Pernah melihat anak berusaha memasang kepingan puzzle yang tidak kunjung cocok? Ia memutar potongan itu, mencoba sisi lain, lalu menghela napas karena masih belum berhasil. Kita mungkin spontan berkata, “Wah, pintar sekali!” Kalimat itu terdengar menyenangkan. Namun, ada kesempatan lain yang tidak kalah penting: membantu anak menyadari apa yang baru saja ia lakukan untuk menghadapi kesulitan.
Dalam cara memberi pujian yang mendorong usaha dalam pola asuh positif, perhatian orang tua tidak hanya tertuju pada hasil akhir. Kita juga mengakui prosesnya: anak mencoba strategi berbeda, memeriksa kembali, meminta bantuan dengan tepat, atau berani memulai meski belum yakin. Pujian seperti ini bukan resep ajaib yang membuat anak selalu percaya diri, tetapi dapat menjadi umpan balik yang lebih jelas tentang perilaku dan usaha yang layak diteruskan.
Pujian yang baik membuat anak tahu apa yang sudah ia lakukan
Ucapan “hebat!” atau “bagus!” sesekali tentu tidak salah. Anak tetap bisa merasa disayangi lewat ungkapan hangat seperti itu. Akan tetapi, jika setiap pujian hanya berupa label umum—“pintar”, “jenius”, atau “anak mama paling hebat”—anak mungkin tidak mengetahui bagian mana dari tindakannya yang sebenarnya kita hargai.
Coba bandingkan dua respons ini. Saat anak selesai merapikan mainannya, kita bisa mengatakan, “Kamu anak pintar.” Kita juga bisa menyampaikan, “Kamu sudah mengelompokkan baloknya, memasukkan mobil-mobilan ke kotak, lalu memeriksa lantai sebelum selesai.” Respons kedua menyebut hal yang benar-benar dilakukan anak. Ia mendapatkan gambaran yang lebih konkret tentang perilaku yang bisa ia ulangi.
Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen juga menyarankan orang tua menghargai usaha anak, bukan hanya hasil atau bakatnya. Dalam artikel Membangun Kepercayaan Diri Anak, apresiasi terhadap proses belajar dijelaskan sebagai salah satu cara mendukung ketangguhan dan rasa percaya diri anak. Intinya bukan menghindari kata “pintar” sama sekali, melainkan memperkaya pujian dengan pengamatan yang nyata.
Temukan usaha yang sering luput dari perhatian
Tidak semua usaha terlihat seperti nilai bagus, gambar yang rapi, atau tugas yang selesai. Sebagian justru muncul dalam langkah-langkah kecil yang mudah terlewat ketika kita sibuk.
1. Cara anak mencoba menyelesaikan masalah
Saat anak menemui kesulitan, perhatikan apakah ia mengubah cara, mencari petunjuk, memecah tugas menjadi bagian kecil, atau memeriksa ulang pekerjaannya. Hal-hal itu pantas disebut karena menunjukkan proses berpikir, bukan sekadar hasil yang kebetulan benar.
Misalnya, anak belum berhasil mengerjakan soal matematika. Daripada langsung menyebutnya pintar karena akhirnya mendapat jawaban tepat, orang tua dapat menyoroti strateginya: “Kamu tadi menggambar kelompok benda supaya lebih mudah menghitung. Cara itu membantumu melihat jumlahnya.” Jika cara pertama belum berhasil, apresiasi bahwa anak mau mengecek dan mencoba pendekatan lain.
2. Keberanian untuk memulai
Anak bisa saja ragu mencoba berenang, membaca nyaring di depan keluarga, ikut permainan baru, atau bertanya kepada guru. Pujian yang membantu tidak harus menunggu keberhasilan besar. Keberanian mengambil langkah pertama pun dapat diakui.
Contohnya, “Tadi kamu masih gugup, tetapi kamu tetap mencoba membaca satu kalimat. Itu langkah yang berani.” Hindari mengubahnya menjadi tuntutan, seperti “Besok harus berani membaca semuanya.” Tujuan pujian adalah mengakui langkah yang sudah terjadi, bukan menambah beban untuk selalu tampil lebih baik.
