Ketika mengajarkan anak berinteraksi dengan orang asing, orang tua sering terjebak pada dua pesan yang sama-sama kurang tepat: “Jangan bicara dengan siapa pun yang tidak dikenal” atau “Semua orang dewasa pasti baik.” Pesan pertama dapat membuat anak takut meminta bantuan saat tersesat, sedangkan pesan kedua mengabaikan risiko. Anak membutuhkan pemahaman yang lebih seimbang: banyak orang tidak dikenal dapat bersikap ramah, tetapi anak tidak boleh mengikuti ajakan, memberikan informasi pribadi, atau menyimpan permintaan rahasia tanpa memeriksa kepada orang dewasa tepercaya.
Tujuan edukasi bukan menanamkan rasa takut terhadap semua orang, melainkan mengajarkan tindakan aman. Anak perlu mengenali siapa orang dewasa tepercaya, apa yang harus dilakukan ketika ada ajakan yang tidak sesuai, dan bagaimana meminta bantuan di tempat umum. Aturan harus sederhana, diulang, dan disesuaikan dengan usia serta lingkungan anak.
Ajarkan aturan berdasarkan perilaku, bukan penampilan orang
Jangan mengatakan bahwa orang berbahaya selalu tampak menyeramkan atau bahwa orang yang terlihat ramah pasti aman. Bahaya tidak dapat dipastikan hanya dari pakaian, usia, atau wajah. Ajarkan anak memperhatikan perilaku: apakah seseorang meminta pergi ke tempat lain tanpa izin, meminta merahasiakan sesuatu, menawarkan hadiah dengan syarat, meminta foto pribadi, atau mencoba memisahkan anak dari pendampingnya. Tindakan semacam itu perlu membuat anak berhenti dan mencari bantuan.
Anak juga perlu memahami bahwa ia boleh menolak meskipun orang yang meminta adalah kenalan keluarga. Jika seseorang meminta tindakan yang membuat tidak nyaman, anak boleh berkata “Tidak”, menjauh, dan memberi tahu orang tua. Ini termasuk orang dewasa yang dikenal. Aturan keselamatan tidak hanya ditujukan kepada orang asing, tetapi kepada siapa pun yang melanggar batas anak.
Tetapkan siapa saja orang dewasa tepercaya
Bantu anak menyebut beberapa orang dewasa yang dapat dimintai bantuan, seperti orang tua, guru, petugas sekolah, petugas keamanan yang resmi, atau kerabat yang sudah disepakati. Jelaskan kapan anak dapat meminta bantuan dan bagaimana mengenali orang tersebut. Di tempat umum, jika terpisah, anak bisa mencari petugas berseragam atau pergi ke meja informasi dan meminta bantuan tanpa mengikuti orang tersebut ke tempat sepi.
Untuk anak kecil, orang tua dapat membuat kartu kontak darurat yang disimpan dengan aman dan mengajari nama orang tua serta cara meminta bantuan. Namun, jangan meminta anak membagikan nomor telepon, alamat, nama sekolah, atau jadwal keluarga kepada orang yang baru dikenal. Anak dapat mengatakan, “Saya perlu tanya orang tua dulu.”
Latih respons saat ada ajakan yang tidak aman
Buat latihan singkat dengan skenario. Misalnya, seseorang yang tidak dikenal menawarkan mengantar pulang, mengajak melihat anak kucing di tempat lain, meminta anak ikut mengambil barang, atau berkata bahwa orang tua menyuruh menjemput. Anak dapat menjawab, “Saya tidak boleh pergi sebelum orang tua mengizinkan,” lalu bergerak menuju orang dewasa tepercaya. Latihan ini sebaiknya tenang, tanpa adegan menakutkan atau cerita penculikan yang membuat anak cemas.
Gunakan aturan keluarga yang jelas: anak tidak pindah lokasi dengan siapa pun tanpa izin orang tua atau pendamping yang ditunjuk; jika rencana berubah, anak menunggu di tempat aman dan menghubungi orang tua; dan anak tidak menyimpan rahasia tentang ajakan yang membuatnya takut. Jangan hanya mengandalkan kata sandi keluarga sebagai satu-satunya perlindungan. Tetap perlu memastikan perubahan rencana melalui saluran yang telah disepakati.
