Ilustrasi editorial realistis tentang apa yang perlu diketahui orang tua saat anak sering mimisan dalam keluarga Indonesia.
Pendampingan yang tenang membantu keluarga membicarakan kebutuhan anak tanpa mempermalukan atau memaksanya.
Ibu Bertanya

Apa yang Perlu Diketahui Orang Tua saat Anak Sering Mimisan?

Darah tiba-tiba keluar dari hidung anak saat ia sedang bermain atau baru bangun tidur. Orang tua bisa ikut panik, apalagi bila darah terlihat cukup banyak di tisu. Padahal, sebagian besar mimisan pada anak berasal dari pembuluh darah kecil

Darah tiba-tiba keluar dari hidung anak saat ia sedang bermain atau baru bangun tidur. Orang tua bisa ikut panik, apalagi bila darah terlihat cukup banyak di tisu. Padahal, sebagian besar mimisan pada anak berasal dari pembuluh darah kecil di bagian depan hidung. Meski sering kali dapat berhenti dengan pertolongan sederhana, orang tua tetap perlu mengetahui cara yang benar dan tanda kapan anak perlu diperiksa.

Anak sering mimisan bukan diagnosis. Kebiasaan mengorek hidung, udara kering, pilek, alergi, benturan, atau iritasi dapat membuat lapisan dalam hidung mudah berdarah. Ada pula penyebab medis yang memerlukan evaluasi. Karena itu, catat seberapa sering terjadi, berapa lama perdarahan berlangsung, apakah dari satu atau kedua lubang hidung, dan apakah ada memar atau perdarahan lain.

Pertolongan pertama: dudukkan anak dan arahkan tubuh sedikit ke depan

Buat anak duduk tegak dengan kepala dan badan sedikit condong ke depan. Minta ia bernapas melalui mulut. Jepit bagian lunak hidung tepat di bawah tulang hidung menggunakan ibu jari dan telunjuk, lalu pertahankan tekanan tanpa melepas untuk memeriksa setiap beberapa detik. IDAI menjelaskan bahwa tekanan yang dilakukan terus-menerus selama 5–10 menit dapat membantu menghentikan mimisan anterior. Jika masih berdarah, ulangi sesuai petunjuk dan nilai kondisi anak.

Jangan mendongakkan kepala, menyuruh anak berbaring telentang, atau memasukkan tisu dan kapas jauh ke rongga hidung. Posisi kepala ke belakang membuat darah mengalir ke tenggorokan dan dapat tertelan, memicu mual atau muntah. Jangan melepas tekanan terlalu cepat karena proses pembekuan bisa terganggu. Orang tua dapat menenangkan dengan suara biasa, mengajak anak menghitung perlahan, atau membacakan sesuatu singkat agar ia tidak terus memeriksa hidung.

Cari penyebab yang sering terjadi di rumah

Perhatikan apakah anak sering mengupil, menggosok hidung, atau memasukkan benda kecil ketika bermain. Kebiasaan ini dapat melukai lapisan hidung yang tipis. Pilek dan alergi juga dapat menimbulkan gatal sehingga anak berulang kali mengusap hidung. Udara yang kering atau paparan debu dapat membuat bagian dalam hidung terasa tidak nyaman. Bila ada gejala alergi atau pilek yang menetap, diskusikan cara mengelolanya dengan tenaga kesehatan.

Kebiasaan mengorek hidung atau iritasi saat pilek juga dapat berkaitan dengan perawatan hidung; baca cara membersihkan hidung anak saat pilek.

Potong kuku anak secara teratur dan ajarkan cara membersihkan hidung dengan tisu, bukan memasukkan jari. Bila bagian dalam hidung kering, tanyakan kepada dokter apakah saline atau pelembap khusus yang aman dapat digunakan. Hindari mengoleskan minyak, balsem, atau ramuan ke dalam hidung tanpa petunjuk. Jangan pula mengorek kerak yang menempel, karena tindakan itu dapat membuka luka yang sedang pulih.

Catat pola dan gejala lain yang menyertai

Catatan sederhana dapat memuat tanggal, durasi, perkiraan jumlah darah, lubang hidung yang berdarah, aktivitas sebelum kejadian, serta cara perdarahan berhenti. Tuliskan juga apakah anak mudah memar, gusi sering berdarah, mengalami perdarahan berkepanjangan setelah luka kecil, atau memiliki anggota keluarga dengan gangguan pembekuan darah. Informasi tersebut membantu dokter menentukan apakah pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.

