Ibu memeluk atau menenangkan anak kecil.
Respons orang dewasa yang tenang membantu anak belajar mengenali perasaan dan kembali merasa aman.
Pola Asuh & Disiplin

Menghadapi Tantrum dengan Tenang sebagai Bagian dari Pola Asuh Positif

Tantrum bisa membuat orang tua kewalahan. Pelajari cara menjaga anak tetap aman, menenangkan situasi tanpa membentak, dan membantu anak belajar setelah emosinya mereda.

Ada momen ketika rencana sederhana berubah jadi adegan yang melelahkan. Anak yang tadi berjalan riang tiba-tiba menangis keras karena tidak boleh membeli mainan. Di rumah, hal serupa bisa terjadi ketika waktu bermain selesai, pakaian yang dipilih tidak sesuai keinginannya, atau balok yang disusun roboh begitu saja.

Saat itu, orang tua mungkin ikut tegang. Ada yang merasa malu karena dilihat orang lain, ada yang takut anak akan semakin menjadi-jadi, dan ada pula yang akhirnya membentak karena sudah kehabisan tenaga. Reaksi seperti itu manusiawi. Namun, ketika memungkinkan, kita bisa mengambil jeda agar respons kita tidak menambah panas suasana.

Menghadapi tantrum dengan tenang bukan berarti membiarkan semua keinginan anak dituruti. Tujuannya adalah menjaga anak tetap aman, membantu emosinya mereda, lalu mengajarkan cara yang lebih baik untuk menghadapi kecewa atau marah. Kebiasaan komunikasi yang terbuka juga dibahas dalam pengelolaan emosi dalam keseharian keluarga sebagai pendamping percakapan keluarga.

Mengapa anak bisa mengalami tantrum?

Tantrum adalah ledakan emosi yang dapat terlihat sebagai tangisan keras, teriakan, menjatuhkan tubuh, menendang, atau melempar benda. Pada anak kecil, kemampuan menyampaikan keinginan dan mengatur emosi masih berkembang. Perasaannya bisa terasa sangat besar, sementara kata-kata dan kemampuan menenangkan diri belum selalu cukup untuk mengungkapkannya. Untuk memilih respons yang tetap menjaga rasa aman, lihat pendampingan ketika emosi anak memuncak dan sesuaikan dengan situasi.

Tantrum juga bisa muncul ketika anak lapar, lelah, mengantuk, sakit, terlalu lama berada di tempat ramai, kesulitan berpindah aktivitas, atau merasa keinginannya terhalang. Karena itu, ledakan emosi tidak selalu berarti anak sengaja ingin membuat orang tua kesal. Penyebabnya perlu dilihat dari konteks, bukan ditebak hanya dari perilaku yang tampak.

Dalam panduan tentang tantrum, Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa orang tua perlu menjaga ketenangan, memberi ruang yang aman, dan menunjukkan empati. CDC juga menekankan bahwa saat anak sangat tertekan, keselamatan dan waktu untuk kembali tenang perlu didahulukan sebelum mengajak anak membicarakan emosinya.

Saat tantrum terjadi: lakukan yang paling penting terlebih dahulu

1. Periksa keamanan di sekitar anak

Sebelum mencoba menjelaskan sesuatu, pastikan anak tidak berada dekat jalan, tangga, benda tajam, barang pecah belah, atau situasi lain yang bisa melukai dirinya maupun orang lain. Jika tantrum terjadi di tempat umum, ajak atau pindahkan anak ke area yang lebih aman dan tidak terlalu ramai bila memungkinkan.

Jika anak memukul, menendang, menggigit, atau melempar barang, hentikan perilaku yang membahayakan dengan tegas tetapi tidak kasar. Singkirkan benda yang bisa melukai dan jaga jarak aman jika diperlukan. Menjaga keselamatan bukan hukuman; itu bagian dari tanggung jawab orang dewasa.

2. Tenangkan diri sebelum menenangkan anak

Cobalah menarik napas perlahan, merendahkan suara, dan mengurangi gerakan yang terburu-buru. Tidak harus langsung merasa sabar atau tenang sepenuhnya. Cukup ambil jeda sejenak agar kita tidak bereaksi secara impulsif.

Bila orang tua merasa hampir kehilangan kendali, pastikan anak berada di tempat aman dan minta bantuan orang dewasa tepercaya jika tersedia. Jangan mengguncang, mencubit, memukul, atau mempermalukan anak. Jika perlu, bergantian dengan pasangan atau pengasuh lain untuk mengambil jeda singkat.

