Suara seperti gigi bergesekan dari kamar anak dapat membuat orang tua terbangun pada malam hari. Ada yang terdengar sesekali, ada pula yang berulang cukup keras. Kebiasaan mengatupkan atau menggesekkan gigi dikenal sebagai bruxism. Pada anak, bruxism dapat terjadi saat tidur atau ketika terjaga. Tidak semua anak yang menggemeretakkan gigi akan mengalami kerusakan, tetapi kebiasaan yang sering atau disertai keluhan perlu dinilai.
Penyebab bruxism pada anak belum sepenuhnya dipahami. Faktor yang dikaitkan dengan kondisi ini beragam, termasuk perkembangan, kondisi tidur, gangguan pernapasan, nyeri, stres, dan faktor lain. Hubungan tersebut tidak berarti satu penyebab pasti berlaku pada setiap anak. Orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan anak sedang mengalami tekanan emosional hanya karena terdengar menggemeretakkan gigi.
Tanda yang mungkin terlihat
- Suara gesekan atau gemeretak gigi saat tidur.
- Gigi tampak aus, permukaan kunyah berubah, atau ada bagian yang retak.
- Anak mengeluh rahang pegal atau wajah terasa lelah pada pagi hari.
- Anak mengeluh sakit kepala atau nyeri sekitar telinga tanpa sebab yang jelas.
- Tidur tampak gelisah atau anak sering terbangun.
Daftar ini bukan alat diagnosis. Sebagian anak mungkin menggemeretakkan gigi tanpa keluhan, sementara nyeri rahang dapat memiliki penyebab lain. Dokter gigi akan menilai kondisi gigi, otot, rahang, dan riwayat kebiasaan. Jika ada dengkuran keras, jeda napas, atau tidur sangat terganggu, dokter anak juga perlu dilibatkan.
Apakah bruxism selalu berbahaya?
Pada sebagian anak, kebiasaan ini dapat berkurang seiring pertumbuhan. Namun, bruxism yang berlangsung kuat atau lama bisa berkaitan dengan keausan gigi, retak, nyeri otot rahang, atau sakit kepala. Gigi susu dan gigi permanen memiliki konteks yang berbeda, sehingga pemeriksaan membantu menentukan apakah ada dampak yang perlu ditangani.
Jangan menganggap suara gemeretak selalu membutuhkan pelindung gigi. Alat pelindung yang tidak sesuai dapat mengganggu perkembangan rahang atau gigi, terutama pada anak yang masih tumbuh. Bila dokter menilai gigi perlu dilindungi, pilihan alat dibuat secara individual dan dipantau.
Faktor yang dapat berkaitan
Penelitian mengaitkan bruxism dengan beberapa kondisi tidur, pernapasan, faktor psikososial, dan keadaan medis tertentu. Namun, bukti mengenai penyebab dan penanganannya masih terbatas. Sebuah tinjauan sistematis 2025 tentang kualitas tidur dan bruxism pada anak menemukan hubungan berdasarkan laporan pengasuh, tetapi kualitas bukti pada sejumlah ukuran masih rendah hingga sangat rendah. Artinya, pengamatan orang tua penting, tetapi tidak cukup untuk menetapkan penyebab.
Jika anak mengalami perubahan suasana hati, kecemasan, atau kesulitan tidur, bicarakan secara tenang. Jangan menuduhnya menggertakkan gigi karena terlalu banyak bermain atau menggunakan gawai. Dokter dapat menilai apakah ada kondisi yang membutuhkan tindak lanjut.
Catat gejala yang membantu konsultasi
Orang tua dapat mencatat seberapa sering suara terdengar, apakah muncul setiap malam atau hanya sesekali, apakah anak mengeluh nyeri, dan apakah ada perubahan pada gigi. Catat juga kebiasaan tidur, dengkuran, hidung tersumbat, penggunaan obat, atau keluhan lain. Tidak perlu memantau anak secara berlebihan atau membangunkannya berulang kali untuk memeriksa gigi.
Jika anak merasa nyaman, rekaman audio singkat dari suara yang terdengar dapat membantu menjelaskan keluhan kepada dokter, tetapi bukan syarat diagnosis. Jangan menunda pemeriksaan hanya untuk mengumpulkan rekaman bila ada nyeri atau kerusakan gigi.
Apa yang dapat dilakukan di rumah?
- Bangun rutinitas tidur yang tenang dan konsisten.
- Hindari kegiatan yang terlalu merangsang tepat menjelang tidur bila membuat anak sulit tenang.
- Perhatikan tanda nyeri gigi, telinga, atau rahang.
- Jaga kebersihan gigi dan pemeriksaan rutin sesuai kebutuhan.
