Membicarakan pacaran dengan anak remaja sering terasa canggung. Orang tua mungkin khawatir anak terlalu muda, takut terjadi hal yang tidak diinginkan, atau tidak tahu bagaimana memulai percakapan tanpa terdengar menginterogasi. Sementara itu, remaja bisa merasa bahwa topik ini terlalu pribadi, takut dimarahi, atau mengira orang tua hanya ingin mencari kesalahan.
Percakapan yang baik tidak harus selesai dalam satu malam. Tujuannya bukan memperoleh semua detail tentang siapa yang disukai anak, melainkan membangun jalur komunikasi agar remaja bisa bertanya, menyampaikan batas, dan meminta bantuan saat dibutuhkan. American Academy of Pediatrics menekankan keterbukaan, harapan yang jelas, serta penyesuaian batas berdasarkan kematangan dan kebutuhan remaja.
Mulai sebelum ada masalah atau kabar pacaran
Jangan menunggu sampai menemukan pesan pribadi di ponsel atau mendengar kabar dari orang lain. Pembicaraan dapat dimulai jauh lebih awal melalui situasi sehari-hari: adegan film, cerita teman, berita, atau pembahasan tentang rasa hormat dalam pertemanan. Orang tua dapat bertanya, “Menurutmu, hubungan yang saling menghargai itu seperti apa?” Pertanyaan umum memberi remaja ruang menyampaikan pendapat tanpa harus mengungkapkan pengalaman sendiri.
Percakapan awal tidak perlu panjang atau terlalu serius. Cukup tanamkan bahwa anak boleh membahas ketertarikan, pertemanan, tekanan dari teman sebaya, dan kebingungan tentang hubungan. Dengan begitu, topik tidak muncul hanya ketika orang tua sedang marah atau curiga. UNICEF Indonesia menyarankan orang tua tetap menunjukkan minat pada hal yang penting bagi remaja dan menjaga komunikasi sejak anak masih kecil; kebiasaan ini membantu percakapan bertahan saat anak tumbuh.
Pilih waktu dan tempat yang tidak membuat anak terpojok
Hindari memulai percakapan saat anak baru pulang sekolah dalam keadaan lelah, ketika keluarga sedang bertengkar, atau di depan saudara. Pilih momen yang santai dan memberi ruang privasi, misalnya saat berjalan bersama atau mengerjakan aktivitas ringan. Posisi duduk berhadapan seperti sesi pemeriksaan bisa membuat anak merasa ditekan. Kadang percakapan berdampingan terasa lebih ringan karena perhatian tidak tertuju penuh pada wajah satu sama lain.
Sampaikan tujuan sebelum bertanya. Misalnya, “Ayah ingin ngobrol tentang hubungan dan batasan, bukan memeriksa ponsel atau memaksamu cerita tentang seseorang.” Jangan memulai dengan tuduhan seperti “Kamu pasti sedang pacaran, ya?” atau “Siapa orang yang sering menghubungimu?” Kalimat pembuka yang menyatakan kepedulian lebih mungkin membuat remaja memahami bahwa orang tua hadir untuk mendampingi, bukan mengumpulkan bukti.
Gunakan pertanyaan terbuka, bukan rentetan pertanyaan tertutup
Pertanyaan tertutup seperti “Kamu punya pacar?” mudah dijawab ya atau tidak, lalu percakapan berhenti. Pertanyaan terbuka membantu mengetahui cara remaja memandang hubungan: “Apa yang menurutmu membuat seseorang nyaman dalam hubungan?”, “Bagaimana teman-temanmu membahas pacaran?”, atau “Apa yang akan kamu lakukan kalau seseorang meminta sesuatu yang tidak kamu inginkan?” Tidak semua pertanyaan perlu diajukan sekaligus. Pilih satu, dengarkan, lalu ikuti arah percakapan.
UNICEF Indonesia menganjurkan pertanyaan terbuka dan teknik mengulang inti cerita anak untuk memastikan pemahaman. Orang tua bisa berkata, “Jadi, kamu merasa temanmu terlalu sering meminta kabar dan itu membuatmu tidak nyaman, benar begitu?” Cara ini menunjukkan bahwa orang tua berusaha memahami sebelum memberi nasihat. Jika anak tidak ingin menjawab, hormati jeda dan katakan bahwa pintu percakapan tetap terbuka.
Dengarkan tanpa langsung memberi ceramah atau hukuman
Remaja mungkin menyampaikan pengalaman yang bertentangan dengan nilai keluarga. Orang tua tetap dapat mendengarkan tanpa harus menyetujui semua keputusan. Hindari reaksi spontan berupa bentakan, ejekan, ancaman menyita semua perangkat, atau pernyataan yang mempermalukan. Jika orang tua terkejut, tarik napas dan katakan, “Aku perlu waktu memahami ini, tetapi aku senang kamu mau cerita.” Respons seperti ini tidak berarti semua perilaku boleh dilakukan; ini menjaga percakapan tetap mungkin dilanjutkan.
