Anak menghabiskan banyak waktu di sekolah, tetapi tidak semua keputusan dapat atau perlu diserahkan kepada mereka. Ada aturan keselamatan, jadwal, dan tanggung jawab orang dewasa yang harus tetap dijaga. Meski demikian, murid seharusnya memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman, mengusulkan kegiatan, bertanya, dan ikut membentuk suasana belajar sesuai usia serta kemampuannya.
Partisipasi murid di sekolah bukan sekadar mengadakan pemilihan ketua kelas atau meminta anak mengangkat tangan. Yang perlu diperiksa adalah apakah pendapat murid benar-benar didengar, bagaimana sekolah menanggapi masukan, dan apakah anak dapat berbicara tanpa takut dipermalukan atau dihukum karena berbeda pendapat.
Pahami bentuk partisipasi yang sesuai usia
Untuk anak kecil, partisipasi dapat berupa memilih buku bacaan, menyampaikan kegiatan yang disukai, membantu menyusun aturan sederhana, atau memberi tahu guru ketika merasa tidak nyaman. Pada jenjang lebih tinggi, murid dapat terlibat dalam forum kelas, organisasi siswa, proyek, atau diskusi tentang kegiatan sekolah.
Tanyakan bentuk partisipasi yang tersedia pada jenjang anak. Apakah semua murid memiliki kesempatan atau hanya anak yang percaya diri berbicara di depan umum? Apakah ada cara lain untuk menyampaikan pendapat, seperti tulisan, gambar, kotak masukan, atau percakapan pribadi?
Partisipasi seharusnya tidak menjadi kewajiban yang membebani anak dengan tanggung jawab orang dewasa. Murid boleh memilih tingkat keterlibatan yang sesuai, dan sekolah tetap menjaga agar kegiatan berjalan aman serta tidak mengganggu hak belajar anak lain.
Tanyakan bagaimana pendapat murid dikumpulkan
Sekolah mungkin menggunakan pertemuan kelas, survei, forum perwakilan, percakapan dengan wali kelas, atau kegiatan refleksi. Tanyakan seberapa sering mekanisme dilakukan dan siapa yang mengelola. Apakah murid diberi pertanyaan yang mudah dipahami? Apakah mereka mengetahui tujuan pengumpulan masukan?
Perhatikan apakah proses menjangkau anak yang tidak banyak berbicara, memiliki kebutuhan komunikasi berbeda, atau kurang percaya diri. Jika hanya murid yang aktif yang didengar, gambaran pengalaman kelas dapat menjadi tidak lengkap. Sekolah dapat menyediakan lebih dari satu cara untuk berbicara.
Tanyakan bagaimana sekolah melindungi murid yang menyampaikan kritik atau laporan. Anak tidak seharusnya mendapat pembalasan atau label sebagai pembuat masalah hanya karena memberi masukan dengan cara yang sopan.
Cari tahu apa yang dilakukan setelah masukan diterima
Mekanisme partisipasi akan terasa bermakna jika murid mengetahui apa yang terjadi setelah mereka berbicara. Tanyakan apakah sekolah memberi tanggapan, menjelaskan alasan ketika usulan tidak dapat dilaksanakan, dan memberi kabar tentang perubahan yang disepakati.
Tidak semua masukan dapat diterima. Usulan yang menyangkut keselamatan, anggaran, atau hak murid lain mungkin perlu ditolak atau diubah. Namun, sekolah dapat menjelaskan alasan tanpa merendahkan pengusul. Proses ini mengajarkan anak bahwa keputusan membutuhkan pertimbangan dan tanggung jawab.
Minta contoh program yang pernah berubah setelah mendengar murid. Tidak perlu meminta informasi pribadi atau nama anak. Contoh umum dapat menunjukkan apakah sekolah memiliki kebiasaan meninjau pengalaman murid, bukan hanya mengumpulkan saran sebagai kegiatan seremonial.
Periksa hubungan partisipasi dengan keamanan dan penghormatan
Anak perlu merasa aman untuk menyampaikan ketidaksetujuan, melaporkan masalah, atau meminta penyesuaian. Tanyakan bagaimana sekolah menerima laporan jika murid merasa tidak nyaman dengan perilaku teman atau orang dewasa. Apakah ada orang dewasa tepercaya selain wali kelas?
Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman memasukkan kesempatan setara untuk berpendapat, berekspresi, dan mengembangkan minat sebagai salah satu perhatian dalam budaya sekolah. Orang tua dapat menggunakan regulasi tersebut sebagai rujukan saat bertanya tentang ruang partisipasi dan perlindungan murid. Rujukan: informasi resmi Kemendikdasmen.
