Ibu mendampingi putrinya yang memegang buku di sofa ruang keluarga.
Pola Asuh & Disiplin

Fakta: Rasa Suka Pertama Anak Bukan Hal yang Perlu Ditertawakan—Cara Orang Tua Merespons dengan Tenang

Rasa suka pertama dapat membuat anak malu, gembira, atau bingung. Pelajari cara orang tua merespons tanpa mengejek, menginterogasi, atau mengabaikan batas usia dan keselamatan.

Suatu sore, anak berkata bahwa ia menyukai teman sekelasnya. Ada yang bercerita dengan wajah berbinar, ada yang menyampaikan sambil tertawa malu, dan ada pula yang hanya memberi petunjuk kecil lalu segera mengganti topik. Bagi orang tua, momen ini bisa terasa lucu, mengejutkan, atau bahkan menimbulkan kekhawatiran. Namun, respons pertama yang meremehkan atau menjadikan anak bahan candaan dapat membuatnya enggan bercerita lagi.

Rasa suka adalah pengalaman perasaan yang dapat muncul pada tahap perkembangan berbeda. Perasaan itu tidak otomatis berarti anak sedang menjalani hubungan romantis atau siap berpacaran. Tugas orang tua bukan mendorong hubungan tersebut, melainkan membantu anak memahami perasaannya, menghormati orang lain, menjaga batas pribadi, dan tetap menjalani kegiatan sesuai usia.

Mengapa rasa suka pertama terasa besar bagi anak?

Bagi orang dewasa, rasa suka di sekolah mungkin tampak sebagai pengalaman kecil yang akan berlalu. Bagi anak, pengalaman itu bisa menjadi hal baru yang menyita pikiran. Ia mungkin bertanya-tanya apakah perasaannya berbalas, takut ditertawakan teman, atau bingung mengapa ia ingin lebih sering berada di dekat seseorang. Intensitas perasaan tidak perlu diukur berdasarkan lamanya hubungan. Sesuatu yang tampak sederhana bagi orang tua bisa terasa penting bagi anak karena ia sedang belajar mengenali ketertarikan, kedekatan, rasa malu, dan penolakan.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa ketertarikan romantis dapat muncul pada masa remaja, sementara sebagian anak merasakan ketertarikan sebelum pubertas. Itu tidak berarti semua anak perlu diberi label sedang berpacaran. Orang tua dapat melihatnya sebagai kesempatan mengenalkan relasi yang baik sejak dini: berteman dengan hormat, tidak memaksa perhatian, tidak mengejek, dan menerima bahwa orang lain berhak memiliki perasaan yang berbeda.

Hindari candaan yang membuat anak merasa dipermalukan

Ucapan seperti “Wah, sudah punya pacar!” atau “Cie, nanti menikah, ya?” mungkin dimaksudkan sebagai candaan ringan. Namun, jika anak terlihat tidak nyaman, terus didesak, atau mendengar cerita pribadinya disampaikan kepada kerabat, ia dapat merasa kehilangan kendali atas pengalaman tersebut. Candaan juga dapat membuat anak mengira bahwa rasa suka adalah sesuatu yang memalukan. Pilih respons sederhana, misalnya, “Kamu sedang senang karena dekat dengan teman itu, ya?” lalu beri kesempatan anak melanjutkan cerita bila ia mau.

Hindari pula menjadikan teman yang disukai sebagai bahan penilaian tentang penampilan, keluarga, nilai sekolah, atau status sosial. Jangan membandingkan anak dengan saudara atau teman lain yang dianggap lebih populer. Fokuskan percakapan pada perilaku yang saling menghormati. Anak perlu memahami bahwa ia boleh menyukai seseorang, tetapi orang tersebut tidak wajib membalas perasaannya. Sebaliknya, anak juga tidak wajib menerima perhatian yang membuatnya tidak nyaman.

Dengarkan dulu sebelum memberikan nasihat

Ketika anak mulai bercerita, tahan keinginan untuk langsung memberi aturan panjang. Dengarkan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan. Apakah ia sekadar ingin berbagi kabar, meminta pendapat, atau sedang bingung karena temannya bersikap berbeda? Pertanyaan terbuka lebih membantu daripada pertanyaan yang terdengar seperti pemeriksaan. Orang tua dapat bertanya, “Bagian mana yang paling membuatmu senang?” atau “Kamu ingin Ayah atau Ibu mendengarkan saja, atau kamu ingin kita memikirkan sesuatu bersama?”

Jika anak hanya menjawab singkat, jangan memaksa. Katakan bahwa ia boleh melanjutkan kapan pun siap. Sikap ini sejalan dengan pendekatan mendengarkan aktif yang dianjurkan UNICEF Indonesia: memberi perhatian, tidak menghakimi, mengajukan pertanyaan terbuka, dan menunjukkan bahwa pandangan remaja dihargai. Pembahasan lebih lanjut tentang cara menerima cerita anak dapat dibaca melalui panduan mendengarkan anak agar berani bercerita.

