Orang tua berbicara tenang dengan remaja di meja ruang keluarga, sementara sebuah perangkat vape diletakkan jauh di atas meja.
Percakapan tanpa menghakimi membantu remaja lebih terbuka ketika orang tua menemukan risiko penggunaan vape.
Kesehatan & Perawatan Anak

Anak Pakai Vape? Mulai dari Ngobrol, Bukan Langsung Menghakimi

Menemukan vape di tas atau kamar anak bisa bikin orang tua kaget. Artikel ini membantu Bunda dan Ayah membuka obrolan, memahami risiko nikotin, dan menyusun langkah pendampingan tanpa mempermalukan anak.

Bayangkan Bunda sedang merapikan kamar, lalu menemukan benda kecil mirip pulpen dengan ujung cartridge di dalam laci. Atau, anak pulang sekolah dengan aroma manis yang asing di bajunya. Pikiran bisa langsung ke mana-mana: “Jangan-jangan anakku pakai vape?” Wajar kalau kaget, kesal, bahkan takut. Tapi sebelum nada suara naik, ambil jeda sebentar. Reaksi pertama orang tua bisa menentukan apakah anak mau bercerita atau justru makin menutup diri.

Anak Pakai Vape bukan situasi yang perlu dianggap sepele, tetapi juga bukan alasan untuk langsung memberi cap “nakal” atau “rusak”. Remaja bisa mencoba karena penasaran, ikut teman, merasa vape terlihat keren, ingin mengatasi stres, atau tidak paham bahwa beberapa produk mengandung nikotin yang bikin ketergantungan. Tugas orang tua bukan membenarkan perilakunya, melainkan memahami apa yang terjadi dan membantu anak keluar dari situasi berisiko.

Kenapa vape bisa terasa menarik buat remaja?

Banyak perangkat vape dibuat ringkas, punya aroma atau rasa yang beragam, dan tampilannya jauh dari bayangan rokok konvensional. Buat remaja yang sedang ingin diterima kelompok, benda kecil itu bisa terlihat seperti aksesori biasa. Ada juga yang mengira uapnya cuma “air beraroma”. Padahal aerosol vape bukan sekadar uap air. Produk dapat mengandung nikotin dan zat lain yang paparannya tidak bisa dianggap aman, terutama untuk anak dan remaja.

WHO Indonesia pada 29 Mei 2026 mengutip hasil Global School Health Survey 2023: sekitar 12% pelajar Indonesia berusia 13–17 tahun menggunakan rokok elektronik. Angka ini bukan berarti semua remaja memakai vape, tetapi cukup menunjukkan bahwa orang tua dan sekolah perlu membicarakannya secara terbuka. Nikotin bersifat adiktif; otak remaja masih berkembang sehingga paparan nikotin menjadi perhatian khusus. WHO juga menyerukan perlindungan generasi muda dari produk tembakau dan nikotin. Bunda bisa membaca penjelasan WHO Indonesia tentang penggunaan rokok elektronik pada pelajar.

Selain itu, jangan menganggap semua perangkat atau cairan punya kandungan yang sama. Ada produk dengan nikotin, ada yang mengklaim tanpa nikotin, dan informasi label tidak selalu cukup untuk memastikan apa yang sebenarnya dihirup. Karena itu, hindari menebak kadar atau komposisi hanya dari warna kemasan, aroma, maupun bentuk perangkat.

Kalau menemukan vape, jangan mulai dengan interogasi

Kalimat seperti “Kamu mau jadi apa?” atau “Teman macam apa yang kamu ikuti?” mungkin keluar spontan. Namun, anak bisa menangkapnya sebagai serangan, bukan ajakan bicara. Coba mulai dari hal yang pasti Bunda lihat, bukan tuduhan.

“Bunda menemukan benda ini di tas kamu. Bunda kaget dan khawatir, tapi Bunda mau dengar dulu ceritanya. Ini punya siapa dan kamu pernah mencobanya?”

Setelah bertanya, beri anak waktu menjawab. Jangan langsung memotong dengan ceramah. Kalau anak bilang hanya memegang punya teman, tanyakan konteksnya dengan tenang: kapan, di mana, siapa yang menawarkan, dan apakah ada tekanan untuk ikut mencoba. Tujuannya bukan mencari bahan untuk menghukum, tetapi memahami tingkat paparan dan risiko yang sedang dihadapi.

Beberapa hal yang sebaiknya dihindari pada percakapan pertama:

  • Mempermalukan anak di depan saudara atau teman.
  • Mengancam akan mengusir, memutus uang saku, atau menyebarkan masalahnya ke keluarga besar.
  • Mengambil perangkat tanpa menjelaskan alasan dan langkah berikutnya.
  • Menganggap anak pasti sudah kecanduan hanya karena sekali mencoba.
  • Menganggap anak pasti berbohong ketika ia belum siap bercerita.

Batas tetap perlu dibuat. Orang tua bisa tegas bahwa penggunaan vape tidak diperbolehkan dan perangkat tidak boleh disimpan atau digunakan di rumah. Bedanya, ketegasan disampaikan tanpa merendahkan martabat anak.

Kalau anak pakai vape karena ajakan teman, cari tahu dulu bagaimana ajakan itu terjadi dan apa yang membuatnya sulit menolak. Dari situ, orang tua bisa memilih bantuan yang lebih tepat.

Bedakan rasa penasaran, tekanan teman, dan penggunaan berulang

Alasan anak mencoba tidak selalu sama. Ada yang sekali ikut-ikutan di tongkrongan, ada yang menggunakan saat berkumpul, dan ada yang mulai merasa sulit berhenti. Jangan buru-buru menyimpulkan pola dari satu kejadian. Perhatikan cerita anak, frekuensi, situasi, serta perubahan yang terlihat.