Jangan menilai tingkat bahaya hanya dari warna darah atau tisu yang terlihat merah. Darah dari hidung dapat tampak banyak karena menyebar di wajah dan pakaian. Yang lebih penting adalah kondisi umum anak, apakah perdarahan dapat berhenti dengan tekanan yang tepat, dan apakah ada gejala lain. Jika anak tampak pucat, lemas, sesak, pingsan, atau darah mengalir deras, segera cari pertolongan medis.

Kapan mimisan perlu dibawa ke fasilitas kesehatan?

Bawa anak untuk dinilai bila perdarahan tidak berhenti setelah tekanan yang benar, mimisan sangat banyak, terjadi setelah benturan wajah atau kepala, disertai kesulitan bernapas, atau anak tampak pusing dan lemas. Mimisan berulang, terutama bila terjadi tanpa pemicu yang jelas, juga perlu dibicarakan dengan dokter. IDAI secara khusus menganjurkan evaluasi untuk mimisan pada bayi atau anak di bawah dua tahun karena penyebabnya perlu diperhatikan lebih cermat.

Jika anak mengalami mimisan berulang bersamaan dengan memar mudah, gusi berdarah, atau perdarahan pada bagian tubuh lain, jangan menunda konsultasi. Dokter akan menilai riwayat dan pemeriksaan fisik sebelum menentukan apakah tes darah atau pemeriksaan lain diperlukan. Tidak semua anak memerlukan pemeriksaan laboratorium, jadi hindari meminta tes tertentu tanpa penilaian klinis.

Jaga hidung selama masa pemulihan

Usai perdarahan berhenti, hindari mengupil, menggosok hidung, meniup hidung terlalu kuat, atau melakukan aktivitas berat sesaat setelahnya sesuai anjuran tenaga kesehatan. Bila anak bersin, ajarkan membuka mulut agar tekanan di hidung tidak terlalu besar. Orang tua dapat mengingatkan dengan lembut bahwa bagian dalam hidung sedang pulih, bukan melarang anak menyentuh wajah sepanjang hari.

Bila mimisan terjadi bersamaan dengan pilek, panduan cara membantu anak saat hidung tersumbat.

Bila mimisan berkaitan dengan pilek atau alergi, tangani pemicunya sesuai saran dokter. Jaga kebersihan lingkungan dan hindari asap rokok. Jangan memberikan obat semprot hidung atau obat alergi tanpa memeriksa usia, jenis obat, serta cara penggunaannya. Penggunaan yang tidak tepat justru dapat menimbulkan iritasi atau efek samping.

Cara menjelaskan mimisan agar anak tidak takut

Gunakan penjelasan singkat: “Ada pembuluh darah kecil di dalam hidung yang bisa pecah. Kita tekan bagian hidung yang lunak dan duduk menghadap sedikit ke depan sampai darah berhenti.” Jangan mengatakan anak akan kehabisan darah atau menyebut kejadian ini sebagai hukuman karena mengupil. Anak yang mengerti langkahnya akan lebih mudah bekerja sama saat mimisan berikutnya.

Latih anak memberi tahu orang dewasa segera ketika hidung mulai berdarah, terutama di sekolah atau tempat bermain. Ia tidak perlu membersihkan semuanya sendirian. Informasikan kepada guru atau pengasuh tentang langkah pertolongan pertama yang benar, serta nomor kontak keluarga. Jika ada rencana penanganan khusus dari dokter, tulis dengan jelas agar pengasuh tidak mengandalkan cara yang keliru.

Tenang saat terjadi, waspada terhadap pola yang berulang

Mimisan sering kali dapat ditangani dengan posisi yang tepat dan tekanan pada bagian lunak hidung. Hindari mendongakkan kepala atau memasukkan benda jauh ke dalam hidung. Setelah perdarahan berhenti, bantu anak menghindari iritasi dan catat bila kejadian muncul lagi. Anak tidak perlu dimarahi karena mimisan; ia membutuhkan orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan.

Jika perdarahan berat, tidak berhenti, terjadi setelah trauma, atau disertai gejala lain, bawa anak untuk diperiksa. Rujukan IDAI berjudul Mimisan: Kapan Berbahaya? dapat membantu orang tua memahami langkah pertolongan pertama dan tanda yang perlu diperhatikan. Namun, kondisi anak tetap harus dinilai langsung bila ada kekhawatiran.

