Melibatkan anak dalam keputusan keluarga dapat membantu mereka belajar menyampaikan pendapat, mempertimbangkan kebutuhan orang lain, dan memahami konsekuensi pilihan. Namun, tidak semua keputusan perlu diserahkan kepada anak. Orang tua tetap bertanggung jawab atas keselamatan, keuangan, dan keputusan besar, sambil memberi ruang partisipasi yang sesuai usia.
Tentukan keputusan yang aman untuk dibicarakan
Mulailah dari pilihan sehari-hari seperti menentukan menu sederhana, kegiatan akhir pekan, atau urutan pekerjaan rumah. Untuk keputusan besar seperti tempat tinggal, kesehatan, atau keuangan, anak dapat diberi penjelasan dan kesempatan menyampaikan perasaan, tetapi bukan dibebani tanggung jawab akhir.
Jelaskan bagian mana yang dapat dipilih dan bagian mana yang sudah menjadi tanggung jawab orang dewasa. Kejelasan ini membantu anak memahami bahwa pendapatnya dihargai meskipun tidak semua usulan dapat diterapkan.
Ajarkan cara menyampaikan pendapat dengan hormat
Orang tua dapat mengajarkan kalimat seperti “Menurutku…”, “Aku lebih suka… karena…”, atau “Boleh aku usul?” Beri contoh dengan mendengarkan pendapat anak sampai selesai, tidak mengejek, dan meminta klarifikasi bila belum memahami maksudnya.
Anak juga perlu belajar bahwa anggota keluarga lain memiliki pendapat berbeda. Bantu mereka membedakan tidak setuju dengan merendahkan. Percakapan yang sehat memungkinkan perbedaan tanpa ancaman, bentakan, atau tuntutan bahwa satu orang harus selalu menang. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan pengasuhan UNICEF Indonesia.
Gunakan proses memilih yang sederhana
Untuk pilihan yang terbatas, tuliskan dua atau tiga opsi, lalu bahas kelebihan dan keterbatasannya. Anak dapat memilih bila semua pilihan aman dan realistis. Jika tidak ada pilihan yang dapat diterima, orang tua perlu menjelaskan alasannya dengan tenang.
Tidak semua keputusan harus melalui pemungutan suara. Kebutuhan kesehatan, keselamatan, dan hak anggota keluarga tidak boleh dikalahkan hanya karena jumlah suara. Partisipasi anak harus disertai batas yang jelas dan sesuai tahap perkembangannya. Topik ini juga berkaitan dengan mengajarkan anak mengambil keputusan sederhana melalui pola asuh demokratis dan cara membuat aturan keluarga bersama anak lewat pola asuh demokratis.
Tunjukkan bahwa pendapat anak memiliki tindak lanjut
Jika usulan anak diterapkan, jelaskan hasilnya. Jika tidak, terangkan pertimbangannya dan apa yang mungkin dilakukan lain kali. Jangan meminta pendapat anak bila keputusan sudah final dan tidak ada ruang perubahan, karena hal itu dapat membuat partisipasi terasa palsu.
Sesekali ajak keluarga mengevaluasi apakah setiap orang mendapat kesempatan bicara. Perhatikan anak yang pendiam atau membutuhkan waktu lebih lama. Berikan cara lain untuk menyampaikan pendapat, misalnya menulis, menggambar, atau berbicara secara pribadi. Pembahasan terkait juga tersedia dalam prinsip hak dan partisipasi anak dari UNICEF.
Contoh dalam keseharian
Keluarga ingin memilih kegiatan akhir pekan. Setiap anggota menyebut satu usulan dan alasan. Orang tua menilai waktu, biaya, dan kebutuhan istirahat, lalu memilih kegiatan yang dapat dilakukan bersama. Anak diberi penjelasan ketika usulannya belum dapat dipilih.
Hal yang perlu diingat
Partisipasi anak bukan berarti semua keputusan menjadi tanggung jawabnya. Pilih keputusan yang sesuai usia, jelaskan batas, dan tunjukkan bagaimana pendapat dipertimbangkan. Kebiasaan ini membantu anak merasa dihargai sekaligus belajar mengambil keputusan bersama orang lain.