Tanyakan bagaimana sekolah membedakan kritik yang disampaikan dengan sopan, konflik antar murid, dan laporan pelanggaran. Prosedur yang jelas membantu anak mengetahui bahwa ada cara aman untuk menyampaikan masalah.
Amati siapa yang mendapat kesempatan memimpin
Dalam kegiatan kelas, apakah anak yang berbeda kemampuan mendapat kesempatan bergiliran? Apakah peran pemimpin kelompok selalu diberikan kepada murid yang sama? Tanyakan bagaimana guru mendorong anak mencoba peran baru, seperti menyampaikan hasil diskusi, menjaga alat, atau merangkum kesepakatan.
Kepemimpinan murid tidak harus berbentuk jabatan. Anak dapat belajar bertanggung jawab melalui tugas kecil dan proyek. Yang penting, pembagian peran tidak membuat beberapa anak terus-menerus bekerja sementara yang lain hanya menonton.
Tanyakan bagaimana guru membantu murid menyelesaikan perbedaan ketika usulan tidak sama. Anak dapat belajar mendengarkan, memberi alasan, dan mencari kesepakatan tanpa dipaksa selalu sepakat. Kemampuan ini tumbuh melalui pengalaman yang dipandu.
Dengarkan pengalaman anak setelah kunjungan
Ajak anak menceritakan apakah ia merasa dapat bertanya, memilih, atau menyampaikan pendapat saat mengikuti kegiatan pengenalan. Gunakan pertanyaan terbuka: “Kapan kamu boleh memilih kegiatan?” atau “Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, siapa yang bisa kamu ajak bicara?” Jawaban anak dapat memberi petunjuk tentang cara sekolah memperkenalkan partisipasi.
Hindari menjadikan satu pengalaman sebagai bukti akhir. Anak mungkin malu pada awalnya dan membutuhkan waktu mengenal guru. Bandingkan cerita dengan informasi dari sekolah dan pengamatan orang tua. Jika ada hal yang belum jelas, tanyakan bagaimana anak dibimbing selama semester pertama.
Jelaskan kepada anak bahwa suaranya penting, tetapi tidak semua keputusan dapat dilakukan sesuai keinginannya. Ia dapat belajar menyampaikan alasan dan menerima penjelasan. Orang tua juga membantu dengan menunjukkan bahwa pendapat anak didengar di rumah.
Pertanyaan untuk menilai budaya partisipasi
Tanyakan bagaimana murid memberi masukan, bagaimana sekolah menanggapi usulan, bagaimana anak yang pendiam dilibatkan, dan siapa yang dapat dihubungi ketika murid ingin menyampaikan masalah. Minta contoh kegiatan yang sesuai dengan jenjang.
Jika sekolah menyebut forum siswa atau organisasi, tanyakan siapa yang dapat bergabung dan bagaimana peran murid lain tetap diperhatikan. Partisipasi seharusnya tidak hanya menjadi hak kelompok kecil yang terpilih.
Sekolah yang menghargai suara anak tidak harus selalu menyetujui semua usulan. Ia mendengarkan, menjelaskan keputusan, melindungi murid yang berbicara, dan memberi kesempatan bagi anak untuk belajar bertanggung jawab dalam komunitas.
Partisipasi murid di sekolah menjadi bermakna ketika masukan ditanggapi dan prosesnya aman.
Mencari bukti bahwa suara murid benar-benar didengar
Tanyakan satu contoh ketika usulan murid membuat sekolah memperbaiki kegiatan, ruang, atau aturan. Tidak semua usul harus diterima, dan anak perlu belajar bahwa keputusan memiliki batas sumber daya serta keselamatan. Namun, sekolah dapat menjelaskan bagaimana usul dicatat, dibahas, diputuskan, dan diberi umpan balik. Jawaban ini menunjukkan apakah partisipasi hanya acara memilih ketua kelas atau bagian dari budaya belajar.
Perhatikan siapa yang berani berbicara dan siapa yang sering tidak terdengar. Murid yang lebih pendiam, membutuhkan dukungan, atau berbeda bahasa mungkin memerlukan cara lain untuk menyampaikan pendapat. Tanyakan apakah sekolah menggunakan kotak saran, percakapan kelompok kecil, atau pertemuan yang sesuai usia. Partisipasi murid di sekolah seharusnya membuka jalan bagi suara yang beragam, bukan hanya memberi panggung bagi anak yang paling percaya diri.










