Dua anak usia sekolah berbicara di halaman sekolah, satu menyampaikan keberatan dengan tenang dan satu mendengarkan.
Kritik yang jelas dan tidak merendahkan membantu anak menyelesaikan perbedaan tanpa merusak pertemanan.
Sosialisasi & Pertemanan

Mengajarkan Anak Menyampaikan Kritik dan Keberatan dengan Sopan tanpa Merendahkan Teman

Bantu anak menyampaikan kritik, menolak perlakuan yang tidak adil, dan berbeda pendapat dengan jelas tanpa mengejek atau merendahkan teman.

Seorang anak melihat temannya merusak hasil kerja kelompok, lalu berkata, “Kamu memang selalu bikin semuanya berantakan.” Maksudnya mungkin ingin menghentikan tindakan yang mengganggu. Namun, kalimat itu menyerang orangnya, bukan menjelaskan masalah. Di kesempatan lain, anak mungkin punya keberatan yang masuk akal—misalnya tidak ingin menjadi satu-satunya yang mengerjakan tugas—tetapi ia diam karena takut dianggap tidak sopan. Dua keadaan ini sama-sama perlu dilatih: anak berhak menyampaikan pendapat, dan ia perlu belajar melakukannya tanpa merendahkan orang lain.

Mengajarkan kritik yang santun bukan berarti anak harus selalu setuju, diam di hadapan teman, atau membiarkan perilaku yang tidak adil. Sikap hormat tidak sama dengan kepatuhan tanpa pertanyaan. Anak justru perlu tahu cara mengatakan “aku tidak setuju”, “bagian ini perlu diperbaiki”, atau “aku merasa keberatan” dengan jelas, spesifik, dan aman.

Bedakan kritik terhadap tindakan dan serangan terhadap pribadi

Kritik yang membantu berfokus pada sesuatu yang bisa dibahas atau diubah: tindakan, keputusan, hasil kerja, atau kesepakatan. Serangan pribadi memberi label pada orang: bodoh, malas, payah, aneh, atau selalu salah. Perbedaan ini mudah dijelaskan melalui contoh. “Kamu malas sekali” menilai karakter teman. “Bagian tugas belum selesai; kita perlu membagi pekerjaan lagi” menunjuk persoalan yang dapat ditangani.

Anak juga perlu belajar bahwa kata “selalu” dan “tidak pernah” sering membuat percakapan berubah menjadi pertengkaran. Ketika seorang teman terlambat sekali, kalimat “Kamu selalu terlambat” tidak akurat dan membuatnya defensif. Lebih tepat mengatakan, “Hari ini kita mulai terlambat karena kamu belum datang. Besok bisa kabari kalau masih di jalan?” Kritik yang baik bukan tentang terdengar pintar. Tujuannya membuat masalah lebih jelas sehingga orang lain tahu apa yang perlu dibicarakan.

Ajarkan bahwa kritik tidak boleh berisi ejekan terhadap tubuh, keluarga, kondisi ekonomi, agama, suku, disabilitas, atau hal pribadi yang tidak relevan dengan masalah. Anak boleh menyampaikan bahwa sebuah tindakan menyakitkan, tetapi tidak boleh memakai identitas seseorang untuk mempermalukannya.

Ajarkan anak menyusun keberatan dalam tiga bagian

Untuk anak usia sekolah, pola tiga bagian bisa menjadi pegangan awal: sebutkan kejadian yang terlihat, jelaskan dampaknya atau alasan keberatan, lalu ajukan permintaan yang spesifik. Pola ini bukan kalimat ajaib dan tidak harus diucapkan persis. Ia membantu anak berpindah dari tuduhan umum menuju percakapan yang lebih bisa ditanggapi.

  1. Kejadian: “Tadi kamu mengambil penghapusku tanpa bertanya.”
  2. Dampak atau alasan: “Aku sedang memakainya, jadi aku kesulitan melanjutkan tugas.”
  3. Permintaan: “Lain kali, boleh minta izin dulu?”