3. Ketekunan yang disertai penyesuaian
Bertahan mencoba memang dapat menjadi hal positif, tetapi usaha bukan berarti anak harus terus mengulang cara yang sama meski jelas tidak berhasil. Mengambil jeda, meminta penjelasan, atau mengganti strategi juga bagian dari belajar. Untuk memberi anak ruang memecahkan masalah, keluarga dapat melengkapi langkah ini lewat pendampingan yang memberi anak kesempatan mencoba
Ketika anak kesulitan mengikat tali sepatu, misalnya, kita bisa berkata, “Kamu sudah mencoba beberapa kali. Sekarang kita lihat bagian mana yang masih membingungkan, lalu kita coba pelan-pelan.” Jika ia akhirnya berhasil, sebutkan perubahan yang membantunya. Jika belum, tetap beri ruang untuk belajar tanpa berpura-pura hasilnya sudah baik.
4. Perbaikan dibandingkan kemarin
Kemajuan anak tidak selalu tampak bila kita membandingkannya dengan teman atau saudara. Bandingkan dengan prosesnya sendiri secara wajar. Mungkin kali ini ia menulis lebih teliti, menunggu giliran sedikit lebih lama, atau berani menyampaikan pendapat dengan suara yang lebih jelas.
Pujian dapat berbunyi, “Kali ini kamu ingat memberi jarak antar-kata. Tulisanmu jadi lebih mudah dibaca.” Umpan balik seperti ini membantu anak melihat perkembangan yang spesifik tanpa merasa harus menjadi yang terbaik di kelompoknya.
5. Sikap baik yang berdampak kepada orang lain
Pola asuh positif juga menyangkut hubungan sosial, bukan hanya prestasi akademik. Ketika anak memberi kesempatan kepada temannya, mengakui kesalahan, membantu membereskan barang bersama, atau menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menghina, sebutkan perilaku itu.
Misalnya, “Kamu tadi menunggu temanmu selesai berbicara sebelum menjawab. Itu membuat kalian bisa saling mendengar.” Dengan begitu, anak mengetahui mengapa tindakannya berarti bagi orang lain, bukan sekadar mendengar bahwa ia “anak baik”.
Cara merangkai pujian agar terasa tulus
Orang tua tidak perlu menghafal puluhan kalimat. Cobalah menggabungkan tiga hal sederhana: apa yang kita lihat, usaha atau strategi yang dilakukan anak, dan dampak yang terlihat bila memang ada.
- Apa yang terlihat: “Kamu membaca instruksi sampai selesai.”
- Usaha atau strategi: “Lalu kamu menandai bagian yang belum kamu pahami.”
- Dampak yang nyata: “Jadi kamu tahu pertanyaan mana yang perlu ditanyakan.”
Rangkaian itu tidak harus diucapkan seperti laporan resmi. Dalam percakapan alami, cukup pilih satu bagian yang paling relevan. Kita juga boleh bertanya, “Bagian mana yang paling sulit tadi?” atau “Apa yang ingin kamu coba berbeda lain kali?” Pertanyaan terbuka memberi ruang bagi anak untuk mengenali prosesnya sendiri, bukan hanya menunggu penilaian dari orang tua.
Panduan Kemendikdasmen dalam artikel 5 Cara Sederhana Berdampak Besar untuk Pendidikan Anak menekankan pentingnya memberi semangat, bukan tekanan, serta mengapresiasi usaha anak. Itu berarti pujian sebaiknya membuat anak merasa didukung, bukan merasa harus memenuhi harapan orang tua setiap saat.
Pujian yang perlu dihindari atau diperbaiki
Jangan membandingkan. “Kamu lebih pintar daripada kakakmu” bisa membuat keberhasilan terasa seperti perlombaan. Lebih baik jelaskan kemajuan yang kita lihat pada anak itu sendiri.
Hindari label yang terlalu besar. Menyebut anak “jenius” atau “paling hebat” mungkin terdengar menyenangkan, tetapi tidak memberi informasi tentang tindakan yang bisa diulang. Pujian yang spesifik biasanya lebih membantu daripada label yang berlebihan.
Jangan memuji secara otomatis. Anak bisa mengenali ketika orang tua terdengar tidak sungguh-sungguh. Jika gambarnya belum selesai, kita tidak perlu mengatakan semuanya sempurna. Kita dapat menghargai bagian yang benar-benar terlihat, lalu bertanya apa yang ingin ia perbaiki.
