Orang tua mungkin mengenal perangkat yang digunakan anak, tetapi tidak selalu mengetahui semua permainan, istilah, atau komunitas di dalamnya. Anak pun bisa merasa orang tua hanya datang ketika ingin melarang. Jarak seperti ini membuat pembicaraan tentang risiko digital menjadi sulit. Anak mungkin menyembunyikan masalah karena khawatir perangkatnya langsung disita.
Menjadi pendamping digital bukan berarti orang tua harus menguasai semua aplikasi atau mengawasi setiap gerakan anak. Perannya adalah membangun lingkungan tempat anak tahu aturan, memahami alasan di baliknya, dan berani meminta bantuan ketika ada sesuatu yang tidak aman. Kepercayaan tidak berarti tanpa batas; batas yang jelas justru membantu anak mengetahui apa yang dapat diharapkan.
Bedakan pengawasan, pendampingan, dan kepercayaan
Pengawasan berarti orang tua mengetahui lingkungan dan risiko penggunaan perangkat sesuai usia anak. Pendampingan mencakup percakapan, penggunaan bersama, dan bantuan ketika anak menghadapi masalah. Kepercayaan berarti anak mendapat ruang untuk mengambil keputusan yang sesuai tahap perkembangannya, sambil tetap mengetahui bahwa orang tua akan membantu bila dibutuhkan.
Ketiganya perlu berjalan seimbang. Anak yang masih kecil mungkin memerlukan perangkat di ruang bersama dan pendampingan langsung. Anak yang lebih besar dapat diberi tanggung jawab lebih luas, tetapi tetap perlu aturan tentang waktu, privasi, orang yang boleh dihubungi, dan apa yang dilakukan saat mengalami masalah. Tidak ada satu pola pengawasan yang cocok untuk semua keluarga.
Mulailah dengan memetakan kehidupan digital anak
Tanyakan apa yang disukai anak dari perangkatnya. Apakah ia bermain, menonton tutorial, membuat gambar, berbicara dengan teman, atau mencari informasi? Minta ia menunjukkan aktivitas yang nyaman untuk dibagikan. Hindari memulai percakapan dengan tuduhan seperti “Pasti kamu melihat hal yang tidak baik.” Rasa ingin tahu yang tulus membuka kesempatan bagi orang tua memahami pengalaman anak.
Petakan juga kapan perangkat digunakan, aplikasi apa yang terpasang, siapa yang dapat menghubungi anak, dan data apa yang diminta. Pemeriksaan ini tidak harus menjadi interogasi. Jelaskan bahwa orang tua ingin memastikan perangkat sesuai usia dan aman. Periksa pengaturan bersama anak bila memungkinkan agar ia belajar cara melindungi akun dan informasinya.
Bangun aturan keluarga dalam empat bidang
Waktu dan tempat
Sepakati kapan perangkat boleh digunakan dan ruang mana yang bebas layar, misalnya meja makan atau tempat tidur pada malam hari. Aturan perlu mengikuti jadwal sekolah, tidur, kesehatan, serta kegiatan keluarga. Orang tua sebaiknya memberi contoh dengan ikut menyimpan perangkat saat waktu bebas layar.
Konten dan interaksi
Bahas jenis konten yang sesuai, siapa yang boleh dihubungi, dan perilaku yang tidak dapat diterima. Anak perlu tahu bahwa ia boleh berhenti menonton atau bermain jika merasa tidak nyaman. Untuk akun dan layanan tertentu, periksa batas usia dan ketentuan perlindungan anak yang berlaku.
Privasi dan keamanan
Sepakati data yang tidak boleh dibagikan, seperti alamat rumah, lokasi langsung, jadwal pribadi, kata sandi, dan informasi sekolah yang dapat mengidentifikasi anak. Ajarkan cara menolak permintaan data, tautan, atau foto yang tidak jelas. Orang tua juga perlu membatasi penyebaran informasi anak kepada orang lain.
Tanggung jawab dan konsekuensi
Jelaskan apa yang dilakukan ketika aturan dilanggar. Konsekuensi sebaiknya berkaitan dengan masalah, proporsional, dan disampaikan sebelumnya. Jika perangkat digunakan melewati waktu, misalnya, keluarga dapat mengatur ulang durasi dan lokasi penyimpanan. Hindari hukuman yang mempermalukan atau ancaman yang tidak akan dilaksanakan.
Buat anak berani bercerita sebelum masalah membesar
Sampaikan kalimat yang jelas: “Kalau ada orang mengirim pesan yang membuatmu tidak nyaman, kamu boleh datang kepada Ibu. Kita cari jalan keluarnya bersama. Kamu tidak akan dimarahi hanya karena meminta bantuan.” Kalimat ini tidak berarti semua tindakan anak bebas konsekuensi. Artinya, keselamatan dan keterbukaan didahulukan saat ada masalah.
