Menjelaskan autisme kepada kakak atau adik anak dapat membantu mereka memahami perbedaan kebutuhan di rumah tanpa menjadikan salah satu anak sebagai pihak yang harus selalu mengalah. Percakapan yang baik disesuaikan usia, jujur, dan memberi ruang bagi semua anak untuk bertanya serta memiliki perasaan sendiri.
Mulai dari pertanyaan yang benar-benar muncul
Saudara kandung mungkin bertanya mengapa kakaknya menggunakan alat komunikasi, mengapa adiknya mengulang gerakan tertentu, atau mengapa orang tua lebih sering mendampingi salah satu anak. Ada yang bertanya secara langsung, ada yang menunjukkan rasa ingin tahu lewat permainan, dan ada pula yang tidak bertanya tetapi memperhatikan. Orang tua tidak perlu memberikan penjelasan panjang sekaligus. Mulailah dari hal yang mereka lihat dan ingin pahami.
Gunakan kata yang sederhana dan sesuai usia. Misalnya, “Otak kakak mengolah suara dan percakapan dengan cara yang berbeda. Karena itu, ada hal yang terasa mudah baginya dan ada hal yang membutuhkan bantuan.” Hindari menyebut autisme sebagai penyakit menular, kesalahan orang tua, atau akibat anak kurang disiplin. Anak perlu memahami bahwa perbedaan tersebut bukan alasan untuk mengejek atau mengurangi kasih sayang.
Jelaskan autisme tanpa menjadikan saudara kandung sebagai guru atau terapis
Saudara kandung dapat belajar memahami kebutuhan kakak atau adik, tetapi mereka tetap anak yang berhak bermain, belajar, dan mendapatkan perhatian. Jangan memberi tanggung jawab seperti “kamu harus selalu menjaga adik” atau “kamu harus mengalah karena kakak autis”. Kalimat semacam itu dapat membuat anak merasa kebutuhan pribadinya tidak penting dan hubungan saudara berubah menjadi beban.
Jika saudara ingin membantu, berikan pilihan yang sesuai usia dan tidak wajib. Misalnya, ia boleh menunjukkan buku kesukaan, bermain bersama jika sama-sama mau, atau memberi tahu orang dewasa ketika ada masalah. Orang tua tetap memegang tanggung jawab utama untuk pengawasan, keselamatan, dan koordinasi layanan. Bantuan saudara adalah bentuk hubungan keluarga, bukan pengganti peran pengasuh dewasa.
Akui bahwa semua anak boleh memiliki perasaan yang berbeda
Saudara kandung mungkin merasa sayang, bangga, kesal, cemburu, bingung, atau lelah. Perasaan tersebut dapat muncul bergantian. Dengarkan tanpa langsung mengoreksi dengan “kamu harus mengerti”. Anak yang mengatakan dirinya kesal belum tentu tidak menyayangi saudara. Ia mungkin kecewa karena permainan terganggu atau waktu bersama orang tua berubah.
Buat waktu khusus untuk setiap anak, meskipun singkat. Kegiatan tidak harus mahal: membaca bersama, berjalan ke warung, bermain, atau berbicara sebelum tidur. Waktu satu-satu membantu anak merasa dilihat sebagai pribadi, bukan hanya sebagai saudara dari anak yang membutuhkan dukungan. Jika jadwal keluarga padat, atur bergiliran dengan pasangan atau anggota keluarga tepercaya.
Berikan penjelasan yang konkret tentang perbedaan kebutuhan
Jika anak autis tidak nyaman dengan suara keras, jelaskan apa yang dapat dilakukan keluarga ketika ia menutup telinga atau pergi ke ruang tenang. Jika ia menggunakan gambar untuk berkomunikasi, tunjukkan bahwa alat itu membantunya menyampaikan kebutuhan. Hindari membuat saudara kandung menebak atau menerjemahkan semua pesan. Jika pesan tidak dipahami, orang dewasa membantu mencari cara komunikasi yang lebih jelas.
Saudara kandung juga perlu tahu batas tubuh dan privasi. Mereka tidak boleh mengambil alat komunikasi, memindahkan benda kesayangan, atau memaksa pelukan. Sebaliknya, anak autis juga perlu dibantu memahami batas pribadi saudaranya sesuai kemampuan. Aturan keluarga berlaku untuk semua anak, tetapi bentuk dukungan untuk memahaminya bisa berbeda.
Jangan menjadikan satu anak pembanding bagi anak lain
Perkembangan anak dalam keluarga tidak harus sama. Saudara mungkin belajar berbicara, bermain, atau mengerjakan tugas dengan cara yang berbeda. Hindari kalimat seperti “adik bisa, masa kakak tidak?” atau “kamu harus lebih sabar daripada dia”. Perbandingan dapat melukai kedua anak: satu merasa selalu gagal, yang lain merasa harus selalu menjadi contoh.
Rayakan minat dan kemajuan masing-masing secara terpisah. Jika satu anak suka olahraga dan yang lain menyukai peta atau musik, berikan ruang untuk keduanya. Keluarga tidak harus memiliki kegiatan yang selalu dapat diikuti semua anak. Kadang aktivitas bersama, kadang kegiatan terpisah, keduanya dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat.
