Waktu tidur yang seharusnya menjadi penutup hari justru berubah menjadi tangisan. Anak berteriak ketika diminta menyimpan mainan, menolak memakai piyama, atau berguling di lantai saat lampu mulai diredupkan. Orang tua mungkin bingung apakah harus melanjutkan rutinitas, memberi waktu, atau mengalah agar rumah kembali tenang.
Tantrum menjelang tidur dapat terjadi karena beberapa alasan. Anak mungkin terlalu lelah, belum siap menghentikan aktivitas, menginginkan lebih banyak waktu bersama orang tua, atau merasa takut ketika harus berpisah dan berada di kamar. Tantrum bukan bukti bahwa anak sengaja memanipulasi orang tua. Pada saat emosi memuncak, kemampuan anak untuk menerima penjelasan panjang juga terbatas.
Kenali apa yang mungkin memicu tantrum menjelang tidur
Perhatikan waktu munculnya tantrum. Jika terjadi ketika anak baru saja diminta berhenti bermain, ia mungkin membutuhkan transisi yang lebih jelas. Bila muncul setelah rutinitas berlangsung terlalu lama, anak mungkin sudah melewati waktu istirahat yang dibutuhkan. Jika tangisan muncul saat orang tua hendak meninggalkan kamar, rasa takut atau kebutuhan akan kedekatan mungkin berperan.
Faktor fisik juga perlu diperiksa. Anak mungkin lapar, haus, ingin ke toilet, merasa kepanasan, sedang tumbuh gigi, hidung tersumbat, atau mengalami nyeri. Pastikan kebutuhan dasar diperhatikan sebelum menyimpulkan bahwa semua penolakan adalah perilaku.
Saat tantrum berlangsung, utamakan keselamatan dan ketenangan
Singkirkan benda yang dapat melukai anak, jaga jarak yang aman, dan gunakan suara rendah. Orang tua dapat berada dekat tanpa memaksa anak langsung diam. Kalimat sederhana seperti “Kamu marah karena masih ingin bermain. Aku di sini. Setelah tenang, kita lanjut bersiap tidur” lebih mudah dipahami dibandingkan penjelasan panjang.
Jika anak menendang atau melempar benda, cegah tindakan yang membahayakan dengan batas yang jelas dan tanpa kekerasan. Jangan mengguncang, membentak, mempermalukan, atau mengancam. Bila orang tua merasa sangat marah, pastikan anak berada di tempat aman dan ambil jeda singkat untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan.
Jangan mengubah batas hanya untuk menghentikan tangisan
Empati tidak berarti semua permintaan dituruti. Orang tua dapat mengakui perasaan anak sambil tetap melanjutkan rutinitas. Misalnya, “Kamu masih ingin bermain. Besok mainannya bisa dilanjutkan. Sekarang waktunya menyikat gigi.” Setelah menyampaikan batas, bantu anak melakukan langkah pertama.
Jika anak membutuhkan waktu untuk tenang, beri jeda yang cukup. Tidak perlu menuntut permintaan maaf atau senyum sebelum ia siap. Setelah emosi mereda, ajak anak kembali ke urutan yang sederhana, bukan memulai negosiasi dari awal.
Cegah tantrum dengan menyiapkan transisi lebih awal
Mulai rutinitas sebelum anak terlalu lelah. Beri peringatan sebelum permainan berakhir, gunakan kegiatan penutup yang sama, dan kurangi aktivitas yang sangat merangsang menjelang tidur. Anak dapat memilih buku atau piyama, tetapi orang tua tetap menentukan batas waktu.
Pastikan jadwal tidur sesuai usia dan waktu bangun. Bila anak sering tantrum pada jam yang sama, mungkin rutinitas dimulai terlalu terlambat. Coba majukan waktu secara bertahap. Bila anak masih tidur siang, lihat apakah waktu nap terlalu sore atau justru ia belum cukup beristirahat.
Jika anak takut atau tidak mau ditinggal sendiri
Tanyakan apa yang membuatnya tidak nyaman ketika suasana sudah tenang. Anak mungkin takut gelap, mendengar suara dari luar, atau merasa khawatir ketika orang tua pergi. Validasi rasa takut tanpa memperkuat gambaran menakutkan. Katakan bahwa ia aman, tunjukkan cara menyalakan lampu tidur bila diperlukan, dan buat rencana sederhana tentang bagaimana orang tua akan mengucapkan selamat malam.
