Ibu menemani anak menyusun permainan edukatif di lantai rumah.
Kesalahan dalam pengasuhan dapat diperbaiki melalui pengamatan, komunikasi, dan perubahan kebiasaan.
Pola Asuh & Disiplin

Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak yang Perlu Dihindari

Beberapa kesalahan pengasuhan yang sering terjadi meliputi aturan tidak konsisten, membandingkan anak, memberi label, dan mengabaikan kebutuhan emosional.

Tidak ada orang tua yang selalu mengambil keputusan tepat. Kesalahan bisa terjadi karena lelah, tekanan pekerjaan, pengalaman masa kecil, atau kurangnya dukungan. Yang paling penting bukan mengejar pengasuhan sempurna, tetapi mau mengamati dampak tindakan, memperbaiki hubungan, dan mencoba cara yang lebih sehat. Berikut beberapa pola yang layak diperhatikan.

Memberi aturan yang berubah-ubah

Ketika aturan berubah sesuai suasana hati orang tua, anak sulit memahami harapan. Hari ini gawai dilarang saat makan, besok dibiarkan karena orang tua sibuk. Anak mungkin terus menguji batas karena tidak tahu apakah aturan benar-benar berlaku. Pilih aturan inti yang dapat diterapkan dengan realistis dan jelaskan pengecualian bila memang ada.

Untuk mengurangi kebingungan, gunakan cara tetap konsisten saat anak menguji batasan. Konsistensi bukan berarti tidak boleh mengubah keputusan, tetapi perubahan disampaikan dengan alasan dan tidak digunakan sebagai respons spontan terhadap rengekan.

Membandingkan anak dengan saudara atau teman

Perbandingan seperti “lihat kakakmu lebih rajin” dapat membuat anak merasa nilai dirinya bergantung pada keberhasilan orang lain. Perbandingan juga mengabaikan perbedaan temperamen, kemampuan, minat, dan kesempatan. Lebih baik membandingkan kemajuan anak dengan prosesnya sendiri: apa yang mulai bisa ia lakukan dan dukungan apa yang masih dibutuhkan.

Berikan umpan balik yang spesifik. “Kamu sudah menyelesaikan dua soal sendiri” lebih membantu daripada “Kamu lebih pintar dari temanmu”. Jika ada keterampilan yang perlu ditingkatkan, ajarkan langkahnya tanpa merendahkan.

Menggunakan label dan ancaman

Menyebut anak malas, nakal, cengeng, atau bodoh dapat membuat kesalahan terasa seperti identitas. Ancaman yang berlebihan juga dapat menimbulkan rasa takut tanpa mengajarkan keterampilan. Fokus pada perilaku: “Buku belum disimpan” alih-alih “Kamu memang berantakan”. Setelah itu, beri arahan yang dapat dilakukan.

Panduan panduan disiplin positif UNICEF membedakan disiplin yang mengajar dengan hukuman yang mengancam, menghina, mempermalukan, atau menyakiti. Orang tua boleh tegas, tetapi tidak perlu menyerang harga diri anak.

Kurang mendengarkan sebelum memberi nasihat

Anak yang langsung diberi ceramah mungkin berhenti bercerita karena merasa tidak didengar. Dengarkan dulu, ulangi inti cerita, lalu tanyakan apakah ia ingin didengarkan atau dibantu mencari solusi. Untuk anak yang lebih kecil, bantu menamai emosi dan jelaskan pilihan tindakan yang aman.

Latih keterampilan ini melalui cara mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi. Percakapan yang baik tidak mengharuskan orang tua menyetujui semua pendapat, tetapi anak mendapat kesempatan menyampaikan pengalaman.

Orang tua mungkin meminta anak tidak berteriak, tetapi menyelesaikan konflik dengan teriakan. Anak diminta jujur, tetapi melihat orang dewasa menyembunyikan kesalahan. Perilaku orang tua menjadi model yang kuat. Bila ada ketidaksesuaian, akui dan perbaiki daripada menuntut anak mengikuti aturan yang tidak dilakukan orang dewasa.

Perubahan dapat dimulai dari satu kebiasaan, misalnya meminta maaf ketika salah, menyimpan ponsel saat makan, atau mengucapkan terima kasih. Keteladanan membuat nilai keluarga terlihat dalam tindakan nyata.

