Sebuah batu pipih dapat menjadi alun-alun, ranting kecil berubah menjadi jembatan, dan daun menjadi taman kota. Dalam permainan yang sering disebut loose parts play, anak menggunakan benda-benda yang dapat dipindahkan, digabungkan, dipisahkan, dan diberi makna baru. Benda tersebut tidak memiliki satu fungsi permainan yang tetap. Anak menentukan apakah sebuah benda menjadi rumah, kendaraan, pagar, atau bagian dari lanskap yang sedang ia ciptakan.
Ketika diminta membangun kota impian, anak tidak harus mengikuti gambar kota yang sudah jadi. Ia dapat memulai dari satu jalan, lalu menambahkan taman, sungai, rumah, atau tempat berkumpul. Kota itu dapat berubah selama proses berlangsung. Jika jalan yang dibuat terlalu sempit, anak mungkin memindahkan batu. Jika ia menemukan ranting yang lebih panjang, jembatan dapat diperluas. Proses merancang dan mengubah susunan merupakan bagian utama dari pengalaman bermain.
Penelitian tentang loose parts masih berkembang. Sebuah tinjauan sistematis 2025 yang menelaah 25 studi tentang permainan loose parts di ruang dalam pada anak usia 0–6 tahun menemukan hubungan dengan beberapa aspek kognitif, termasuk pemecahan masalah, kreativitas, dan cara berpikir divergen. Namun, studi yang ditinjau beragam dan sebagian tidak menemukan hubungan yang sama. Karena itu, loose parts sebaiknya dipandang sebagai peluang bermain terbuka, bukan metode yang menjamin kemampuan tertentu. Ringkasan tinjauan tersedia di PubMed tentang loose parts play dan perkembangan kognitif.
Apa yang membuat bahan terbuka berbeda dari mainan biasa?
Mainan dengan fungsi jelas dapat membantu anak belajar aturan tertentu. Balok susun, puzzle, atau kendaraan mainan memiliki tujuan yang dapat dipahami. Loose parts berbeda karena benda yang sama dapat digunakan untuk banyak hal. Ranting tidak harus menjadi pohon; ia dapat menjadi tiang, jalan, atau jembatan. Batu tidak harus menjadi batu dalam cerita; ia dapat menjadi rumah, bukit, atau tempat duduk tokoh rekaan.
Kebebasan memberi makna baru membuat anak perlu membuat keputusan. Ia memikirkan ukuran relatif, posisi, kestabilan, dan hubungan antarbagian. Ketika kota mini mulai terbentuk, anak dapat memperhatikan bahwa jalan perlu terhubung dengan rumah, taman memerlukan ruang, dan jembatan harus melintasi bagian yang dianggap sungai. Ini bukan pelajaran teknik formal, tetapi pengalaman awal untuk melihat hubungan ruang dan fungsi.
Bahan terbuka juga mengundang kerja sama. Dua anak mungkin memiliki gagasan kota berbeda. Satu ingin membuat taman luas, sementara yang lain ingin membangun stasiun. Mereka dapat bernegosiasi tentang pembagian ruang, menukar bahan, atau membuat dua area yang saling terhubung. Orang tua dapat mendampingi komunikasi bila diperlukan, tetapi tidak harus menetapkan rancangan final untuk mereka.
Memilih bahan alam yang aman dan layak digunakan
Pilih ranting yang tidak tajam, tidak rapuh, dan tidak memiliki serpihan yang mudah menusuk. Batu sebaiknya cukup besar sehingga tidak mudah tertelan, tidak terlalu berat, dan memiliki tepi yang tidak tajam. Daun harus dikenali dan tidak berasal dari tanaman yang berpotensi menyebabkan iritasi. Jika orang tua tidak yakin dengan jenis tanaman atau kondisi bahan, lebih baik tidak memasukkannya ke permainan.
Periksa bahan sebelum diberikan. Hindari jamur, kotoran hewan, getah yang tidak diketahui, serpihan kayu, atau benda yang ditemukan dekat sampah dan bahan kimia. Jangan mengambil batu atau ranting dari lokasi yang dilindungi, taman konservasi, atau area yang melarang pengambilan unsur alam. Gunakan bahan yang jatuh secara alami di lokasi yang memang mengizinkan pengumpulan, atau siapkan bahan dari kebun keluarga.
Untuk anak yang lebih kecil, pilih ukuran besar dan awasi dari dekat. Benda kecil dapat menimbulkan risiko tersedak, sementara ranting panjang dapat melukai orang jika diayunkan. Buat aturan sederhana: bahan digunakan untuk menyusun, bukan dilempar atau diarahkan ke tubuh orang. Setelah bermain, cuci tangan dan bersihkan bahan yang akan disimpan.