Ketika anak bercerita, tahan dorongan untuk langsung mengambil perangkat dan menyalahkannya. Dengarkan apa yang terjadi, tanyakan apakah ia sedang dalam bahaya, dan tentukan langkah yang diperlukan. Ada situasi yang cukup diselesaikan dengan memblokir akun atau mengubah pengaturan; ada yang memerlukan komunikasi dengan sekolah, layanan platform, atau pihak berwenang. Pilih langkah berdasarkan risiko nyata.
Gunakan perangkat bersama sesekali
Menonton video, bermain permainan edukatif, atau mencari informasi bersama dapat membantu orang tua memahami pengalaman anak. Jangan setiap sesi berubah menjadi ceramah. Beri anak kesempatan menunjukkan apa yang ia sukai dan jelaskan bagian yang membingungkan. Orang tua juga dapat memperlihatkan bagaimana memeriksa sumber, mengatur privasi, dan berhenti saat konten tidak sesuai.
Penelitian tentang keterlibatan media bersama orang tua-anak menunjukkan hasil yang beragam dan bergantung konteks. Jadi, penggunaan bersama bukan jaminan bahwa semua risiko hilang. Namun, percakapan yang dibangun saat aktivitas berlangsung dapat memberi orang tua kesempatan untuk bertanya dan memberi dukungan dengan cara yang lebih alami.
Sesuaikan pendampingan dengan aturan Indonesia
Orang tua perlu memahami bahwa aturan keluarga tidak menggantikan ketentuan hukum dan syarat usia layanan digital. PP Nomor 17 Tahun 2025 atau PP TUNAS beserta Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 mengatur tanggung jawab penyelenggara sistem elektronik dalam pelindungan anak, termasuk ketentuan akses dan akun berdasarkan kategori serta tingkat risiko layanan. Jangan menganggap aturan ini sama dengan larangan menggunakan semua perangkat untuk semua anak di bawah usia tertentu.
Periksa peraturan pelaksana resmi pada JDIH Komdigi dan penjelasan Komdigi tentang pentingnya peran orang tua dalam perlindungan anak di ruang digital.
Dalam evaluasi 7 Oktober 2026, Komdigi menegaskan bahwa fitur parental control tidak akan optimal bila orang tua tidak mengetahui keberadaannya atau tidak memahami cara menggunakannya. Artinya, membeli perangkat dengan kontrol orang tua belum cukup. Orang tua perlu mencoba pengaturan bersama, memahami batas fitur, dan tetap membangun komunikasi dengan anak. Simak pembaruan Komdigi tentang implementasi PP TUNAS. Ketentuan dan profil risiko layanan dapat berubah sehingga pemeriksaan berkala tetap diperlukan.
Ketika aturan perlu diubah
Aturan yang masuk akal ketika anak kelas 2 SD mungkin tidak cukup ketika ia lebih besar dan mulai mengerjakan proyek sekolah secara daring. Evaluasi secara berkala: apa yang berjalan, masalah apa yang muncul, dan tanggung jawab baru apa yang siap diberikan. Perubahan aturan tidak harus selalu berarti kebebasan lebih besar; kadang anak membutuhkan pembatasan tambahan ketika situasi atau risiko berubah.
Hindari membuat aturan berdasarkan ketakutan sesaat atau tren viral. Bicarakan alasan, uji apakah aturan dapat dijalankan, dan pastikan orang tua menerapkannya secara konsisten. Bila ada dua pengasuh, usahakan kesepakatan dasar yang sama agar anak tidak bingung mencari celah dari perbedaan aturan.
Kepercayaan tumbuh ketika orang tua hadir dan konsisten
Anak tidak selalu akan menyukai setiap batas. Itu wajar. Yang perlu dijaga adalah hubungan tempat ia dapat menyampaikan ketidaksetujuan, memahami alasan, dan mencari bantuan tanpa takut dipermalukan. Orang tua dapat tetap tegas terhadap risiko sambil menghormati perkembangan kemandirian anak.
Pendamping digital yang baik tidak hanya bertanya “Berapa lama kamu bermain?” tetapi juga “Apa yang kamu lakukan, siapa yang berinteraksi denganmu, apa yang membuatmu nyaman, dan apa yang akan kamu lakukan jika ada masalah?” Percakapan seperti ini membantu anak bertumbuh menjadi pengguna yang lebih bertanggung jawab. Untuk bagian privasi, keluarga dapat melanjutkan dengan panduan membicarakan privasi digital sesuai usia.
Kepercayaan juga berarti orang tua bersedia mengakui ketika tidak mengetahui fitur tertentu. Anak dapat menunjukkan cara kerja aplikasi, lalu orang tua bersama-sama menilai pengaturan dan risikonya. Namun, anak tidak bertanggung jawab menjadi pakar keamanan keluarga. Jika ada hal yang tidak dipahami, cari informasi dari sumber resmi atau dukungan teknis yang tepercaya. Dengan begitu, proses belajar berlangsung dua arah tanpa mengaburkan tanggung jawab perlindungan yang tetap berada pada orang dewasa.










