Jam sudah lewat tengah malam. Bunda terbangun karena mendengar langkah kecil di lorong. Saat dilihat, anak ternyata sedang berjalan dengan mata terbuka, tetapi tatapannya kosong. Dipanggil tidak nyaut, ditanya malah seperti tidak benar-benar sadar. Situasi seperti ini bisa bikin kaget, apalagi kalau baru pertama kali terjadi.
Anak Berjalan Saat Tidur bisa menjadi bagian dari kondisi yang disebut sleepwalking atau somnambulisme. Anak tampak bangun dan melakukan aktivitas sederhana, padahal otaknya belum sepenuhnya berpindah dari tidur ke kondisi terjaga. Jadi, kalau Bunda pernah melihat anak duduk, berjalan, membuka lemari, atau menuju pintu sambil masih seperti setengah sadar, jangan langsung menganggapnya sengaja atau sedang mencari perhatian.
Pertanyaan yang paling sering muncul biasanya: harus dibangunkan atau tidak? Naya jawab dulu secara praktis: jangan mengguncang atau membentak anak untuk membangunkannya. Utamakan keselamatan, dampingi dengan tenang, dan arahkan kembali ke tempat tidur. Ada beberapa hal yang perlu Bunda tahu agar nggak panik setiap kali kejadian ini muncul.
Seperti apa sleepwalking pada anak?
Sleepwalking biasanya terjadi pada bagian awal malam, saat anak berada dalam fase tidur dalam. Anak bisa duduk di tempat tidur, berjalan ke ruangan lain, berbicara tidak jelas, memegang benda, atau melakukan kegiatan yang tampak seperti rutinitas. Matanya mungkin terbuka, tetapi ia sulit merespons saat diajak bicara. Esok paginya, anak sering tidak ingat kejadian tersebut atau hanya punya ingatan samar.
Ini berbeda dari mimpi buruk. Setelah mimpi buruk, anak biasanya terbangun, mengenali orang tua, dan dapat menceritakan sesuatu yang menakutkan. Saat sleepwalking, anak belum benar-benar sadar sehingga percakapan panjang atau pertanyaan bertubi-tubi biasanya tidak banyak membantu.
Kalau anak berjalan saat tidur, fokus pertama bukan mencari tahu apa yang sedang ia pikirkan. Fokus pertama adalah memastikan ia tidak jatuh, tersandung, atau keluar dari area aman.
Menurut penjelasan NHS tentang sleepwalking, episode ini sering terjadi pada awal malam dan anak bisa tampak memiliki mata terbuka, tetapi tidak merespons seperti orang yang benar-benar bangun. Banyak anak berangsur berhenti seiring bertambahnya usia. Meski begitu, frekuensi, situasi, dan risiko cedera tetap perlu diperhatikan.
Jadi, perlu dibangunkan atau cukup diarahkan?
Kalau anak sedang berjalan, dekati perlahan. Jangan membuat gerakan mendadak atau menyalakan lampu terang tepat di depan wajahnya. Bicara dengan suara pelan, singkat, dan menenangkan. Bila jalurnya aman, arahkan kembali ke kamar atau tempat tidur. Pegang tangannya dengan lembut bila diperlukan, tetapi jangan menarik atau memaksa.
Kalau anak menuju tangga, pintu luar, balkon, dapur, atau area yang berisiko, keselamatan lebih penting daripada kekhawatiran bahwa ia akan terbangun. Hentikan langkahnya dengan lembut, jauhkan dari bahaya, lalu bantu kembali ke tempat tidur. Hindari berdebat atau meminta anak menjelaskan apa yang ia lakukan karena ia mungkin belum sadar sepenuhnya.
| Yang terlihat | Respons yang lebih aman |
|---|---|
| Anak duduk atau berjalan di kamar | Dampingi dengan suara pelan dan arahkan kembali ke kasur. |
| Anak menuju tangga atau pintu | Segera halangi akses berbahaya dan tuntun ke area aman. |
| Anak tampak bingung saat disentuh | Hindari mengguncang atau membentak; tetap tenang dan jaga jarak dari benda berbahaya. |
| Anak terbangun dan menangis | Tenangkan seperti biasa, tanpa memaksa ia mengingat kejadian. |
Rapikan rumah sebelum waktunya tidur
Tujuannya bukan membuat rumah seperti ruang perawatan, kok. Cukup cek titik-titik yang bisa membahayakan anak jika ia berjalan tanpa sadar. Perubahan kecil sering lebih berguna daripada terus-menerus mengawasi anak sepanjang malam.
- Singkirkan mainan, kabel, dan barang yang mudah membuat anak tersandung dari jalur kamar ke kamar mandi.
- Pasang pengaman tangga atau pembatas akses sesuai kondisi rumah.