Ketika orang tua langsung menghakimi, remaja bisa belajar menyembunyikan informasi penting. Sebaliknya, mendengarkan tidak sama dengan pasif. Setelah memahami cerita, orang tua dapat menjelaskan nilai keluarga, risiko, dan batas yang tidak bisa ditawar. Bedakan antara mendengar perasaan dan menyetujui tindakan. Anak boleh merasa kecewa karena ada batas, sementara orang tua tetap menjaga keamanan secara konsisten.
Jelaskan nilai keluarga secara konkret dan tidak mengancam
Daripada mengatakan “Pacaran itu dilarang karena tidak baik”, jelaskan nilai yang ingin dijaga: keselamatan, penghormatan, tanggung jawab sekolah, kesehatan, privasi, dan hak untuk menentukan batas tubuh. Sampaikan alasan dalam bahasa yang dimengerti remaja. Bila keluarga memiliki aturan tentang usia, pertemuan, jam pulang, atau aktivitas, bicarakan secara terbuka dan jelaskan bagaimana aturan dapat ditinjau ketika kesiapan serta tanggung jawab berubah.
Tidak ada satu usia yang otomatis tepat bagi semua remaja untuk berkencan. American Academy of Pediatrics menekankan perlunya mempertimbangkan kematangan emosi, tanggung jawab, serta pemahaman tentang batas dan persetujuan. Orang tua dapat menyatakan bahwa keputusan keluarga mempertimbangkan usia, konteks, dan kesiapan, bukan sekadar meniru teman. Bila remaja belum siap untuk hubungan berdua, tawarkan alternatif interaksi kelompok yang aman dan tetap memberi ruang bersosialisasi.
Bahas keselamatan digital tanpa melanggar privasi secara serampangan
Hubungan remaja dapat berlangsung melalui pesan, panggilan video, komentar media sosial, dan pertemuan langsung. Bahas risiko yang nyata: tekanan untuk selalu membalas, permintaan kata sandi, penyebaran tangkapan layar, permintaan foto intim, dan ancaman menyebarkan informasi pribadi. Jelaskan bahwa tidak ada kewajiban memberikan akses akun sebagai bukti cinta. Anak juga harus menghormati privasi orang lain dan tidak meneruskan foto atau pesan pribadi tanpa izin.
Orang tua perlu membedakan pendampingan digital dari pengawasan tanpa batas. Buat kesepakatan yang jelas tentang kapan perangkat boleh digunakan, apa yang perlu dilakukan jika menerima ancaman, dan kapan orang tua boleh terlibat demi keselamatan. Jangan meminta anak menceritakan semua percakapan sebagai syarat kepercayaan. Lebih baik sepakati bahwa anak dapat datang kepada orang tua ketika ada pesan yang menekan atau membuat takut, dan orang tua akan menanggapi dengan tenang.
Susun aturan yang dapat dipahami dan diterapkan
Aturan yang jelas lebih bermanfaat daripada larangan samar. Bahas siapa yang perlu mengetahui lokasi pertemuan, siapa yang mendampingi, tempat yang disepakati, jam pulang, transportasi, dan cara menghubungi orang tua jika rencana berubah. Sampaikan konsekuensi yang masuk akal jika kesepakatan tidak dipatuhi. Hindari aturan yang tidak mungkin dilakukan atau berubah sesuai suasana hati orang tua.
Ajak remaja menyampaikan pendapat dan jelaskan alasan mereka. Kesepakatan bukan berarti anak selalu mendapat keputusan akhir, melainkan ia memahami bahwa pandangannya didengar. Orang tua tetap bertanggung jawab mengambil keputusan keselamatan. Evaluasi aturan berdasarkan pengalaman: apakah anak memberi kabar, apakah lokasi aman, apakah waktu pulang realistis, dan apakah sekolah serta istirahat tetap terjaga. Untuk membangun kebiasaan dialog, lihat juga langkah awal membangun komunikasi terbuka dengan anak.
Apa yang dilakukan bila anak belum mau bicara?
Jangan memaksa anak membicarakan hubungan hanya karena orang tua merasa percakapan harus tuntas. Katakan bahwa anak boleh memilih waktu lain dan ia dapat mengajukan pertanyaan kapan pun. Orang tua dapat meninggalkan pesan singkat yang tidak menuntut jawaban, misalnya, “Kalau suatu hari kamu ingin membahas hubungan atau ada hal yang membuat tidak nyaman, Ayah/Ibu siap mendengarkan.” Konsistensi sikap dalam keseharian lebih penting daripada satu percakapan panjang.
