Orang tua mengamati jajanan warna-warni yang disajikan tertutup di depan sekolah bersama anak
Warna jajanan tidak cukup untuk menyimpulkan aman atau berbahaya; proses, bahan, dan kondisi penyajian perlu diperiksa.
Gizi & Kebiasaan Makan

5 Hal yang Perlu Diperiksa pada Jajanan Berwarna Mencolok di Depan Sekolah

Warna mencolok saja tidak membuktikan jajanan berbahaya. Periksa bahan, kebersihan, penyajian, sumber produk, dan tanda kerusakan sebelum menentukan pilihan.

Warna yang mencolok bukan tes keamanan pangan

Jajanan berwarna merah, kuning, hijau, atau biru sering menarik perhatian anak. Sebagian orang tua menganggap warna yang sangat terang pasti berasal dari bahan berbahaya. Anggapan tersebut tidak selalu benar. Pewarna pangan tertentu memang diizinkan bila digunakan sesuai ketentuan, sementara zat pewarna nonpangan seperti Rhodamin B dan Metanil Yellow dilarang digunakan pada makanan. Perbedaan ini tidak dapat dipastikan hanya dengan melihat warna dari jauh. Karena itu, artikel ini mengajak orang tua memeriksa lima hal yang lebih berguna daripada menebak dari tampilan.

Warna makanan dapat dipengaruhi pewarna yang diizinkan, bahan alami, konsentrasi, pencahayaan, atau cara pengolahan. Sebaliknya, makanan yang warnanya biasa saja belum tentu aman jika disiapkan dengan air tidak bersih atau disimpan secara keliru. Jangan membuat anak takut pada semua jajanan warna-warni. Ajarkan bahwa penilaian makanan membutuhkan informasi dan pengamatan lebih dari satu sisi.

1. Periksa jenis dan sumber bahan bila informasinya tersedia

Produk kemasan seharusnya memiliki label bahan yang dapat dibaca. Orang tua dapat mencari informasi bahan tambahan pangan dan memastikan produk memiliki izin edar sesuai ketentuan. Untuk jajanan buatan langsung, penjual mungkin tidak memiliki daftar bahan tertulis. Tanyakan dengan sopan jika anak memiliki alergi atau pembatasan tertentu. Bila penjual tidak bisa memastikan komposisi dan anak memiliki alergi berat, pilih makanan lain yang risikonya lebih dapat dikendalikan.

BPOM Palembang pernah mengumumkan hasil pengujian jajanan di Baturaja yang menemukan Rhodamin B pada satu sampel cendol merah muda, sementara sampel lainnya memenuhi syarat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahan berbahaya memang dapat disalahgunakan, tetapi tidak berarti semua jajanan berwarna mencolok mengandung bahan terlarang. Orang tua dapat membaca laporan pengawasan bahan berbahaya oleh BBPOM Palembang untuk memahami pentingnya pengujian dan pengawasan resmi.

2. Amati kebersihan tempat dan alat saji

Apakah makanan diletakkan dalam wadah tertutup? Apakah penjepit bersih dan tidak digunakan bergantian untuk memegang uang? Apakah meja, wadah, dan tempat penyimpanan tampak dirawat? Periksa juga apakah lokasi jual dekat sampah, selokan, atau asap kendaraan yang tebal. Hal-hal ini dapat diamati tanpa menyentuh atau mencicipi makanan. Jika makanan disajikan terbuka dan banyak lalat hinggap, lebih baik memilih tempat lain.

Kebersihan yang terlihat bukan jaminan bahwa pangan bebas dari semua cemaran. Namun, perilaku menjaga alat, tangan, air, dan tempat jual adalah bagian penting dari keamanan pangan. Anak dapat belajar memperhatikan beberapa hal sederhana, sementara orang tua menilai apakah situasinya cukup meyakinkan untuk membeli.

3. Periksa cara makanan dimasak dan disimpan

Makanan yang perlu disajikan panas sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama dalam keadaan hangat yang tidak terkontrol. Produk yang harus didinginkan perlu disimpan sesuai petunjuk. Makanan matang sebaiknya dipisahkan dari bahan mentah agar tidak terjadi kontaminasi silang. Jika penjual membuat makanan di tempat, amati apakah makanan matang terlindung dan apakah alat yang digunakan bersih. Hindari menyimpulkan keamanan hanya dari apakah makanan baru saja diangkat dari wajan.

Bila penjual tidak dapat menjelaskan bagaimana makanan yang tersisa disimpan, orang tua dapat memilih jajanan lain. Jangan membeli stok besar dari makanan yang mudah rusak hanya karena harganya murah. Untuk anak yang membawa jajanan ke sekolah lalu memakannya beberapa jam kemudian, perhatikan pula waktu dan kondisi penyimpanan selama perjalanan.

