Ibu menunjukkan jam kepada anak yang masih memegang mainan.
Penanda waktu yang konkret membantu anak memahami kapan aktivitas perlu diakhiri.
Tidur & Rutinitas Harian

Anak Selalu Menunda Waktu Tidur? Cara Menghadapi Kebiasaan “Sebentar Lagi”

Permintaan “sebentar lagi” dapat muncul karena anak sulit beralih, mencari kendali, atau belum siap berpisah dari aktivitas. Atur batas dan transisi dengan konsisten.

“Sebentar lagi.” “Satu permainan lagi.” “Aku belum selesai.” Jika kalimat itu muncul setiap malam, orang tua mungkin merasa waktu tidur berubah menjadi negosiasi panjang. Anak akhirnya baru masuk kamar setelah semua orang kelelahan, sementara pagi berikutnya tetap harus bangun.

Kebiasaan menunda tidur sering kali bukan persoalan sederhana tentang anak yang tidak mau menurut. Anak mungkin belum siap menghentikan kegiatan yang menyenangkan, ingin mendapatkan waktu lebih banyak bersama orang tua, takut melewatkan sesuatu, atau belum mampu memahami urutan waktu. Memahami alasan di balik penundaan membantu keluarga memilih batas yang tepat tanpa membuka ruang tawar-menawar tanpa akhir.

Kenapa anak terus meminta tambahan waktu?

Anak kecil belum memiliki kemampuan mengatur waktu dan menghentikan aktivitas sebaik orang dewasa. Ketika sedang bermain, ia mungkin benar-benar merasa belum selesai. Beberapa anak juga kesulitan berpindah dari aktivitas yang ramai ke suasana kamar yang lebih tenang. Pada anak usia sekolah, tontonan, gim, pesan dari teman, atau pekerjaan rumah dapat membuat waktu tidur terus bergeser.

Penundaan juga dapat menjadi cara anak mencari kedekatan. Ia mungkin meminta air minum, cerita tambahan, atau ingin ditemani karena belum siap berpisah. Bila anak takut gelap atau mengalami kecemasan, permintaan yang tampak kecil bisa menjadi upaya mencari rasa aman.

Bedakan permintaan yang wajar dan pola menunda tanpa akhir

Anak sesekali meminta tambahan lima menit bukan masalah dengan sendirinya. Yang perlu diperhatikan adalah apakah orang tua selalu menambah waktu meskipun batas sudah disepakati, sehingga rutinitas menjadi tidak terprediksi. Anak dapat belajar bahwa setiap pengingat akan diikuti negosiasi baru.

Perhatikan apakah anak memang kesulitan beralih atau apakah jadwal tidur dimulai terlalu awal. Jika ia berbaring lama tanpa mengantuk, cek jam bangun, tidur siang, dan total kebutuhan istirahat. Batas yang konsisten perlu didukung jadwal yang sesuai kebutuhan anak.

Buat kesepakatan sebelum malam dimulai

Jangan menunggu anak sudah mengantuk atau marah untuk membahas aturan. Pada siang atau sore hari, jelaskan urutan malam: waktu bermain selesai, mainan disimpan, lalu bersiap tidur. Anak dapat diberi tahu berapa banyak cerita yang akan dibaca atau berapa menit waktu tenang tersedia. Kesepakatan perlu sederhana dan sesuai usianya.

Jika anak meminta tambahan waktu, orang tua dapat memilih satu kesempatan yang jelas, misalnya satu lagu atau satu halaman terakhir. Setelah itu, rutinitas dilanjutkan. Hindari memberikan tambahan berbeda-beda setiap malam tanpa alasan, karena anak sulit memprediksi batas.

Gunakan penanda transisi yang konkret

Timer dapur, jam visual, lagu penutup, atau kegiatan merapikan bersama dapat menjadi penanda bahwa waktu bermain hampir selesai. Untuk anak prasekolah, gunakan kalimat pendek dan ulangi dengan nada tenang. Untuk anak yang lebih besar, buat kesepakatan tentang jam berhenti menggunakan perangkat dan tempat menyimpannya.

Berikan waktu agar anak dapat menyelesaikan satu bagian permainan. Misalnya, “Selesaikan balok yang sedang kamu susun, lalu kita simpan.” Hindari memulai satu aktivitas baru setelah batas disampaikan. Orang tua dapat membantu anak menyimpan bagian yang belum selesai agar bisa dilanjutkan besok.

Batasi negosiasi tanpa mengabaikan kebutuhan anak

Jika anak meminta air karena haus, berikan air. Jika ia ingin ke toilet, dampingi sesuai kebutuhan. Namun, bila permintaan yang sama diulang setelah kebutuhan terpenuhi, gunakan respons singkat: “Air sudah tersedia di meja. Sekarang waktunya beristirahat.” Tidak perlu mengulang penjelasan panjang yang justru membuat interaksi semakin ramai.