Untuk kerja kelompok, anak dapat mengatakan, “Bagian gambar belum diberi warna, sedangkan waktu tinggal sedikit. Bisa kita bagi dua bagian sekarang?” Untuk permainan, “Aku belum setuju kalau aturannya berubah setelah permainan dimulai. Kita sepakati ulang sebelum lanjut, ya?” Kalimat ini mengandung keberatan yang nyata tanpa menyerang teman.

Jika situasi melibatkan perlakuan yang tidak aman, merendahkan, atau berulang, anak tidak harus menyelesaikannya sendiri dengan teknik komunikasi. Ia boleh menghentikan percakapan dan mencari orang dewasa tepercaya. Keterampilan bicara santun bukan kewajiban untuk menanggung perlakuan buruk dengan sabar.

Pilih waktu dan tempat yang tidak mempermalukan teman

Kritik yang benar bisa terasa menyakitkan bila disampaikan di depan banyak orang dengan nada mengejek. Bantu anak membedakan masalah yang perlu dihentikan segera dan hal yang bisa dibicarakan secara pribadi. Jika teman sedang melakukan tindakan berbahaya atau melanggar batas, anak boleh berkata tegas pada saat itu: “Berhenti. Itu bisa melukai.” Namun, komentar tentang hasil tugas, kebiasaan, atau kesalahan kecil biasanya lebih baik disampaikan tanpa menjadikan teman tontonan.

Ajarkan pula agar anak tidak mengirim kritik melalui grup kelas hanya karena lebih berani mengetik daripada berbicara langsung. Pesan tertulis mudah disalahpahami, diteruskan, atau dibaca orang lain di luar konteks. Untuk persoalan sederhana, percakapan singkat secara langsung sering lebih baik. Jika anak tidak merasa aman untuk berbicara langsung, minta bantuan guru atau orang dewasa yang dipercaya.

Orang tua dapat menggunakan pertanyaan sebelum mengomentari cara anak: “Apakah kamu ingin menyampaikan masalah atau ingin membuat dia malu?” Pertanyaan itu mengajak anak memeriksa tujuan tanpa langsung menuduhnya berniat jahat. Bila ia menjawab ingin temannya berhenti melakukan sesuatu, bantu merumuskan kalimat yang fokus pada perilaku.

Berlatih lewat kejadian sehari-hari, bukan menunggu konflik besar

Latihan paling efektif sering muncul dalam percakapan keluarga. Ketika anak mengkritik masakan, misalnya, orang tua bisa menunjukkan cara menyampaikan preferensi tanpa menghina: “Aku kurang suka rasa pedasnya. Besok boleh dibuat lebih ringan?” Anak belajar bahwa pendapat tidak harus disembunyikan, tetapi pilihan kata memengaruhi hubungan. Jika orang tua sendiri mengolok-olok teman, tetangga, atau anggota keluarga, anak akan melihat model komunikasi yang bertentangan dengan nasihat.

Gunakan permainan peran singkat dengan situasi yang dekat: teman memotong antrean, kelompok tidak membagi tugas, teman meminjam barang tanpa izin, atau seseorang terus memilih permainan yang sama. Minta anak mencoba dua versi kalimat: versi yang menyerang dan versi yang menjelaskan masalah. Tanyakan perbedaan perasaan yang muncul ketika mendengarnya. Jangan menilai anak hanya dari kemampuan mengulang skrip; lihat apakah ia mulai memahami alasan di balik pilihan kata.

Latihan juga perlu memperhatikan temperamen dan kemampuan bahasa. Anak yang pendiam mungkin butuh waktu untuk menyusun kalimat. Anak yang berbicara cepat bisa perlu berlatih menunggu lawan bicara selesai. Anak yang kesulitan membaca isyarat sosial dapat dibantu dengan contoh eksplisit, kartu kalimat, atau latihan visual. Jangan menganggap semua anak akan memahami sindiran atau nada tersirat dengan cara yang sama.