Membangun kota impian: beri tantangan, bukan rancangan lengkap
Mulai dengan menyediakan alas datar seperti tikar, baki besar, atau area tanah yang aman. Tawarkan beberapa jenis bahan dalam jumlah terbatas agar anak tidak kewalahan. Ajak ia memilih bagian pertama kota: apakah ingin membangun jalan, taman, rumah, atau sungai? Ketika satu bagian selesai, biarkan anak memutuskan apa yang perlu ditambahkan. Hindari menunjukkan contoh kota yang terlalu rinci sebelum anak sempat membayangkan versinya sendiri.
Orang tua dapat memberikan tantangan kecil yang tetap terbuka, misalnya “Bisakah kota ini memiliki tempat untuk orang berjalan dan tempat untuk kendaraan?” atau “Bagaimana membuat jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai?” Pertanyaan tersebut mendorong anak mempertimbangkan kebutuhan, tetapi tidak menentukan bentuk akhirnya. Jika anak memilih kota tanpa kendaraan atau jembatan, ikuti gagasannya dan tanyakan aturan kota yang ia buat.
Perhatikan bagaimana anak menggunakan bahan. Ia mungkin menyusun batu dari besar ke kecil, menempatkan ranting sejajar, atau membangun area yang dikelilingi daun. Tanyakan apa fungsi bagian tersebut dalam kota. Jangan menilai bahwa susunan yang tidak simetris berarti salah. Kota khayalan dapat memiliki bentuk yang unik dan aturan yang hanya dipahami oleh penciptanya.
Gunakan cerita untuk memperkaya rancangan
Setelah kota mulai terbentuk, anak dapat membuat cerita tentang siapa yang tinggal di sana. Apakah ada petani yang membawa hasil kebun, penjaga taman, penjual roti, atau hewan yang memiliki rumah? Tokoh-tokoh tersebut membantu anak memikirkan kebutuhan dan hubungan antarbangunan. Rumah mungkin perlu jalan menuju taman, sementara pasar perlu tempat berkumpul.
Jika bermain bersama, satu anak dapat membuat tokoh yang ingin membuka perpustakaan, sedangkan anak lain ingin membangun tempat bermain. Mereka dapat berdiskusi apakah kota memiliki cukup ruang untuk keduanya. Ketika terjadi perbedaan, orang tua dapat membantu mereka mengusulkan pilihan: memperluas alas, membuat area bergantian, atau mengubah fungsi satu bangunan. Konflik kecil menjadi kesempatan berlatih mendengar dan berkompromi.
Orang tua bisa ikut sebagai warga kota yang bertanya, tetapi jangan mengambil alih kepemimpinan. “Di mana saya bisa berjalan dari taman ke rumah?” atau “Siapa yang merawat pohon di kota ini?” adalah pertanyaan yang mengundang anak menjelaskan. Jika ia tidak ingin menjawab, biarkan permainan berlangsung tanpa percakapan tambahan.
Loose parts di dalam rumah ketika alam sulit dijangkau
Permainan bahan terbuka tidak harus dilakukan di taman. Potongan karton besar, gulungan tisu yang bersih, tutup wadah berukuran aman, kain, dan balok kayu halus dapat digunakan di dalam rumah. Prinsipnya adalah bahan dapat diubah fungsinya dan tidak memiliki satu jawaban akhir. Keluarga yang tinggal di apartemen atau lingkungan padat tetap dapat menyediakan pengalaman bermain terbuka melalui bahan rumah tangga.
Pastikan bahan yang digunakan bersih, tidak memiliki tepi tajam, dan sesuai usia anak. Hindari benda kecil, magnet, baterai kancing, tali panjang, atau komponen yang dapat terlepas dan tertelan. Jika bahan sudah rusak, berjamur, atau memiliki lapisan yang mudah mengelupas, jangan digunakan. Orang tua sebaiknya menyimpan bahan dalam wadah tertutup dan mengeluarkannya sesuai kebutuhan.
Di ruang dalam, alas bermain membantu membatasi area dan memudahkan anak mengembalikan bahan. Jika anak sedang membuat kota yang besar, tentukan waktu kapan area perlu dikosongkan. Foto karya dapat membantu anak mengingat susunan sebelum bahan disimpan, tetapi jangan membuat dokumentasi menjadi kewajiban. Anak dapat memilih apakah ingin menyimpan atau membongkar hasilnya.
