Anak usia sepuluh tahun mungkin memiliki makanan favorit yang berbeda dari pilihan keluarga. Ada yang menyukai rasa tertentu, menolak sayuran, atau lebih tertarik pada makanan manis. Orang tua mungkin bertanya apakah kebiasaan makan saat bayi memengaruhi preferensi rasa sekarang.
Pengalaman rasa sejak awal kehidupan dapat ikut membentuk penerimaan makanan. Bayi mengenal rasa melalui ASI atau susu formula dan kemudian melalui makanan pendamping. Namun, preferensi anak tidak berhenti terbentuk setelah masa MPASI. Ketersediaan makanan di rumah, contoh orang dewasa, kebiasaan teman, iklan, budaya, dan pengalaman makan berikutnya juga berperan.
Pengalaman rasa dimulai sebelum anak sekolah
Pada masa MPASI, bayi diperkenalkan pada variasi rasa dan tekstur secara bertahap. WHO menyarankan makanan pendamping sekitar usia enam bulan, dengan peningkatan konsistensi dan variasi seiring pertumbuhan. Pemberian makanan dilakukan secara responsif, yaitu memperhatikan tanda lapar dan kenyang bayi.
Review ilmiah membahas bahwa pengalaman rasa awal dan paparan berulang dapat memengaruhi penerimaan makanan. Namun, temuan tersebut tidak berarti orang tua dapat menentukan selera anak hingga usia sepuluh tahun hanya dari satu jenis makanan yang diberikan saat bayi.
Preferensi rasa masih dapat berubah
Anak dapat mulai menyukai makanan yang sebelumnya ditolak setelah melihat orang tua menikmatinya, mencoba dalam bentuk berbeda, atau mendapat kesempatan mengenal rasa berulang kali. Sebaliknya, pengalaman negatif seperti dipaksa makan, tersedak, atau merasa mual dapat memengaruhi penerimaan makanan. Karena itu, suasana saat makan juga penting.
Berikan pilihan yang wajar tanpa membuka terlalu banyak alternatif sekaligus. Misalnya, sajikan sayur dalam porsi kecil bersama makanan yang sudah dikenal. Anak boleh mencium, menyentuh, atau mencoba sedikit. Jangan memaksa menelan makanan yang tidak disukai.
Lingkungan rumah lebih berpengaruh daripada satu menu lama
Jika rumah selalu menyediakan variasi makanan dan orang dewasa memberi contoh makan, anak memiliki kesempatan untuk mengenal bahan yang berbeda. Jika pilihan makanan sangat terbatas, anak mungkin jarang berlatih menerima rasa baru. Keluarga dapat memperbaikinya secara bertahap tanpa perlu mengubah semua menu sekaligus.
Libatkan anak dalam memilih buah, mencuci sayur, atau menata meja. Kegiatan ini memberi kesempatan berinteraksi dengan bahan pangan tanpa tekanan langsung untuk memakannya. Untuk keluarga dengan anggaran terbatas, gunakan bahan lokal yang terjangkau dan bervariasi sesuai musim.
Hindari menyimpulkan penyebab dari riwayat MPASI saja
Preferensi makanan pada usia sepuluh tahun juga dapat berkaitan dengan tekstur, kondisi gigi, pengalaman sensorik, alergi, masalah pencernaan, atau faktor kesehatan lain. Jika anak membatasi banyak kelompok makanan, pertumbuhannya mengkhawatirkan, atau waktu makan menjadi konflik berat, konsultasikan dengan dokter anak atau ahli gizi.
Jangan menggunakan riwayat MPASI untuk menyalahkan orang tua. Banyak keluarga menghadapi kondisi dan akses yang berbeda ketika bayi mulai makan. Yang dapat dilakukan sekarang adalah membangun lingkungan makan yang lebih mendukung dan mencari bantuan bila diperlukan.
Perhatikan hubungan anak dengan makanan
Hindari menyebut makanan sebagai hadiah atau hukuman, serta hindari komentar yang mempermalukan tubuh. Fokus pada variasi, rasa, dan fungsi makanan. Anak dapat belajar bahwa satu jenis makanan tidak harus disukai semua orang, tetapi mengenal banyak pilihan membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi.