Bangun cara mengatasi konflik yang aman
Konflik saudara dapat terjadi karena mainan, ruang pribadi, suara, atau perubahan jadwal. Buat aturan sederhana: berhenti ketika seseorang mengatakan tidak, minta bantuan orang dewasa jika konflik meningkat, dan jangan menggunakan kekerasan. Ajarkan cara meminta jeda dan cara menyampaikan keberatan. Anak autis mungkin membutuhkan kartu atau gambar untuk menyampaikan hal yang belum dapat diucapkan.
Ketika konflik terjadi, dengarkan tiap anak secara terpisah jika dibutuhkan. Jangan menganggap satu anak selalu benar karena memiliki diagnosis atau satu anak selalu wajib mengalah karena dianggap lebih mampu. Periksa apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kebutuhan masing-masing dapat dihormati. Jika ada perilaku yang membahayakan, prioritaskan keselamatan dan susun dukungan profesional bila perlu.
Pilih kata yang dapat diperbarui seiring usia anak
Penjelasan untuk anak usia prasekolah tentu berbeda dari anak usia sekolah atau remaja. Anak kecil mungkin cukup memahami bahwa kakaknya memerlukan cara komunikasi atau waktu istirahat yang berbeda. Anak lebih besar dapat mempelajari tentang kebutuhan sensori, hak atas dukungan, dan cara menjadi teman yang menerima perbedaan. Penjelasan dapat diperbarui ketika anak bertanya lebih jauh.
Jaga privasi anak autis. Jangan membagikan diagnosis atau cerita pribadi kepada teman saudara kandung tanpa persetujuan keluarga dan mempertimbangkan keinginan anak. Anak perlu tahu bahwa keluarga boleh menjelaskan kebutuhan praktis tanpa harus membuka semua informasi medis. Jika ada pertanyaan yang belum dapat dijawab, orang tua boleh berkata, “Ibu akan mencari tahu dulu dari sumber yang tepat.”
Kapan keluarga membutuhkan pendampingan
Jika saudara kandung menunjukkan kesedihan, kecemasan, perilaku agresif, penarikan diri, atau sering merasa tidak diperhatikan, pertimbangkan percakapan dengan psikolog anak atau konselor keluarga. Dukungan ini bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi membantu semua anggota keluarga mengungkapkan kebutuhan dan menyusun hubungan yang lebih seimbang.
Orang tua juga dapat mencari komunitas keluarga yang menghargai suara saudara kandung dan penyandang autisme. Hindari kelompok yang memaksa narasi bahwa satu anak harus berkorban demi anak lain. UNICEF Indonesia menguraikan tantangan keluarga dalam akses layanan, pendidikan, dan partisipasi anak penyandang disabilitas melalui analisis lanskap anak dengan disabilitas di Indonesia. Artikel tentang menjelaskan perbedaan kepada anak, dukungan orang tua, dan peran ayah dalam keluarga dapat menjadi bacaan pendamping.
Jangan menjadikan saudara kandung sebagai pengasuh pengganti
Saudara kandung dapat dilibatkan dalam kegiatan keluarga sesuai usia, tetapi mereka tidak bertanggung jawab mengelola terapi, mencegah meltdown, atau selalu mengalah. Beri ruang bagi mereka untuk memiliki teman, kegiatan, dan privasi sendiri. Bila mereka membantu, jelaskan bahwa bantuan itu pilihan dan tetap ada orang dewasa yang bertanggung jawab.
Periksa apakah saudara merasa diabaikan, bersalah, malu, atau takut bertanya. Jangan mengharapkan mereka selalu memahami keadaan. Mereka juga anak yang membutuhkan perhatian orang tua. Waktu khusus bersama masing-masing anak—meski singkat—dapat membantu menjaga hubungan keluarga tetap seimbang.
Beri ruang bagi saudara untuk bertanya dan merasa berbeda
Saudara kandung boleh merasa sayang, kesal, bangga, cemburu, atau lelah pada waktu yang berbeda. Semua emosi itu dapat dibicarakan tanpa dianggap tidak menerima saudaranya. Dengarkan tanpa menuntut mereka menjadi teladan terus-menerus. Jika keluarga memerlukan dukungan, konselor atau tenaga profesional dapat membantu percakapan yang aman bagi semua anak.
Catatan tambahan untuk kebutuhan keluarga
Jika saudara kandung belum ingin berbicara tentang autisme, jangan memaksa. Tetap buka kesempatan melalui percakapan kecil atau kegiatan bersama yang tidak menuntut mereka membahas diagnosis. Mereka juga berhak memiliki informasi pribadi yang tidak selalu dibagikan kepada teman. Bantu mereka menentukan jawaban sederhana bila orang lain bertanya, tanpa meminta mereka menjadi juru bicara keluarga.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah orang tua perlu memberi tahu saudara kandung tentang diagnosis autisme?
Penjelasan yang sesuai usia dapat membantu anak memahami kebutuhan yang mereka lihat. Seberapa banyak informasi yang dibagikan perlu mempertimbangkan privasi, usia, pertanyaan anak, dan keinginan anak autis.
Bagaimana jika saudara kandung merasa orang tua lebih memperhatikan anak autis?
Dengarkan tanpa menyalahkan. Atur waktu khusus, jelaskan alasan dukungan tambahan, dan pastikan setiap anak tetap mendapat perhatian sesuai kebutuhannya.
Rujukan lebih lanjut: Layanan Kesehatan NHS.










