Orang tua yang hangat dan penuh kasih sayang tentu memberi pengaruh positif pada hubungan keluarga. Namun, ketika kehangatan tidak disertai aturan dan arahan yang konsisten, pengasuhan dapat menjadi permisif. Anak mungkin sering memperoleh apa yang diminta tanpa belajar mempertimbangkan kebutuhan orang lain atau konsekuensi tindakannya. Masalahnya bukan kasih sayang yang berlebihan, melainkan kurangnya struktur yang dibutuhkan anak.
Apa itu permissive parenting?
Permissive parenting atau pola asuh permisif biasanya ditandai kehangatan yang tinggi tetapi tuntutan, pengawasan, dan batas perilaku yang relatif rendah. Orang tua dapat menghindari konflik, mudah mengubah keputusan ketika anak protes, atau jarang memberi konsekuensi. Setiap keluarga memiliki variasi, sehingga satu kejadian membelikan hadiah bukan alasan menggolongkan pola asuh.
Contohnya, anak diberi batas waktu gawai, tetapi setiap kali menangis batas itu dibatalkan. Lama-kelamaan, anak menerima pesan bahwa aturan dapat dinegosiasikan melalui protes yang semakin kuat. Ini bukan kesalahan anak; orang dewasa perlu membangun sistem yang lebih dapat diprediksi.
Kemungkinan kesulitan ketika batas terlalu longgar
Anak mungkin lebih sulit memahami kapan harus berhenti, menunggu giliran, atau menyesuaikan diri dengan aturan bersama. Ia juga bisa kesulitan menghadapi kekecewaan jika jarang berlatih menerima kata tidak. Dampak tidak selalu muncul sama pada semua anak dan dipengaruhi temperamen, lingkungan, serta hubungan keluarga.
Ketika aturan berubah-ubah, konflik dapat semakin sering karena anak tidak tahu apa yang akan terjadi. Orang tua pun bisa merasa harus terus mengingatkan, lalu akhirnya bereaksi keras setelah kesabarannya habis. Struktur yang konsisten dapat mencegah siklus tersebut.
Kehangatan tetap penting, tetapi perlu disertai arahan
Anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan kesempatan menyampaikan pendapat. Pada saat yang sama, orang tua bertanggung jawab menetapkan waktu tidur, keselamatan, kebiasaan sopan, dan batas penggunaan perangkat. Aturan tidak perlu banyak; pilih beberapa hal penting yang bisa diterapkan secara konsisten.
panduan disiplin positif UNICEF menjelaskan disiplin positif sebagai pengajaran perilaku secara baik namun tegas. Artinya, orang tua dapat mendengarkan anak sekaligus menegakkan batas. Ketika anak kecewa, orang tua tetap berada di sisinya tanpa harus mengubah setiap keputusan.
Cara memperbaiki pola asuh yang terlalu permisif
Mulailah dengan memilih tiga aturan keluarga yang jelas, misalnya keselamatan, waktu tidur, dan penggunaan layar. Jelaskan aturan dengan bahasa sederhana, tentukan konsekuensi yang berkaitan, dan pastikan semua pengasuh memahami kesepakatannya. Jika sebelumnya aturan sering berubah, beri tahu anak bahwa keluarga sedang membangun rutinitas baru.
Jangan mengubah semua hal sekaligus. Pelajari juga cara tetap konsisten saat anak menguji batasan. Konsistensi yang hangat memberi anak kepastian dan membantu orang tua tidak harus mengulang negosiasi tanpa akhir.
Contoh batas yang hangat tetapi konsisten
Anak meminta permen sebelum makan. Orang tua dapat berkata, “Kamu ingin permen sekarang. Kita makan dulu, setelah itu kita lihat pilihan camilan.” Jika anak menangis, keputusan tetap sama. Ketika situasi tenang, orang tua bisa menjelaskan kapan camilan tersedia. Anak belajar bahwa kecewa dapat dilewati tanpa harus mengubah aturan.
Jika sebelumnya batas sering berubah, anak mungkin perlu waktu untuk memahami pola baru. Konsistensi perlu dibangun berulang, bukan menuntut perubahan seketika. Berikan dukungan dan hindari menyalahkan anak karena menguji aturan yang selama ini tidak jelas.
Bedakan fleksibilitas dan ketidakkonsistenan
Fleksibilitas berarti orang tua dapat menyesuaikan aturan karena alasan yang masuk akal, misalnya anak sakit atau ada acara khusus. Ketidakkonsistenan terjadi ketika keputusan berubah tanpa alasan yang jelas atau hanya karena orang tua ingin menghentikan protes. Jelaskan pengecualian agar anak memahami konteksnya.
Aturan yang baik tidak harus banyak. Pilih batas yang penting bagi keselamatan dan keseharian, kemudian terapkan dengan cara yang dapat dipertahankan oleh semua pengasuh.
Contoh batas yang sederhana dan konsisten
Untuk waktu layar, buat aturan kapan perangkat boleh digunakan dan kapan harus disimpan. Untuk camilan, tetapkan pilihan dan waktu yang masuk akal. Untuk tugas rumah, jelaskan kontribusi anak sesuai usia. Anak boleh menyampaikan pendapat, tetapi orang tua tetap bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan.
Jika aturan tidak berjalan, jangan langsung menambah larangan. Periksa apakah jadwal realistis, apakah anak mengerti, dan apakah orang dewasa sendiri konsisten. Satu aturan yang dipahami lebih bermanfaat daripada banyak aturan yang sering berubah.
Perubahan dari permisif menjadi lebih terstruktur
Orang tua dapat menjelaskan perubahan dengan jujur: “Selama ini aturan tidur sering berubah. Mulai minggu ini kita akan mencoba waktu tidur yang lebih teratur supaya badan cukup istirahat.” Hindari menyalahkan anak karena memanfaatkan aturan yang sebelumnya tidak jelas.
Antisipasi protes pada masa penyesuaian. Tetap dengarkan perasaan anak dan jalankan batas dengan tenang. Jika keluarga membutuhkan panduan, pelajari prinsip disiplin positif dan sepakati cara yang dapat dijalankan semua pengasuh.
Membangun kehangatan sekaligus struktur
Batas yang jelas dapat disampaikan dengan hangat. Orang tua bisa menerima bahwa anak kecewa, tetapi tetap mempertahankan waktu tidur atau aturan keselamatan. Pilihan kecil seperti memilih buku sebelum tidur memberi ruang kendali tanpa mengubah aturan inti.
Hindari beralih dari pola permisif ke pola yang sangat keras hanya karena ingin anak lebih patuh. Perubahan mendadak dengan banyak hukuman dapat membingungkan dan merusak kepercayaan. Mulailah dari sedikit aturan yang penting, kemudian terapkan dengan stabil.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah permissive parenting sama dengan gentle parenting?
Tidak. Gentle parenting tetap dapat memiliki batas dan disiplin yang tegas. Pola permisif lebih berkaitan dengan rendahnya tuntutan atau kontrol yang konsisten.
Apakah anak akan menjadi manja jika terlalu disayang?
Kasih sayang bukan penyebab utama masalah. Anak membutuhkan kehangatan sekaligus batas, tanggung jawab, dan kesempatan menghadapi kekecewaan yang sesuai usia.