3. Kurangi kata-kata, bukan kepedulian

Ketika tangisan sedang memuncak, penjelasan panjang biasanya sulit diterima anak. Hindari ceramah, ancaman, atau rentetan pertanyaan seperti, “Kenapa sih kamu selalu begini?” Pilih kalimat pendek dengan nada stabil. Misalnya, “Kamu kecewa karena belum boleh membeli mainan. Ayah ada di sini.”

Anak tidak harus langsung menjawab. Orang tua boleh tetap berada di dekatnya, memberi ruang, dan menunggu. Sebagian anak nyaman dipeluk, sedangkan yang lain justru membutuhkan sedikit jarak. Tawarkan dukungan tanpa memaksakan sentuhan: “Mau dipeluk atau ingin duduk sebentar sendiri? Ibu tetap di dekatmu.” Sesuaikan dengan usia, kebutuhan, dan keselamatan anak.

4. Akui perasaannya, tetap pegang batasnya

Menerima emosi anak tidak sama dengan menyetujui semua tindakannya. Anak boleh marah karena waktu bermain sudah selesai, tetapi tidak boleh memukul orang lain. Ia boleh kecewa karena tidak mendapatkan permen, tetapi keputusan orang tua tidak harus berubah hanya untuk menghentikan tangisan.

Kalimat sederhana dapat menyampaikan kedua pesan itu sekaligus: “Kamu marah karena waktunya selesai. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh melempar mainan. Mainannya Ibu amankan dulu.” Setelah itu, lakukan batasan yang sudah disampaikan secara konsisten dan aman, tanpa memperpanjang perdebatan.

Pendekatan ini sejalan dengan panduan CDC tentang mengenali dan menamai emosi anak: orang tua dapat mengakui perasaan anak sekaligus memberi batas pada perilaku yang menyakiti.

Setelah emosi mereda, barulah ajak anak belajar

Ketika anak mulai tenang, jangan buru-buru mengubah momen itu menjadi sidang panjang. Pastikan ia sudah siap mendengar. Pada anak yang masih kecil, pembicaraan singkat sering lebih berguna daripada nasihat panjang.

Kita bisa membantu anak memberi nama pada perasaan yang baru dialaminya: kecewa, kesal, takut, atau lelah. Jika ia belum bisa menjelaskan, orang tua dapat menebak dengan hati-hati, misalnya, “Tadi kamu sangat kecewa ketika permainan harus berhenti, ya?” Beri kesempatan anak membenarkan atau mengoreksi.

Sesudah itu, bahas perilakunya secara spesifik, bukan menyerang karakternya. Alih-alih berkata, “Kamu nakal sekali,” katakan, “Tadi kamu melempar mobil-mobilan. Itu bisa mengenai orang. Lain kali, coba bilang ‘aku masih mau bermain’ atau minta bantuan.” Jika ada barang yang berantakan dan anak sudah cukup tenang, ajak ia membereskan sesuai kemampuannya.

Tidak semua anak siap melakukan percakapan segera. Jika ia kembali menangis atau terlihat kewalahan, berhenti dulu dan lanjutkan ketika situasi sudah lebih kondusif. Tujuannya bukan membuat anak merasa bersalah, melainkan menambah pilihan cara menghadapi emosi pada kesempatan berikutnya.

Cari pola di balik kejadian, bukan hanya menghitung tantrumnya

Setelah situasi selesai, orang tua bisa mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Apakah anak melewatkan waktu makan? Terlalu lelah setelah bepergian? Sulit berhenti bermain tanpa peringatan? Apakah tempatnya terlalu ramai atau ia belum punya kata-kata untuk mengungkapkan keinginan?

Tidak perlu membuat catatan rumit. Cukup perhatikan tiga hal: situasi sebelum tantrum, hal yang dilakukan anak, dan respons yang membantu atau justru memperburuk keadaan. Catatan singkat beberapa hari dapat menunjukkan pola yang sebelumnya tidak terlihat.

