“Sebentar lagi.” “Nanti setelah selesai bermain.” “Aku lupa.” Jika pekerjaan rumah terus tertunda, orang tua bisa merasa seolah harus mengingatkan dari pagi sampai malam. Namun, menunda tidak selalu berarti anak sengaja membangkang. Ia mungkin belum tahu harus mulai dari mana, menganggap tugas terlalu besar, lelah setelah sekolah, takut salah, atau belum memiliki kebiasaan mengatur waktu. Memahami penyebabnya membantu orang tua memilih respons yang lebih tepat daripada hanya mengulang teguran.
Pekerjaan rumah yang dimaksud di sini adalah tugas sekolah yang dikerjakan di rumah, bukan pekerjaan rumah tangga. Keduanya sama-sama membutuhkan perencanaan, tetapi masalah yang dihadapi anak bisa berbeda. Ketika tugas sekolah yang dikerjakan di rumah tertunda, periksa dulu apakah anak memahami instruksi, memiliki bahan yang diperlukan, dan mempunyai waktu yang cukup setelah beristirahat.
Cari tahu apa yang membuat anak sulit memulai
Perhatikan kapan penundaan terjadi. Apakah anak selalu menunda matematika tetapi cepat menyelesaikan bacaan? Apakah ia baru mulai saat orang tua duduk di sebelahnya? Apakah ia sering berkata tidak tahu langkah pertama? Pola tersebut memberi petunjuk. Tugas yang terasa sulit, membosankan, panjang, atau tidak jelas dapat membuat anak menghindar. Ada pula anak yang sulit berpindah dari permainan ke aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.
Hindari membuka percakapan dengan “Kamu malas lagi”. Cobalah bertanya, “Bagian mana yang paling sulit dimulai?” atau “Apa yang kamu butuhkan supaya bisa mengerjakan nomor pertama?” Pertanyaan itu mengubah fokus dari sifat anak menjadi hambatan yang bisa diatasi. Bila tugas memang terlalu banyak atau tingkat kesulitannya tidak sesuai, orang tua dapat berdiskusi dengan guru.
Buat pintu masuk yang kecil
Anak sering melihat seluruh pekerjaan sebagai satu beban besar. Bantu ia menemukan tindakan pertama yang cukup kecil: membuka buku, membaca instruksi, menuliskan tanggal, atau mengerjakan satu soal. Setelah langkah awal selesai, anak dapat memutuskan apakah melanjutkan beberapa nomor atau mengambil jeda singkat. Tujuannya bukan memecah semua tugas menjadi jadwal yang kaku, tetapi mengurangi rasa kewalahan ketika hendak mulai.
Jika tugas sekolah terdiri dari beberapa mata pelajaran, buat daftar ringkas. Anak dapat menandai tugas yang perlu dikumpulkan besok, tugas yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan bagian yang harus ditanyakan kepada guru. Untuk anak yang masih kecil, orang tua boleh membantu menyusun daftar. Seiring kebiasaan terbentuk, biarkan anak menuliskan dan memeriksanya sendiri.
- Tentukan tempat belajar yang cukup tenang dan alat yang dibutuhkan sudah tersedia.
- Mulai dengan satu tugas pendek untuk membangun momentum, bukan langsung menuntut menyelesaikan semuanya.
- Gunakan pengatur waktu hanya sebagai pengingat jeda, bukan ancaman atau perlombaan.
- Sisakan waktu istirahat, makan, bergerak, dan bermain; jadwal anak tidak boleh penuh oleh tugas.
Buat kesepakatan waktu yang realistis
Anak perlu tahu kapan ia akan mulai, tetapi jadwal harus sesuai kondisi keluarga. Misalnya, setelah pulang sekolah ia makan dan beristirahat dulu, lalu mulai satu sesi pekerjaan rumah pada waktu yang disepakati. Anak yang pulang dengan perjalanan jauh atau mengikuti kegiatan tambahan mungkin membutuhkan jeda lebih panjang. Jangan menetapkan jam mulai hanya karena orang tua ingin semua tugas selesai secepat mungkin.
Orang tua dapat menggunakan pertanyaan, “Kamu ingin mulai setelah mandi atau setelah makan buah?” Bila ada tugas yang tenggatnya beberapa hari lagi, bantu anak membaginya menjadi bagian harian. Anak belajar bahwa tugas panjang tidak harus dikerjakan dalam satu malam. Untuk anak yang sudah lebih besar, ajak memperkirakan durasi dan mencocokkannya dengan waktu yang benar-benar tersedia.
