“Ma, besok HP ditaruh di loker sekolah, ya. Katanya sekarang nggak boleh dipakai selama belajar.” Buat anak yang terbiasa menghubungi orang tua lewat ponsel, kabar seperti ini mungkin terasa seperti kehilangan pegangan. Ada yang khawatir tidak bisa menghubungi rumah, ada yang takut ketinggalan pesan grup, dan ada pula yang menganggap sekolah sedang menghukum mereka.
Padahal, pembatasan Gawai di Sekolah punya tujuan yang lebih luas daripada sekadar menyita ponsel. Kemendikdasmen menerbitkan Surat Edaran Menteri Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Aturannya menekankan penggunaan yang bijak dan terarah, bukan larangan total terhadap semua teknologi. Gawai tetap dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran sesuai arahan sekolah dan pendidik. Penjelasan resminya dapat dibaca di pengumuman Kemendikdasmen tentang SE Nomor 18 Tahun 2026.
Aturan gawai di sekolah sebaiknya dijelaskan dengan alasan yang bisa dipahami anak, bukan hanya disampaikan sebagai daftar larangan.
Bukan berarti semua perangkat harus hilang dari sekolah
Sering kali kata “pembatasan” terdengar seperti larangan membawa HP sama sekali. Padahal, sekolah diminta mengatur penggunaan sesuai kebutuhan dan kondisi satuan pendidikan. Gawai dapat digunakan untuk kegiatan belajar bila diarahkan pendidik. Sekolah juga perlu mempertimbangkan kebutuhan tertentu, misalnya kondisi medis, aksesibilitas, atau situasi darurat sesuai kebijakan yang berlaku.
Karena itu, detail pelaksanaannya bisa berbeda antarsekolah. Ada yang meminta ponsel disimpan selama pelajaran, ada yang mengatur penggunaan hanya untuk tugas tertentu, dan ada yang punya prosedur komunikasi keluarga melalui wali kelas atau kantor sekolah. Jangan menyamakan aturan sekolah anak dengan pengalaman sekolah lain yang dibagikan di media sosial.
| Hal yang diatur sekolah | Yang perlu ditanyakan orang tua |
|---|---|
| Kapan gawai disimpan? | Apakah sejak datang sampai pulang, atau hanya selama pelajaran? |
| Pemakaian untuk belajar | Bagaimana guru memberi izin dan mengawasi penggunaan? |
| Kondisi darurat | Nomor sekolah mana yang bisa dihubungi keluarga? |
| Kebutuhan khusus | Bagaimana akomodasi untuk murid dengan kebutuhan medis atau aksesibilitas? |
| Perangkat lain | Apakah smartwatch atau tablet juga termasuk dalam aturan sekolah? |
Kenapa anak perlu ikut memahami alasan aturan?
Kalau anak hanya mendengar “pokoknya dilarang”, ia mungkin melihat aturan sebagai hukuman. Ajak ia memahami beberapa alasan sederhana: notifikasi bisa memecah konsentrasi, teman yang duduk dekat bisa terdistraksi, dan waktu istirahat lebih nyaman saat anak berinteraksi langsung. Pembatasan juga memberi ruang agar teknologi digunakan pada saat yang memang membantu belajar, bukan sekadar menemani setiap menit.
Namun, hindari narasi bahwa gawai selalu buruk. Anak juga belajar mencari informasi, memakai aplikasi pendidikan, membuat karya, dan berkomunikasi. Yang sedang diatur adalah kapan, untuk apa, dan dengan cara apa perangkat dipakai. Teknologi tetap punya tempat, hanya tidak perlu mengambil alih seluruh suasana sekolah.
Ketika gawai di sekolah dibatasi, anak tetap perlu tahu siapa yang bisa dihubungi jika ada kebutuhan mendesak.
Kalau anak khawatir tidak bisa menghubungi orang tua
Kekhawatiran ini layak didengar, terutama bagi anak yang baru masuk sekolah atau pernah mengalami situasi darurat. Buat rencana yang jelas. Tunjukkan nomor telepon sekolah, nama wali kelas, tempat meminta bantuan, dan siapa yang akan menghubungi keluarga bila ada kebutuhan mendesak. Anak juga bisa menghafal satu nomor penting atau menyimpan kartu kontak darurat sesuai kebijakan sekolah.
Coba obrolan seperti ini:
“Kalau kamu butuh Bunda saat di sekolah, bukan berarti harus pegang HP terus. Kamu bisa ke guru atau kantor sekolah. Bunda juga tahu nomor sekolah, jadi kita tetap punya cara untuk saling menghubungi.”