Beberapa keluarga menggunakan kartu atau “satu kesempatan tambahan” untuk anak usia prasekolah yang mampu memahami aturan sederhana. Cara tersebut bukan kewajiban dan tidak cocok untuk semua anak. Gunakan hanya jika membantu anak belajar menutup rutinitas, bukan sebagai alasan mengabaikan rasa takut, nyeri, atau kebutuhan dasar.

Berikan hubungan yang cukup sebelum tidur

Jika anak terus meminta orang tua kembali ke kamar, sisihkan beberapa menit waktu khusus sebelum lampu dimatikan. Dengarkan cerita tentang harinya, beri pelukan bila anak menyukainya, dan jelaskan kapan orang tua akan kembali mengecek. Kehadiran yang dapat diprediksi dapat mengurangi kebutuhan meminta perhatian lewat penundaan berulang.

Jangan menjanjikan akan selalu berada di sisi anak jika orang tua tidak dapat melakukannya. Janji sederhana yang ditepati—misalnya menemani satu cerita dan mengucapkan selamat malam—lebih membantu daripada janji besar yang berubah-ubah.

Jika kebiasaan menunda sudah berlangsung lama

Mulai kembali dari rutinitas yang lebih sederhana dan waktu tidur yang realistis. Majukan jam secara bertahap jika anak tidur terlalu larut. Catat berapa lama ia membutuhkan waktu untuk tertidur dan apakah permintaan tambahan muncul pada tahap tertentu. Bila penyebabnya adalah ketakutan atau kecemasan, tangani rasa tidak aman terlebih dahulu.

Kapan perlu meminta bantuan?

Konsultasikan dengan dokter bila anak sangat sulit tertidur hampir setiap malam, sering terbangun, mendengkur keras, bernapas berat, atau tampak mengantuk berat di siang hari. Bila penundaan disertai ketakutan yang intens dan mengganggu kegiatan, tenaga profesional dapat membantu memahami kebutuhan emosional anak.

Intinya: dengarkan kebutuhan, tetapi pertahankan batas

Permintaan “sebentar lagi” dapat mencerminkan kesulitan transisi, kebutuhan kedekatan, atau kebiasaan menawar. Buat aturan yang dipahami sebelum malam, gunakan penanda transisi, penuhi kebutuhan dasar, dan hentikan negosiasi setelah batas yang disepakati tercapai. Sikap hangat dan konsisten membantu anak belajar bahwa waktu tidur adalah bagian rutin dari hari.

Sumber dan bacaan lanjutan

Gunakan satu batas akhir yang dapat dilihat anak

Untuk anak yang berulang kali meminta tambahan, orang tua dapat menetapkan satu kesempatan penutup sebelum rutinitas dimulai. Misalnya, anak boleh menyelesaikan satu putaran permainan atau memilih satu cerita terakhir. Setelah kesempatan itu selesai, kegiatan ditutup tanpa memulai permainan baru. Batas tersebut lebih mudah dipahami bila disampaikan pada waktu anak masih tenang.

Jika anak bertanya lagi, ulangi kalimat yang sama dengan nada netral. Orang tua tidak perlu membuat ancaman baru atau mengubah aturan setiap kali anak membujuk. Bila anak benar-benar membutuhkan toilet, air, atau bantuan karena sakit, tentu kebutuhan itu tetap ditangani.

Setelah beberapa malam, evaluasi apakah penundaan berkurang atau justru meningkat. Bila masalah makin besar, periksa apakah waktu tidur tidak sesuai, anak cemas, atau ada kegiatan lain yang belum selesai sebelum rutinitas dimulai.

Periksa apakah permintaan tambahan menutupi masalah lain

Permintaan minum, ke toilet, atau ingin dipeluk dapat menjadi cara anak menyampaikan kebutuhan yang belum mampu ia ungkapkan dengan jelas. Jika permintaan bertambah setiap kali orang tua hendak pergi, jangan langsung menganggap semuanya manipulasi. Tanyakan apakah anak takut, merasa sendirian, atau belum menyelesaikan kekhawatiran tentang esok hari. Penuhi kebutuhan nyata, lalu bantu anak kembali ke rutinitas.

Jika pola menunda muncul tiba-tiba setelah pindah rumah, mulai sekolah, atau mengalami peristiwa menegangkan, berikan perhatian pada perubahan tersebut. Terkadang anak membutuhkan waktu untuk mencerna pengalaman sebelum mampu tidur lebih nyaman.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.