Anak prasekolah bermain peran di ruang keluarga dengan dua cangkir mainan dan boneka duduk di kursi, ibu tersenyum mendengarkan cerita anak, imajinatif dan hangat, tanpa teks,
Anak tiba-tiba menyisakan kursi untuk teman yang tidak terlihat, mengajak bonekanya makan, atau bercerita tentang sahabat bernama unik
Tumbuh Kembang Anak

Anak Punya Teman Imajiner, Perlukah Bunda Ikut Menanggapi Ceritanya?

Anak tiba-tiba menyisakan kursi untuk teman yang tidak terlihat, mengajak bonekanya makan, atau bercerita tentang sahabat bernama unik. Kalau Bunda pernah dibuat bingung oleh cerita seperti ini, tenang dulu. Teman imajiner sering menjadi bagian dari permainan dan imajinasi anak.

Ketika anak bercerita tentang teman yang tidak terlihat

Suatu sore, anak meminta Bunda menyiapkan dua gelas minum karena “teman” yang duduk di sebelahnya juga haus. Ada pula anak yang mengajak orang tua menyapa tokoh khayalannya sebelum tidur. Situasi ini bisa terasa lucu, membingungkan, bahkan membuat orang tua bertanya apakah anak kesepian atau sedang mengalami masalah.

Teman imajiner adalah sosok yang dibayangkan anak dan hadir dalam cerita atau permainan. Bentuknya bisa teman sebaya, hewan, tokoh fantasi, atau karakter yang hanya muncul ketika bermain. Menurut American Academy of Pediatrics, teman imajiner pada banyak anak merupakan bagian normal dari perkembangan dan dapat membantu mereka mencoba peran sosial serta memahami sudut pandang orang lain.

Kehadiran teman imajiner tidak otomatis berarti anak tidak punya teman nyata, kesepian, atau tidak mampu membedakan kenyataan. Banyak anak tahu bahwa sosok itu berasal dari imajinasinya, meski mereka bisa bercerita dengan sangat hidup. Perhatikan konteks dan dampaknya pada keseharian, bukan hanya keberadaan tokohnya.

Perlukah orang tua ikut menanggapi?

Bunda boleh menanggapi cerita anak dengan santai tanpa harus berpura-pura bahwa teman itu benar-benar ada. Misalnya, “Oh, temanmu suka main balok, ya?” atau “Kamu mau ceritakan apa yang kalian mainkan?” Cara ini menunjukkan bahwa orang tua tertarik pada cerita anak sekaligus tetap berada dalam konteks permainan.

Tidak perlu memaksa anak mengakui bahwa temannya tidak nyata setiap kali ia bercerita. Koreksi berulang bisa mematikan percakapan dan membuat anak merasa ditertawakan. Namun, orang tua juga tidak harus mengikuti semua permintaan yang dikaitkan dengan teman imajiner, terutama bila mengganggu aturan rumah atau keselamatan.

Jika anak meminta Bunda menaruh piring untuk teman khayalan, keluarga boleh menganggapnya bagian permainan sesekali. Tetapi ketika makan malam harus berjalan, orang tua dapat berkata, “Temanmu boleh ikut dalam cerita, sekarang kita makan bersama yang ada di meja, ya.” Batas yang jelas tetap boleh dibuat.

Apa manfaat permainan imajinatif?

Dalam permainan pura-pura, anak mencoba berbagai peran: menjadi dokter, guru, penjaga toko, penjelajah, atau teman yang sedang membantu. Mereka berlatih menyusun cerita, memahami giliran, menebak perasaan tokoh lain, dan mencari solusi untuk situasi yang dibayangkan. teman khayalan dapat menjadi salah satu cara anak mengeksplorasi keterampilan tersebut.

Anak juga bisa menggunakan permainan untuk mengolah pengalaman. Setelah hari yang melelahkan, ia mungkin membuat cerita tentang tokoh yang takut masuk sekolah atau kehilangan mainan. Jangan langsung menganggap cerita itu sebagai pengakuan tentang kejadian nyata, tetapi dengarkan bila ada tema yang berulang atau emosi yang kuat.

Orang tua bisa memperkaya permainan dengan menyediakan waktu, bahan sederhana, dan ruang aman. Balok, boneka, kertas, kotak bekas, atau kostum sederhana sudah cukup. Tidak perlu membeli mainan mahal atau mengarahkan cerita agar selalu punya pesan moral.

Kapan perlu lebih memperhatikan?

teman khayalan biasanya terasa menyenangkan dan berada dalam kendali anak. Namun, bicarakan dengan dokter bila sosok itu tampak selalu hadir dan mengganggu aktivitas, mengancam anak, mendorong tindakan yang membahayakan diri atau orang lain, atau disertai perubahan mendadak pada interaksi sosial, bicara, kebersihan diri, maupun konsentrasi.