Mengabaikan kebutuhan diri sebagai pengasuh

Kelelahan kronis dapat membuat orang tua lebih mudah marah dan sulit konsisten. Memenuhi kebutuhan diri bukan berarti mengutamakan orang tua di atas anak; itu bagian dari menjaga kemampuan merawat. Bagi tugas, cari dukungan, dan minta bantuan ketika merasa kewalahan.

Jika kebiasaan tertentu terus berulang, pilih satu langkah perbaikan. Anak tidak membutuhkan orang tua tanpa kesalahan, tetapi membutuhkan orang dewasa yang mau bertanggung jawab dan memperbaiki hubungan.

Mengubah kesalahan menjadi kesempatan memperbaiki hubungan

Saat menyadari telah membandingkan anak, orang tua dapat mengakui ucapan tersebut dan menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Saat aturan berubah-ubah, orang tua dapat mengajak anak menyusun ulang kesepakatan. Saat terlalu keras memberi koreksi, orang tua dapat meminta maaf lalu mengulang instruksi dengan lebih jelas.

Perbaikan tidak menghapus semua dampak secara instan, tetapi menunjukkan bahwa hubungan dapat belajar dari kesalahan. Anak juga melihat contoh tanggung jawab dan perubahan perilaku.

Meminta umpan balik dari orang yang tepercaya

Pasangan, guru, atau anggota keluarga yang memahami anak dapat membantu orang tua melihat pola yang tidak disadari. Minta contoh spesifik, bukan penilaian umum seperti “terlalu keras” atau “terlalu memanjakan”. Informasi konkret lebih mudah diterjemahkan menjadi langkah perbaikan.

Jika masalah berkaitan dengan perkembangan, kesehatan, atau perilaku yang menetap, mintalah penilaian profesional. Jangan menunggu sampai hubungan keluarga menjadi sangat tegang.

Kesalahan yang sering muncul saat memberi disiplin

Mengulang perintah tanpa memastikan anak mendengar, memberi konsekuensi yang tidak berkaitan, atau mengubah aturan berdasarkan suasana hati dapat membuat anak bingung. Instruksi yang lebih efektif biasanya singkat, spesifik, dan disampaikan sebelum situasi memanas. Anak juga perlu tahu apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahan.

Hindari menganggap perilaku anak sebagai serangan pribadi. Anak mungkin belum mampu mengatur waktu, menahan impuls, atau memahami instruksi yang panjang. Sesuaikan tugas dengan tahap perkembangan dan periksa apakah lingkungan mendukung keberhasilan.

Menyusun rencana perbaikan yang sederhana

Pilih satu pola yang paling sering terjadi, misalnya orang tua berteriak ketika anak terlambat bersiap. Catat pemicu, ubah satu bagian rutinitas, dan tentukan kalimat pengganti. Setelah beberapa hari, nilai apakah konflik berkurang atau apakah rencana perlu disesuaikan.

Jika kesulitan berulang meski sudah mencoba perubahan, ajak pasangan atau tenaga profesional membantu melihat situasinya. Orang tua tidak harus menyelesaikan setiap masalah sendirian.

Memilah kesalahan yang perlu segera diubah

Kesalahan yang menyangkut keselamatan, kekerasan, penghinaan, atau kebutuhan dasar harus menjadi prioritas. Kebiasaan lain seperti terlalu banyak mengingatkan atau kurang konsisten dapat diperbaiki bertahap. Orang tua tidak perlu merasa harus membenahi semua hal sekaligus, tetapi perlu bersedia bertanggung jawab atas dampak perilakunya.

Pilih ukuran perubahan yang bisa diamati, misalnya mengurangi bentakan, memberi instruksi satu per satu, atau menyediakan waktu mendengar cerita anak. Evaluasi secara berkala dan minta umpan balik dari orang tepercaya bila dibutuhkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah kesalahan orang tua selalu merusak anak?

Tidak. Kesalahan sesekali dapat diperbaiki melalui pengakuan, permintaan maaf, perubahan perilaku, dan hubungan yang suportif.

Apa yang harus diperbaiki lebih dulu?

Mulai dari pola yang paling sering membuat anak tidak aman atau hubungan terganggu, seperti kekerasan, penghinaan, aturan yang membingungkan, atau kurangnya perhatian.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.