendukung keterampilan mengatasi stres. Baca panduan UNICEF Indonesia tentang stres. APA juga menyarankan orang tua mendengarkan sampai anak selesai, melembutkan reaksi, dan menanyakan bantuan seperti apa yang ia butuhkan; lihat panduan APA tentang berbicara dengan anak saat stres.

Kalimat penutup yang memberi ruang, bukan tekanan

Setelah anak lebih tenang, orang tua dapat berkata, “Ibu tahu kamu ingin sekali menang. Hari ini hasilnya tidak seperti yang kamu harapkan. Kamu boleh kecewa. Kalau nanti ingin mencoba lagi, Ibu akan mendukungmu. Kalau ingin istirahat dulu, itu juga boleh.” Kalimat ini tidak menjanjikan kemenangan dan tidak memaksa optimisme. Ia menawarkan kehadiran yang konsisten.

Anak tidak harus menyukai kekalahan agar bisa belajar darinya. Ia hanya perlu tahu bahwa perasaan sulit dapat dihadapi dengan dukungan, dan bahwa satu hasil tidak menentukan nilai dirinya. Kadang hadiah terbesar setelah lomba bukan piala, melainkan perjalanan pulang bersama orang tua yang mau mendengarkan tanpa buru-buru mengoreksi.

Jangan menggunakan kemenangan orang lain untuk menenangkan anak

Ucapan “temanmu juga kalah” atau “ada anak yang lebih buruk hasilnya” mengalihkan perhatian dari pengalaman anak dan dapat mengecilkan perasaannya. Anak tidak perlu membuktikan bahwa kekecewaannya paling berat untuk pantas didengar. Cukup katakan, “Kamu kecewa karena sudah berlatih dan berharap hasilnya berbeda.” Setelah itu, beri waktu. Tidak perlu langsung menghubungkan kekalahan dengan nasib, takdir, atau pelajaran hidup bila anak belum siap membahasnya.

Jika anak marah kepada juri atau teman, dengarkan dulu lalu bantu membedakan hal yang diketahui dari dugaan. “Kamu merasa penilaiannya tidak adil. Apa yang kamu lihat?” Jangan menuduh pihak lain tanpa informasi. Bila ada perlakuan yang memang tidak pantas, orang tua dapat menindaklanjuti secara dewasa melalui penyelenggara lomba. Namun, jangan mengajari anak membalas atau mempermalukan peserta lain.

Setelah beberapa waktu, anak mungkin ingin kembali berlatih. Bantu membuat tujuan yang berada dalam kendalinya, seperti mencoba teknik baru atau menyelesaikan karya dengan lebih teliti. Ia juga boleh memilih kegiatan tanpa kompetisi. Tidak semua minat harus diubah menjadi perlombaan, dan tidak semua pengalaman perlu diakhiri dengan target pencapaian baru.

Untuk memahami konteks yang lebih luas, orang tua dapat melanjutkan dengan mendampingi anak menghadapi kegagalan dengan sikap mendukung, mengajarkan kesabaran saat anak mengalami kegagalan di sekolah dan mendampingi frustrasi anak saat belajar keterampilan baru.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.