Untuk anak yang membutuhkan kehadiran, bantuan dapat dikurangi perlahan sesuai kesiapan. Jangan memaksa anak menghadapi ketakutan secara mendadak. Jika rasa takut sangat kuat, berlangsung lama, atau mengganggu kegiatan lain, pertimbangkan konsultasi profesional.
Bicarakan kembali ketika pagi atau siang hari
Waktu tantrum bukan saat terbaik untuk mengajarkan strategi panjang. Ketika anak sudah tenang keesokan harinya, bicarakan apa yang terjadi dengan bahasa sederhana. Tanyakan apa yang membuat berhenti bermain terasa sulit dan aktivitas penutup apa yang dapat membantu. Orang tua dapat mengingatkan batas malam berikutnya tanpa menyalahkan.
Puji usaha yang spesifik ketika anak berhasil berpindah kegiatan meskipun kecewa. Misalnya, “Tadi kamu masih ingin bermain, tetapi akhirnya kamu mau menyimpan balok. Itu tidak mudah.” Pengakuan seperti ini mengajarkan bahwa perasaan boleh hadir, sementara rutinitas tetap dapat dilanjutkan.
Kapan tantrum perlu mendapat perhatian tambahan?
Mintalah bantuan tenaga kesehatan atau profesional perkembangan bila tantrum sangat sering, berlangsung lama, menyebabkan cedera, semakin berat, atau mengganggu fungsi anak di berbagai tempat. Perhatikan juga masalah tidur yang menetap, mendengkur keras, nyeri, atau perubahan perilaku lain. Tantrum tidak otomatis berarti ada gangguan tertentu, tetapi pola yang mengkhawatirkan layak dinilai.
Intinya: dampingi emosinya, pertahankan rutinitasnya
Tantrum menjelang tidur dapat dipicu kelelahan, kesulitan transisi, rasa takut, atau kebutuhan yang belum terpenuhi. Jaga keselamatan, gunakan kalimat singkat, akui perasaan, dan pertahankan batas dengan tenang. Pencegahan melalui rutinitas yang sesuai usia biasanya lebih membantu daripada pertengkaran panjang setelah anak terlalu lelah.
Sumber dan bacaan lanjutan
- AAP: Toddler Bedtime Trouble — pendekatan saat anak menolak tidur.
- NHS: Sleep and Young Children — membangun rutinitas malam yang menenangkan.
Rencanakan pemulihan setelah malam yang sulit
Setelah tantrum mereda, tidak semua hal perlu dibahas saat itu juga. Orang tua dapat menyelesaikan rutinitas inti dan membantu anak merasa aman. Keesokan harinya, pilih waktu yang santai untuk membicarakan pemicunya. Gunakan pertanyaan sederhana, seperti “Bagian mana yang paling sulit tadi malam?” atau “Apa yang bisa membantu saat permainan harus selesai?”
Jika orang tua sempat membentak, hubungan dapat diperbaiki dengan mengakui tindakan sendiri dan meminta maaf tanpa meminta anak segera memaafkan. Orang tua tetap dapat mempertahankan aturan tidur sekaligus memperbaiki cara menyampaikannya. Anak belajar bahwa konflik dapat diperbaiki dan batas tetap berlaku.
Jika tantrum selalu terjadi pada jam yang sama, catat waktu anak mulai lelah dan pertimbangkan memajukan rutinitas sebelum ia terlalu kewalahan.
Perhatikan kapan orang tua perlu mengambil jeda
Jika orang tua mulai merasa kehilangan kendali, lebih baik menghentikan percakapan sejenak daripada membalas teriakan dengan teriakan. Pastikan anak berada di tempat yang aman, tarik napas, minum air, atau minta pasangan mengambil alih bila tersedia. Kembali ketika suara dan gerakan sudah lebih tenang. Tindakan ini bukan menyerah, melainkan menjaga agar situasi tidak meningkat menjadi tindakan yang membahayakan.
Jika orang tua khawatir akan menyakiti anak, segera minta bantuan orang dewasa tepercaya dan jauhkan benda berbahaya dari area tersebut. Keselamatan semua orang lebih penting daripada menyelesaikan rutinitas tepat waktu pada malam itu.










