Menceritakan pengalaman membantu anak menyusun urutan kejadian, memilih kata, dan menjelaskan apa yang ia rasakan. Kegiatan ini tidak harus menjadi sesi belajar formal. Percakapan tentang perjalanan ke pasar, bermain di halaman, atau membantu memasak sudah dapat menjadi bahan cerita.
Mulai dari pengalaman yang anak kenal
Pilih kejadian sederhana yang baru dialami. Tanyakan apa yang terjadi lebih dulu, siapa yang ada di sana, dan bagian mana yang menarik. Jangan menuntut cerita lengkap; bantu anak mengingat melalui benda, foto, atau kegiatan yang dilakukan bersama.
Jika anak menjawab singkat, orang tua dapat menambahkan satu kalimat untuk memberi contoh: “Tadi kita membeli buah, lalu memilih jeruk.” Setelah itu, beri kesempatan anak melanjutkan. Cara ini menjaga percakapan tetap dua arah.
Gunakan pertanyaan terbuka yang tidak menguji
Pertanyaan “Bagaimana perasaanmu ketika hujan turun?” memberi ruang lebih luas daripada “Kamu senang, kan?” Hindari membanjiri anak dengan pertanyaan berturut-turut. Dengarkan jawabannya dan ikuti hal yang menarik bagi anak.
Anak boleh bercerita dengan urutan yang belum rapi. Orang tua dapat membantu menghubungkan kejadian tanpa terus membetulkan tata bahasa. Fokus pada makna dan keberanian menyampaikan ide. Sebagai rujukan lanjutan, baca penjelasan Harvard tentang interaksi timbal balik yang mendukung bahasa.
Gunakan gambar, benda, dan permainan
Foto keluarga, gambar buatan anak, atau benda yang dibawa dari perjalanan dapat memicu cerita. Anak dapat membuat cerita bergambar, menyusun tiga kartu kejadian, atau bergiliran menambahkan satu kalimat. Aktivitas ini bisa dilakukan sebentar dan tidak memerlukan alat khusus.
Bagi anak yang masih belajar bicara, beri waktu lebih lama untuk merespons dan gunakan gestur. Jangan menyelesaikan semua kalimat anak. Jika ada kekhawatiran perkembangan bahasa, diskusikan dengan tenaga kesehatan atau ahli yang kompeten. Topik ini juga berkaitan dengan cara mengajari anak bicara kebiasaan sehari hari yang mendukung bahasa dan membiasakan anak mendengarkan cerita pendek dengan menyenangkan.
Hargai cerita yang tidak sama dengan versi orang dewasa
Anak mungkin mengingat bagian yang berbeda atau menambahkan imajinasi. Bedakan cerita khayalan dan laporan kejadian nyata dengan lembut, tanpa mematikan kreativitasnya. Jika cerita berkaitan dengan keselamatan atau pengalaman yang mengganggu, dengarkan dengan serius dan klarifikasi secara tenang.
Membaca cerita bersama juga dapat memperkaya struktur narasi. Ajak anak menebak kelanjutan, menceritakan ulang bagian favorit, atau mengubah akhir cerita sesuai imajinasinya. Pembahasan terkait juga tersedia dalam materi komunikasi dan pengasuhan UNICEF Indonesia.
Contoh dalam keseharian
Saat pulang dari taman, orang tua dapat mengajak anak mengingat tiga hal: permainan yang dicoba, sesuatu yang dilihat, dan orang yang ditemui. Anak memilih satu hal untuk diceritakan lebih dahulu.
Hal yang perlu diingat
Kemampuan bercerita tumbuh dari percakapan yang hangat dan kesempatan mengungkapkan pengalaman. Dengarkan lebih banyak daripada menguji, gunakan alat bantu sederhana, dan beri waktu anak menyusun kata-katanya sendiri.