Bedakan rasa suka, pertemanan dekat, dan hubungan romantis

Anak bisa mengatakan “aku suka dia” untuk berbagai maksud. Bisa jadi ia mengagumi kemampuan teman, merasa nyaman bermain bersama, ingin menjadi sahabat, atau mulai merasakan ketertarikan romantis. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa setiap rasa suka berarti pacaran. Tanyakan makna kata-kata anak dengan tenang, misalnya, “Menurutmu, suka itu seperti apa?” Pertanyaan ini membantu orang tua memahami sudut pandang anak tanpa memasukkan asumsi orang dewasa.

Untuk anak yang masih kecil, orang tua dapat menjelaskan bahwa memiliki teman istimewa atau merasa senang berada dekat seseorang tidak mengharuskan mereka membuat status hubungan. Pertemanan tetap perlu menghargai pilihan, ruang, dan kenyamanan kedua anak. Untuk remaja, pembicaraan dapat berkembang ke kesiapan, nilai keluarga, komunikasi, dan keselamatan. Tidak ada satu usia yang otomatis membuat semua remaja siap menjalani hubungan; kematangan, tanggung jawab, dan konteks kehidupan perlu dipertimbangkan.

Ajarkan bahwa perasaan tidak memberi hak untuk menguasai orang lain

Anak perlu memahami bahwa rasa suka tidak membuat seseorang berhak mengatur siapa yang boleh diajak bicara, menuntut balasan pesan setiap saat, meminta kata sandi, atau memaksa kedekatan fisik. Prinsipnya berlaku dua arah: anak harus menghormati batas temannya dan boleh menjaga batas dirinya sendiri. Jelaskan dengan contoh sederhana. Mengirim satu pesan untuk menyapa berbeda dari mengirim puluhan pesan karena kesal belum dibalas. Mengajak bermain berbeda dari terus mendesak setelah teman menolak.

Beri kalimat latihan yang sesuai usia: “Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau,” “Aku ingin sendiri dulu,” atau “Aku tidak nyaman kalau kamu membaca pesanku.” Anak juga perlu tahu bahwa orang lain boleh mengatakan tidak tanpa harus memberikan alasan panjang. Untuk memperkuat pemahaman, orang tua dapat membaca pembahasan tentang mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi dan mengaitkannya dengan kebiasaan menghargai perasaan orang lain.

Bicarakan privasi dan cara menjaga diri tanpa menakut-nakuti

Ketertarikan dapat membuat anak ingin mengirim pesan, foto, atau cerita pribadi. Bahas bahwa pesan digital dapat disimpan, diteruskan, atau dilihat orang lain di luar dugaan. Anak tidak perlu membagikan alamat rumah, lokasi langsung, kata sandi, foto pribadi, atau informasi keluarga hanya agar disukai. Jangan menakut-nakuti bahwa semua orang yang menghubungi anak pasti berniat buruk. Jelaskan tindakan yang aman dan siapa orang dewasa tepercaya yang dapat dimintai bantuan.

Bila anak menerima pesan yang membuatnya tertekan, diminta merahasiakan sesuatu yang membuat takut, atau diancam akan dipermalukan, ia perlu tahu bahwa ia boleh berhenti merespons dan memberi tahu orang dewasa tepercaya. Orang tua sebaiknya mendengarkan tanpa menyalahkan. Jangan langsung merebut perangkat dan memarahi anak karena telah bercerita. Prioritaskan keselamatan, simpan informasi yang relevan, lalu cari bantuan yang tepat jika ada ancaman atau eksploitasi.

Contoh respons orang tua dalam situasi sehari-hari

Jika anak berkata, “Aku suka teman di kelas,” orang tua dapat menjawab, “Terima kasih sudah cerita. Apa yang membuat kamu suka berteman dengannya?” Jika anak berkata, “Dia tidak membalas pesanku,” orang tua bisa mengatakan, “Menunggu balasan memang kadang membuat tidak enak. Kita tidak tahu alasannya, jadi beri dia ruang dulu.” Respons ini mengakui perasaan tanpa menguatkan dugaan yang belum terbukti.

Jika saudara atau kerabat mulai menggoda anak, orang tua dapat mengalihkan candaan dan menetapkan batas: “Kita tidak perlu menggoda. Anak sedang belajar memahami perasaannya.” Jika anak meminta agar cerita tetap pribadi, hargai permintaannya selama tidak ada risiko keselamatan. Jelaskan batas kerahasiaan dengan jujur: orang tua menjaga cerita pribadi, tetapi perlu mencari bantuan bila ada paksaan, ancaman, kekerasan, atau bahaya.

Kapan orang tua perlu memberi perhatian lebih?