Perhatikan juga bila anak tampak sangat takut, sulit tidur, menarik diri, kehilangan minat pada kegiatan yang biasanya disukai, atau mengalami kesulitan perkembangan lain. Satu kejadian tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi tertentu. Ceritakan pengamatan secara konkret kepada dokter, termasuk kapan perubahan dimulai dan bagaimana dampaknya.

Jangan memberi diagnosis sendiri atau menakut-nakuti anak. Jika anak menyampaikan bahwa ada suara atau sosok yang menyuruhnya melukai diri atau orang lain, prioritaskan keselamatan dan segera cari penilaian profesional. Tetap tenang dan dampingi anak.

Beri ruang imajinasi sekaligus jaga rutinitas nyata

teman khayalan tidak perlu menjadi pusat perhatian keluarga. Anak tetap perlu tidur cukup, bermain dengan teman nyata, mengikuti kegiatan sehari-hari, dan belajar membangun hubungan dengan orang lain. Jika permainan khayalan mulai membuat anak menolak semua interaksi atau mengganggu rutinitas, cari tahu apa yang sedang ia butuhkan.

Ajak anak melakukan aktivitas bersama teman sebaya tanpa menjadikan teman khayalan sebagai bahan ejekan. Orang tua bisa mengundang satu teman untuk bermain, ikut kegiatan yang disukai anak, atau membaca cerita bersama. Tidak perlu memaksa anak langsung meninggalkan dunia imajinasinya.

teman khayalan bisa menjadi bagian menarik dari masa kanak-kanak. Dengarkan ceritanya, ikuti permainan secukupnya, dan tetap jaga batas. Yang paling penting, anak merasa aman bercerita kepada Bunda dan Ayah tanpa takut ditertawakan.

Ikuti permainan tanpa harus mengatur ceritanya

Jika anak mengajak Bunda bermain bersama teman khayalannya, orang tua dapat mengikuti alur permainan sebentar. Tanyakan apa yang sedang mereka lakukan atau bagaimana tokoh itu menyelesaikan masalah. Tidak perlu mengoreksi setiap detail atau mengambil alih cerita. Biarkan anak memimpin permainan dan menentukan kapan ia selesai.

Perhatikan apakah permainan terasa menyenangkan dan anak masih dapat beralih ke kegiatan lain ketika waktunya tiba. Jika ia bisa meninggalkan permainan untuk makan, tidur, atau bermain dengan teman nyata, itu biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Tetap jaga rutinitas dan batas keluarga seperti biasa.

Untuk teman khayalan, respons orang tua yang hangat dapat menjadi kesempatan memahami minat dan cara anak bercerita. Namun, tetap bedakan dunia permainan dan aturan nyata. Jika anak memakai cerita untuk meminta sesuatu yang berbahaya atau melanggar batas, jelaskan bahwa aturan keselamatan tetap berlaku.

Anak tidak perlu dipaksa mengakhiri permainan karena orang dewasa merasa aneh. Sebaliknya, orang tua juga tidak perlu memperkuat ketakutan jika anak bercerita tentang sosok yang menakutkan. Dengarkan, tanyakan bagaimana perasaannya, dan cari bantuan jika cerita disertai ancaman atau perubahan perilaku yang mengganggu.

Menjaga batas antara permainan dan kenyataan

Orang tua dapat ikut bermain tanpa harus selalu memenuhi semua permintaan tokoh khayalan. Jika anak mengatakan teman imajinernya tidak mau tidur, Bunda tetap bisa menjalankan rutinitas: “Kita semua bersiap tidur sekarang. Kamu boleh ceritakan lanjutannya besok.” Batas yang konsisten membantu permainan tetap menyenangkan tanpa mengatur seluruh kegiatan keluarga.

Perhatikan apakah anak masih dapat membedakan aturan permainan dari aturan keselamatan. Ia boleh berpura-pura terbang, tetapi tetap perlu tahu bahwa melompat dari tempat tinggi berbahaya. Gunakan kesempatan itu untuk menjelaskan perbedaan antara cerita dan tindakan nyata tanpa mengejek imajinasinya.

Jika anak menggunakan teman khayalan untuk membicarakan sesuatu yang membuatnya takut, dengarkan isi cerita dan perasaannya. Jangan langsung menyimpulkan tokoh tersebut mewakili kejadian tertentu. Tanyakan dengan lembut apakah ada hal yang ingin ia ceritakan tentang dirinya, lalu beri kesempatan menjawab tanpa tekanan.

Permainan imajinatif juga bisa menjadi pintu untuk membangun kedekatan. Orang tua dapat mengamati tema yang disukai anak dan menawarkan aktivitas lanjutan seperti menggambar tokoh, membuat cerita, atau menyusun panggung kecil. Aktivitas ini memberi ruang kreativitas sekaligus kesempatan ngobrol secara alami.

Bacaan terkait

Referensi

(Naya)

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.