Anak pulang sekolah meminta sepatu atau tas bermerek karena merasa teman-temannya memakai barang serupa. Orang tua mungkin menganggap permintaan itu sekadar gengsi, tetapi bagi anak, barang tersebut dapat berkaitan dengan rasa diterima, takut diejek, atau keinginan menjadi bagian kelompok. Memahami perasaan itu tidak berarti orang tua harus membeli barang yang diminta. Respons yang membantu dimulai dengan mendengar apa yang terjadi di sekolah, lalu membicarakan pilihan dan kemampuan keluarga tanpa merendahkan anak atau teman-temannya.
Cari tahu kebutuhan sosial yang tersembunyi di balik barang
Tanyakan kapan anak mulai merasa barangnya tidak cukup baik. Apakah ada komentar dari teman, tren kelas, atau konten media sosial yang ia lihat? Apakah ia takut tidak diajak bermain atau dianggap berbeda? Jangan langsung menyebut teman-temannya sombong. Anak perlu merasa aman menceritakan pengalaman tanpa khawatir orang tua akan menyerang kelompok pertemanannya.
Penelitian PISA 2022 dari OECD pada kelompok negara dan ekonomi peserta menunjukkan bahwa sebagian siswa melaporkan pernah membeli sesuatu karena teman memilikinya. Angka lintas negara tersebut bukan ukuran khusus anak Indonesia, tetapi memperlihatkan bahwa pengaruh teman merupakan salah satu konteks keputusan belanja remaja. Orang tua dapat menggunakan temuan itu sebagai alasan untuk membicarakan pengaruh sosial tanpa menganggap anak pasti ikut-ikutan.
Validasi perasaan, tetap tegas pada batas anggaran
Kalimat “kamu cuma gengsi” dapat membuat anak menutup cerita. Cobalah mengatakan, “Sepertinya kamu merasa berbeda karena barang yang dipakai teman-teman. Ceritakan apa yang terjadi.” Setelah mendengar, jelaskan bahwa keluarga memiliki batas anggaran dan tidak semua barang yang dimiliki teman harus dibeli. Ketegasan lebih mudah diterima bila disampaikan tanpa meremehkan perasaan.
Jangan menjanjikan pembelian untuk menghentikan tangis, tetapi jangan pula mempermalukan anak dengan membandingkan keadaan ekonomi keluarga. Beri alasan yang sesuai usia: barang lama masih berfungsi, pembelian belum menjadi prioritas, atau keluarga perlu membandingkan pilihan. Anak boleh kecewa. Orang tua dapat menemaninya menghadapi rasa kecewa sambil menjaga keputusan. Bacaan lanjutan yang berkaitan ialah membantu anak menunda keinginan. Rujukan resmi untuk topik ini ialah kerangka literasi keuangan siswa OECD.
Bantu anak membedakan kualitas, fungsi, dan simbol status
Barang bermerek dapat memiliki kualitas atau layanan tertentu, tetapi merek juga bisa menjadi simbol status. Ajak anak membandingkan apa yang benar-benar dibutuhkan: ukuran, kenyamanan, daya tahan, keamanan, dan biaya. Jika ada pilihan yang lebih terjangkau dengan fungsi sama, anak dapat mempertimbangkannya. Jangan mengajarkan bahwa barang mahal selalu buruk atau barang murah selalu lebih baik.
Bila anak ingin membeli barang karena tren, diskusikan berapa lama tren biasanya bertahan dan apakah ia masih menyukai barang itu setelah beberapa waktu. Jeda membantu mengurangi keputusan terburu-buru. Anak dapat mencatatnya, menunggu, lalu menilai lagi. Latihan ini terkait dengan keterampilan menunda keinginan tanpa mengabaikan kebutuhan. Pembahasan itu dapat dilengkapi dengan membicarakan uang dan batas keluarga.
Latih kalimat menghadapi teman tanpa merendahkan
Anak dapat menyiapkan jawaban seperti “Tas ini masih nyaman dipakai” atau “Aku sedang memilih barang yang cocok buatku”. Ia tidak harus menjelaskan kondisi keuangan keluarga. Ajarkan pula bahwa teman mungkin memiliki kebutuhan, pilihan, dan kemampuan berbeda. Menghargai teman tidak berarti harus mengikuti semua pembelian mereka.
Jika ada ejekan atau perundungan karena barang yang dipakai, jangan menyuruh anak menyelesaikan semuanya sendiri. Dengarkan kejadian, simpan informasi yang relevan, dan hubungi sekolah jika perilaku berulang atau mengganggu keselamatan. Masalah harga diri dan perundungan tidak akan selesai hanya dengan membeli barang yang sama. Untuk keterangan lebih lanjut, kunjungi aktivitas CFPB tentang kebutuhan dan keinginan.