- Kunci pintu dan jendela dengan cara yang tetap memenuhi kebutuhan evakuasi saat darurat, serta pastikan anak tidak mudah membukanya saat tidur.
- Jauhkan benda tajam, cairan panas, obat, dan bahan kimia dari area yang bisa dijangkau.
- Jangan menaruh anak di tempat tidur tingkat atas bila ia sedang sering mengalami episode berjalan saat tidur.
- Pasang bel pintu atau alarm sederhana bila anak berisiko membuka pintu menuju luar, tetapi pastikan alat itu tidak menghambat jalan keluar saat kebakaran.
Bunda juga bisa mencatat kapan kejadian biasanya muncul, berapa lama berlangsung, dan apa yang terjadi sebelumnya. Catatan ini membantu dokter memahami pola, terutama bila episode mulai sering atau menimbulkan risiko.
Apakah anak kurang tidur atau kecapekan?
Kurang tidur, jadwal tidur yang berantakan, demam, stres, atau gangguan yang membuat tidur terputus bisa berkaitan dengan munculnya episode pada sebagian anak. Namun, bukan berarti setiap anak yang tidur larut pasti akan berjalan saat tidur. Faktor pemicunya bisa berbeda-beda, dan kadang tidak ditemukan pemicu yang jelas.
Coba lihat kembali rutinitas malam di rumah. Apakah jam tidur berubah drastis saat akhir pekan? Apakah anak terlalu lelah setelah kegiatan seharian? Apakah ia sering mendengkur keras atau terlihat seperti berhenti bernapas sesaat? Pertanyaan ini membantu orang tua menentukan apakah perlu ada penyesuaian kebiasaan atau pemeriksaan lebih lanjut.
Kalau jadwal tidur anak memang sering berubah, Bunda bisa mulai dari langkah sederhana seperti yang dibahas dalam rutinitas tidur sehat anak usia sekolah. Bukan untuk menjamin sleepwalking langsung hilang, melainkan membantu anak mendapat waktu istirahat yang cukup dan lebih teratur.
Kalau episode lebih sering muncul setelah jadwal tidur berubah, coba rapikan kembali rutinitas beberapa minggu. Waktu tidur dan bangun yang relatif konsisten dapat membantu keluarga melihat apakah pola berkurang, walau bukan jaminan sleepwalking berhenti. Artikel tentang rutinitas tidur konsisten dan keterlibatan Ayah dapat menjadi inspirasi pembagian peran. Saat liburan atau bepergian, Bunda juga bisa menyesuaikan kebiasaan lewat cara menjaga jadwal tidur anak agar perubahan jadwal tidak terlalu mendadak.
Kapan sebaiknya konsultasi ke dokter?
Sleepwalking sesekali pada anak tidak selalu menandakan masalah serius. Namun, jangan menunggu kalau kejadian mulai mengganggu atau membahayakan. Bawa catatan kejadian saat konsultasi, termasuk video singkat hanya jika aman dan tidak membuat anak terpapar atau dipermalukan.
- Episode terjadi sering, misalnya beberapa kali dalam seminggu, atau makin sering dari biasanya.
- Anak pernah jatuh, terluka, keluar rumah, atau mendekati area berbahaya.
- Anak sangat mengantuk pada siang hari, sulit berkonsentrasi, atau kualitas tidurnya tampak terganggu.
- Ada dengkuran keras, tersedak saat tidur, atau jeda napas yang terlihat.
- Gerakannya sangat tidak biasa, berlangsung lama, atau sulit dibedakan dari kondisi lain seperti kejang.
- Kejadian baru muncul saat anak sudah lebih besar atau menimbulkan kekhawatiran khusus pada keluarga.
Dokter akan menilai riwayat tidur, kesehatan, obat yang digunakan, dan gejala lain. Tidak semua anak membutuhkan pemeriksaan tidur khusus. Pemeriksaan lanjutan ditentukan berdasarkan cerita dan temuan klinis, bukan semata-mata karena satu kali berjalan saat tidur.
Yang juga penting, jangan mengejek atau menceritakan kejadian itu di depan banyak orang sampai anak merasa malu. Kalau anak bertanya, jelaskan dengan sederhana bahwa tubuhnya sempat bergerak saat masih tidur dan orang tua sedang membantu menjaga agar ia aman. Anak nggak perlu merasa bersalah karena sesuatu yang tidak ia lakukan dengan sadar.
Jadi, saat anak berjalan saat tidur, Bunda nggak harus panik atau memaksa membangunkannya. Dekati dengan tenang, amankan jalurnya, arahkan kembali ke tempat tidur, dan amati polanya. Kalau episode sering, mengganggu, atau berisiko cedera, konsultasikan. Rumah yang lebih aman dan rutinitas tidur yang cukup adalah langkah awal yang masuk akal.
(Naya)










