Anak Indonesia sedang berbincang dengan ibu sambil melihat buku cerita dengan kosakata Indonesia dan Inggris.
Percakapan dan membaca bersama memberi anak kesempatan memakai dua bahasa dalam situasi yang alami.
Tumbuh Kembang Anak

Anak Campur Bahasa Indonesia dan Inggris, Wajar atau Perlu Dikoreksi?

Anak kadang bicara “Aku mau more juice” atau mencampur kosakata Indonesia dan Inggris dalam satu kalimat? Kenali mengapa hal ini bisa wajar pada anak yang tumbuh dengan dua bahasa.

“Ma, aku mau more juice.” Bunda mungkin langsung refleks membetulkan, “Kalau bahasa Indonesia, bilangnya mau jus lagi.” Tapi beberapa menit kemudian anak kembali mencampur dua bahasa. Kok bisa, ya? Apakah ia bingung memilih bahasa, kurang menguasai bahasa Indonesia, atau justru sedang belajar dua bahasa sekaligus?

Anak Campur Bahasa sering membuat orang tua bertanya-tanya, terutama ketika di rumah memakai bahasa Indonesia, sementara sekolah, tontonan, atau lingkungan pertemanan mengenalkan bahasa Inggris. Kabar baiknya, mencampur bahasa dalam satu kalimat atau percakapan bisa menjadi bagian normal dari perkembangan anak bilingual. Ini tidak otomatis berarti kemampuan bahasanya bermasalah.

Kenapa satu kalimat bisa berisi dua bahasa?

Anak yang tumbuh dengan lebih dari satu bahasa sedang membangun kosakata, tata bahasa, dan kebiasaan menggunakan keduanya. Pada satu situasi, ia mungkin lebih cepat menemukan kata dalam bahasa Inggris. Pada situasi lain, kata bahasa Indonesia terasa lebih pas. Kadang, ia menyesuaikan bahasa dengan orang yang diajak bicara, tempat, atau topik yang sedang dibahas.

Dalam linguistik, pergantian bahasa di tengah percakapan dikenal sebagai code-switching, sedangkan pencampuran unsur dari dua bahasa dalam satu ujaran sering disebut code-mixing. Orang dewasa bilingual juga melakukan hal serupa. Jadi, saat anak bilang “Aku sudah finish”, belum tentu ia tidak tahu kata “selesai”. Bisa jadi kata yang lebih cepat muncul di kepalanya saat itu adalah finish.

American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menjelaskan bahwa anak yang belajar lebih dari satu bahasa dapat mencampur kata atau aturan kedua bahasa. Hal itu bukan bukti anak bingung atau mengalami gangguan bahasa. Penjelasan ASHA yang diperbarui pada Mei 2026 bisa dibaca di panduan tentang anak yang belajar lebih dari satu bahasa.

Perlu dikoreksi setiap kali anak mencampur bahasa?

Nggak perlu menjadikan setiap kalimat sebagai ujian tata bahasa. Kalau anak bercerita dengan semangat, lalu Bunda terus memotong untuk membetulkan satu kata, obrolan bisa kehilangan alurnya. Anak mungkin jadi lebih sibuk takut salah daripada menikmati percakapan.

Lebih enak kalau orang tua memberi contoh kalimat yang alami. Misalnya:

Ucapan anakRespons orang tua yang bisa dicoba
“Aku mau more milk.”“Oh, kamu mau susu lagi? Boleh, Bunda ambilkan.”
“Tadi aku playing sama Raka.”“Seru ya, tadi kamu main sama Raka. Main apa?”
“Aku lupa the name.”“Kamu lupa namanya? Coba kita ingat sama-sama.”

Perhatikan bahwa Bunda mengulang pesan anak dengan bahasa yang ingin diperkuat, tetapi tidak mempermalukannya. Anak tetap mendapat model bahasa tanpa harus merasa sedang dikoreksi di depan kelas. Sesekali, orang tua juga bisa bertanya, “Kalau bilang dalam bahasa Indonesia, kata yang kamu mau apa, ya?” selama suasananya santai dan anak tertarik.

Anak campur bahasa bukan berarti ia tidak mampu membedakan bahasa. Lihat dulu apakah ia bisa memahami lawan bicara dan menyampaikan maksudnya.

Jangan buru-buru melarang salah satu bahasa

Ada keluarga yang khawatir bahasa Indonesia anak akan tertinggal jika terlalu sering memakai bahasa Inggris. Ada juga yang sebaliknya: takut bahasa Inggrisnya kurang berkembang bila di rumah terus memakai bahasa Indonesia. Padahal, anak bisa belajar dua bahasa secara bersamaan. Kuncinya bukan memaksa salah satu bahasa hilang, tetapi memberi kesempatan yang cukup untuk mendengar dan menggunakannya dalam konteks bermakna.

Di rumah, Bunda dan Ayah bisa membuat momen yang alami. Misalnya, membaca cerita bahasa Indonesia sebelum tidur, menyanyikan lagu bahasa Inggris saat bermain, atau mengobrol tentang kegiatan harian dengan bahasa yang paling nyaman bagi orang dewasa. Tidak perlu setiap waktu membuat sesi belajar formal. Percakapan saat memasak, berjalan ke warung, atau menyusun mainan juga memberi kesempatan anak memakai bahasa.