Kesepakatan ini membuat anak merasa punya pilihan ketika ponsel tidak berada di tangan. Untuk keluarga yang belum punya aturan penggunaan perangkat di rumah, contoh kesepakatan gawai bersama anak bisa menjadi titik awal. Keluarga juga bisa menata penggunaan malam hari lewat panduan waktu layar sebelum tidur.
Jangan jadikan aturan sekolah sebagai bahan perang di rumah
Kalau anak kesal karena tidak bisa bermain gim saat istirahat, jangan langsung membalas, “Makanya, kebanyakan HP!” Respons seperti itu membuat anak merasa keluhannya tidak didengar. Tanyakan dulu bagian mana yang paling sulit: takut tertinggal obrolan, tidak tahu cara menghubungi orang tua, atau belum terbiasa mengisi waktu tanpa layar.
Setelah itu, bantu anak mencari pengganti yang masuk akal. Ia bisa membawa buku kecil jika diizinkan, bermain permainan ringan dengan teman, ikut kegiatan sekolah, atau menggunakan waktu istirahat untuk makan dan bergerak. Jangan memaksa anak harus langsung menikmati semua aktivitas tanpa gawai. Adaptasi tetap butuh waktu.
Orang tua juga perlu memberi contoh. Kalau keluarga meminta anak meletakkan ponsel saat makan atau berbicara, orang dewasa sebaiknya melakukan hal yang sama. Aturan akan lebih mudah diterima ketika anak melihat bahwa keluarga juga punya kebiasaan digital yang sehat.
Waktu tanpa layar juga bisa diisi dengan gerak sederhana. Anak bisa berjalan ke kantin bersama teman, bermain permainan kelompok, membaca komik, atau sekadar ngobrol saat istirahat. Aktivitas luar ruang tidak harus selalu berupa olahraga terstruktur. Kalau sekolah punya ruang terbuka, orang tua bisa mendukung kegiatan yang membuat anak bergerak dan berinteraksi. Ada juga ide menyeimbangkan waktu layar dan aktivitas luar ruang untuk anak SD yang dapat menjadi inspirasi di rumah maupun saat berdiskusi dengan sekolah.
Kalau anak terbiasa menggunakan gawai untuk menghubungi keluarga, latih jalur cadangan sebelum aturan diterapkan. Pastikan ia tahu kepada siapa harus meminta bantuan, di mana ruang guru berada, dan bagaimana cara menyampaikan pesan penting lewat prosedur sekolah. Simulasikan situasi sederhana—misalnya dijemput terlambat atau merasa tidak enak badan—agar anak tidak baru mencari tahu ketika sedang panik.
Checklist singkat sebelum aturan mulai berlaku
- Pastikan anak tahu kapan gawai boleh digunakan dan kapan harus disimpan.
- Catat nomor sekolah, wali kelas, atau kanal komunikasi resmi.
- Bahas pengecualian untuk kebutuhan medis, aksesibilitas, dan keadaan darurat.
- Pastikan smartwatch atau tablet juga dipahami aturannya.
- Sepakati apa yang dilakukan jika orang tua perlu mengirim pesan mendesak.
Kalau ada ketidakjelasan, tanyakan langsung ke sekolah melalui jalur resmi. Jangan menyebarkan kesimpulan dari potongan surat atau pesan grup tanpa membaca konteks lengkap. Sekolah pun perlu menjelaskan prosedur dengan bahasa yang mudah dipahami murid dan orang tua, bukan sekadar membagikan larangan.
Teknologi boleh ada, tetapi anak tetap perlu ruang untuk belajar hadir
Aturan penggunaan gawai bisa menjadi kesempatan untuk melatih anak membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia belajar bahwa tidak semua pesan harus dijawab saat itu juga, tidak semua momen perlu direkam, dan tidak semua waktu kosong harus diisi layar. Keterampilan ini berguna jauh setelah anak lulus sekolah.
Jadi, Bunda dan Ayah tidak perlu membingkai kebijakan sekolah sebagai musuh teknologi. Bantu anak memahami alasan, tahu jalur komunikasi yang aman, dan ikut memberi masukan bila ada kebutuhan khusus. Ketika anak merasa didengar, aturan lebih mungkin dipahami sebagai bagian dari lingkungan belajar—bukan hukuman karena suka memakai HP.
(Naya)










