Melibatkan anak dalam keputusan keluarga bukan berarti semua keputusan diserahkan kepadanya. Orang tua tetap bertanggung jawab atas batas dan keselamatan, sementara anak mendapat ruang memilih hal yang sesuai usia. Kesempatan kecil membantu anak belajar mempertimbangkan pilihan dan menerima hasilnya.
Pilih keputusan yang memang aman untuk dinegosiasikan
Anak dapat memilih baju dari dua pilihan yang sesuai cuaca, menentukan buku yang dibaca, atau memilih urutan dua tugas sederhana. Keputusan tentang kesehatan, keselamatan, biaya besar, dan kewajiban orang dewasa tetap berada pada orang tua.
Batas pilihan yang jelas menghindari kebingungan. Jangan bertanya “Kamu mau apa?” ketika orang tua sebenarnya hanya menerima satu jawaban. Katakan, “Kamu mau memakai baju biru atau hijau?” agar anak tahu ruang keputusannya.
Ajak anak melihat akibat sederhana
Setelah memilih, bantu anak memperhatikan dampaknya. Jika memilih bermain lebih dulu, mungkin waktu membaca menjadi lebih singkat. Jika memilih membawa bekal tertentu, ia perlu membantu menyiapkan. Hindari menjadikan hasil pilihan sebagai ancaman; gunakan sebagai pengalaman belajar.
Anak tidak harus selalu memilih yang menurut orang tua paling efisien. Selama aman dan masih sesuai batas, biarkan ia mencoba preferensi. Orang tua dapat mengajukan pertanyaan yang membantu menimbang, bukan langsung mengganti pilihan. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan CDC tentang dukungan kemandirian sesuai usia.
Dengarkan pendapat dan jelaskan keputusan akhir
Ada situasi ketika orang tua harus memutuskan berbeda dari pilihan anak. Jelaskan alasan dengan singkat dan akui kekecewaannya. Anak belajar bahwa suaranya didengar, tetapi tidak semua keputusan dapat ditentukan sendiri.
Jangan meminta pendapat anak untuk keputusan yang sudah final hanya agar ia merasa dilibatkan. Kejujuran menjaga kepercayaan. Jika keputusan memang terbuka, jelaskan kriteria yang dipakai dan bagaimana pendapat anak dipertimbangkan. Topik ini juga berkaitan dengan mengajarkan anak mengambil keputusan sederhana melalui pola asuh demokratis dan membangun kerja sama antara orang tua dan anak melalui pola asuh positif.
Tingkatkan tanggung jawab secara bertahap
Saat anak semakin besar, libatkan ia dalam perencanaan jadwal akhir pekan, pemilihan aktivitas, atau cara menyelesaikan tugas keluarga. Beri kesempatan mengevaluasi keputusan bersama. Jika ada kesalahan, bantu anak memikirkan pilihan lain untuk kesempatan berikutnya.
Kemampuan mengambil keputusan berbeda pada tiap anak dan situasi. Anak mungkin mampu memilih aktivitas tetapi belum siap mengelola uang atau menentukan waktu tidur sendiri. Sesuaikan ruang pilihan dengan kebutuhan aktual. Pembahasan terkait juga tersedia dalam materi pengasuhan UNICEF Indonesia.
Contoh dalam keseharian
Saat keluarga akan membaca bersama, orang tua dapat memberi dua pilihan buku dan anak menentukan urutan cerita. Jika waktu terbatas, orang tua menjelaskan bahwa malam itu hanya satu buku yang dibaca.
Hal yang perlu diingat
Keputusan sederhana adalah latihan keterampilan hidup ketika batasnya jelas dan pendapat anak benar-benar dipertimbangkan. Beri ruang untuk memilih, jelaskan keputusan orang dewasa, dan bantu anak belajar dari hasilnya.