Jika ada alasan konkret untuk khawatir—misalnya anak menunjukkan ketakutan, mendapat ancaman, mengalami tekanan untuk melakukan sesuatu, atau tiba-tiba terisolasi—orang tua mungkin perlu mengambil langkah perlindungan. Jelaskan tindakan apa yang akan dilakukan dan sebisa mungkin libatkan anak. Jika terdapat risiko kekerasan atau eksploitasi, jangan menunggu anak mengungkapkan semua detail. Cari bantuan dari pihak yang kompeten, jaga bukti yang relevan, dan utamakan keselamatan.
Penerapan lebih lanjut dalam kehidupan keluarga
Sebelum berbicara dengan anak, orang tua sebaiknya mengenali kekhawatirannya sendiri. Pengalaman masa remaja, nilai keluarga, keyakinan, atau cerita tentang kejadian yang pernah dialami dapat memengaruhi reaksi. Kekhawatiran itu boleh menjadi bahan pertimbangan, tetapi jangan otomatis dipindahkan kepada anak sebagai larangan tanpa penjelasan. Tanyakan kepada diri sendiri: batas mana yang berkaitan dengan keselamatan dan tanggung jawab, dan mana yang muncul karena rasa takut atau pengalaman pribadi orang tua?
Jika ayah dan ibu memiliki pandangan berbeda, bicarakan terlebih dahulu tanpa menjadikan anak sebagai penengah. Sampaikan aturan yang konsisten di depan anak dan jelaskan bahwa orang tua tetap dapat mengevaluasinya. Perbedaan pendapat antarorang tua sebaiknya tidak berubah menjadi ancaman yang saling bertentangan, misalnya satu pihak mengizinkan dan pihak lain menghukum setelah kegiatan selesai. Kesepakatan orang dewasa membantu remaja memahami batas yang berlaku dan mengurangi peluang konflik berulang.
Ketika remaja mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai harapan keluarga, pisahkan tiga hal: perasaan anak, perilaku yang terjadi, dan keputusan keluarga. Orang tua dapat menerima bahwa anak sedang menyukai seseorang tanpa harus langsung menyetujui hubungan atau setiap aktivitasnya. Kalimat seperti “Ayah memahami kamu punya perasaan, tetapi kita perlu membahas kesiapan dan aturan keselamatan” lebih jelas daripada menolak seluruh cerita anak. Dengan pemisahan ini, anak tidak perlu menyembunyikan perasaan hanya karena ia belum memperoleh izin untuk melakukan sesuatu.
Bila percakapan memanas, jangan memaksakan penyelesaian saat itu juga. Orang tua dapat mengatakan bahwa diskusi akan dilanjutkan setelah semua lebih tenang, lalu benar-benar kembali ke topik tersebut. Jangan memakai jeda untuk menghukum dengan diam berkepanjangan atau membuat anak menebak-nebak apa yang akan terjadi. Saat melanjutkan, rangkum apa yang telah disepakati dan bagian yang masih perlu dipikirkan. Cara ini memperlihatkan bahwa konflik dapat dikelola tanpa menghilangkan hubungan.
Jika anak belum memiliki pengalaman pacaran, jangan menganggap pembahasan ini tidak relevan. Anak dapat berlatih melalui contoh hipotetis dan cerita teman, misalnya apa yang dilakukan bila seseorang meminta kata sandi atau marah saat pesan tidak dibalas. Namun, jangan membuat skenario menakutkan atau meminta anak mengungkapkan rahasia teman. Tujuannya membangun keterampilan mengambil keputusan sebelum tekanan muncul, bukan menanamkan kecurigaan kepada setiap orang.
Hal yang dapat dilakukan orang tua mulai sekarang
- Pilih momen santai dan privat untuk membuka topik.
- Gunakan pertanyaan terbuka dan dengarkan sampai anak selesai.
- Jelaskan nilai keluarga serta alasan aturan secara konkret.
- Sepakati hal-hal praktis tentang lokasi, waktu, komunikasi, dan keselamatan.
Bacaan terkait di BisaBaca
Membicarakan pacaran bukan ujian untuk mengetahui seluruh rahasia remaja. Percakapan terbaik membuat anak tahu bahwa orang tua mampu mendengar, menyampaikan nilai keluarga, menetapkan batas, dan tetap menjadi tempat meminta bantuan. Bangun kebiasaan ini sedikit demi sedikit, bukan hanya ketika muncul masalah.










