Positive parenting atau pola asuh positif bukan berarti anak dibiarkan melakukan apa pun yang ia inginkan. Orang tua tetap mengarahkan, menetapkan aturan, dan mengoreksi perilaku yang tidak aman. Perbedaannya, proses belajar dilakukan dengan penghormatan, komunikasi yang jelas, dan tanpa kekerasan. Tujuan akhirnya adalah membantu anak mengembangkan tanggung jawab, pengendalian diri, dan hubungan yang sehat.
Pengertian positive parenting
Positive parenting menekankan hubungan yang hangat sekaligus bimbingan yang tegas. Dalam materi panduan positive parenting UNICEF, pendekatan positif dijelaskan melalui komunikasi ekspektasi, aturan dan batas, hubungan saling menghormati, keterampilan hidup, serta penguatan rasa percaya diri anak. Orang tua tidak hanya berusaha menghentikan perilaku yang mengganggu, tetapi mengajarkan perilaku pengganti yang lebih tepat.
Contohnya, ketika anak merebut mainan, orang tua tidak hanya berkata “jangan”. Orang tua menghentikan tindakan tersebut, membantu anak mengembalikan mainan, kemudian mengajarkan cara meminta giliran. Anak mendapatkan batas sekaligus keterampilan yang bisa digunakan pada kesempatan berikutnya.
Prinsip utama dalam pola asuh positif
Prinsip pertama adalah menyediakan lingkungan yang aman dan memberi kesempatan anak belajar. Kedua, membangun komunikasi yang jelas dengan instruksi sederhana. Ketiga, menerapkan disiplin yang tegas tetapi tidak menyakiti. Keempat, memiliki harapan yang sesuai usia. Kelima, memperhatikan kondisi orang tua sendiri karena kelelahan dan tekanan dapat memengaruhi cara merespons anak.
WHO merangkum sejumlah unsur positive parenting dalam tinjauan intervensi pengasuhan, termasuk lingkungan aman, lingkungan belajar positif, disiplin asertif, ekspektasi yang realistis, dan perawatan diri pengasuh. Baca tinjauan WHO tentang intervensi pengasuhan untuk perkembangan anak usia dini untuk gambaran pendekatan pengasuhan yang mendukung perkembangan dini.
Positive parenting bukan pola asuh permisif
Pola asuh permisif cenderung memberikan kehangatan, tetapi kurang dalam tuntutan dan batas yang konsisten. Positive parenting justru menggabungkan penghargaan pada anak dengan struktur. Orang tua dapat menolak permintaan, menghentikan tindakan berbahaya, dan memberikan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku.
Kalimat “Ibu tahu kamu kecewa, tetapi kita tidak boleh melempar barang” menunjukkan dua hal sekaligus: perasaan anak diakui dan aturan tetap berlaku. Tidak perlu menunggu anak setuju sebelum orang tua menjalankan tanggung jawab keselamatan.
Mengapa pendekatan ini perlu konsisten?
Anak belajar dari pengulangan dan contoh. Jika satu orang dewasa melarang memukul, sedangkan orang dewasa lain tertawa atau membiarkannya, anak menerima pesan yang berbeda. Konsistensi bukan berarti semua pengasuh harus menggunakan kata-kata sama persis, tetapi prinsip dan batas keselamatan perlu disepakati.
Untuk mulai membangun kebiasaan tersebut, baca kesalahan yang perlu dihindari saat menerapkan pola asuh positif. Pilih beberapa aturan inti agar anak dapat mengingatnya dan orang dewasa mampu menerapkannya secara realistis.
Peran pujian, arahan, dan konsekuensi
Pola asuh positif tidak berarti memuji setiap tindakan. Berikan umpan balik yang jujur dan spesifik, lalu bantu anak memahami konsekuensi perilaku. Jika ia menumpahkan air, misalnya, orang tua dapat mengajaknya mengelap bersama sesuai kemampuan. Jika ia membantu tanpa diminta, jelaskan dampak tindakannya terhadap keluarga.
Anak juga perlu mengetahui bahwa konsekuensi bukan balas dendam. Konsekuensi yang berkaitan mengajarkan hubungan antara tindakan dan tanggung jawab. Hindari hukuman yang mempermalukan atau tidak ada hubungannya dengan perilaku.
Bagaimana menerapkan prinsip dalam keluarga besar
Bila anak diasuh bersama kakek-nenek atau pengasuh, sampaikan beberapa aturan penting secara ringkas. Pilih kalimat yang dapat digunakan semua orang dewasa dan sepakati respons ketika anak melanggar batas. Tidak perlu mengatur setiap detail kecil, tetapi aturan keselamatan dan penghormatan harus sama.
Anak akan lebih mudah memahami harapan ketika orang dewasa menyampaikan pesan yang sejalan. Jika terjadi perbedaan, bicarakan di antara orang dewasa tanpa memperdebatkannya di depan anak.
Positive parenting bukan berarti anak selalu senang
Anak mungkin kecewa ketika waktu bermain berakhir, marah ketika diminta berbagi ruang, atau tidak setuju dengan aturan. Respons positif tidak mengharuskan orang tua membatalkan batas agar suasana kembali menyenangkan. Orang tua dapat mendengarkan protes, mengakui perasaan, dan tetap menjalankan keputusan yang perlu untuk keselamatan atau rutinitas keluarga.
Perhatikan juga bahwa konsekuensi tidak sama dengan hukuman yang mempermalukan. Konsekuensi yang masuk akal berkaitan dengan perilaku dan memberi kesempatan memperbaiki keadaan. Misalnya, anak membantu merapikan tumpahan yang dibuatnya dengan bantuan sesuai usia.
Membangun konsistensi bersama pengasuh lain
Jika anak diasuh oleh beberapa orang dewasa, pilih pesan inti yang sama agar aturan tidak saling bertentangan. Sampaikan apa yang harus dilakukan saat anak memukul, menolak tidur, atau memakai perangkat digital. Orang dewasa boleh memiliki gaya bicara berbeda, tetapi aturan keselamatan dan larangan kekerasan perlu disepakati.
Mulailah dengan dua atau tiga aturan yang paling penting. Hindari membuat daftar panjang yang sulit dijalankan. Setelah kebiasaan terbentuk, keluarga dapat menambahkan aturan lain sesuai tahap perkembangan.
Menyesuaikan disiplin positif dengan usia anak
Bayi membutuhkan respons terhadap kebutuhan dasar dan rasa aman, bukan hukuman. Balita lebih mudah memahami batas singkat dengan contoh konkret. Anak usia sekolah dapat diajak membahas kesepakatan, sedangkan remaja dapat dilibatkan lebih besar dalam keputusan yang berkaitan dengan dirinya. Prinsip positif tetap sama, tetapi bentuk dukungan berubah seiring perkembangan.
Jika anak belum mampu melakukan sesuatu secara mandiri, bantu membagi tugas menjadi langkah kecil. Jangan memberi konsekuensi atas keterampilan yang belum dikuasai. Arahan yang sesuai usia membantu anak belajar tanpa membuatnya merasa gagal karena tuntutan terlalu tinggi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah positive parenting berarti tidak boleh menghukum?
Pendekatan ini membedakan disiplin sebagai proses mengajar dari hukuman yang menakut-nakuti atau menyakiti. Orang tua tetap dapat menggunakan konsekuensi yang masuk akal dan berkaitan dengan perilaku.
Apakah positive parenting cocok untuk anak yang sulit diatur?
Prinsipnya dapat disesuaikan, tetapi tantangan perilaku yang menetap atau berat mungkin memerlukan dukungan profesional serta kerja sama dengan sekolah.