Jangan lakukan tindakan yang justru memperparah perdarahan

Saat mimisan, hindari memasukkan kapas, tisu, atau benda lain jauh ke dalam hidung. Jangan mendongakkan kepala, membaringkan anak telentang, atau meminta ia menelan darah. Tindakan tersebut dapat membuat darah mengalir ke tenggorokan dan menyulitkan orang tua menilai jumlah perdarahan. Jangan pula menyuruh anak meniup hidung kuat-kuat ketika darah masih keluar. Fokus pada posisi condong ke depan dan tekanan yang konsisten pada bagian lunak hidung.

Setelah darah berhenti, jangan buru-buru membersihkan bagian dalam hidung dengan jari atau cotton bud. Bekuan darah merupakan bagian proses pemulihan. Jika ada kerak, biarkan terlepas dengan sendirinya atau tanyakan kepada tenaga kesehatan cara menjaga kelembapan hidung. Anak perlu diberi tahu bahwa ia boleh meminta tisu, bukan mengorek bagian yang masih sensitif.

Persiapkan keluarga dan sekolah menghadapi mimisan

Jika anak pernah mimisan berulang, beri tahu guru atau pengasuh mengenai langkah pertolongan pertama. Tuliskan nomor orang tua dan kondisi khusus yang perlu diketahui. Anak dapat diajarkan untuk duduk, sedikit menunduk, dan memanggil orang dewasa. Ia tidak harus melakukan tekanan sendiri bila belum mampu. Pastikan pengasuh tidak menggunakan cara yang salah seperti meminta anak mendongak atau berbaring dengan kepala ke belakang.

Di rumah, sediakan tisu dan tempat duduk yang aman, bukan karena mimisan pasti terulang, tetapi agar orang tua tidak panik mencari perlengkapan. Diskusikan dengan dokter bila ada obat atau kondisi yang dapat memengaruhi perdarahan. Jangan memberikan obat semprot atau salep hidung tanpa petunjuk. Perawatan perlu disesuaikan dengan penyebab dan usia anak.

Perhatikan kondisi lain yang mungkin menyertai

Dokter perlu mengetahui apakah anak memiliki alergi, pilek yang sering kambuh, kebiasaan mengupil, riwayat benturan, atau penggunaan obat tertentu. Sampaikan bila keluarga memiliki riwayat gangguan pembekuan darah. Pada anak yang mengalami mimisan berulang, dokter dapat memeriksa hidung dan mempertimbangkan penyebab yang membutuhkan penanganan khusus. Jangan menyimpulkan bahwa anak kekurangan vitamin atau memiliki penyakit darah hanya dari satu gejala.

Jika anak mengalami perdarahan dari gusi, memar yang mudah muncul, bintik merah pada kulit, atau darah sulit berhenti dari luka kecil, beri tahu dokter. Kombinasi gejala membantu tenaga kesehatan menentukan pemeriksaan yang tepat. Orang tua tidak perlu menunggu sampai mimisan menjadi berat untuk meminta konsultasi jika frekuensinya meningkat atau membuat anak terganggu.

Dalam situasi ini, orang tua dapat kembali mengingat bahwa anak sering mimisan perlu ditangani dengan cara yang sesuai kondisi anak, bukan dengan paksaan atau asumsi.

Catatan yang membantu saat berkonsultasi

Bila mimisan berulang, catat tanggal kejadian, perkiraan durasi, apakah darah keluar dari satu atau kedua lubang hidung, serta apa yang dilakukan sebelum perdarahan. Misalnya, apakah anak sedang pilek, bersin, mengorek hidung, beraktivitas di ruangan kering, atau baru mengalami benturan. Catatan ini membantu dokter melihat pola, tetapi orang tua tidak perlu menunda pertolongan hanya demi melengkapinya ketika perdarahan tampak berat atau anak terlihat tidak sehat.

Anak sering mimisan tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Ada yang berkaitan dengan iritasi lokal, kebiasaan mengorek hidung, atau kondisi saluran napas atas; ada pula keadaan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Beri tahu dokter jika anak juga mudah memar, mengalami perdarahan di tempat lain, tampak pucat, atau memiliki riwayat keluarga dengan gangguan perdarahan. Jangan memberi obat atau memasukkan bahan ke hidung untuk menghentikan darah tanpa arahan tenaga kesehatan.

Sesudah konsultasi, pastikan semua pengasuh memahami instruksi yang diberikan. Simpan catatan singkat tentang pertolongan pertama dan tanda kapan keluarga perlu mencari bantuan segera. Jika anak sekolah, sampaikan hal yang dibutuhkan kepada guru atau petugas UKS tanpa mengumumkan kondisi anak di depan teman-temannya. Cara ini menjaga privasi sekaligus membuat respons orang dewasa lebih konsisten jika kejadian terulang.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.