Dari situ, lakukan pencegahan sederhana:

  • Beri pemberitahuan sebelum beralih kegiatan, misalnya, “Lima menit lagi kita bereskan mainan.” Untuk anak kecil, pengingat visual atau rutinitas yang berulang mungkin lebih mudah dipahami.
  • Usahakan jadwal makan, istirahat, dan tidur cukup konsisten. Bila anak tampak lelah atau lapar, sesuaikan tuntutan dan durasi kegiatan.
  • Berikan pilihan terbatas yang sama-sama dapat diterima, seperti memilih buku sebelum tidur atau menentukan mainan mana yang dirapikan lebih dahulu.
  • Ajarkan kata atau isyarat sederhana untuk menyampaikan kebutuhan: “tolong”, “aku belum selesai”, “aku kesal”, atau “aku butuh bantuan”. Latih saat anak sedang tenang, bukan hanya ketika ia sudah menangis.
  • Perhatikan dan apresiasi usaha kecil ketika anak mencoba meminta bantuan atau berhenti dengan lebih baik. Sebut perilaku yang terlihat, misalnya, “Kamu tadi kesal, tetapi kamu bilang butuh bantuan. Itu cara yang baik untuk memberi tahu Ibu.”

Panduan UNICEF tentang pengasuhan positif untuk anak usia 0–5 tahun menekankan bahwa anak kecil masih belajar berkomunikasi dan mengelola perasaan. Dukungan yang konsisten membantu mereka berlatih, meski hasilnya tidak selalu langsung terlihat.

Kalau tantrum terjadi di tempat umum

Tantrum di pusat perbelanjaan, kendaraan, atau rumah kerabat sering membuat orang tua merasa sedang dinilai. Saat perhatian orang lain terasa mengganggu, ingat kembali prioritas: amankan anak, kurangi rangsangan jika bisa, dan jaga respons tetap sederhana.

Tidak perlu memaksa anak berhenti menangis demi menjaga penampilan di depan orang lain. Namun, tetaplah konsisten terhadap batas yang masuk akal. Jika anak tantrum karena permintaannya ditolak, mengubah keputusan hanya agar suasana segera sunyi dapat membuat batas terasa tidak jelas. Sebaliknya, mempertahankan keputusan tidak berarti mengabaikan emosinya. Orang tua dapat tetap menemani sambil berkata, “Kita tidak membeli mainan hari ini. Kamu boleh kecewa. Kita tunggu sampai kamu lebih tenang.”

Jika lingkungan terlalu ramai atau tidak aman, pindah ke tempat yang lebih tenang. Bila orang tua bersama orang lain, minta mereka membantu membereskan barang atau mencari tempat aman, bukan ikut mengerumuni dan menasihati anak.

Kapan perlu meminta bantuan profesional?

Tantrum sesekali dapat menjadi bagian dari perkembangan, terutama pada anak usia dini. Namun, jangan menganggap semua ledakan emosi pasti wajar atau harus ditangani sendiri. Pertimbangkan berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional tumbuh kembang jika tantrum sangat sering atau semakin berat, berlangsung lama dan sulit pulih, menimbulkan cedera, disertai perilaku membahayakan diri atau orang lain, mengganggu kegiatan sehari-hari secara signifikan, atau membuat orang tua khawatir terhadap perkembangan maupun komunikasi anak.

Jika ada masalah keselamatan segera, cedera serius, atau kesulitan bernapas, cari pertolongan medis segera. Konsultasi bukan berarti orang tua gagal; bantuan profesional dapat membantu memahami pemicu dan menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Informasi dari Kementerian Kesehatan RI tentang tips menghadapi tantrum dapat menjadi bacaan awal, tetapi bukan pengganti penilaian tenaga kesehatan untuk kondisi individual.

Tenang bukan berarti selalu sempurna

Akan ada hari ketika orang tua ikut terpancing emosi. Jika terlanjur membentak, tunggu hingga situasi aman dan tenang, lalu akui respons kita tanpa menyalahkan anak: “Tadi Ibu bicara terlalu keras. Ibu minta maaf. Ibu tetap perlu menjaga aturan, dan lain kali Ibu akan mencoba menenangkan diri dulu.” Memperbaiki hubungan setelah konflik juga memberi contoh bahwa kesalahan bisa diakui dan diperbaiki.

Menghadapi tantrum dengan tenang adalah keterampilan yang dilatih berulang kali, bukan ujian kesabaran yang harus selalu lulus. Fokus pada keselamatan, respons yang stabil, dan pembelajaran setelah emosi mereda. Sedikit demi sedikit, anak mendapat pengalaman bahwa perasaannya bisa diterima, sementara perilakunya tetap dibimbing.

Bila ingin memperdalam cara mendampingi anak menyampaikan perasaannya, lanjutkan membaca halaman Parenting BisaBaca dan pilih artikel terkait komunikasi serta pola asuh positif yang tersedia di sana.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.