Kalau keluarga memiliki lebih dari satu bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, semua itu bisa menjadi kekayaan komunikasi anak. Orang tua tak harus fasih dalam seluruh bahasa. Lebih baik menggunakan bahasa yang dikuasai dengan nyaman daripada memaksakan kalimat yang membuat percakapan terasa kaku.

Orang tua tidak harus membagi waktu bicara dengan hitungan yang kaku, misalnya satu jam Indonesia lalu satu jam Inggris. Yang lebih penting adalah anak mendapat interaksi yang hangat dan bermakna. Ayah yang suka membacakan cerita, mengajak anak memasak, atau mengobrol saat perjalanan juga memberi kesempatan bahasa yang berharga. Ada contoh lain tentang peran Ayah dalam mendukung perkembangan bahasa anak. Pilih kegiatan yang realistis dengan rutinitas keluarga; percakapan singkat tetapi sering bisa lebih alami daripada sesi latihan yang membuat anak cepat bosan.

Kapan pencampuran bahasa perlu diperiksa?

Yang perlu dilihat bukan hanya apakah anak mencampur bahasa, tetapi bagaimana kemampuan komunikasinya secara keseluruhan. Apakah ia memahami instruksi sesuai usianya? Bisa menyampaikan keinginan? Mulai menyusun kalimat? Bisa berkomunikasi dengan keluarga dan orang lain? Apakah ada kesulitan yang muncul dalam semua bahasa yang ia gunakan?

Kesulitan bahasa yang nyata biasanya tidak hanya terlihat pada satu bahasa. Karena itu, bila anak mengalami keterlambatan atau hambatan komunikasi, penilaian perlu mempertimbangkan seluruh bahasa yang dipakai anak, bukan hanya bahasa Indonesia atau Inggris saja. Orang tua bisa meminta evaluasi dari dokter anak dan terapis wicara yang memahami perkembangan bilingual.

  • Anak jauh lebih sulit memahami atau menyampaikan pesan dibanding teman sebaya dengan tahap perkembangan serupa.
  • Kosakata dan kemampuan berkomunikasi tampak sangat terbatas pada semua bahasa yang digunakan.
  • Anak kehilangan kemampuan bahasa yang sebelumnya sudah dimiliki.
  • Anak sangat frustrasi karena sulit menyampaikan kebutuhan atau memahami orang lain.
  • Guru atau pengasuh melihat hambatan komunikasi yang konsisten di lebih dari satu situasi.

Jangan menyimpulkan gangguan hanya karena anak mencampur bahasa, tetapi jangan pula mengabaikan kesulitan yang terus terlihat. Jika Bunda punya kekhawatiran, catat contoh ucapan anak di rumah dan bahasa apa yang ia dengar setiap hari. Informasi itu membantu profesional memahami konteksnya.

Jika anak campur bahasa Indonesia dan Inggris, orang tua bisa menanggapi isi pesannya sambil memberi contoh kalimat yang alami dalam bahasa yang ingin diperkuat.

Hal sederhana yang bisa dilakukan di rumah

Daripada sibuk menghitung berapa kali anak mencampur bahasa, fokus pada kualitas interaksi. Beberapa kebiasaan ini bisa membantu:

  1. Banyak ngobrol dalam kegiatan nyata. Ceritakan apa yang sedang dilakukan, tanyakan pendapat anak, dan beri waktu untuk menjawab.
  2. Bacakan buku dalam bahasa yang berbeda. Pilih cerita yang disukai anak, bukan sekadar buku yang dianggap paling mendidik.
  3. Jangan menertawakan aksen atau pilihan katanya. Anak perlu merasa aman untuk mencoba.
  4. Perluas kalimatnya. Jika ia berkata “big car”, Bunda bisa menjawab, “Iya, mobilnya besar sekali.”
  5. Jaga hubungan, bukan kesempurnaan. Tujuan bahasa adalah berkomunikasi, bukan membuat anak selalu bicara seperti buku pelajaran.

Untuk keluarga yang ingin memperkaya paparan bahasa Inggris lewat permainan, BisaBaca juga punya ide belajar kosakata bahasa Inggris sambil bermain. Sementara itu, pembahasan tentang mendukung anak yang tumbuh dengan dua bahasa di rumah bisa membantu orang tua menyusun kebiasaan yang konsisten.

Jadi, kalau anak mencampur bahasa Indonesia dan Inggris, Bunda nggak perlu langsung panik atau melarang salah satunya. Dengarkan maksudnya, beri contoh bahasa yang tepat, dan terus ajak ngobrol. Selama kemampuan komunikasinya berkembang dan ia bisa menyampaikan kebutuhan, pencampuran bahasa saja bukan tanda bahwa anak bingung. Yang paling penting, anak punya ruang untuk tumbuh dengan dua bahasa tanpa takut salah bicara.

(Naya)

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.