Rasa suka yang biasa tidak perlu diperlakukan sebagai masalah. Namun, orang tua perlu memperhatikan bila anak terlihat sangat takut, terus-menerus merasa bersalah, mengisolasi diri, kehilangan minat pada kegiatan yang sebelumnya disukai, atau mengalami tekanan dari seseorang. Perubahan perilaku tidak otomatis membuktikan adanya kekerasan, tetapi layak ditanyakan dengan lembut. Jangan menyelidiki dengan cara yang membuat anak merasa diadili atau memaksanya menceritakan detail sebelum siap.

Bila ada ancaman, pemaksaan, penguntitan, penyebaran foto pribadi, sentuhan tanpa persetujuan, atau kekerasan fisik, utamakan keselamatan. Jauhkan anak dari situasi berbahaya, simpan bukti digital yang relevan tanpa menyebarkannya, dan cari bantuan dari layanan perlindungan atau tenaga profesional yang sesuai. Jika anak berada dalam bahaya langsung, hubungi layanan darurat setempat. Orang tua dapat mempelajari langkah membangun rasa aman anak saat menetapkan batasan sebagai bagian dari pola pengasuhan.

Penerapan lebih lanjut dalam kehidupan keluarga

Jangan buru-buru menghubungkan rasa suka dengan rencana masa depan. Anak tidak perlu ditanya apakah orang yang disukainya kelak akan menjadi pasangan hidup. Pertanyaan seperti itu dapat membuat pengalaman sederhana terasa seperti kewajiban. Lebih baik bantu anak mengenali perasaan yang sedang muncul dan memahami bahwa ia tetap dapat belajar, bermain, beristirahat, serta berteman seperti biasa. Rasa suka tidak perlu dibesar-besarkan, tetapi juga tidak perlu dilarang sebagai sesuatu yang memalukan.

Usia dan tahap perkembangan perlu menjadi pertimbangan. Pada anak usia sekolah dasar, pembahasan dapat berpusat pada persahabatan, rasa kagum, berbagi permainan, dan menerima penolakan. Untuk remaja, orang tua dapat menambahkan percakapan tentang kesiapan, aturan keluarga, komunikasi digital, batas fisik, serta tekanan teman sebaya. Jangan menganggap semua anak berkembang dengan tempo yang sama. Dengarkan pemahaman anak terlebih dahulu, lalu berikan informasi secukupnya tanpa memaksa percakapan menjadi lebih dewasa daripada kebutuhan saat itu.

Jika anak merasa malu karena perasaannya tidak dibalas, bantu ia menerima kenyataan tanpa merendahkan dirinya atau orang yang menolak. Katakan bahwa ketertarikan tidak selalu berbalas dan hal itu tidak menentukan nilai diri seseorang. Hindari menyuruh anak mengejar terus-menerus, membalas dengan ejekan, atau mencari cara agar orang lain berubah pikiran. Anak dapat belajar memberi ruang, mengalihkan perhatian ke kegiatan lain, dan tetap memperlakukan teman tersebut dengan sopan.

Dalam keluarga besar, orang tua dapat menjaga batas percakapan secara konsisten. Bila paman, bibi, atau saudara mulai menggoda, hentikan dengan ramah dan jelaskan bahwa cerita anak bukan bahan hiburan bersama. Jangan membagikan pesan pribadi, foto, atau nama teman yang disukai tanpa izin. Anak yang merasa ceritanya aman lebih mungkin datang kembali ketika pengalaman itu berubah menjadi kebingungan atau tekanan. Privasi yang wajar perlu dijaga, sementara risiko keselamatan tetap harus ditangani oleh orang dewasa.

Perhatikan pula pesan yang diterima anak dari film, lagu, video pendek, dan percakapan teman. Ada konten yang menggambarkan kecemburuan ekstrem sebagai tanda cinta atau mengejar seseorang setelah ditolak sebagai hal romantis. Orang tua tidak harus melarang semua tontonan, tetapi bisa mengajak anak menilai adegannya: apakah kedua pihak saling menghargai, apakah ada paksaan, dan bagaimana tokohnya seharusnya merespons penolakan. Percakapan kritis lebih bermanfaat daripada sekadar menyebut sebuah cerita buruk.

Hal yang dapat dilakukan orang tua mulai sekarang

  • Tanggapi cerita anak dengan tenang dan jangan menjadikannya bahan candaan.
  • Tanyakan apakah anak ingin didengarkan atau meminta saran.
  • Ajarkan bahwa rasa suka tidak memberi hak untuk memaksa perhatian atau kedekatan.
  • Bicarakan privasi digital dan siapa orang dewasa tepercaya yang bisa dimintai bantuan.

Rasa suka pertama bukan alasan untuk menertawakan anak atau langsung menganggapnya siap berpacaran. Dengarkan, hargai perasaannya, ajarkan respek dan batas pribadi, serta jaga komunikasi tetap terbuka. Ketika anak tahu ia dapat bercerita tanpa dipermalukan, orang tua memiliki peluang lebih baik untuk mendampingi saat pengalaman menyenangkan maupun sulit datang.

Sumber rujukan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.