Situasi yang diceritakan anakHal yang perlu digaliRespons awal
“Cuma penasaran.”Apakah benar sekali mencoba? Apakah ada penggunaan ulang?Jelaskan risiko dan sepakati tidak mencoba lagi.
“Teman-teman pakai semua.”Apakah anak merasa harus ikut agar diterima?Latih jawaban untuk menolak tanpa harus bertengkar.
“Aku pakai kalau lagi stres.”Apa sumber stresnya? Apakah ada tanda ketergantungan?Cari cara mengatasi stres dan pertimbangkan bantuan tenaga kesehatan.
“Aku sudah susah berhenti.”Seberapa sering, sejak kapan, dan gejala apa yang muncul?Jangan mengandalkan hukuman; ajak konsultasi ke dokter atau layanan berhenti nikotin.

Kalau penggunaan terjadi berulang, anak merasa sangat ingin memakai, sulit berkonsentrasi tanpa vape, atau mudah gelisah ketika tidak menggunakannya, jangan mendiagnosis sendiri. Dokter dapat menilai apakah ada ketergantungan nikotin dan membantu menentukan dukungan yang sesuai usia. Jangan memberikan terapi pengganti nikotin atau obat berhenti merokok kepada anak atas inisiatif sendiri; keputusan pengobatan perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Latih anak menghadapi ajakan teman

Nasihat “jangan ikut-ikutan” sering terdengar gampang bagi orang dewasa, tetapi bisa terasa sulit bagi remaja yang sedang menjaga posisi di kelompoknya. Bantu anak punya kalimat pendek yang bisa dipakai tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Misalnya:

  • “Nggak, gue nggak pakai.”
  • “Gue lagi nggak mau. Lanjut aja, kalian.”
  • “Besok latihan, gue nggak mau badan nggak enak.”
  • “Nggak cocok buat gue.”

Latihan ini bukan untuk membuat anak berbohong atau mencari alasan palsu. Ia sedang belajar menetapkan batas. Bicarakan juga cara meninggalkan situasi yang membuatnya tertekan: menghubungi orang dewasa tepercaya, pulang bersama teman yang aman, atau meminta dijemput tanpa takut langsung dimarahi.

Topik ini nyambung dengan tekanan teman sebaya. Kalau anak sering sulit menolak ajakan kelompok, Bunda bisa mengobrol lebih jauh lewat artikel tentang tekanan teman sebaya pada anak. Untuk membangun suasana agar anak mau cerita, panduan komunikasi terbuka dengan anak juga bisa menjadi bahan diskusi keluarga.

Kalau anak sudah terlanjur memakai, langkahnya apa?

Pertama, pastikan anak tidak sedang mengalami kondisi gawat. Bila ada sesak, nyeri dada, pingsan, kejang, muntah berat, atau tampak sangat lemas setelah menggunakan produk vape, cari pertolongan medis segera. Jangan menunggu anak mengaku kandungannya apa. Bawa perangkat atau kemasan bila aman untuk membantu tenaga medis mengenali kemungkinan paparan, tetapi jangan menyentuh cairan bocor dengan tangan telanjang atau mencoba menguji isinya.

Jika tidak ada keadaan darurat, sepakati rencana yang realistis: hentikan akses ke perangkat, cari tahu dari mana produk diperoleh, dan susun dukungan agar anak tidak kembali menggunakan. Bila anak memakai vape untuk meredakan cemas, tekanan sosial, atau masalah di sekolah, tangani penyebabnya juga. Sekadar menyita perangkat tanpa membicarakan pemicu sering membuat persoalan berpindah ke tempat lain.

Di Indonesia, PP Nomor 28 Tahun 2024 mengatur penjualan rokok elektronik kepada orang berusia di bawah 21 tahun sebagai hal yang dilarang. Aturan ini memberi konteks bahwa produk nikotin bukan barang konsumsi anak. Namun, fokus keluarga tetap pada keselamatan dan pemulihan, bukan hanya mencari siapa yang salah.

Saat anak pakai vape berulang kali, percakapan perlu dilanjutkan dengan dukungan kesehatan, bukan berhenti pada penyitaan perangkat.

Sepakati aturan rumah yang jelas, bukan sekadar larangan

Setelah emosi mereda, buat kesepakatan yang bisa dijalankan. Misalnya, tidak menyimpan produk vape di rumah, tidak menerima titipan perangkat teman, dan memberi tahu orang tua bila ada teman yang menawarkan. Orang tua juga perlu konsisten: jangan meminta anak menjauhi vape sementara orang dewasa di rumah merokok atau menggunakan produk nikotin di dekatnya. Lingkungan keluarga memberi contoh yang kuat.

Jika ada anggota keluarga yang merokok, jadikan ini kesempatan memperbaiki kebiasaan bersama. BisaBaca sudah membahas cara melindungi anak dari paparan asap rokok di rumah. Intinya, anak perlu melihat bahwa aturan sehat berlaku untuk semua orang, bukan hanya untuk dirinya.

Yang paling penting, jangan membuat anak merasa bahwa satu kesalahan akan menentukan seluruh masa depannya. Nggak perlu menormalisasi vape, tetapi jangan pula menutup pintu percakapan. Anak tetap bisa belajar mengambil keputusan yang lebih aman, apalagi ketika orang tua hadir dengan batas yang jelas, informasi yang benar, dan bantuan yang tepat saat dibutuhkan.

(Naya)

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.