Bangun harga diri dari pengalaman di luar kepemilikan barang
Bantu anak menemukan hal yang membuatnya merasa mampu: keterampilan olahraga, seni, persahabatan, kepedulian, atau proyek yang ia sukai. Berikan pengakuan yang spesifik pada usaha dan karakter, bukan pujian umum yang berlebihan. Jangan membuat kegiatan positif sebagai kompensasi karena ia tidak mendapat barang mewah; anak perlu merasa dihargai terlepas dari pembelian.
Orang tua juga dapat menunjukkan bahwa orang dewasa tidak selalu mengikuti tren. Ceritakan keputusan yang dibuat berdasarkan fungsi dan kemampuan, bukan sebagai ceramah. Anak melihat konsistensi dalam tindakan. Keluarga tetap boleh membeli barang bagus ketika memang sesuai kebutuhan dan anggaran, tanpa menjadikannya ukuran keberhasilan sosial. Pembaca juga dapat merujuk pada literasi keuangan saat berbelanja.
Memahami gengsi dan tekanan sosial di balik permintaan barang mahal
Permintaan barang mewah bisa berangkat dari berbagai hal: ingin diterima kelompok, mengikuti tren, merasa tertinggal, tertarik desain, atau sekadar penasaran. Tanyakan situasi spesifik ketika anak merasa membutuhkan barang tersebut. Apakah teman mengejek? Apakah ada aturan tidak tertulis dalam kelompok? Apakah anak melihat iklan yang membuat barang tampak wajib dimiliki? Memahami pemicu membantu orang tua merespons kebutuhan emosional tanpa langsung menyetujui pembelian.
Jangan menuduh anak materialistis atau menyalahkan teman tanpa bukti. Diskusikan alternatif menjaga relasi yang tidak bergantung pada barang: memilih aktivitas bersama, memakai barang yang nyaman, atau menyiapkan jawaban ketika ditanya. Jika ada perundungan karena merek pakaian atau perangkat, libatkan sekolah dan tangani sebagai masalah sosial, bukan hanya persoalan uang saku. Anak perlu mengetahui bahwa harga barang tidak menentukan nilai dirinya.
Membicarakan perbedaan kemampuan tanpa menghakimi teman
Anak tidak perlu mengetahui alasan keluarga lain membeli barang mahal atau mengapa temannya memiliki barang terbaru. Hindari menuduh orang tua lain memanjakan anak atau berutang demi gengsi. Fokus pada pilihan keluarga sendiri dan nilai yang ingin dijaga. Jika anak merasa dikucilkan, tanyakan apakah ada kegiatan lain yang bisa diikuti bersama teman tanpa biaya tinggi.
Orang tua dapat menguatkan rasa percaya diri melalui minat, keterampilan, dan hubungan yang tidak bergantung pada barang. Namun, jangan menganggap semua keinginan anak hanya akibat gengsi. Ada kalanya ia sungguh memerlukan perlengkapan yang mendukung kegiatan sekolah. Periksa fungsi dan kebutuhan sebelum memutuskan, sehingga anak merasa didengar tanpa semua permintaan otomatis dipenuhi.
Maya Menghadapi Tekanan Merek di Sekolah
Dalam ilustrasi, Maya meminta sepatu baru karena seorang teman menyebut sepatunya ketinggalan zaman. Ibunya tidak langsung menolak atau membeli. Ia menanyakan apakah Maya pernah diejek, lalu memeriksa apakah sepatu lama masih nyaman dan aman. Mereka sepakat menunda pembelian dua minggu sambil membandingkan pilihan. Maya juga menyiapkan jawaban sederhana jika teman mengomentari sepatunya. Bila ejekan berulang, keluarga akan berbicara dengan wali kelas.
Dialog yang dapat membantu anak
““Apa yang terjadi sampai kamu merasa perlu punya barang yang sama?””
““Apakah barang yang sekarang masih berfungsi dan nyaman?””
““Kita bisa membandingkan pilihan, tetapi tetap sesuai anggaran keluarga.””
- “Kamu tidak perlu menjelaskan kondisi uang keluarga kepada teman.”
- “Kalau ada yang mengejek atau memaksa, ceritakan kepada kami dan kita cari bantuan.”
Jangan mempermalukan keluarga lain, menganggap semua anak bermerek sombong, atau menyebut anak materialistis hanya dari satu permintaan. Jangan membeli barang mewah sebagai cara menghentikan perundungan; tangani perundungannya. Jika anak tampak sangat cemas atau menghindari sekolah karena penampilan, cari tahu situasinya bersama pihak sekolah dan dukungan yang sesuai.
Permintaan barang mewah dapat berisi kebutuhan sosial yang lebih dalam daripada keinginan memiliki benda. Orang tua dapat mengakui perasaan itu sambil tetap menjaga batas finansial. Anak akan lebih siap menghadapi tekanan teman ketika ia memiliki bahasa untuk menjelaskan pilihannya dan harga diri yang tidak bergantung pada merek.