Dampingi tanpa mengambil alih
Ada perbedaan antara membantu anak memahami instruksi dan mengerjakan PR untuknya. Jika ia kesulitan, minta ia menunjukkan bagian yang dipahami dan yang belum. Berikan petunjuk satu langkah, contoh serupa, atau ajukan pertanyaan pemandu. Setelah itu beri jeda agar ia mencoba. Bila orang tua terus mengisi jawaban, anak mungkin mengumpulkan pekerjaan tepat waktu tetapi tidak mendapat kesempatan belajar.
Jika anak meminta ditemani, tentukan bentuk bantuan yang jelas. Orang tua dapat duduk di dekatnya selama lima menit untuk membantu memulai, lalu melakukan pekerjaan lain dan kembali memeriksa setelah satu bagian selesai. Bantuan dapat dikurangi bertahap. Anak tetap boleh meminta bantuan saat benar-benar buntu; kemandirian bukan berarti harus menyelesaikan semua hal sendirian.
Apa yang dilakukan bila penundaan terus berulang?
Tinjau apakah jadwalnya terlalu padat, waktu tidur cukup, atau ada tekanan yang belum diceritakan. Anak yang merasa takut salah mungkin menunda karena khawatir hasilnya buruk. Anak yang tidak memahami materi mungkin tampak menghindar. Anak yang mudah terdistraksi bisa membutuhkan ruang belajar lebih sederhana dan instruksi yang dibagi. Jika kesulitan mengatur tugas berlangsung terus-menerus dan berdampak pada berbagai kegiatan, bicarakan dengan guru atau tenaga profesional yang sesuai.
Jangan menggunakan rasa malu sebagai bahan bakar motivasi. Memperlihatkan nilai buruk di depan saudara, menyebut anak tidak punya masa depan, atau membandingkannya dengan teman dapat membuat pekerjaan rumah terasa sebagai ancaman. Lebih baik tinjau rencana dan buat kesepakatan baru. Tegas tetap bisa hangat: “Tugas ini perlu diselesaikan. Kita cari cara mulai yang paling mungkin sekarang.”
Gunakan konsekuensi yang berhubungan, bukan hukuman berlebihan
Jika anak menunda sampai waktu bermain berkurang, jelaskan hubungan itu dengan tenang: waktu yang tersedia terbatas sehingga kegiatan perlu diatur. Jangan sengaja membuatnya kehilangan tidur atau waktu makan agar “merasakan akibat”. Jika ia belum selesai karena membutuhkan bantuan, dukung komunikasi dengan guru. Konsekuensi harus aman dan masuk akal, bukan membuat anak takut mengakui kesulitan.
Setelah tugas selesai, ajak anak melihat apa yang membantunya mulai. Apakah daftar pendek membantu? Apakah perlu memisahkan tugas yang sulit? Apakah waktu istirahat sebelumnya terlalu singkat? Catatan sederhana tentang apa yang berhasil akan membuat strategi berikutnya lebih sesuai dengan kebutuhan anak, bukan berdasarkan dugaan orang tua saja.
Bacaan terkait di BisaBaca
Untuk membangun keterampilan ini, baca mengenalkan konsep waktu, mengajarkan anak memeriksa pekerjaan sekolah, dan mendampingi anak yang kesulitan memulai belajar.
Rujukan
Harvard Center on the Developing Child menyediakan panduan latihan fungsi eksekutif sesuai usia yang mencakup keterampilan merencanakan dan mengatur diri. American Academy of Pediatrics juga membahas tugas dan tanggung jawab anak dalam panduan rutinitas dan tanggung jawab sesuai usia.
Cari tahu apa yang membuat anak sulit memulai
Sebelum menyimpulkan anak sengaja mengulur waktu, perhatikan momen ketika penundaan paling sering terjadi. Apakah tugas terasa terlalu panjang? Apakah anak tidak paham instruksi? Apakah ia baru pulang sekolah dan membutuhkan waktu untuk makan atau beristirahat? Bisa juga ia khawatir pekerjaannya salah sehingga memilih tidak memulai. Pertanyaan yang tenang seperti “Bagian mana yang terasa paling sulit?” sering memberi petunjuk yang lebih berguna daripada mengulang perintah.
Jika tugas terdiri atas banyak langkah, tuliskan tiga langkah pertama saja. Orang tua dapat duduk di dekat anak selama beberapa menit untuk membantu memulai, lalu memberi ruang agar ia melanjutkan sendiri. Kesepakatan waktu juga perlu realistis: tugas tidak harus dimulai tepat saat anak melangkah masuk rumah. Beri jeda yang jelas setelah kebutuhan dasar terpenuhi, kemudian sepakati kapan kembali ke meja. Jika penundaan disertai kesulitan konsentrasi atau organisasi yang menetap di rumah dan sekolah, komunikasikan dengan guru untuk memahami apakah beban atau bentuk dukungan perlu disesuaikan.










