Bunda sedang menyapu halaman, lalu melihat anak mengambil sedikit tanah dan memasukkannya ke mulut. Mungkin awalnya dianggap eksplorasi biasa. Namun, beberapa hari kemudian ia kembali mengunyah kertas, menggigit kapur, atau mencari benda yang bukan makanan. Kalau kejadian seperti ini berulang, wajar kalau orang tua mulai khawatir: apakah ini cuma kebiasaan, rasa penasaran, atau ada sesuatu yang perlu diperiksa?
Dalam dunia kesehatan, pola makan benda yang tidak memiliki nilai gizi dan bukan makanan dapat disebut Pica pada Anak. Contohnya bisa berupa tanah, kertas, kapur, rambut, sabun, atau benda lain. Namun, satu kali anak memasukkan benda ke mulut belum cukup untuk menyebutnya pica. Anak kecil memang belajar dengan mengeksplorasi lingkungan, termasuk lewat mulut. Yang perlu diperhatikan adalah perilaku yang berulang, menetap, atau berisiko membahayakan.
Bukan sekadar kebiasaan aneh
Pica bukan istilah untuk mempermalukan anak. Ini adalah pola perilaku makan yang perlu dinilai bersama konteks usia, perkembangan, kesehatan, dan lingkungan. Pada balita, memasukkan benda ke mulut dapat menjadi bagian dari eksplorasi, tetapi kebiasaan memakan benda nonmakanan secara berulang perlu dievaluasi, terutama jika anak sudah lebih besar atau benda yang dimakan berbahaya.
American Academy of Pediatrics mencatat bahwa perilaku pica dapat berkaitan dengan kekurangan zat besi pada sebagian anak, meskipun tidak semua anak dengan pica mengalami anemia dan tidak semua anak dengan anemia menunjukkan pica. Laporan klinis AAP mengenai pencegahan, skrining, diagnosis, dan penanganan kekurangan zat besi tahun 2026 juga menyebutkan bahwa riwayat pica dapat menjadi salah satu petunjuk yang perlu dinilai dalam pemeriksaan. Artinya, orang tua tidak bisa menyimpulkan penyebab hanya dari perilakunya.
Benda yang dimakan anak menentukan risikonya
Risiko tidak sama untuk setiap benda. Tanah dapat terkontaminasi kotoran hewan, pestisida, atau logam berat. Kertas bisa menyebabkan tersedak jika diremas atau tertelan banyak. Kapur, cat lama, deterjen, sabun, baterai, magnet, dan benda kecil tertentu dapat membawa risiko keracunan, luka, sumbatan, atau cedera serius. Baterai kancing dan magnet kecil terutama berbahaya bila tertelan; situasi seperti ini perlu penilaian medis segera meski anak tampak baik-baik saja.
Jangan menunggu anak menunjukkan gejala bila diduga menelan benda yang beracun, tajam, baterai, magnet, atau benda yang berpotensi menyumbat saluran cerna. Hubungi layanan medis atau fasilitas kesehatan untuk arahan segera. Jangan memaksa anak muntah, memberi obat rumahan, atau mencoba mengambil benda dari tenggorokan dengan jari bila tidak terlihat jelas. Tindakan itu justru bisa memperburuk keadaan.
| Benda yang ditemukan | Hal yang perlu diwaspadai |
|---|---|
| Tanah atau pasir | Kontaminasi, parasit, bahan kimia, atau logam berat. |
| Kertas, tisu, kain | Tersedak, tertelan berulang, atau sumbatan bila jumlahnya banyak. |
| Kapur atau cat | Komposisi bahan yang tidak jelas dan kemungkinan paparan zat berbahaya. |
| Sabun, deterjen, kosmetik | Iritasi atau keracunan, bergantung bahan dan jumlah paparan. |
| Baterai, magnet, benda tajam | Risiko cedera serius; perlu pertolongan medis segera bila tertelan. |
Pada pica pada anak, orang tua sebaiknya mencatat benda apa yang dimakan, seberapa sering, dan apakah anak menelannya atau hanya mengunyah.
Apa yang mungkin melatarbelakangi pica?
Penyebabnya bisa beragam. Ada anak yang memiliki kekurangan zat besi atau kondisi gizi tertentu. Ada juga anak dengan kondisi perkembangan atau sensorik yang membuatnya tertarik pada tekstur, rasa, atau sensasi tertentu. Faktor stres, lingkungan, kebiasaan, dan kondisi kesehatan lain juga dapat ikut dipertimbangkan. Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua anak.
Jangan langsung membeli suplemen zat besi karena membaca bahwa pica bisa terkait anemia. Kelebihan zat besi juga berbahaya. Dokter dapat menilai pola makan, riwayat kesehatan, paparan lingkungan, dan kebutuhan pemeriksaan darah atau tes lain. Bila perlu, dokter akan memutuskan apakah anak membutuhkan suplemen, perubahan pola makan, atau intervensi lain.