4. Cek kemasan, label, dan izin edar untuk produk terbungkus

Jika jajanan menggunakan kemasan pabrikan, pastikan bungkus tidak bocor, sobek, menggembung, berkarat, atau segelnya rusak. Baca daftar bahan, informasi nilai gizi, tanggal kedaluwarsa, dan petunjuk penyimpanan. BPOM mengenalkan prinsip Cek KLIK—kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa—sebagai kebiasaan awal saat memilih produk. Label tidak menggantikan pertimbangan kebutuhan anak, tetapi membantu orang tua mengetahui apa yang dibeli.

Jangan mengandalkan klaim depan kemasan saja seperti 'rasa buah', 'warna alami', atau 'vitamin'. Periksa informasi di bagian belakang. Untuk melihat kategori bahan tambahan, baca fungsi pengawet, pewarna, dan pemanis dalam makanan. Panduan menilai keamanan serta nilai gizi jajanan sekolah membantu membandingkan produk, sedangkan cara membaca takaran saji membantu memahami jumlah yang benar-benar dikonsumsi.

5. Lihat kondisi makanan, tetapi jangan mencicipi untuk menguji

Makanan yang berjamur, berlendir, berbau tidak wajar, atau menunjukkan perubahan tekstur yang tidak sesuai sebaiknya tidak dibeli. Namun, makanan yang tampak normal pun belum tentu bebas dari mikroorganisme. Jangan meminta anak mencicipi sedikit untuk memastikan apakah jajanan aman. Jika ragu, tinggalkan dan pilih alternatif lain. Anak perlu memahami bahwa menolak makanan yang meragukan adalah keputusan yang bijak, bukan berarti ia penakut atau tidak menghargai penjual.

Jika anak mengalami gejala seperti muntah, diare, atau reaksi alergi setelah makan, catat jenis jajanan dan waktu konsumsi. Cari bantuan medis bila ada tanda bahaya. Jangan menuduh pewarna sebagai penyebab tanpa pemeriksaan karena keluhan dapat timbul dari berbagai bahan atau kontaminasi. Pengujian bahan berbahaya membutuhkan metode yang sesuai dan dilakukan pihak berwenang, bukan tes sederhana yang tidak tervalidasi di rumah.

Ajarkan anak menilai tanpa menakut-nakuti

Anak dapat diajak berdiskusi dengan pertanyaan sederhana: 'Apa yang kamu lihat pada tempat jual ini?', 'Apakah makanannya tertutup?', atau 'Kalau kita ragu, apa pilihan kita?' Hindari menyatakan bahwa semua makanan warna-warni berbahaya. Kalimat yang lebih tepat adalah, 'Warna saja tidak cukup untuk tahu aman atau tidak. Kita lihat cara makanan disimpan dan informasi yang tersedia.' Anak akan belajar mengamati dan mengambil keputusan tanpa membawa rasa takut yang berlebihan.

Keluarga dapat menyepakati beberapa tempat jual yang biasa dikunjungi dan menilai kondisinya dari waktu ke waktu. Jika ada masalah yang serius atau dugaan bahan terlarang, sampaikan kepada sekolah dan laporkan melalui saluran resmi BPOM atau dinas terkait. Dengan informasi yang tepat, orang tua dapat menjaga anak tanpa membuatnya takut pada seluruh jajanan tradisional atau makanan berwarna.

Jangan menyebarkan foto jajanan sebagai bukti bahan berbahaya

Foto makanan dapat menunjukkan warna, kemasan, atau cara penyajian, tetapi tidak dapat membuktikan kandungan bahan kimia tertentu. Bila orang tua mencurigai suatu produk, catat informasi penjual dan waktu pembelian lalu sampaikan ke sekolah atau otoritas terkait. Hindari memberi label 'beracun' pada pedagang atau makanan hanya berdasarkan tampilan. Pemeriksaan dan pengujian resmi diperlukan untuk memastikan ada tidaknya bahan terlarang.

Jika anak bertanya mengapa jajanan tertentu tidak dibeli, jelaskan bahwa keluarga belum memiliki informasi cukup atau cara penyimpanannya tidak meyakinkan. Tidak perlu mengatakan semua makanan warna-warni berbahaya. Sikap kritis yang tidak menakut-nakuti membantu anak belajar menilai pangan berdasarkan fakta.

Libatkan sekolah dan penjual dalam edukasi yang tepat

Sekolah dapat mengadakan diskusi singkat tentang label, bahan tambahan pangan, dan cara menjaga kebersihan jajanan. Pedagang juga dapat diajak memahami perbedaan pewarna pangan yang diperbolehkan dengan zat nonpangan yang dilarang. Anak tidak perlu menghafal nama bahan kimia. Cukup ajarkan bahwa ia dapat memilih makanan yang terlindung, bertanya kepada orang dewasa, dan menolak makanan yang tampak rusak atau tidak jelas asalnya.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.