Jika ada makanan yang tidak dapat dikonsumsi karena alergi atau alasan medis, pastikan orang tua memahami alternatif yang sesuai. Jangan memaksa anak mencoba bahan yang berisiko hanya demi membentuk preferensi.
Preferensi bukan sesuatu yang terkunci sejak bayi
Pengalaman makan masa bayi dapat memberi fondasi, tetapi preferensi rasa terus berubah sepanjang masa kanak-kanak. Orang tua masih dapat membantu anak usia sepuluh tahun mengenal variasi makanan melalui contoh, paparan berulang, suasana makan yang tenang, dan dukungan profesional ketika ada kesulitan.
Pengalaman rasa awal bukan takdir selera makan
Pengalaman bayi mengenal rasa dapat menjadi bagian dari pembentukan preferensi, tetapi selera terus berubah. Paparan berulang, cara makanan disajikan, suasana meja, contoh orang dewasa, kondisi kesehatan, dan pengalaman sosial juga berpengaruh. Seorang anak yang kini menolak sayur tidak otomatis memiliki masalah karena MPASI dahulu kurang bervariasi. Hindari membuat narasi yang menyalahkan keluarga atas kebiasaan makan anak bertahun-tahun kemudian.
Berikan kesempatan mencoba tanpa tekanan
Untuk anak usia sekolah, hadirkan makanan beragam bersama menu yang sudah dikenal. Biarkan anak melihat, mencium, atau mencicipi sesuai kenyamanan, tanpa memaksa menelan. Orang tua dapat menjadi contoh dengan menikmati makanan yang sama. Bila penolakan sangat luas, memengaruhi pertumbuhan, atau disertai kesulitan mengunyah dan menelan, mintalah penilaian profesional. Pola makan keluarga saat ini adalah ruang perubahan yang nyata.
Hormati perbedaan selera dalam satu meja makan
Orang tua dapat menyediakan pilihan terbatas yang tetap seimbang, misalnya dua jenis sayuran atau buah, tanpa memasak menu terpisah yang rumit setiap hari. Anak dapat membantu memilih bahan dari pasar atau menyusun piring. Hindari memberi label “anak susah makan” di depan orang lain. Pujian sebaiknya diberikan untuk mencoba atau menyampaikan rasa dengan sopan, bukan hanya ketika anak menghabiskan semuanya.
Pengalaman MPASI adalah bagian dari riwayat, tetapi kebiasaan makan terus dapat berkembang. Lingkungan keluarga yang tenang memberi kesempatan untuk membangun hubungan sehat dengan makanan.
Gunakan pengamatan makan untuk membantu, bukan menghakimi
Orang tua dapat mencatat makanan yang diterima anak, tekstur yang sulit, situasi makan, serta perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Catatan ini berguna bila perlu berkonsultasi. Jangan membuat daftar panjang yang memaksa anak mencoba makanan tertentu setiap hari. Perubahan kecil yang dilakukan dalam suasana tenang lebih baik daripada tekanan yang membuat waktu makan menjadi konflik.
Kolaborasikan kebutuhan anak dengan sekolah bila diperlukan
Anak usia sepuluh tahun makan di luar rumah dan mungkin menghadapi pilihan makanan yang berbeda. Orang tua dapat menyiapkan bekal atau berdiskusi tentang cara memilih makanan tanpa membuat anak takut pada jajanan. Jika ada alergi atau kebutuhan diet medis, komunikasikan kepada sekolah secara tepat. Jangan meminta anak menghindari seluruh makanan yang disukai hanya karena orang tua khawatir kebiasaan makan masa bayi tidak ideal.
Perubahan preferensi makan dapat terjadi seiring pengalaman. Terus tawarkan variasi dan jadikan makan bersama sebagai kegiatan sosial yang nyaman.
Gunakan pendekatan bertahap saat mengenalkan rasa baru
Anak dapat mulai dengan melihat makanan, membantu mencuci, mencium aromanya, atau menyentuh dengan sendok sebelum memutuskan mencicipi. Jangan memaksa setiap tahap harus selesai dalam satu kali makan. Orang tua dapat menawarkan makanan yang sama pada kesempatan berbeda tanpa tekanan. Bila anak mempunyai sensitivitas sensorik atau masalah makan tertentu, bantuan ahli gizi dan profesional kesehatan dapat membantu menyusun pendekatan yang sesuai.