Jangan menjadikan usaha sebagai tuntutan baru. Kalimat seperti “Kalau kamu berusaha, pasti bisa” dapat membuat anak merasa bahwa kegagalan selalu berarti ia kurang berusaha. Ada keterampilan yang membutuhkan waktu, bantuan, akses, atau cara belajar berbeda. Lebih realistis mengatakan, “Kamu sudah mencoba. Kita bisa mencari cara lain atau meminta bantuan.” Saat anak kecewa setelah mencoba, respons yang mendukung ketika anak membuat kesalahan dapat membantu orang tua merespons tanpa mempermalukan.
Jangan memuji hanya agar anak selalu menurut. Pujian bukan alat untuk membeli kepatuhan. Anak tetap boleh menyampaikan pendapat dan perasaan. Yang kita dukung adalah perilaku yang baik, upaya belajar, tanggung jawab, dan cara menyampaikan kebutuhan dengan saling menghormati.
Child Mind Institute menjelaskan bahwa pujian lebih efektif ketika menggambarkan perilaku secara spesifik dan diberikan dengan tulus. Baca penjelasannya melalui panduan tentang cara memberi pujian kepada anak.
Bentuk pujian sebaiknya berubah seiring usia
Pada anak usia dini, gunakan kalimat singkat dan langsung pada tindakan yang baru dilakukan. “Kamu memasukkan dua balok ke kotak,” atau “Kamu mencoba memakai sandal sendiri.” Anak kecil lebih mudah menangkap pujian yang konkret daripada penjelasan panjang.
Anak usia sekolah mulai dapat diajak membicarakan strategi dan kemajuan: “Bagaimana kamu menemukan cara menyelesaikan soal itu?” atau “Apa yang membuat latihan hari ini lebih mudah daripada kemarin?” Pertanyaan semacam ini tidak perlu menjadi ujian; dengarkan jawabannya dengan rasa ingin tahu.
Pada remaja, hindari nada berlebihan yang terasa seperti berbicara kepada anak kecil. Sampaikan pengamatan dengan hormat, misalnya, “Aku lihat kamu membagi tugas dan mulai lebih awal. Bagaimana cara itu membantumu?” Beberapa remaja lebih nyaman menerima pengakuan sederhana daripada pujian yang diumumkan di depan orang lain. Perhatikan pula apakah mereka nyaman dipuji di hadapan teman atau keluarga.
Dalam artikel 3 Ways to Help Motivate Your Teen, UNICEF Parenting menekankan bahwa pujian yang tulus dan menghargai usaha dapat mendukung motivasi remaja. Cara menyampaikannya tetap perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing anak.
Coba latihan kecil: amati sebelum berkomentar
Selama beberapa hari, pilih satu momen ketika anak sedang belajar, bermain, membantu, atau menyelesaikan masalah. Sebelum mengucapkan “bagus”, berhenti sejenak dan perhatikan apa yang sebenarnya ia lakukan.
Setelah itu, sampaikan satu pengamatan yang jujur. Bisa tentang cara ia mencoba, bagian yang ia perbaiki, keberaniannya meminta bantuan, atau kepeduliannya kepada orang lain. Tidak perlu memberi pujian untuk setiap gerakan dan tidak perlu membuatnya menjadi hadiah. Kehangatan, senyuman, dan perhatian yang tulus juga dapat menunjukkan bahwa kita melihat usaha anak.
Bila anak tidak merespons atau terlihat malu, tidak perlu memaksakan percakapan. Cukup sampaikan dengan wajar lalu lanjutkan kegiatan. Tujuannya bukan membuat anak bergantung pada pujian, melainkan membantunya mengenali kemajuan dan proses belajarnya sendiri.
Pada akhirnya, cara memberi pujian yang mendorong usaha dalam pola asuh positif dimulai dari perhatian yang lebih saksama. Kita tidak perlu selalu menemukan kalimat istimewa. Cukup sebutkan hal nyata yang dilakukan anak, hargai prosesnya, dan beri ruang untuk terus belajar—termasuk ketika hasilnya belum sesuai harapan.
Jika ingin melanjutkan membaca topik pengasuhan lain, kunjungi halaman Parenting BisaBaca. Pilih satu kebiasaan kecil yang bisa diterapkan hari ini, lalu lihat bagaimana anak meresponsnya dari waktu ke waktu.