- Bicarakan kekhawatiran anak dengan cara yang tidak menghakimi.
Langkah tersebut mendukung kesehatan tidur dan mulut, tetapi tidak menjamin bruxism berhenti. Jangan memberikan obat penenang, suplemen, atau pelindung gigi tanpa pemeriksaan. Bukti mengenai terapi khusus bruxism pada anak masih terbatas, sehingga keputusan penanganan perlu disesuaikan dengan dampak klinis.
Kapan perlu berkonsultasi?
Buat janji dokter gigi bila anak mengeluh rahang nyeri, gigi tampak aus atau retak, sakit kepala berulang, atau kebiasaan berlangsung terus. Konsultasikan kepada dokter anak bila ada dengkuran keras, jeda napas saat tidur, mengantuk berlebihan pada siang hari, atau gangguan tidur yang nyata. Bila terdapat nyeri berat atau cedera gigi, jangan menunggu kontrol rutin.
Bruxism bukan alasan untuk menakut-nakuti anak atau langsung memasang alat. Pengamatan yang tenang, pemeriksaan gigi, dan evaluasi tidur bila diperlukan membantu menentukan apakah kebiasaan tersebut perlu ditangani. Orang tua cukup menjadi pengamat yang mendukung, bukan mengawasi setiap bunyi sepanjang malam.
Rujukan: American Academy of Pediatrics — Teeth Grinding in Children; Systematic Review 2025 — Bruxism and Sleep Quality in Children; AAPD — Behavior Guidance.
Informasi yang membantu dokter menilai bruxism
Catat seberapa sering bunyi terdengar, kapan terjadi, apakah anak mengeluh nyeri rahang saat bangun, sakit kepala, gigi sensitif, atau sulit membuka mulut. Amati juga apakah gigi terlihat aus atau retak. Jangan memaksa anak membuka mulut ketika tidur atau menggunakan alat untuk merekam suara secara mengganggu. Cerita dari orang tua dapat dipadukan dengan pemeriksaan klinis.
Dokter dapat mempertimbangkan kondisi gigi, otot rahang, sendi, riwayat kesehatan, obat, dan faktor tidur. Bila ada dengkuran keras atau jeda napas, dokter anak mungkin perlu mengevaluasi gangguan pernapasan saat tidur. Bruxism tidak selalu berarti ada gangguan psikologis atau anak sedang stres; kesimpulan seperti itu tidak boleh dibuat hanya dari suara gemeretak.
Jangan membeli pelindung gigi secara mandiri
Pelindung gigi yang tidak sesuai dapat mengganggu gigitan atau tidak cocok untuk gigi yang masih tumbuh. Jangan membeli mouthguard dari internet tanpa penilaian, dan jangan memberi obat penenang atau suplemen untuk menghentikan gemeretak. Dokter gigi akan menilai apakah cukup dipantau, memerlukan tindakan pada gigi, atau membutuhkan evaluasi medis lain. Pada banyak anak, penanganan aktif tidak selalu diperlukan.
Jika anak tampak kesakitan, gigi patah, atau fungsi rahang terganggu, buat janji pemeriksaan. Tujuannya bukan sekadar menghentikan bunyi, melainkan memastikan tidak ada dampak pada gigi, otot, atau kualitas tidur.
Bedakan bunyi gemeretak dengan tanda gangguan lain
Bunyi yang terdengar tidak selalu berarti anak mengalami kerusakan gigi. Sebaliknya, tidak adanya bunyi juga tidak menyingkirkan kemungkinan mengatupkan gigi tanpa suara. Dokter menilai tanda klinis seperti pola keausan, nyeri otot, keterbatasan membuka mulut, dan keluhan lain. Orang tua sebaiknya tidak menilai tingkat keparahan hanya dari keras atau seringnya suara.
Jangan meminta anak menahan rahang atau menggigit alat tertentu untuk menghentikan kebiasaan tanpa petunjuk. Jika anak mengalami nyeri, sakit kepala berulang, atau masalah tidur, sampaikan pada dokter. Penanganan dapat berupa pemantauan dan penanganan faktor terkait, bukan selalu alat atau obat.
Catatan tidur tidak menggantikan pemeriksaan gigi
Orang tua dapat mencatat jadwal tidur dan keluhan pagi selama beberapa hari untuk membantu percakapan dengan dokter. Namun, catatan aplikasi, rekaman suara, atau pengamatan keluarga tidak dapat menentukan diagnosis sendiri. Jika dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan, tanyakan tujuan dan bagaimana hasilnya akan memengaruhi penanganan. Anak tidak perlu dibangunkan berulang kali hanya untuk memeriksa apakah ia menggertakkan gigi.