Saat anak menerima kritik dari temannya

Keterampilan menyampaikan kritik berjalan bersama kemampuan menerimanya. Anak mungkin langsung membantah, menangis, atau membalas ketika diberi tahu bahwa tindakannya mengganggu. Orang tua dapat mengajarkan tiga langkah sederhana: dengarkan sampai selesai, tanyakan bagian yang belum jelas, lalu pilih apakah ada hal yang memang perlu diperbaiki. Menerima kritik tidak berarti menyetujui semua tuduhan.

Contoh kalimat yang dapat digunakan: “Aku dengar kamu kesal karena aku memotong pembicaraan. Aku tidak sadar tadi. Lain kali aku tunggu selesai, ya.” Atau jika kritik tidak adil: “Aku paham kamu tidak suka, tetapi aku tidak melakukan bagian itu. Kita bisa cek bersama.” Anak berhak mempertahankan fakta tanpa mempermalukan orang yang mengkritiknya.

Jangan buru-buru mengambil alih setiap konflik kecil. Dengarkan cerita anak, bantu ia mengurai kejadian, lalu tanyakan apa yang ingin ia coba. Namun, jangan pula meminta anak menyelesaikan sendiri persoalan yang melibatkan intimidasi, ancaman, diskriminasi, atau ketimpangan kuasa yang membuatnya tidak aman.

Keberanian berpendapat adalah bagian dari hak anak

Konvensi Hak Anak yang dijelaskan UNICEF Indonesia menyatakan bahwa anak berhak mengemukakan pendapat dan didengar serta dipertimbangkan dalam keputusan yang memengaruhi kehidupannya. Hak itu tidak berarti setiap permintaan anak harus disetujui. Artinya, pendapatnya pantas didengar dengan mempertimbangkan usia, kematangan, dan kepentingan terbaik anak. Rumah dapat menjadi ruang latihan pertama: anak boleh berbeda pandangan, sementara orang tua tetap menjelaskan batas dan alasan keputusan.

Kemendikdasmen juga pernah menegaskan pentingnya membina peserta didik agar mampu menyampaikan pendapat secara aman dan santun melalui jalur pendidikan yang sehat dan dialog terbuka. Prinsip ini dapat diterjemahkan dalam keluarga tanpa menjadikan kesopanan sebagai alat membungkam kritik. Anak yang bertanya mengapa aturan dibuat sedang belajar berpikir; orang tua bisa menjawab alasan, meminta ia menunggu giliran, atau menjelaskan kapan keputusan tidak dapat dinegosiasikan.

Bagaimana orang tua merespons kritik anak kepada diri sendiri?

Bagian ini sering paling sulit. Anak mungkin berkata, “Ayah tidak adil karena adik boleh tidur lebih malam.” Respons spontan orang tua bisa berupa “Jangan membantah!” Padahal, kritik itu dapat menjadi pintu untuk memeriksa apakah aturan memang berbeda karena usia atau kebutuhan, atau sekadar belum konsisten. Orang tua tidak harus langsung mengubah keputusan, tetapi dapat mengatakan, “Ayah dengar kamu merasa aturan itu tidak sama. Ada alasan adik tidur lebih cepat karena besok tidak sekolah, tetapi mari kita lihat jadwalmu juga.”

Jika kritik anak disampaikan dengan kata menyakitkan, pisahkan isi dan caranya. “Ibu mau mendengar keberatanmu, tetapi jangan menyebut Ibu bodoh. Coba ulangi apa yang menurutmu tidak adil.” Dengan begitu, anak tidak belajar bahwa hanya orang dewasa yang boleh berbeda pendapat, atau bahwa kritik harus dibayar dengan hukuman.

Orang tua juga bisa meminta maaf ketika salah. Contohnya, “Tadi Ayah memotong penjelasanmu dan langsung menyimpulkan. Itu tidak adil. Silakan lanjutkan.” Pengakuan seperti ini membuat komunikasi dua arah terasa nyata, bukan slogan yang hanya diwajibkan kepada anak.

Kapan perlu melibatkan guru?