Peran orang tua: mengamati dan memberi bantuan secukupnya
Dalam permainan terbuka, orang tua kadang merasa perlu memberi instruksi agar anak tidak bingung. Padahal, waktu untuk mencoba dan mengubah ide merupakan bagian dari proses. Amati dulu apa yang dilakukan anak. Jika ia tampak fokus, jangan menyela terlalu sering. Jika ia meminta bantuan, berikan dukungan yang sesuai, misalnya menahan satu bagian sementara ia meletakkan batu lain.
Gunakan pertanyaan yang membantu anak memikirkan pilihannya: “Bagian mana yang ingin kamu buat lebih dulu?” atau “Apa yang membuat jembatan ini bisa berdiri?” Hindari terlalu banyak pertanyaan sekaligus. Anak mungkin sedang berpikir melalui gerakan dan percobaan, bukan melalui penjelasan lisan. Diam sejenak dapat memberi ruang untuk menemukan solusi sendiri.
Jangan mengubah permainan menjadi tes pengetahuan. Anak tidak harus menyebut istilah arsitektur, menjelaskan bentuk geometri, atau menghitung jumlah batu. Bila ia secara alami bertanya tentang bentuk, ukuran, atau keseimbangan, orang tua dapat mengenalkan kosakata sederhana. Kegiatan tetap harus mengikuti minat anak, bukan dipenuhi target pembelajaran yang tidak diminta.
Menutup kegiatan dan menghargai proses
Ketika waktu bermain selesai, ajak anak menentukan apakah kota akan difoto, dibongkar, atau disimpan sementara. Jika bahan harus dikembalikan, jelaskan alasannya dan beri kesempatan anak memilih bagian mana yang ingin diselesaikan terlebih dahulu. Kegiatan membereskan dapat menjadi proses bersama, bukan hukuman karena anak bermain dengan berantakan.
Jika kota dibongkar, anak tidak kehilangan pengalaman yang sudah diperoleh. Ia dapat mengingat bentuk, menceritakan kembali bagian favorit, atau memulai kota baru di hari lain. Jangan memaksa mempertahankan hasil karya jika keluarga membutuhkan ruang. Sebaliknya, bila anak ingin menyimpan kota beberapa waktu, cari tempat yang aman dan tidak mengganggu jalur rumah.
Apresiasi prosesnya secara spesifik. Misalnya, “Kamu mencoba beberapa kali sampai jembatannya tidak mudah bergeser,” atau “Kamu mengubah letak taman agar jalan menuju rumah lebih jelas.” Kalimat seperti ini menyoroti usaha dan keputusan, bukan sekadar hasil akhir yang terlihat indah.
Periksa bahan sebelum dan sesudah permainan
Ranting dan batu perlu dipilih dengan cermat. Hindari ranting rapuh yang mudah menusuk, batu sangat kecil yang dapat tertelan, bahan yang berjamur, atau benda yang diambil dari area tercemar. Bersihkan bahan yang memang aman digunakan dan pastikan tidak ada hewan kecil yang ikut terbawa. Anak sebaiknya tidak memasukkan bahan alam ke mulut atau melemparkannya. Untuk adik yang masih balita, simpan material kecil di luar jangkauan.
Setelah bermain, periksa apakah ada serpihan, bagian yang pecah, atau bahan yang perlu dibuang. Cuci tangan dan kembalikan benda ke tempat penyimpanan. Jika anak membuat kota yang ingin dipertahankan, foto atau gambar denahnya sebelum dibongkar. Ini memberi kesempatan mengingat proses tanpa harus menyimpan seluruh bahan di lantai atau halaman dalam waktu lama.
Penutup: kota impian tumbuh dari pilihan anak
Loose parts play memberi anak bahan yang dapat dipindah, disusun, dan diberi makna baru. Ranting, batu, dan daun bisa menjadi bagian kota khayalan, sementara proses menyusun mengundang anak membuat keputusan, menguji ide, dan bernegosiasi saat bermain bersama. Bukti penelitian masih berkembang, sehingga manfaatnya sebaiknya dijelaskan secara proporsional.
Pilih bahan yang aman, sediakan ruang bermain yang cukup, dan biarkan anak menentukan bentuk kotanya. Orang tua tidak harus mengarahkan setiap langkah. Kadang satu batu yang dipindahkan dapat memunculkan ide baru yang tidak terpikirkan orang dewasa. Di situlah permainan terbuka menunjukkan kekuatannya: anak memiliki kesempatan untuk mencipta dan mengubah dunia kecilnya sendiri.