Jika anak terlihat pucat, mudah lelah, sulit fokus, atau memiliki pola makan yang sangat terbatas, sampaikan juga saat konsultasi. Orang tua dapat mempelajari pencegahan anemia defisiensi besi pada anak dan data yang perlu disiapkan sebelum konsultasi ahli gizi. Namun, jangan menjadikan informasi itu sebagai pengganti pemeriksaan individual.
Bagaimana merespons ketika anak sedang melakukannya?
Prioritas pertama adalah mengurangi bahaya, bukan memarahi. Ambil benda dari jangkauan anak dengan tenang jika aman dilakukan, cek apakah ada bagian yang sudah tertelan, lalu catat apa yang terjadi. Jika benda berbahaya diduga masuk ke tubuh, cari bantuan medis. Jika tidak ada keadaan darurat tetapi perilaku berulang, atur konsultasi dokter anak.
Beberapa respons yang bisa membantu:
- Gunakan kalimat sederhana: “Itu bukan makanan, ya. Benda ini bisa bikin perut atau tubuh sakit.”
- Jauhkan cat, tanah yang terkontaminasi, deterjen, baterai, obat, dan benda kecil dari jangkauan.
- Amati kapan perilaku muncul: saat bosan, cemas, lapar, lelah, atau ketika bermain sensorik.
- Catat jenis benda, frekuensi, jumlah perkiraan, dan apakah anak benar-benar menelan atau hanya mengunyah.
- Hindari memberi label “jorok”, “nakal”, atau mempermalukan anak di depan orang lain.
Kalau anak mencari sensasi mengunyah, dokter atau terapis yang sesuai dapat membantu menilai kebutuhan sensorik dan cara alternatif yang lebih aman. Jangan memberikan benda kunyah pengganti tanpa memastikan benda tersebut sesuai usia dan tidak berisiko tersedak.
Jangan cuma melarang, atur juga lingkungan rumah
Rumah yang lebih aman membantu mengurangi peluang anak mengambil benda nonmakanan. Simpan bahan kimia dan obat dalam lemari terkunci, rapikan benda kecil, tutup wadah pasir atau tanah, dan pastikan cat yang mengelupas tidak mudah dijangkau. Saat bermain di luar, dampingi anak di area yang berpotensi mengandung kotoran hewan atau limbah.
Orang tua juga bisa mengamati apakah anak memiliki jadwal makan yang cukup. Anak yang sering melewatkan makan mungkin lebih mudah mencari sesuatu untuk dikunyah, meski hal ini tidak selalu menjadi penyebab pica. Berikan makanan sesuai kebutuhan dan jangan memaksa anak makan dalam jumlah tertentu. Jika ada masalah makan, diskusikan dengan dokter atau ahli gizi.
Selama menunggu penilaian, rapikan lingkungan agar benda yang berbahaya tidak mudah dijangkau. Obat, deterjen, baterai kancing, cairan pembersih, dan bahan kimia rumah tangga perlu disimpan di tempat tertutup dan terkunci. Pica tidak sama dengan keracunan, tetapi anak yang suka memasukkan benda ke mulut memiliki risiko paparan yang perlu dicegah. Bunda bisa mengikuti langkah menyimpan obat dan bahan kimia agar tidak terjangkau anak. Jika anak menelan baterai, magnet, obat, atau bahan kimia, segera cari arahan medis darurat; jangan menunggu muncul gejala.
Apa yang perlu diceritakan kepada dokter?
Catat kapan perilaku mulai terlihat, benda apa yang dicari, seberapa sering, apakah anak menelan, dan apakah muncul gejala seperti sakit perut, sembelit, muntah, batuk, atau perubahan pola buang air. Ceritakan pula riwayat tumbuh kembang, kebiasaan makan, suplemen, obat, dan kemungkinan paparan cat atau tanah. Foto benda yang ditemukan bisa membantu, selama tidak membuat anak terekspos atau dipermalukan.
Jika perilaku terjadi di sekolah atau penitipan anak, ajak guru bekerja sama. Minta mereka mengamankan benda berisiko dan memberi kabar bila perilaku muncul. Jangan meminta guru menghukum anak atau menyuruhnya makan di tempat terpisah. Penanganan sebaiknya melindungi anak tanpa membuatnya dikucilkan.
Yang paling penting, Pica pada Anak bukan alasan untuk menyalahkan pola asuh atau menyebut anak aneh. Perilaku ini punya banyak kemungkinan latar belakang dan perlu dipahami dengan tenang. Semakin jelas informasi yang dikumpulkan, semakin mudah dokter dan keluarga menentukan langkah yang aman. Orang tua tidak harus punya semua jawaban sekarang—yang penting, jangan menunda bantuan ketika ada risiko tertelan benda berbahaya atau perilakunya terus berulang.
(Naya)