Ajarkan bahwa anak boleh meminta bantuan kepada orang asing dalam keadaan perlu
Jika anak tersesat atau melihat keadaan darurat, ia mungkin perlu meminta bantuan seseorang yang tidak dikenalnya. Jangan membuatnya merasa semua orang asing harus dihindari. Ajarkan memilih bantuan di tempat yang terlihat dan ramai, seperti petugas informasi, petugas keamanan resmi, staf toko, atau keluarga yang sedang bekerja di tempat tersebut. Anak sebaiknya tetap berada di area publik dan tidak mengikuti orang ke kendaraan atau ruang tertutup.
Latih kalimat yang bisa digunakan: “Saya terpisah dari keluarga. Bisakah Bapak/Ibu membantu memanggil petugas?” atau “Saya perlu menghubungi ibu saya.” Anak juga dapat meminta bantuan kepada petugas sekolah atau penjaga lokasi. Pengetahuan ini memberi rasa mampu tanpa membuat anak merasa harus menyelesaikan keadaan sendiri.
Gunakan cerita dan permainan peran, bukan ancaman
Anak lebih mudah belajar ketika dapat mencoba respons dalam suasana aman. Buat permainan peran singkat dengan beberapa skenario yang berbeda. Setelah satu latihan, tanyakan apa yang terasa mudah dan sulit. Jangan membuat anak gagal dengan jebakan mendadak atau menyamar sebagai orang asing untuk menguji apakah ia patuh. Ujian semacam itu dapat merusak rasa percaya kepada orang tua dan menambah ketakutan.
Jelaskan bahwa jika anak pernah mengikuti ajakan atau memberikan informasi, ia tetap boleh datang bercerita. Orang tua perlu mendengar tanpa menyalahkan. Anak yang takut dimarahi mungkin memilih menyembunyikan kejadian. Pastikan ia tahu bahwa keselamatan lebih penting daripada hukuman karena belum memahami aturan.
Perhatikan interaksi digital dengan orang yang tidak dikenal
Di dunia digital, orang asing dapat muncul melalui gim, ruang obrolan, media sosial, atau pesan langsung. Profil yang terlihat seperti anak sebaya belum tentu menunjukkan identitas asli. Ajarkan anak tidak membagikan nama lengkap, alamat, sekolah, nomor telepon, kata sandi, atau foto pribadi. Jangan berpindah ke aplikasi lain atau mengatur pertemuan tanpa keterlibatan orang tua. Jika seseorang meminta rahasia, foto, atau informasi sensitif, anak harus berhenti merespons dan memberi tahu orang tua.
UNICEF Indonesia menjelaskan pentingnya melindungi informasi pribadi, mengatur siapa yang dapat menghubungi anak, dan mendampingi penggunaan aplikasi serta gim melalui panduan privasi digital untuk orang tua. Orang tua dapat membaca juga risiko interaksi dengan orang asing saat bermain gim dan membedakan rahasia pribadi dari rahasia yang tidak aman.
Bangun kebiasaan anak selalu boleh bercerita
Anak perlu tahu bahwa ia tidak akan dimarahi karena meminta bantuan atau menceritakan situasi yang membingungkan. Jika ia mengalami pengalaman tidak nyaman, dengarkan dengan tenang, yakinkan bahwa ia tidak salah karena meminta bantuan, dan tentukan langkah keselamatan berikutnya. Jangan meminta anak mengulang cerita berkali-kali kepada banyak orang. Jika ada risiko nyata, cari bantuan dari pihak yang kompeten.
Periksa juga apakah keluarga memiliki rencana ketika terpisah di mal, pasar, taman, atau tempat wisata. Tentukan titik temu, siapa pendampingnya, dan apa yang harus dilakukan jika anak tidak menemukan keluarga. Rencana ini sebaiknya dilatih secara sederhana agar anak mengingat langkahnya tanpa merasa semua tempat berbahaya.
Mengajarkan anak berinteraksi dengan orang asing bukan tentang membuat dunia tampak menakutkan. Ini tentang mengenali batas, memeriksa perubahan rencana, menjaga informasi pribadi, dan tahu kepada siapa meminta bantuan. Anak yang merasa didukung akan lebih berani bercerita ketika sesuatu terasa tidak benar—dan itulah salah satu perlindungan paling penting.
Keterampilan sosial anak juga tumbuh lewat latihan seperti yang dibahas dalam mengajarkan anak mengatakan tidak saat sentuhan membuatnya tidak nyaman.