Jika anak berkali-kali berkonflik dengan teman, sulit menyampaikan keberatan tanpa menyerang, atau justru terus diam meski haknya dilanggar, ajak guru berdiskusi. Sampaikan kejadian konkret, bukan label seperti “tidak bisa bergaul”. Minta guru membantu mengamati bagaimana kelompok bekerja, bagaimana anak membagi tugas, dan apakah ada pola ejekan atau pengucilan. Bila masalah berkaitan dengan perundungan atau ancaman, sekolah perlu menjalankan mekanisme perlindungan yang berlaku, bukan sekadar meminta kedua anak saling meminta maaf.

Untuk memperdalam kemampuan sosial ini, orang tua dapat membaca cara anak bernegosiasi dengan sopan bersama teman sebaya, memahami kritik membangun tanpa mematahkan semangat, serta membahas batas pribadi dalam pertemanan.

Tujuan akhirnya bukan membuat anak selalu terdengar halus. Anak perlu mampu mengatakan hal yang sulit, menolak perlakuan yang tidak pantas, dan mengakui kesalahan tanpa merendahkan orang lain. Sopan santun yang sehat memberi ruang bagi kejujuran sekaligus menjaga martabat orang yang diajak bicara. Bila anak bisa berkata, “Aku tidak setuju, dan ini alasanku,” tanpa harus mengejek, ia sedang mempraktikkan keterampilan yang akan berguna jauh setelah masa sekolah.

Jika kritik anak justru ditolak atau dibalas dengan ejekan

Anak perlu tahu bahwa menyampaikan keberatan dengan sopan tidak menjamin orang lain akan menerima pesannya. Temannya mungkin merasa tersinggung, menyangkal, atau membalas dengan kata-kata kasar. Ajarkan anak untuk tidak mengejar persetujuan dengan cara berdebat tanpa akhir. Ia dapat mengulang inti pesannya satu kali, lalu menentukan langkah yang aman: menghentikan percakapan, mencari teman lain, atau meminta bantuan guru. Contohnya, “Aku sudah bilang aku tidak nyaman. Aku tidak mau meneruskan percakapan kalau kamu mengejek.” Kalimat ini menetapkan batas, bukan mengancam.

Jika kritik anak menyangkut kerja kelompok, bantu ia membedakan persoalan yang dapat dinegosiasikan dan keputusan yang memang berada pada guru. Pembagian tugas bisa dibicarakan antarteman, tetapi penilaian akhir dan aturan kelas bukan wewenang anak untuk memaksakan. Bila kelompok tidak mencapai kesepakatan, anak dapat meminta guru membantu memperjelas tanggung jawab setiap anggota. Meminta bantuan bukan tanda tidak mampu menyelesaikan masalah; itu pilihan yang tepat ketika keputusan membutuhkan pihak yang memiliki kewenangan.

Orang tua juga perlu menghindari mengajari anak memenangkan semua perdebatan. Ada kalanya kritiknya benar, tetapi waktu penyampaian kurang tepat; ada kalanya ia salah memahami maksud teman. Setelah kejadian, ajak anak meninjau apa yang ia ketahui dan apa yang masih berupa dugaan. “Kamu melihat dia menghapus bagian gambar, tetapi apakah kamu tahu alasannya?” Pertanyaan ini melatih anak memeriksa fakta sebelum menuduh. Kemampuan membedakan pengamatan dan asumsi membuat kritik lebih adil sekaligus mengurangi konflik yang sebenarnya bisa dicegah.

Hak anak untuk mengungkapkan pandangan dan didengarkan dijelaskan dalam Konvensi Hak Anak versi anak-anak dari UNICEF Indonesia. Untuk konteks sekolah, lihat juga panduan Kemendikdasmen tentang menyampaikan pendapat secara aman dan santun.

Catatan sumber: Hak anak untuk menyampaikan pendapat diringkas dari Konvensi Hak Anak versi ramah anak UNICEF Indonesia. Imbauan menyampaikan pendapat dengan santun mengacu pada Kemendikdasmen. Contoh dialog merupakan ilustrasi, bukan kisah nyata yang diklaim terjadi.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.